Fil 4:2-9 Disiplin batin demi misi Allah (18 Nop 2012)

Perikop ini sering dianggap sekumpulan nas yang tidak terlalu erat kaitannya. Penilaian itu ada benarnya, tetapi saya berusaha untuk melihat benang merah yang bisa menghubungkannya. Saya beranjak dari 1:27-30 sebagai inti dari surat ini, yaitu, perjuangan jemaat di Filipi untuk hidup berpadanan dengan Injil di tengah perlawanan. Dengan demikian, perikop ini menjadi lebih dari sekadar nasihat untuk hidup lebih tenang.

Penggalian Teks

Flp 1:27-30 memang dapat dilihat sebagai inti. 1:12-26 menceritakan perjuangan Paulus karena Injil. Pasal 2 memperlihatkan pentingnya kesatuan berdasarkan pola Yesus sendiri (2:6-11). Pasal 3 menunjukkan bahaya dari dalam, yaitu ajaran yang tidak mengutamakan Kristus dan karya-Nya. 4:1 mengulang seruan Paulus dalam 3:1 untuk berdiri teguh dalam Tuhan.

Dalam aa.2-3, Euodia dan Sintikhe merupakan dua orang perempuan (jenis mereka jelas dalam bahasa Yunani dari bentuk kata “mereka” [autais]) yang telah berjuang bersama dengan Paulus dalam pekabaran Injil, seperti dalam 1:27-30, tetapi tidak lagi bersatu, seperti diharapkan dalam 2:1-5. Mengingat bahwa surat ini akan dibacakan kepada jemaat (atau jemaat-jemaat, mengingat mereka berkumpul di rumah-rumah orang mampu) di Filipi, cara Paulus tidak halus: dia menyebutkan nama, dan andaikan hal itu tidak cukup, dia menunjukkan orang untuk mengusahakan rekonsiliasi mereka. Demikian pentingnya kesatuan jemaat untuk perjuangan Injil.

Dalam kedua ayat berikut ada tiga hal: bersukacita (4), kebaikan umum (5a), dan kedekatan Tuhan (5b). Ketiga hal ini memang merupakan hal-hal yang umum, dan bahasa Paulus juga umum. Sukacita itu semestinya “senantiasa”, dan kebaikan itu diketahui “semua orang”. Kedekatan Tuhan juga bersifat universal. Tetapi, ketiga hal itu juga penting dalam rangka misi. Sukacita terjadi ketika manusia merasa keberkatan. Kesetiaan kepada Kristus justru dapat membawa penderitaan bukan berkat (1:27-30), sehingga orang tidak akan bertahan kecuali ada sumber perasaan berkat yang lain. Bagi Paulus, Kristus adalah berkat yang melampaui segala berkat duniawi (3:7-8). Jadi, sukacita dalam Tuhan akan membuat kita sanggup bertahan dalam perjuangan Injil di dunia.

Tentu, kebaikan hati adalah juga kesaksian hidup yang berarti. Istilah itu berarti sikap yang tidak menuntut hak secara kaku tetapi mampu memberi kelonggaran yang manusiawi. Sikap itu dijunjung tinggi oleh filsuf seperti Aristoteles, tetapi alpa sekali dari gaya agama yang dianut Paulus sebagai Farisi, yang tergolong garis keras. Tetapi di dalam Kristus, Allah tidak menuntut hak kepada Paulus melainkan menunjukkan kasih karunia yang luar biasa. Mungkin dalam konteks kota Filipi yang merupakan koloni Romawi dengan gaya yang cenderung legalistik/formalistik, Paulus melihat sikap ini sebagai pengantar untuk berbicara tentang kasih karunia itu.

Dasar dari misi adalah kedekatan Tuhan, entah maksudnya bahwa Tuhan yang menjadi seorang manusia (2:7) tidak jauh dari setiap orang, atau bahwa Dia akan segera datang kembali sehingga semua perlawanan terhadap-Nya akan berhenti (2:10-11). Bisa saja kedua-duanya yang dimaksud Paulus, dan kedua-duanya merupakan alasan untuk bersukacita dan berbaik hati.

