2 Taw 15:1-19 Sumpah sebagai wujud pertobatan (28 Okt 2012; Hari Sumpah Pemuda)

Gereja sekarang banyak mengkhawatirkan kondisi generasi muda, dan Sumpah Pemuda dilihat sebagai semangat yang layak dicontoh. Dalam perikop ini, kita melihat segenap umat bersumpah, sesuai dengan keluhan pemuda bahwa generasi tua juga jauh dari sempurna. Lebih lagi, kita melihat bahwa sumpah itu hanya salah satu titik dalam proses pembaruan yang lebih luas. Pemuda dapat digerakkan dengan banyak bentuk idealisme, tetapi hanya dalam Tuhan akan ada kemajuan yang sejati.

Penggalian Teks

Asa adalah raja Yehuda yang ketiga setelah perpecahan Israel menjadi kerajaan Selatan (Yehuda) dan kerajaan Utara (Israel). Makanya, persaingan dengan Israel muncul beberapa kali dalam perikop kita (8-9). Asa tergolong raja yang baik (14:2), dan sebelum perikop kita, Tuhan telah menyelamatkan Yehuda dari orang Etiopia melalui dia. Dalam konteks itu, ada pesan dari Tuhan melalui Azarya (1). Inti pesan terdapat dalam a.2, yaitu bahwa Allah akan menanggapi sikap Israel: jika dicari, Dia akan ditemui, tetapi jika ditinggalkan, Dia juga akan meninggalkan Israel. LAI menyisipkan kata “berkenan” sebelum “ditemui”, dan kata itu cocok dengan maksud di sini. Israel tidak mencari dari nol, tetapi sebagai respons terhadap inisiatif Allah kepada Israel sejak Dia membawa mereka keluar dari Mesir, termasuk menyelamatkan mereka dari orang Etiopia dan mengutus Azarya pada saat itu.

Meninggalkan Tuhan diartikan dalam a.3 dengan tiga “tanpa”. Yang pokok ialah “tanpa Allah yang benar”. Hal itu terjadi karena imam tidak melakukan fungsinya sebagai pengajar. Oleh karena itu, umat tidak mengenal hukum. Kata “hukum” di sini torah, yaitu, Taurat. Isinya tidak hanya peraturan-peraturan, tetapi juga kisah-kisah tentang perbuatan Allah, serta janji-janji Allah. Dengan kehilangan pengajaran itu, bukannya Israel tidak beragama lagi, melainkan ibadah Israel tidak lagi tertuju kepada Allah yang sebenarnya. Aa.4-6 membandingkan akibat ketika Israel berbalik kepada Tuhan dengan ketika belum. Makanya, Asa didorong dalam a.7 untuk bertindak.

Aa.8-16 menunjukkan jalan yang ditempuh agar Israel berbalik kepada Tuhan pada saat itu. Asa “menguatkan hatinya” untuk tugasnya. Penguatan itu diperlukan, karena hal pertama yang dilakukan adalah penyingkiran ibadah yang palsu. Kemudian, dia membarui mezbah di Bait Allah sebagai pusat ibadah yang sejati, dan mengumpulkan seluruh bangsa (8-9). Kumpulan itu mulai dengan persembahan, jarahan dari perang dengan orang Etiopia itu (11). Persembahan dalam kitab Imamat selalu berkaitan dengan hubungan dengan Tuhan, apakah untuk bersyukur, bersekutu, atau dalam rangka penghapusan dosa. Kemudian, hubungan itu diteguhkan dengan perjanjian. Israel menerima undangan Tuhan melalui Azarya untuk mencari Dia, dengan segenap jiwa dan hati, seperti dalam Ul 6:5. Kebulatan hati itu tidak perorangan saja, tetapi disertai dengan keputusan yang menyangkut seluruh bangsa (13). Ada kerinduan agar seluruh bangsa itu suci.

