Kis 2:41-47 Budaya jemaat milik Kristus [28 April 2013]

Perikop kita, lebih lagi aa.44-45 yang menjadi nas, terlalu manis. Teladan di dalamnya begitu indah dan menakjubkan sehingga kita bisa memaparkan teladan itu tanpa mengingat bahwa pola seperti itu amat sulit. Kita bisa juga lupa bahwa Lukas menempatkan gambaran ini dalam sebuah visi yang lebih luas, yaitu pemerintahan Kristus. Baik visi itu maupun pola seperti dalam perikop kita tidak asing dalam kehidupan bergereja, tetapi selalu perlu dikuatkan. Semoga jemaat tergugah oleh visi pemerintahan Kristus dan tergerak oleh teladan gereja perdana.

Penggalian Teks

Tentu, perikop ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya. “Perkataan” yang diterima (41) adalah pemberitaan Petrus. Petrus memberitakan bagaimana Yesus telah menjadi “Tuhan dan Kristus” (2:36). Kata “Tuhan” (kurios) adalah gelar untuk kaisar Romawi (kata kurios berarti “tuan”, belum tentu “Tuhan”, tetapi para kaisar sudah dianggap ilahi pada zaman itu). Kata “Kristus” berarti Mesias orang Israel. Jadi, kedua istilah itu berarti bahwa Yesus adalah Raja. Raja seperti apa? Sebelum Yesus naik ke surga, para murid masih membayangkan bahwa Yesus akan memerintah dari Yerusalem melalui Israel yang berjaya (1:6-7). Yesus tidak menolak gagasan itu (lihat Wahyu 21:22-22:5!), tetapi menundanya. Sebelum Dia datang kembali, Dia akan memerintah dari sebelah kanan Allah di surga. Murid-murid-Nya bertugas untuk bersaksi tentang Dia supaya orang-orang dari segala bangsa masuk ke dalam kerajaan-Nya, dalam kuasa Roh Kudus yang menuntun dan menguatkan kesaksian itu. Perikop kita menyampaikan gambaran umum tentang pola hidup orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Raja.

Perikop kita mulai dengan hasil pemberitaan Petrus sebagai kesaksian (satu jumlah besar, a.41), dan berakhir dengan hasil pola hidup itu sebagai kesaksian (banyak jumlah kecil, terus-menerus, a.47). Aa.41-42 meringkas pola hidup mereka, dan aa.43-47 menunjukkan bagaimana kehadiran mereka membawa kesaksian.

Aa.41-42. Mereka dibaptis sebagai tanda menjadi bagian dari Yesus (“dibaptis dalam nama Yesus”, a.38), sehingga menerima pengampunan dan karunia Roh Kudus. Pengampunan itu bukan karena dosa kecil saja: para pendengar Petrus termasuk yang membiarkan atau merencanakan pembunuhan Yesus (2:36). Semestinya Raja Yesus langsung membalas dendam terhadap semua musuh-Nya untuk menegakkan kebenaran dan kuasa. Tetapi cara Allah berbeda, dan pengampunan yang ditawarkan dulu, disertai Roh Kudus supaya ada pembaruan.

Respons, atau penghayatan jemaat, termasuk empat hal: pengajaran serta persekutuan, dan pemecahan roti serta doa. Pengajaran menjelaskan makna baptisan dalam Kristus, sedangkan persekutuan di dalam Kristus mewujudkan makna itu. Satu wujud utama persekutuan itu adalah pemecahan roti. Hal itu pasti termasuk peringatan akan Yesus yang kita sebut perjamuan kudus, tetapi mungkin lebih luas. Dengan demikian, mereka mengingat dasar persekutuan mereka sebagai pemeberontak yang diampuni oleh darah Kristus. Persekutuan bersama diiringi persekutuan dengan Allah dalam doa. Perhatikan bahwa pola ini *ditekuni*. Mereka baru diselamatkan “dari orang-orang [atau angkatan] yang jahat” sehingga perlu dibentuk kembali, dalam suatu proses yang hanya bisa dilakukan bersama, dan yang memerlukan waktu yang lama.

