Ams 2:1-22 Cara dan Alasan untuk berhikmat (25 Nop 2012)

Struktur perikop ini cukup jelas, dan dengan demikian alur penguraian juga tidak sulit. Penekanan kitab Amsal pada pengamatan yang jeli berguna untuk kita semua, termasuk para pelayan yang bisa pandai berteori tetapi teorinya tidak berkenaan dengan realitas. Semoga jemaat bisa makin pandai dalam mempraktekkan imannya.

Penggalian Teks

Ayat-ayat ini ditujukan kepada “anakku”. Hal itu memakai bahasa keluarga, dan kita dapat membayangkan konteks seorang ayah kepada anaknya, dan juga konteks yang lain, seperti kepegawaian yang dibangun di bawah pemerintahan raja Salomo, di mana atasan akan membimbing para pemula. Beberapa kata kunci dipakai. Kata “pengertian” (bina) adalah hasil pengamatan, dan kata “kepandaian” (tebuna) adalah penerapan pengertian itu. Kata “pengetahuan” dan “pengenalan” sama dalam bahasa aslinya (da’at). Kata “hikmat” mungkin mencakup semuanya, pengetahuan serta kemampuan.

Aa.1-5 menyampaikan seruan untuk mengejar hikmat, pengertian dan kepandaian. Hasilnya tampak dalam hubungan dengan Tuhan. Takut akan Tuhan akan dimengerti, dan Dia akan dikenal. Hubungan antara hikmat dan pengenalan akan Allah disampaikan dalam aa.6-9. Hikmat berasal dari Tuhan, khususnya dari mulut-Nya, yakni dalam firman Tuhan (6). Yang dapat menerima hikmat ialah orang yang menempuh jalan yang lurus dan menjaga keadilan. Hal itu selalu menantang, sehingga orang-orang itu akan mengalami pertolongan Tuhan (7). Bila dialamatkan kepada pegawai yang muda, a.8 mengena: mereka harus menjaga orang-orang kecil yang setia kepada Tuhan. Jadi, mengejar hikmat akan juga membawa pengertian tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran (9).

Melalui praktek kebenaran, “hikmat akan masuk ke dalam hatimu” (10). Dengan demikian, kepandaian akan menjaga (11). Dua kali ada ucapan “terlepas” (aa.12, 16). Aa.12-15 menggambarkan cara orang jahat, yang berisi penipuan (12) dan bahaya (13). Gambaran itu diulang dengan lebih tegas lagi dalam aa.13-14. Aa.16-19 menggambarkan “perempuan jalang”. Jalan ini dikaitkan dengan dunia maut (18-19). Tentu peringatan ini berlaku secara harfiah, tetapi a.17 memberi petunjuk bahwa maksudnya perzinaan juga.

Semua itu menjadi alasan untuk menempuh jalan orang baik (20). Orang jujur yang akan menikmati janji Allah (“tanah”, a.21). Tetapi, sebagaimana dilihat dalam aa.12-19, orang fasik akan kehilangan semuanya.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya anak-anak-Nya menjadi berhikmat. Perikop ini menujukkan caranya, yakni hidup jujur, serta manfaatnya, yaitu terlepas dari tipu muslihat dunia yang melawan Allah, dan terlepas dari menggiurkan nafsu yang menimbulkan ketidaksetiaan.

Makna

A.12b memakai bentuk tunggal (“orang”), tetapi aa.13-15 memakai bentuk jamak (“mereka”). Ucapan yang menggoda bisa datang dari satu orang, tetapi dia adalah bagian dari suatu sistem kejahatan. Istilah yang dipakai dalam Injil dan surat-surat Yohanes ialah “dunia”. Dalam dunia itu, yang gelap dan bengkok dipuji, malahan kadangkala dianggap lurus. Hikmat memampukan kita untuk melihat bahwa masuk dalam ranah korupsi dsb. akan menimbulkan banyak masalah.

Perempuan jalang saya artikan sebagai lambang nafsu yang menduakan Allah, yang dikaitkan dengan daging, mata dan “keangkuhan hidup” dalam 1 Yoh 2:13-15. Bukan hanya pelacur atau pezina yang dirujuk di sini. Nafsu akan kuasa, nafsu berlebihan akan makanan, minuman dsb. semuanya bisa menjadi jerat yang menjatuhkan, dan hikmat memampukan kita untuk menghindarinya.

Aa.7-9 tetap relevan untuk semua orang yang berkuasa sekarang, sama seperti untuk para pegawai dalam kerajaan Salomo. Tanpa berlaku jujur dan adil, hikmat yang sejati tidak akan ditangkap.

Seluk-beluk hikmat ini akan diajarkan dalam kitab Amsal, dan di dalam Kristus kita menemukan puncaknya. Di dalam Kristus ada beberapa ciri khas, yaitu bahwa penderitaan bukan hanya dalam rangka ketaatan kepada Allah tetapi juga dalam rangka kasih yang berkorban bagi sesama. Semangat untuk bermisi mencakup kedua hal itu, dan baru dalam rangka pelayanan, kematian dan kebangkitan Kristus akan dilihat sebagai jalan hidup yang berhikmat.

Pos ini dipublikasikan di Amsal dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s