Yer 22:1-9 “Keadilan dan penyembahan Allah” (11 Nov 2012)

Penggalian Teks

Dalam pasal sebelumnya (p.21), kita belajar tentang ketakutan raja Zedekia pada saat orang Babel siap untuk mengepung Yerusalem. Melalui Yeremia, Allah memberitahu bahwa Yerusalem akan hancur, dan memang itulah yang terjadi (tahun 586 SM). Perikop kita kemungkinan bukan lanjutan dari pasal itu, karena Yeremia pergi kepada raja, bukan didatangi, dan juga karena masih ada kesempatan untuk pertobatan. Namun, konteks itu mempertajam bahwa pilihan yang disampaikan kepada raja Israel serta para pegawainya sangat serius.

Perikop ini mulai dengan Allah berbicara. (Ingat bahwa bahasa Ibrani, sama seperti bahasa Yunani, tidak memakai kata-kata khusus untuk Allah. Manusia dabar, “berbicara”, dan Allah juga dabar.) Hal itu dikatakan oleh narator (“Beginilah firman Tuhan”, a.1), kemudian oleh Tuhan kepada Yeremia (“sampaikanlah di sana firman ini”, a.1), kemudian oleh Yeremia kepada raja Yehuda (aa.2-3, 5-6). Raja Israel adalah orang yang penting: raja di istana, pusat pemerintahan Israel, dicari orang banyak (“masuk melalui pintu-pintu gerbang ini”). Tetapi Tuhan adalah penguasa yang di atasnya.

Aa.3-5 menyampaikan intinya. “Keadilan” adalah kata mishpat, proses atau hasil penghakiman. “Kebenaran” adalah kata tsedaqah, tingkah laku yang benar dan sesuai dengan relasi yang ada (3a). Bagi penguasa, mengingat bahwa raja berfungsi sebagai bagian legislatif (di bawah Hukum Taurat), eksekutif, dan hukum, artinya bahwa kebenaran diwujudkan melalui semua aspek pemerintahan itu. Semestinya, raja banyak campur tangan untuk menyelamatkan orang kecil dari pemeras dan penindas, untuk melindungi orang lemah, dan untuk mencegah kekerasan (3b). A.3 menyampaikan pengukur untuk akibat berikutnya. Jika mereka berlaku adil, takhta Daud akan berjaya (4). Jika tidak, istana akan menjadi hancur (5). Kata istana, bayit, berarti “rumah”, dan bisa juga merujuk pada keturunan raja. “Rumah” (dinasti) Daud akan melarat, tidak berjaya lagi.

Aa.6-9 menjelaskan hukuman yang akan dijatuhkan. Tuhan mengibaratkan dinasti raja Yehuda sebagai hutan di Libanon dan Gilead. Dua daerah pegunungan ini terkenal karena pohonnya, Libanon sebagai sumber pohon aras, dan Gilead karena pohon pinus dan ek. Kemungkinan pohon aras termasuk bahan untuk istana raja. Dengan demikian, dinasti raja dipuji sebagai sesuatu yang bagus dan ternama (6a). Namun, raja akan dihukum. Hukuman itu seperti menebang pohon aras untuk dibakar, sesuatu yang terasa tega sekali, tetapi Allah pasti akan melakukannya (6b-7). Aa.8-9 mau menyoroti malunya hukuman itu. Bangsa-bangsa akan melihatnya, dan memahami bahwa Israel tidak setia kepada Allah mereka. Dalam a.9, dasar dari tuduhan Allah dan hukuman terhadap Israel dinyatakan, yaitu, perjanjian Israel dengan Allah. Dosa keadilan dalam a.3 di sini diganti dengan dosa pemberhalaan. Hukum Taurat mengajarkan keadilan kepada Israel sebagai wujud kasih kepada Allah, dan jika Allah diganti dengan ilah buatan manusia, ketidakadilan menjadi salah satu akibat.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini menjadi peringatan akan pentingnya keadilan. Ada dua segi dari penyampaian Yeremia kepada raja Israel. Yang pertama, ada harapan, biar pun tipis, bahwa raja itu akan bertobat dan menghindar dari hukuman. Yang kedua, adanya peringatan menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah, yang mau memberi kesempatan untuk bertobat. Ketika kitab Yeremia disusun, hukuman Allah telah dijatuhkan, dan Yerusalem telah menjadi reruntuhan. Tetapi, peringatan itu tetap berfungsi untuk umat Allah, dengan harapan bahwa kita akan lebih sadar daripada Israel.

Makna

Dalam sebuah nubuatan hukuman seperti ini, perincian dosa menjadi sumber ajaran etis. Relevansi a.3 untuk kehidupan bermasyarakat sangat jelas, juga penting untuk menyoroti sejauh mana gereja menerapkan keadilan sebagai lembaga, dan sejauh mana jemaat menerapkan keadilan sebagai jemaat. Dalam ayat ini, keadilan menyangkut penggunaan kuasa, termasuk pemerasan (soal ekonomi) dan penumpahan darah (kekerasan). Karena ada kuasa dan uang di dalam gereja, ayat ini tidak boleh hanya dilontarkan kepada “mereka”.

Jangan lupa juga peran Allah dalam perikop ini. Pesan Yeremia bukan bahwa umat Israel melanggar suatu norma etika universal, tetapi bahwa mereka telah mengesampingkan perjanjian dengan Allah. Karena raja dan rakyat tetap beribadah di Bait Allah, tuduhannya di sini bukan bahwa mereka murtad melainkan bahwa mereka menduakan Allah. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa jika seorang pemimpin telah menjadi pelaku ketidakadilan, hal itu adalah petunjuk yang kuat bahwa dia telah menduakan Allah. Dia tetap beribadah di gereja dan memuji Kristus, tetapi dia juga giat melayani kuasa, uang atau berhala yang lain.

Terhadap dosa seperti itu, Allah bertindak. Dia berfirman dulu, dan bagi orang atau kelompok yang mengasihi-Nya, peringatan sudah cukup untuk mendorong perubahan tingkah laku atau sistem yang tidak adil. Mengabaikan peringatan Allah berarti bahwa ada yang lain lebih penting dari Dia, artinya, sesuatu yang telah menjadi ilah yang utama. Dalam perspektif PB, kondisi itu pasti menimbulkan murka Allah dalam wujud penghambaan terhadap dosa (Rom 1:18-31). Kehancuran seperti yang dialami Israel pada zaman Yeremia baru akan tampak pada penghakiman akhir zaman. Hal itu termasuk kehancuran citra seperti yang terjadi pada Israel. Dosa manusia akan terungkap, dan dalih-dalih manusia akan terbongkar.

Pos ini dipublikasikan di Yeremia dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s