1 Petrus 1:13-25 Kasih yang muncul dari iman dan pengharapan [21 April 2013]

Perikop ini sangat kaya, dan banyak berbicara tentang karya Kristus dan rencana Allah. A.22 sangat cocok sebagai nas, tetapi karena kita cenderung menganggap bahwa kita sudah memahami kasih, ada bahaya bahwa kita akan bercerita panjang lebar tentang kasih dari pemikiran dan pengalaman diri kita sendiri. Tentu, pendekatan seperti itu sangat keliru. Yang pertama, lihat a.17. Kita bertanggung jawab kepada Allah, bukan kepada para majelis yang cepat bosan mendengar tentang Allah, dan hanya mau dihibur oleh cerita-cerita lucu. Yang kedua, penguraian Petrus yang diilhami Roh Kudus itu jauh lebih menarik dan berbobot, dan akan jauh lebih efektif karena berkuasa mengubah jemaat. Bagaimana caranya akan kita lihat di bawah.

Penggalian Teks

Petrus menulis kepada jemaat-jemaat yang mengalami tekanan dari luar, dan menggambarkan mereka sebagai pendatang dalam dunia ini (1:1). Kata itu (parepidemos) dipakai untuk orang yang hanya singgah di suatu tempat. Dengan demikian, soal eskatologi—akhir dan tujuan hidup—diangkat dalam bagian awal surat ini, dan pengharapan menjadi tema besar di dalamnya. Bagian syukur (1:3-12) menempatkan iman sebagai cara menerima kekuatan Allah (1:5) untuk bertahan dalam “berbagai-bagai pencobaan” (1:6) sehingga pengharapan itu tercapai (1:7). Pengharapan itu menimbulkan kasih kepada Allah sebagai respons terhadap keselamatan yang luar biasa itu (1:8-9). Semuanya sesuai dengan kesaksian PL (1:10-12).

Makanya, dalam perikop kita yang merupakan bagian nasihat yang pertama, perintah pertama adalah berharap (elpizo; kedua perintah sebelumnya dalam LAI adalah partisip yang menerangkan kata kerja ini). Aa.14-16 membahas pola hidup berdasarkan pengharapan akan kedatangan Kristus; aa.17-21 membahas cara hidup berdasarkan iman akan pengorbanan Kristus; aa.22-25 membahas sifat hidup berdasarkan kasih yang ditanam oleh Injil. Jadi, kasih bagi orang percaya tidak hanya dibentuk oleh iman, kasih juga dibentuk oleh pengharapan.

Aa.13-16. Kata “turuti…yang menguasai” adalah terjemahan LAI dari kata suskhematizomai, yang dalam Rom 12:2 diterjemahkan “menjadi serupa”. Dunia di sekitar pembaca surat Petrus dibentuk oleh berbagai hawa nafsu. Tetapi mereka dipanggil untuk dibentuk oleh kekudusan Allah. Panggilan ini tentu mustahil kecuali kita menerapkan a.13. Pengharapan kita perlu diarahkan seluruhnya kepada kasih karunia keselamatan eskatologis dalam Kristus. Pengarahan itu tidak terjadi begitu saja tetapi menuntut kesengajaan (“akal budi”) yang teliti (“waspada”) terhadap harapan-harapan lainnya yang dapat merongrong ketaatan dengan membenarkan berbagai hawa nafsu. Harapan akan pujian manusia akan merongrong pengharapan akan “puji-pujian” yang akan kita peroleh pada hari kedatangan Kristus yang kedua kalinya (1:7); harapan akan harta duniawi akan merongrong pengharapan akan bagian yang tidak dapat binasa (1:4).

Aa.17-21. Dalam bagian ini ada beberapa konsep yang mungkin bisa dianggap berlawanan: Allah sebagai Bapa atau Hakim, ketakutan atau iman/pengharapan, dan penebusan dari dosa atau darah Kristus yang menghapus dosa. Seorang bapa mengasihi anak-anaknya sendiri, sesuai dengan kasih karunia dalam aa.13-16, tetapi Bapa dalam a.17 tidak memandang muka. Maksudnya bahwa kasih karunia Allah tidak membuat-Nya buta terhadap kelemahan anak-anak-Nya. Orang percaya tidak dihakimi Allah untuk menentukan apakah kita akan selamat atau binasa, tetapi Allah tetap memperhatikan dan menilai baik buruknya kehidupan kita. Hal itu membuat kita takut (dalam artian hormat, bukan gelisah) selama kita hidup di dunia ini.

Rasa hormat itu bukan hanya karena perhatian Allah, tetapi juga karena penebusan-Nya: kita ditebus dari hidup lama (sama seperti Israel ditebus dari perbudakan di Mesir) dengan darah yang mahal (18-19). Darah itu menghapus dosa (seperti “anak domba” dalam PL). Ada yang melihat penghapusan dosa itu sebagai alasan untuk berdosa (karena sudah aman), sedangkan penebusan itu membawa kita keluar dari dosa. Kuncinya di sini adalah “kesia-siaan” hidup lama. Dalam Kristus, kita mulai melihat buruknya dosa, sehingga mau dibebaskan daripadanya. Kiasan penebusan menunjukkan bahwa darah Kristus menghapus utang dosa, sehingga memutuskan hak dan kuasa hidup lama atas kita. Tentu, kita ditebus untuk menjadi anak-anak Allah, bukan tuan-tuan atas kehidupan diri sendiri.

