Neh 8:1-13 Firman membawa sukacita yang menguatkan [14 April 2013]

Perayaan tidak lengkap tanpa berbagi dengan orang yang berkekurangan–itulah pesan yang mau disampaikan Membangun Jemaat dalam rangka perayaan 100 tahun Injil Masuk Toraja. Perikop ini menyinggung soal itu, tetapi fokusnya adalah penerimaan Taurat sebagai firman Allah, yang membawa baik dukacita maupun sukacita. Dukacita Israel menunjukkan keseriusan dalam mendengarkan, sehingga sukacita mereka lebih dari sekadar kesenangan dalam keramaian. Banyak dalam perikop ini yang menyentuh gereja yang rindu akan pembaruan.

Penggalian Teks

Nehemia 1-6 menceritakan perjuangan bangsa Israel di bawah pimpinan Nehemia untuk membangun tembok Yerusalem. Akhirnya, pada awal p.7, perjuangan itu tercapai. Tetapi baru pada 12:27 dst. kita membaca tentang pentahbisannya! Tembok itu adalah sarana saja, dan pp.8-11 berbicara tentang pembaruan rakyat, dengan mendengarkan firman Allah (p.8), mengaku dosa (p.9), dan membuat komitmen baru (p.10), dan juga dengan sebagian rakyat pindah dari kampungnya untuk menghuni kota Yerusalem (p.11). Perikop kita adalah awal proses itu.

Aa.1-5 menyampaikan kerinduan rakyat untuk mendengarkan pembacaan kitab Taurat Musa. Bulan ketujuh cocok karena pada Hari Raya Pondok Daun, pembacaan Taurat ditentukan setiap tujuh tahun, seperti diceritakan dalam 8:19. Menarik bahwa pembacaan itu terjadi di luar Bait Allah, supaya sebanyak mungkin orang mendengarkan (termasuk perempuan dan anak-anak yang mampu). Selama setengah hari mereka mendengarkan pembacaan itu, dari mimbar yang membuat Ezra kelihatan dan kedengaran. Dengan berkumpul untuk mendengarkan firman, rakyat/umat dapat juga disebut “jemaah” (qahal) (3).

Aa.6-9 memerincikan proses setengah hari itu. Pembacaan dimulai dengan penyembahan kepada Allah: jemaat berdiri ketika kitab dibuka, Ezra memuji Allah, jemaat mengangkat tangan lalu bersujud. Pujian itu dilanjutkan dengan usaha kognitif: berbagai orang Lewi datang kepada orang-orang di tempatnya, dan semua tidak hanya dibacakan tetapi juga dijelaskan.

Aa.10-13 menceritakan tanggapan umat. Tanggapan awal umat itu baru disampaikan pada akhir a.10, setelah respons Nehemia, Ezra dan orang-orang Lewi. Dalam respons itu, kita membaca pernyataan bahwa hari itu kudus, kemudian nasihat untuk tidak berdukacita. Baru setelah itu, ada penjelasan dari narator bahwa mereka menangis karena isi Taurat yang mereka dengar. Nehemia kemudian menyarankan cara untuk tidak berdukacita, yakni makan, minum dan membagikan hal-hal yang enak dan baik (11a; “yang tidak sedia apa-apa” mungkin berarti orang-orang yang miskin, atau juga orang yang tidak sadar bahwa upacara besar seperti ini akan diakhiri dengan berpesta ria). Kembali alasannya bahwa hari itu kudus. Jadi, kekudusan (“hari ini adalah kudus”) mengapit nasihat yang akan membantu mereka keluar dari dukacita. Tidak dijelaskan mengapa dukacita mengganggu kekudusan, tetapi mungkin a.11b lebih jelas: sukacita karena Tuhan diperlukan untuk menguatkan mereka. Saya akan mengusulkan suatu tafsiran mengenai hal ini di bawah.

Dalam a.12, orang Lewi, yang berada di tengah-tengah umat (8b), menyampaikan pesan yang sama. Dalam a.13, nasihat untuk tidak berdukacita itu diikuti, yaitu, mereka makan, minum dan membagikan, dan dengan demikian mereka “mempraktekkan sukacita besar” (begitu aslinya “berpesta ria”) sesuai dengan a.11b. Adalah menarik untuk memperhatikan suatu perubahan pemakaian kata terkait dengan Taurat: pada awalnya “mendengarkan” Taurat membuat mereka berdukacita, sekarang “mengerti” firman membawa sukacita.

Cerita selanjutnya perlu dicatat untuk pembahasan di bawah mengenai maksud dan makna perikop ini. Mereka merayakan Hari Raya Pondok Daun selama tujuh hari, termasuk pembacaan kitab-kitab Taurat terus-menerus. Itulah sukacita di dalam Tuhan yang membangun mereka. Baru setelah itu, dalam p.9, mereka berkumpul dan berpuasa, serta menceritakan sejarah keselamatan yang di dalamnya Israel memberontak terus-menerus.

Maksud bagi Pembaca

Ada beberapa hal yang disampaikan dalam cerita ini. Tentu, kerinduan Israel, dan juga ketelitian para pengajar, menjadi contoh yang baik bagi umat Allah. Soal dukacita dan sukacita saya bahas di bawah; kesimpulannya begini: sejauh mana kondisi gereja dianggap memprihatinkan–dan sebenarnya kondisinya selalu demikian–kita harus mulai dengan sukacita karena Tuhan, bukan dengan dukacita karena kondisi. Dalam sukacita yang diteguhkan dalam persekutuan, ada kekuatan untuk menghadapi kondisi yang memprihatinkan.

