Rom 3:21-31 Darah Yesus mewujudkan kasih karunia Allah (14 Okt 2012)

Minggu yang lalu, saya sempat bertanya kepada sekelompok kaum wanita apakah mereka suka jika suami hanya asal mendengar ketika istrinya sedang berbicara. Tidak ada yang suka, ternyata. Minggu ini, saya menguraikan secara terperinci perikop ini sebagai satu cara untuk mau mendengarkan firman Tuhan dengan baik. Khususnya, saya memberi banyak perhatian pada aa.22-26 yang berbicara tentang apa yang dilakukan Allah di dalam Kristus. Penguraiannya agak panjang karena untuk menjelaskan maksud Paulus di sini saya harus melihat penguraian sebelumnya dan juga menyoroti bahasa aslinya. Mungkin saja sebagian detailnya berlebihan untuk kebutuhan Pembaca. Tetapi saya berharap bahwa merenungkan karya Allah tidak menjenuhkan, dan memberitakan karya itu dari mimbar akan dianggap kesempatan yang menyemangati.

Penggalian Teks

Paulus berharap bahwa jemaat Roma yang belum pernah dia kunjungi itu dapat mendukung dia untuk melanjutkan misi ke Spanyol, sehingga dia menyampaikan uraian yang paling sistematis dari semua suratnya tentang Injil yang dia beritakan. Namun, suratnya tetap memperhatikan kondisi jemaat sejauh mana dia memahaminya, khususnya soal Yahudi dan non-Yahudi di dalamnya (bdk. p.14). Orang Yahudi suka bermegah dalam Allah berdasarkan hukum Taurat, yang memampukan mereka “tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik” dan mengajar orang lain (2:17-20). Berbeda dengan orang lain, orang Yahudi mengerti bahwa Allah itu esa, dan bahwa kejahatan manusia terjadi karena manusia menyembah makhluk ketimbang Sang Pencipta (1:25), sehingga manusia kehilangan martabat (1:26-31) dan layak dimurkai (1:18, 32). Tetapi Paulus membuktikan bahwa Taurat—meskipun itu adalah firman Allah sendiri (3:2)—tidak memberi jalan keluar soal itu. Israel sendiri tahu tentang dosa, tetapi tetap melakukannya (2:21-24), karena hati belum diubahkan (2:29). Kesimpulan radikal Paulus ialah bahwa Taurat sekadar memperjelas dosa, tetapi tidak sanggup menjadi dasar untuk Allah membenarkan seseorang, artinya, meluputkannya dari hukuman-Nya.

Di balik soal pembenaran manusia, ada juga pertanyaan tentang kebenaran (dikaiosune) Allah. (Istilah itu muncul dalam a.21, dan juga dalam aa.225-26 dengan terjemahan “keadilan”.) Jika bahkan Israel tidak dapat luput dari hukuman Allah, bagaimana Dia dapat setia terhadap janji-janji-Nya kepada Israel (3:1-8)? Pertanyaan tentang nasib manusia berdosa juga adalah pertanyaan tentang maksud Allah bagi umat manusia.

Tetapi syukur bahwa hukum Taurat bukan bab terakhir dalam rencana keselamatan Allah. Adanya tahap baru ditandai dengan kata “sekarang”. Tahap ini disaksikan oleh PL, tetapi tidak bergantung pada Taurat (21). Dalam aa.22-26, Paulus menunjukkan bagaimana di dalam Kristus Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan cara yang menggenapi janji-janji-Nya. Dalam aa.27-30 Paulus menunjukkan bagaimana cara itu meniadakan kemegahan orang Yahudi, sehingga Allah dinyatakan sebagai Allah bagi semua orang.

A.22a merupakan pernyataan singkat tentang kebenaran Allah itu, dan ada dua soal tafsiran yang perlu dibahas di sekitar frase “karena iman dalam Yesus Kristus”. Yang pertama, kata “karena” hanya dipakai karena TB alergi kata “melalui” (dia + genitif). Ada metafora pengaliran di sini. Sumbernya kebenaran Allah, dan tujuannya “semua orang yang percaya”. Salurannya (pisteos Iesou Khristou) bisa ditafsir “iman dalam Yesus Kristus” atau “kesetiaan Yesus Kristus”. Pemula bahasa Yunani mengenal artian “iman” untuk kata pistis, tetapi kata itu juga dapat berarti “kesetiaan”, seperti dalam 3:3 (“kesetiaan Allah”). Jika “iman dalam Yesus Kristus” yang diterima, maka iman dilihat sebagai cara untuk menerima pembenaran Allah, dan tujuannya adalah semua orang percaya. Jika “kesetiaan Yesus Kristus”, maka karya Kristus dilihat sebagai cara Allah mewujudkan kebenaran-Nya, dan iman tetap adalah caranya untuk menerimanya. Kedua tafsiran itu menyatakan sesuatu yang benar, dan kedua artian dijelaskan di bawah.