Dalam a.20, Petrus menempatkan penebusan itu dalam konteks rencana Allah (seperti dalam 1:10-12). Kedatangan Kristus untuk pertama kalinya menandai kedatangan zaman akhir, sebagai puncak rencana Allah yang ada sebelum dunia dijadikan. Penyataan Kristus paling jelas dalam kebangkitan-Nya (21). Jadi, percaya akan kebangkitan Yesus adalah percaya kepada Allah. Kristus menjadi dasar dan pusat iman dan pengharapan kita kepada Allah. Jadi, dalam Kristus takut akan Allah diiringi kasih karunia, kasih karunia masa lampau (telah ditebus) yang diimani, dan kasih karunia masa depan (keselamatan eskatologis yang dijamin oleh kebangkitan-Nya) yang diharapkan.

Aa.22-25. Bagian ini menyangkut dua segi untuk mencapai kasih dengan segenap hati. Segi yang pertama ialah pemurnian keinginan-keinginan yang menghambat pernyataan kasih (seperti dalam 2:1). “Kasih persaudaraan yang tulus ikhlas” berarti kasih persaudaraan yang tidak dicemari oleh harapan-harapan palsu, seperti (untuk melanjutkan kedua contoh di atas) mencari muka atau mencari keuntungan. Hal itu terjadi karena “ketaatan kepada kebenaran”, yaitu terutama kebenaran tentang penebusan dan keselamatan eskatologis yang dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya. Segi yang kedua ialah benih firman Allah yang memungkinkan mengasihi dengan segenap hati. Seandainya hati seorang manusia berdosa dapat dibersihkan dari semua keinginan yang dicemari oleh dosa, bukankah hati itu akan menjadi kosong? Jadi, pemurnian tidak cukup, harus dilengkapi dengan pengisian kembali. Makanya, Petrus menjelaskan bahwa orang percaya dilahirkan kembali dari benih firman Allah yang disampaikan Injil. Injil menanam kasih Allah yang kekal dalam hati, suatu benih yang makin bertumbuh makin mengesampingkan keinginan-keinginan yang sia-sia. Tentu, yang diberitakan dalam Injil ialah Kristus yang telah menebus kita dan yang akan datang kembali. Injil adalah berita yang diimani dan diharapkan, sehingga menjadi benih kasih yang sungguh-sungguh.

Maksud bagi Pembaca

Jika a.22 diangkat sebagai fokus dari perikop yang begitu kaya ini, perikop ini merupakan nasihat yang mau mendorong pertumbuhan kasih melalui hati yang dimurnikan oleh iman dan pengharapan dalam Kristus. Hal itu adalah inti kekudusan, sesuai dengan status kita sebagai “bangsa yang kudus” (2:9), dan juga sifat mendasar dalam kesaksian (2:12).

Perhatikan betapa Kristosentris nasihat rasul Petrus ini. Banyak filsafat hidup berbicara tentang kasih, seperti dalam a.22. Tetapi bagi Petrus, kasih yang sejati itu bukan hasil usaha diri sendiri ataupun budaya setempat, melainkan buah dari berita Injil, yaitu penebusan yang diimani dan keselamatan yang diharapkan. Pada hemat saya, menegur jemaat karena kurang saling mengasihi tidak terlalu berguna. Bukankah mereka sudah tahu, sama seperti kita sudah tahu? Lebih berguna melacak akarnya. Apa saja sumber keinginan-keinginan jemaat (termasuk kita) yang mencemari kasih? Di mana iman dan pengharapan jemaat (termasuk kita) kepada Kristus kurang sehingga keinginan-keinganan itu tetap subur? Jemaat (paling sedikit jemaat yang siap mendengarkan) sudah merasa bersalah karena kurangnya kasih mereka. Mereka membutuhkan pertolongan Pelayan untuk menyiapkan akal budi mereka dan berwaspada terhadap semua yang merusak kasih.

Makna

Budaya memenuhi banyak kebutuhan manusia, dan salah satunya adalah menampung hawa nafsu manusia. Walaupun dosa adalah pilihan individu, dosa juga tersistem. Bisakah seorang individu berjudi seorang diri? Melacur seorang diri? Bergosip seorang diri? Budaya menyediakan sarana-sarana untuk berdosa. Bahkan yang dianggap individu, seperti kemarahan atau kecemburuan, akan dipengaruhi oleh budaya. Kapan dan bagaimana orang Toraja biasa cemburu tidak seluruhnya sama dengan orang Barat. Makanya, Petrus menyebutkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang (18). Hal itu tidak mengecam budaya secara total, tetapi menunjukkan bahwa budaya dicemari dosa, sama seperti hati manusia.

Bahkan, budaya dosa akan berbeda di setiap tempat. Makanya, tadi saya mengajukan pertanyaan ketimbang menambah contoh, karena Pelayan itu sendiri yang harus berpikir secara teologis tentang kondisi jemaat dalam rangka pengharapan, iman dan kasih. Pelayan yang bergaul dengan jemaat sehingga pola kekurangan kasih dikenal. Pelayan yang mendengarkan dan mendoakan jemaat sehingga memahami di mana iman dan pengharapan jemaat lemah. Jadi, Pelayan yang diutus Allah untuk membawa perikop ini ke dalam kehidupan jemaat sebagai firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

Pos ini dipublikasikan di 1 Petrus dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 1 Petrus 1:13-25 Kasih yang muncul dari iman dan pengharapan [21 April 2013]

  1. tulistulistulis berkata:

    Ulasan yang sungguh bagus.

  2. Yaya rundupadang berkata:

    Terimakasih atas tambahan pemahaman yg lebih mendalam dari perikop ini untuk lebih berkualitas didalam mengasihi, berpengharapan, Dan hidup kudus dalam kaitannya dgn budaya. Once again thanks a lot, oh ya PA kita masih berlanjut?

  3. Ping balik: Yoh 20:19-31 Kesaksian cukup untuk percaya dan hidup [27 Apr 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s