Makna

Israel mendengarkan isi Taurat, berdukacita, dan dinasihati untuk bersukacita. Beberapa minggu kemudian, setelah perayaan Hari Raya Pondok Daun, mereka berkumpul dan bertindak pas sebagai orang yang berdukacita (lihat puasa, kain kabung dsb dalam 9:1). Pada saat itu mereka mendengarkan Taurat kembali dan mengaku dosa-dosa. Mereka sangat sadar bahwa keterpurukan kondisi mereka (“kami adalah budak”, 9:36) terjadi karena dosa mereka. Pembacaan Taurat menjadi cermin yang di dalamnya mereka dapat melihat betapa jauhnya mereka dari menjadi gambar Allah (Kej 1:27) atau kerajaan imam yang kudus (Kel 19:6). Ada waktunya firman Tuhan merendahkan.

Tetapi dalam perikop kita, belum waktunya untuk Israel direndahkan. Apa bedanya? Dari a.11b tadi, mereka perlu bersukacita dulu. Sukacita “karena Tuhan” melihat lebih dulu ke soal keselamatan, ke rencana Tuhan bagi Israel, ke kasih setia-Nya yang membawa mereka keluar dari Mesir. (Hari Raya Pondok Daun merayakan panen, tetapi soal tinggal di dalam pondok juga merujuk pada keluaran itu, karena mereka tinggal di pondok-pondok selama mengembara di padang gurun [Im 23:43].) Dalam perikop kita, Israel berdukacita karena mendengar teguran keras dalam Taurat, tetapi belum memahaminya dalam konteks kasih setia Allah itu. Setelah mengerti alasan untuk bersukacita, bukan hanya pada hari pertama tetapi juga dalam perayaan berikutnya, mereka siap untuk berdukacita karena dosa. Kita dapat membandingkan dua macam dukacita itu dalam 2 Kor 7:10. Yang satu yakin akan anugerah Allah, yang satu terpuruk dalam kecemasan karena tidak ada harapan akan pengampunan dalam dunia.

Makan dan minum bersama bukan hal yang asing dalam PL (misalnya, 2 Sam 6:19), dan menjadi salah satu gambaran Yesus tentang persekutuan umat-Nya dalam dunia baru (Luk 13:29). Sikap hati ditunjukkan dan juga dibentuk oleh tubuh kita. Makanya, Israel berpuasa ketika mau mengaku dosa, dan berpesta ria ketika mau bersukacita karena Tuhan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pribadi dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Neh 8:1-13 Firman membawa sukacita yang menguatkan [14 April 2013]

  1. Jusuf dollut tuge berkata:

    Sangat memberkati saya dg kupasan Nehemia 8. Tnks. Terus maju. Gbu all.

  2. abuchanan berkata:

    Ya, gedung gereja menjadi sarana kita (dan itu penting), tetapi itu bukan intinya. Terima kasih.

  3. Tuto' berkata:

    Selamat Paskah, selamat bertemu lagi Ambe’.
    untuk perikop Nehemia 8 ini, saya Tuto’ melihatnya, sebagai langkah awal Nehemia untuk membahaarui kehidupan “keagamaan” atau “spiritual” orang Israel pasca pembuangan dari Babel. Tembok sudah selesai dan Bait Allah sementara dalam pengerjaan. Nehemia mempersiapkan mereka bahwa “jangan sampai semua sudah selesai sehingga “Firman Tuhan ” atau “Taurat Tuhan ” di abaikan. Jangan sampai mereka menjadikan bangunan yang megah dan mewah itu sebagai “identitas dan jati diri sebagai umat Allah” lalu FirmanNya diabaikan. Nehemia tidak mau terjebak kembali pada sistim keagamaan yang membuat mereka harus mendapat hukuman pembuangan. Mereka bangga, kalau boleh kita katakan terlalu bangga dengan gedung Bait Allah yang berlapis emas daripada Firman Tuhan. Gedung menjadi sarana untuk membangun jembatan ke hadirat Allah, sehingga FirmanNya di abaikan. Hal ini juga menjadi perenungan kita disaat memasuki 100thn IMT. umat selalu berburuh dn mendahulukan gedung dan sarana yang megah dan mewah. namun tidak memakai semuanya itu sebagai sarana untuk memahami Firman lebih jauh. Setelah gedung selesai, umat berebut untuk mengukir namanya dalam daftar pemberi sumbangsih yang “ter”. Firman yang diberitakan tidak lagi berpusat pada kerinduan dan ketulusan beribadah tapi datang dalam kerinduan bahwa lihatlah Gedung yang megah dan mewah ini adalah buah karya “Pong Tuto’ “. Keangkuhanlah yang membuat umatNya dibuang ke Babel. dan jangan-jangan seratus tahun kedepan “ada pemulihan” cara Allah, bagi GerejaNya, Gereja Toraja. Jadikan FirmanNya sebagai dasar dalam bersekutu, melayani, dan beribadah. Allah dapat memakai gedung yang sederhana dan fasilitas terbatas untuk membangun umat Tuhan yang tangguh iman dan setia melayani.
    Jangan terlena dengan gedung megah dan fasilitas mewah. Jadikan semua itu untuk mewadahi pembangunan iman warga gereja. Pusatkan program gereja untuk pembelajaran Alkitab yang kokoh dan segar untuk mengubah hidup anak Tuhan makin hari makin menyerupai Kristus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s