Aa.22b-24 menjelaskan hal “semua yang percaya”. Hal “semua” dilihat dari dua segi: semua di bawah dosa dan dirusak oleh dosa (22b-23), dan semua dapat dibenarkan oleh anugerah. Pembenaran adalah lawan dari hukuman, karena pembenaran berarti bahwa Sang Hakim telah menyatakan terdakwa tidak bersalah. Tetapi di balik hukuman dan pembenaran ada sikap Allah: murka dan kasih karunia (anugerah). Murka adalah wujud kecemburuan Allah terhadap segala yang merusak ciptaan-Nya yang baik. Tetapi kasih karunia adalah sikap mendasar Allah. Dia menciptakan manusia dengan cuma-cuma. Di hadapan dosa manusia, Dia memanggil Abraham dengan cuma-cuma, menebus Israel dari perbudakan di Mesir dengan cuma-cuma, dan “sekarang” menawarkan pembenaran dengan cuma-cuma. Pembenaran itu muncul dari sikap kasih karunia itu, dan caranya ialah melalui (kembali dia + genitif) penebusan di dalam Kristus. Jika hal itu digabungkan dengan yang di atas, ada mata rantai seperti ini: kasih karunia Allah adalah motivasi Allah untuk membenarkan, pembenaran dihasilkan melalui kesetiaan Kristus untuk menebus, pembenaran/penebusan diterima oleh iman, bukan oleh perbuatan hukum Taurat.

Aa.25-26 menjelaskan bagaimana proses itu menunjukkan kebenaran (dikaiosune) Allah. Kata itu di sini diterjemahkan “keadilan”, karena yang dipersoalkan di sini ialah bagaimana Allah dapat membenarkan orang yang bersalah. Dan memang itulah yang terjadi: dalam 4:5 Paulus mengatakan dengan jelas bahwa Allah “membenarkan orang durhaka”. Untuk menjawab hal itu, Paulus menyamakan Yesus dengan hilasterion (“jalan pendamaian”) dalam Kemah Suci dalam Taurat. Hilasterion dipakai untuk mezbah yang ada di kemah inti yang hanya dipakai setahun sekali pada hari Pendamaian (Imamat 16). Pada saat itu, semua dosa Israel dihapus sehingga Israel tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Jadi, Paulus menyampaikan bahwa Yesus, dalam kematian-Nya (“darah-Nya”) telah menjadi tempat dosa umat Allah dihapus. (Frase “karena iman” di sini, sama seperti tadi, dapat berarti “melalui iman [kepada Yesus]” atau “melalui kesetiaan Yesus”.) Karena darah Yesus telah menghapus dosa, Allah tetap benar ketika Dia membenarkan umat-Nya sebelum Kristus datang, dan ketika Dia membenarkan orang berdosa yang percaya kepada Yesus (26).

Dalam aa.27-30, Paulus kembali ke soal kemegahan orang Yahudi dalam hukum Taurat (27a). Kemegahan itu sudah ditolak, karena pembenaran diterima dengan iman, bukan dengan perbuatan (27b-28). Hal itu menyetarakan orang Yahudi dengan bangsa-bangsa yang lain. Hal itu penting, karena Allah bukan hanya Allah orang Yahudi, Dia adalah Allah segala bangsa. Darah Yesus membuka jalan baik bagi orang bersunat (Yahudi) yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum Taurat, maupun bagi orang tak bersunat yang memang jauh dari Tuhan. Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham, yang menyangkut semua bangsa, digenapi (bdk. 4:13-17).

Akhirnya, dalam a.31, Paulus menegaskan bahwa cara Allah ini tidak hanya berhasil meluputkan orang dari hukuman, tetapi juga akan berhasil memulihkan martabatnya sebagai gambar Allah, sehingga dari hati yang baru dia menaati maksud dari hukum Taurat (2:26-29). Hal itu dijelaskan Paulus dalam pp.6-8, terutama berkaitan dengan peran Roh Kudus (bdk. 8:4).

Maksud bagi Pembaca

Melalui penjelasan tentang kasih karunia Allah yang menyediakan pembenaran melalui darah Kristus, kita diajak untuk sepenuhnya mengandalkan darah itu dalam iman kepada Kristus. Dengan demikian, Dia akan menjadi yang paling penting dan paling bermakna bagi kita, sehingga kemegahan-kemegahan yang lain tidak diandalkan lagi.

Makna

Ajaran Paulus di sini mudah-mudahan bukan hal yang baru bagi Pembaca yang menganut ajaran gereja Protestan, karena perikop ini menjadi salah satu dasar utama untuk sola gratia dan sola fide. Aa.27-31 dapat membantu kita untuk mengukur sejauh mana ajaran itu telah menjadi bagian dari pandangan dunia kita.

