Mzm 37:34-40 Tuhan yang layak dinantikan (21 Okt 2012)

Mazmur ini menyampaikan janji yang luar biasa di tengah konteks masyarakat di mana orang fasik itu kuat. Konteks itu mungkin saja mirip dalam berbagai hal dengan konteks kita, tetapi ada satu perbedaan yang pokok, yaitu, Yesus telah datang. Hal itu tidak mengurangi janji Allah, sebaliknya, janji itu diperluas dan diperkuat. Jadi, saya tidak hanya melihat isi perikop, tetapi juga bagaimana perikop itu dipakai dalam PB. Makna PL selalu diperkaya dalam terang Kristus.

Dalam buku pedoman Membangun Jemaat, minggu ini mau dijadikan persiapan untuk Hari Sumpah Pemuda minggu depan. Perikop tidak langsung berbicara tentang pemuda, tetapi dengan sangat mudah dapat diterapkan kepada pemuda.

Penggalian Teks

Mazmur 37 memperbandingkan orang benar dan orang fasik, untuk menguatkan orang benar bahwa merekalah pewaris negeri (37:9). Negeri yang dimaksud ialah tanah perjanjian. Bagian akhir mazmur ini juga berisi perbandingan. Kembali pewarisan negeri diperbandingkan dengan kelenyapan orang fasik (34) yang diceritakan dalam aa.35-36. Kemudian, ada perbandingan antara akhir (masa depan) dari orang yang tulus dan dari orang fasik (37-38). Dalam kedua ayat terakhir, perbandingan sudah ditinggalkan, dan mazmur berakhir dengan janji keselamatan bagi orang benar.

A.34 merupakan perintah, atau lebih tepat, janji bersyarat. Bagian manusia adalah menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Kedua hal itu saling berkaitan. Mengikuti jalan Tuhan adalah bukti bahwa janji dan pertolongan Tuhan yang diandalkan; mengaku menantikan sementara tidak mengikuti jalan ibarat pergi ke dokter tetapi tidak mau meminum obatnya. Yang diharapkan adalah “mewarisi negeri”. Hal itu merupakan metonim (bagian yang mewakili keseluruhan) bagi segenap berkat Allah. Memang bani-bani dan keluarga-keluarga Israel mewarisi sebidang tanah (Yosua 13). Tetapi tanah itu bermakna karena Tuhan ada di tengah Israel, dan karena jalan Tuhan dalam Taurat adalah masyarakat yang adil, di mana orang mengasihi sesama. Jadi, ayat ini merupakan harapan bahwa Tuhan akan mewujudkan rencana-Nya bagi Israel. Orang yang searah dengan rencana Tuhan akan menikmati rencana itu, tetapi rencana yang sama menuntut pelenyapan orang fasik.

A.34 berakhir dengan soal “melihat”, dan aa.35-36 menceritakan suatu pengalaman yang pernah dilihat oleh pemazmur. Orang fasik kelas kakap yang kelihatan kukuh sekali ternyata tidak bertahan lama. Dalam aa.37-38, pendengar mazmur sendiri diimbau untuk melihat. Dua “masa depan” dapat diamati. (“Masa depan” juga dapat diterjemahkan “keturunan”; dalam konteks Israel artinya tidak terlalu berbeda.) Tulus, jujur dan suka damai adalah hal-hal yang berhasil baik, sedangkan kedurhakaan dan kefasikan berakhir buruk.

Dalam aa.39-40, apa yang dinantikan dari Tuhan itu diuraikan. Uraian itu mulai dan berakhir dengan Tuhan yang menyelamatkan. Keselamatan itu mencakup Tuhan sebagai tempat perlindungan dalam kesesakan, yang menolong dan meluputkan dari orang fasik. Hal itu Dia lakukan karena mereka berlindung kepada-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Pendengar mazmur diajak untuk menggantungkan kehidupannya sepenuhnya kepada Tuhan. Warisan-Nya yang menjadi dambaan hidup, pertolongan-Nya yang dinantikan, jalan-Nya yang diikuti, keadilan-Nya yang diandalkan ketika orang fasik membuat dia tersesak.

Makna

“Mewarisi negeri” memiliki makna sentral yang harus digali dengan tepat. Yesus mengutip Mzm 37:9 (yang searah dengan a.34) pada awal Khotbah di Bukit, sebagai salah satu janji yang menguraikan “empunya Kerajaan Sorga” (Mt 5:3-10). Terjemahan LAI mengatakan “memiliki bumi” (5:5), tetapi bahasa aslinya sama dengan terjemahan LXX dari Mzm 37:9 itu. Kata “bumi” dipakai karena dalam PB, harapan akan apa yang akan diwarisi sudah diperluas, tidak sekadar tanah Israel tetapi merujuk pada langit dan bumi yang baru. Hal itu penting diamati, karena jika kita melihat riwayat hidup seorang Paulus ternyata orang benar tidak selalu diluputkan dari tangan orang-orang fasik. Harapannya ialah kebangkitan: kuasa kebangkitan yang dilihat setiap kali dia bertahan dalam kesusahan (2 Kor 4:7-12), dan akhirnya kebangkitan tubuh ketika Yesus datang kembali (1 Kor 15). Pengharapannya didasarkan pada Yesus yang diserahkan ke dalam tangan orang fasik tetapi diluputkan dari maut dalam kebangkitan.

Jadi, perikop ini membawa penguatan bagi orang yang berharap untuk hidup kekal bersama dengan Tuhan dalam dunia baru, bukan orang yang mencari dukungan ilahi untuk cita-citanya sekarang. Syarat dalam a.34 bukan semacam amal, melainkan syarat yang melekat pada janjinya. Artinya, bagi orang yang tidak mau hidup bersama dengan Tuhan, tidak ada kabar baik dalam perikop ini.

Tentu, landasan kabar baik ialah Tuhan sendiri. Dialah yang memberi janji; Dialah yang dapat menopang orang yang berlindung kepada-Nya melalui berbagai kesusahan, bahkan permusuhan; Dialah yang akan melenyapkan kejahatan dari dunia ini; dan Dialah yang meluputkan kita dari dosa dan maut.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s