Kedekatan Tuhan itu juga melandasi hal berikut, yaitu doa. Orang-orang yang setia kepada Kristus pasti akan mendapat banyak tantangan dan banyak alasan untuk khawatir (6a). Tetapi Paulus menyuruh jemaat untuk menyatakan permintaan mereka kepada Allah (a.6b; aitema berarti permintaan, bukan keinginan). Caranya dengan proseukhe dan deesis, dua kata yang selalau merujuk kepada perkataan kepada yang ilahi. Bedanya bahwa deesis memiliki unsur mendesak. Adanya desakan dalam doa mengandaikan bahwa ada pergumulan yang sungguh berat, penderitaan dan tangisan. Sukacita bukan sikap “happy-happy saja”. Menarik bahwa desakan itu juga disertai syukur. Sesuai dengan pola doa dalam kitab Mazmur, Paulus mengusulkan doa yang terus terang (mendesak) dan juga dikuatkan dengan kebaikan Allah di dalam Kristus (syukur). Hasilnya damai sejahtera (7). Damai sejahtera itu bisa saja dilihat sebagai keutuhan kembali. Hati yang bergejolak telah menjadi tenang, karena di dalam Kristus Allah sedang membawa keteraturan ke dalam dunia yang kacau. Damai sejahtera itu melampaui segala akal, artinya, lebih dari apa yang muncul dari akal manusia saja. Tujuan dari damai sejahtera ini ialah tetap teguh di dalam Kristus (7b), tidak tergoyahkan oleh perlawanan karena perjuangan Injil.

Jika doa dapat menangani gejolak hati yang khawatir, Paulus melihat lebih jauh, bagaimana membangun pola berpikir yang tidak cepat gelisah. A.8 meneguhkan banyak nilai yang terdapat dalam budaya Yunani, yang disimpulkan sebagai kebajikan (nilai universal) dan patut dipuji (nilai yang diakui masyarakat). “Benar” adalah kebajikan dalam bidang pengetahuan; “mulia” adalah kebajikan dalam bidang sosial/politik; “adil” adalah kebajikan dalam bidang relasi; “suci” adalah kebajikan dalam bidang moralitas. Nilai-nilai universal itu juga layak dipuji, tetapi kedua terakhir, “manis” dan “sedap didengar” memberi fokus pada gaya berelasi yang tidak kasar, yang tidak menjadi hambatan untuk berbagi dalam hidup, kasih, dan berita Injil. Memikirkan hal-hal itu akan meneguhkan damai sejahtera, ketimbang, misalnya, menerima gosip, mengagumi yang jelek, merencanakan kejatuhan sesama, mencari yang kotor, dan membual.

Hal-hal itu adalah kebajikan yang akan diterima luas, tetapi cara mempraktekkannya sebagai orang percaya harus dipelajari dari sesama orang percaya, yakni, bagi orang Filipi, diri Paulus (9). Ajaran, penyampaian tradisi tentang Yesus, cara berbicara dan cara bertindak Paulus layak dicontoh, termasuk keteladanannya di tengah pergumulan (pasal 1). Dengan berpikir dan bertindak demikian, penyertaan Allah akan sangat nyata bagi mereka, bahkan di tengah pergumulan mereka karena Injil.

Maksud bagi Pembaca

Paulus meneguhkan seruannya untuk hidup berpadanan dengan Injil dengan menunjukkan beberapa disiplin batin yang akan memampukan mereka bersatu (2-3) sesuai dengan teladan Paulus sendiri (8). Bersukacita, baik hati, berdoa, dan memikirkan kebajikan akan membentuk jemaat yang berguna dalam misi Allah. Dasarnya ialah bahwa Tuhan itu dekat.

Makna

Hal-hal ini dengan mudah menjadi terlepas dari tujuan misi. Bersukacita dalam Tuhan menjadi sikap optimis; berbaik hati menjadi cara untuk berhasil secara sosial; doa menjadi cara menangani stres; a.8 menjadi “positive thinking” saja. Hal-hal ini memang akan membantu kita untuk menikmati kemanusiaan yang lebih utuh dan lebih mampu, menjadi lebih dewasa (“sempurna”, 3:15). Tetapi konteks perikop ini adalah kesatuan dalam perjuangan dan dalam pengharapan (“tercantum dalam kitab kehidupan”). Kedewasaan dalam Kristus dibentuk bukan dalam sukses melainkain dalam kegagalan, bukan dalam kelegaan melainkan dalam pergumulan, seperti Kristus (3:10-11). Dengan kata lain, kedewasaan dalam Kristus dibentuk ketika kita terlibat dalam misi Allah sama seperti Kristus. Dalam konteks misi, sukacita, kebaikan hati, doa dan berpikir baik menjadi penting demi kemuliaan Allah sendiri.

Saya menyebut bersukacita dan sebagainya sebagai disiplin batin untuk menunjukkan bahwa ada kesengajaan di dalamnya. Paulus tidak mengatakan, “mudah-mudahan ada rasa sukacita dalam Tuhan, mudah-mudahan kamu merasa mau berbaik hati”. Dia menyuruh kita untuk menyandang sikap sukacita, mempraktekkan kebaikan hati, berdoa dengan desakan disertai syukur dan memikirkan apa yang baik. Hal itu hanya mungkin kita lakukan jika kita telah menangkap kasih dan anugerah Allah di dalam Kristus, bila kedekatan Kristus telah menjadi sesuatu yang dihargai dan dirindukan, bila Kristus makin menjadi berkat utama dalam kehidupan kita.

Pos ini dipublikasikan di Filipi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s