Yang pertama, dalam apa kita bermegah? Orang Yahudi bermegah dalam hukum Taurat, khususnya sunat, diet (tidak makan daging babi dsb), hari Sabat dan pergaulan. Orang Toraja sering bermegah dalam upacara, tongkonan dsb, dan pilihan-pilihan membuktikan bahwa sungguh hal-hal itu yang mengarahkan kehidupannya. Tetapi aktivis gereja kadangkala bermegah bahwa mereka adalah orang yang “beres”, bukan preman, bukan koruptor, bukan orang durhaka. Keagamaan menjadi kebanggaan akan diri sendiri. Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa orangnya belum menangkap sejauh mana dia kehilangan kemuliaan Allah, dan sejauh mana dia hanya dapat beribadah kepada Allah karena darah Kristus. Secara lebih halus, orang kristen kadang mengaburkan sumber pembenaran dengan bermegah dalam iman. Itu juga keliru. (Tabe’ lako MJ.) Iman adalah sekadar cara untuk menerima hasil dari penebusan Kristus. Orang yang beriman selalu akan bermegah dalam apa yang diimani, yaitu, “Allah oleh Yesus Kristus” (5:11).

Yang kedua, Allah kita Allah siapa saja? Mendengar doa syafaat dalam ibadah, Dia adalah Allah orang yang bergumul dan yang berulang tahun di lingkup jemaat, dan Allah pemerintah Indonesia (syukur sering ada unsur itu sesuai dengan 1 Tim 2:1-2). Allah zending tidak dibatasi pada orang Belanda saja, tetapi dianggap Allah orang Toraja/Indonesia juga, sehingga mereka mengutus tenaga untuk menghabiskan hidupnya jauh dari kampung halamannya. Syukur bahwa di Indonesia makin banyak yang sudah mengingat siapa Allah itu, sehingga mendukung pelayanan misi dalam berbagai bentuk.

Yang ketiga, orang yang dibenarkan meneguhkan hukum Taurat, dalam artian mengasihi Allah dan sesama. Sampai sekarang ada yang mengatakan, “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Jawab Paulus, “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” (3:10) Pembenaran adalah kesempatan untuk belajar berbuat baik, karena kesalahan masa lampau dihapus.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Rom 3:21-31 Darah Yesus mewujudkan kasih karunia Allah (14 Okt 2012)

  1. Tuto' berkata:

    Kurre Ambe’, penjelasannya baik sekali. Saya hanya ingat ilustrasi yang pernah Ambe’ katakan mengenai posisi hukum taurat dengan Yesus, dengan memakai tanda lebih keci ( > ) dan tanda lebih besar( YK < HT

    Hukum Taurat diberikan untuk menyadarkan kita akan kepapaan rohani kita dan menuntun kita kepada Yesus Kristus.

    " Jadi Taurat pun sebenarnya menekankan keutamaan iman bukan usaha manusia beroleh selamat (ayat 22). Mengapa Yesus Kristus? Sebab Dialah yang telah ditentukan Allah untuk menggenapi Taurat sehingga darah-Nya (kematian-Nya) menghasilkan penebusan kita dari kuasa dosa (ayat 24,25)." ( kutipan dari santapan harian , 16 Mei 1998 )

    Karena kita sudah ditebus, dan dibenarkan maka Hukum Taurat ada untuk mengantar kita hidup dalam pembenaran itu. Agar kita selanjutnya hidup benar sesuai dengan kebenaran Allah sendiri ( didalam Hukum Taurat ).

    Mudah-mudahan tidak salah tangkap Ambe'. Salama' kaboro' Ambe'

  2. Tuto' berkata:

    sepertinya tanda yang saya ketik tidak termuat dengan baik, jadi saya coba kirim lagi separti ini : HT > YK < HT

  3. abuchanan berkata:

    Apakah itu HT atau umat Allah yang saya katakan? Ada usul bahwa (kurang lebih) umat Allah menjadi terfokus di dalam Yesus yang disalibkan, kemudian melebar kembali setelah hari Pentakosta. Tetapi, ternyata juga cocok untuk HT, asal dimengerti bahwa cara menaati HT tidak sama setelah Kristus. HT bukan lagi hukum untuk diterapkan secara harafiah, dan bukan adat-istiadat yang menentukan seluk-beluk kehidupan, melainkan hikmat untuk diterapkan dalam konteks yang berbeda-beda.

    Terus, soal iman sebagai dasar HT dapat dilihat dengan jelas dalam Rom 9:33. Israel dikritik bukan karena mau taat kepada HT tetapi karena dasar iman ditinggalkan. Dan bahkan Dasa Titah dimulai dengan ucapan anugerah, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir”. Jadi, bagi Israel, dan sering dalam gereja, jalan penghayatan iman dibelokkan menjadi jalan kemegahan diri.

    Selamat memberitakan firman ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s