Perjanjian itu diteguhkan dengan sumpah setia yang disertai sukacita (14-15). Adanya sukacita itu diberi penekanan, ada suara yang nyaring, sorak-sorai, dan sukaria. Alasannya karena mereka mencari Tuhan dengan sebulat hati sehingga, seperti yang dijanjikan melalui Azarya, “Tuhan berkenan ditemui oleh mereka”. Hasilnya mereka dianugerahi keamanan.

Kekuatan hati Asa (8) ditunjukkan dengan catatan bahwa bahkan neneknya, sekalipun dia adalah ibu suri, dipecat, dan patung Asyeranya dihancurkan. Asa tidak pandang bulu (bdk. a.13; sepertinya, hukuman mati dalam a.13 tidak diterapkan secara harfiah).

Jadi, pembaruan umat terjadi atas dasar firman dari Allah sendiri. Respons umat mulai dan berakhir dengan penghancuran berhala. Kemudian, mereka mengaku dosa dan niat bersekutu dengan persembahan. Kemudian, mereka memasang niat yang jelas untuk berbalik kepada Tuhan. Hal itu tidak sekadar dalam perkataan, tetapi juga soal hati, sehingga ada sukacita yang besar.

Bagian akhir memberi penilaian terhadap Asa, bahwa secara pribadi dia tulus (17), sebagaimana juga dilihat dengan persembahannya (18).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini memberi contoh bagi umat Allah tentang mengapa dan bagaimana berbalik kepada Tuhan. Alasannya karena Tuhan mau dicari dan mau memberkati. Caranya bagi Israel ialah dengan meninggalkan berhala, mendekati Tuhan dengan persembahan, dan menyatakan niat yang jelas. Bukti akan kesejatian pertobatan itu ialah sukacita.

Makna

Penawaran Allah untuk Dia berkenan ditemui itu diteguhkan di dalam Kristus. Kembali kita melihat bahwa ini adalah bentuk anugerah: Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya, dan mau supaya kita menikmati keselamatan itu. Tidak mungkin menikmati persekutuan dengan Allah jika berhala (entah uang, gengsi, dsb) tetap dipertahankan. Mendekati Tuhan melalui persembahan dapat dilihat dari dua segi. Kristus yang telah menjadi jalan pendamaian, sehingga kita dibenarkan dan boleh mendekati Tuhan. Dan kita tetap membawa persembahan syukur, uang dsb, sebagai wujud nyata dari kerinduan akan Tuhan.

Kemudian, niat itu diberi pernyataan yang jelas dan tegas dalam perjanjian dan sumpah. Sumpah itu tidak ada gunanya bila tahap-tahap sebelumnya belum dilakukan. Sumpah itu tidak dapat menutupi berhala-berhala yang tetap dipertahankan. Sumpah itu juga bukan pengganti mendekati dan bersekutu dengan Tuhan. Mendekati Tuhan adalah soal hati yang dilembutkan oleh anugerah Allah dan digairahkan oleh janji-Nya, seperti Israel pada saat itu. Sumpah dalam suasana amal tidak berarti, dan tidak akan digenapi.

Sukaria Israel menjadi petunjuk bahwa mereka melihat di dalam Tuhan ada kehidupan yang sejati. Jatidiri sebagai bangsa sebenarnya ditemukan di dalam Tuhan, bukan di dalam berhala atau hal-hal yang lain.

Pertobatan Israel di sini terjadi sebagai bangsa. Makanya, ada pernyataan sikap terhadap orang-orang yang tidak mau ikut. Hal itu menyiratkan bahwa keputusan itu harus muncul pribadi lepas pribadi, tidak dapat diwakili. Dalam PB, pertobatan lebih dilihat dari segi individu, tetapi jemaat sebagai tubuh menyiratkan hal yang sama: pembaruan tidak dapat dilakukan oleh beberapa wakil saja, tetapi semua harus terlibat.

Pos ini dipublikasikan di 2 Tawarikh dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s