Mzm 92:13-16 Pemberitaan karena berakar dalam Tuhan (4 Nov 2012; Pekan Keluarga)

Nas minggu ini pendek dan sederhana. Dilihat dalam konteks seluruh mazmur, artinya menjadi lebih tajam, karena gambaran tentang pertumbuhan dipakai juga untuk orang fasik. Perlawanan seperti itu memperjelas makna, tetapi tidak diperhatikan jika konteks diabaikan. Minggu ini juga adalah minggu yang baik untuk berbicara tentang Allah. Kedua kegiatan manusia dalam perikop ini, bertumbuh dan memberitakan, sama-sama berarti hanya karena Dia.

Penggalian Teks

Perikop kita adalah bagian terakhir dari sebuah mazmur pujian. Pemazmur mengalami kasih setia Tuhan sehingga dibuat bersukacita oleh Tuhan dan mau memuji Dia (2-5). Hal itu terjadi dalam konteks perlawanan dari orang-orang fasik. Namun, pemazmur melihat bahwa sukses mereka sementara saja. Mereka tidak mengerti karya dan rancangan Tuhan (6-7), bahwa Tuhan ada di tempat yang tinggi sehingga meskipun orang fasik itu bertumbuh, mereka akan binasa (8-10). Itulah yang dialami oleh pemazmur, bahwa dia yang ditinggikan, sedangkan seterunya menjadi seperti isu saja (11-12).

Makanya, dia menyampaikan kesaksian tentang orang benar. Mereka juga bertumbuh, sama seperti orang fasik (13). Tetapi, mereka ditanam di bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah (14). Hidup mereka berakar di dalam Tuhan, sehingga mereka berbuah bahkan sampai masa tua (15). Tujuan Allah di dalamnya ialah supaya mereka memberitakan kebajikan Allah: bahwa Dia berbuat benar dan tidak curang kepada orang yang bertumbuh di dalam-Nya, sehingga menjadi dasar kehidupan yang kukuh (16).

Maksud bagi Pembaca

Orang yang hidupnya berakar dalam Tuhan akan memberitakan kebenaran Tuhan yang mereka alami sejak masa kecil sampai masa tua. Tuhan adalah gunung batu, dan kita diajak untuk berakar di dalam Dia, dan juga untuk memberitakan kebenaran-Nya.

Makna

Konteks perlawanan bukan sekadar adanya musuh pribadi. Bahkan manusia perdana diberi tugas untuk berjuang menaklukkan apa yang belum sempurna, walaupun sudah baik (Kej 1:28). Lebih lagi setelah manusia berdosa, sehingga kebelumsempurnaan itu ditambah dengan kejahatan manusia. Orang-orang fasik rata-rata tidak kriminal, dan di Indonesia rata-rata beragama (seperti juga di Israel). Tetapi, mereka berakar dalam pandangan dunia dan sistem-sistem duniawi yang lambat laun melawan kehendak Allah. Misalnya, uang dianggap jaminan hidup, dan pemerintah menjamin adanya uang, sehingga masuk sistem PNS dianggap jaminan bahwa orang akan masih berbuah (alias: pensiun) pada masa tua pun. Setelah masuk, bukan kesejahteraan masyarakat, dan setelah naik pangkat, bukan kesejahteraan bawahan yang diutamakan, karena melayani sesama bukan tujuannya. Sistem besar apapun, entah pemerintah, perusahaan, bahkan gereja, jika dilacak cenderung mementingkan sistem daripada orang, bukan karena niat yang jahat, tetapi karena niat untuk berbuat baik tidak sekuat tuntutan sistem.

Itulah pentingnya orang berakar di dalam Tuhan. Bait Allah menjadi wujud hadirat Allah bagi Israel. Di sana, Israel diajari firman-Nya dan mengaku dosa serta bersyukur kepada dan bersekutu dengan Dia melalui sistem korban. Kristus telah menjadi wujud Allah bagi kita, dan kita berakar di dalam-Nya di dalam tubuh-Nya, yaitu gereja. Gereja menjadi “dunia alternatif”, di mana kita memahami bahwa Allah akan membinasakan kejahatan dan meninggikan orang yang berakar di dalam Dia, entah di dalam sejarah atau pada akhir zaman. Orang yang berakar di dalam tubuh Kristus akan dapat bertahan sebagai orang yang setia kepada Tuhan dan menerapkan nilai-nilai-Nya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai masa tua pun.

Orang-orang seperti itulah yang mengalami perlindungan Tuhan, bahwa di tengah pergumulan melawan arus Dia adalah gunung batu. Orang yang membuat uang atau sistem-sistem dunia yang lain sebagai gunung batunya tentu berdoa, mungkin saja sering berdoa. Tetapi dalam doanya, dia hanya mencari tambahan pada andalannya yang sebenarnya, sehingga dia tidak bisa dengan jujur memberitakan bahwa Tuhan adalah gunung batunya. Sebaliknya, orang benar, yang melawan arus karena berakar dalam Tuhan, memiliki banyak pengalaman akan Tuhan sebagai gunung batu yang layak untuk diberitakan. Pikirkan saja kesaksian orang tua yang demikian, yang memiliki daya penguatan yang tidak ada taranya.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s