Aa.43-47. Inti dalam ayat-ayat ini ialah bahwa persekutuan warga kerajaan Yesus tidak menyendiri dan tidak berdiam diri. Mereka berdampak secara nyata terhadap tetangga-tetangga. Dalam a.43 hal itu terjadi melalui mukjizat dan tanda ajaib. “Mukjizat” (teras) berarti sesuatu yang menarik perhatian, yang mengagumkan. “Tanda ajaib” (semeion) berarti tanda, artinya, sesuatu yang merujuk ke sesuatu yang lain. 3:1-10 menjadi paradigma mukjizat dan tanda: penyembuhan itu dilakukan di depan umum dalam nama Kristus.

Selain penyembuhan oleh para rasul, saya duga aa.44-47a juga dimaksud sebagai keajaiban yang merujuk kepada Kristus. Aa.44-45 berbicara tentang pembagian harta secara nyata. Maksudnya bukan bahwa kepemilikan dalam hukum dijadikan bersama—orang yang belum menjual hartanya masih bertanggung jawab atasnya, dan harta dijual sesuai keperluan, bukan supaya semua menjadi orang tidak mampu. Tetapi tanggung jawab itu ada demi seluruh jemaat Kristus, bukan untuk diri sendiri (atau keluarga saja). Pembagian harta milik ini menjadi tanda yang merujuk kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus.

Mereka juga bersekutu di Bait Allah (46a), benteng kelompok yang bersekongkol untuk membunuh Yesus. Dengan demikian, mereka menyatakan bahwa mereka bukan sekte yang harus bersembunyi, tetapi bahwa mereka bersekutu dalam Kristus, yaitu, dalam Mesias yang menggenapi semua janji Allah kepada orang Israel. Persekutuan mereka juga diadakan dalam rumah-rumah, dengan makan bersama dan memuji Allah. Pola hidup mereka jelas sebagai pola hidup yang baik, sehingga “disukai semua orang”. Tentu, bukan pola hidup itu yang membuat orang bertobat, melainkan Allah sendiri yang menggunakannya untuk membawa orang ke dalam persekutuan yang menyelamatkan itu (47).

Maksud bagi Pembaca

Lukas memberi suatu gambaran tentang wujud pertobatan kepada Yesus sebagai Raja yang memerintah dari surga melalui Roh Kudus. Wujud itu adalah suatu persekutuan kasih yang mencerminkan pengampunan-Nya dan pengorbanan-Nya bahkan dalam ekonomi mereka. Pada gilirannya, persekutuan itu menjadi kesaksian tentang sifat kuasa Yesus sebagai Raja.

Makna

Mengapa saya memakai istilah Raja, sedangkan istilah Lukas ialah “Tuhan” dan “Kristus”. Masalahnya, kedua istilah itu telah menjadi “religius”, padahal kurios dan Khristos adalah istilah yang juga politis. Religi (dalam pemahaman modern) adalah penopang kehidupan di mana kita menentukan tujuan hidup (berdasarkan kehendak pribadi atau tuntutan budaya dalam masyarakat yang lebih kolektif), dan kuasa ilahi diharap menopangnya. Tetapi Yesus sebagai Raja memiliki tujuan yang bertentangan dengan cita-cita kita—kecuali selama ini kita bercita-cita untuk memikul salib karena melawan semua kuasa yang menentang Allah.

Religi juga mengerdilkan dosa. Orang bisa saja bersyukur kepada Tuhan karena dapat membangun rumah hasil korupsi, kemudian mengaku dosa dengan sungguh-sungguh karena terganggu perasaan lekas marah atau merasa malu karena rentan terhadap godaan tertentu. Yang utama tetap diri sendiri, “Tuhan”-nya hanya penopang untuk membantu dia mengatasi masalah dan menjadi sukses, bukan tuan atau Raja atas hidupnya. Tetapi sebenarnya, orang religius adalah pembunuh Yesus—sudah pasti dia akan ikut membunuh Yesus, karena kepentingannya lebih penting daripada kebenaran—dan pemberontak terhadap Allah.

Gejala religi seperti itu adalah persekutuan yang semu, karena diri sendiri yang utama. Hal itu kebalikan dari kasih yang digambarkan dalam pembacaan kita. Sebaliknya, ketika jemaat saling membantu dengan tidak khawatir dan tidak menghitung untung-rugi, kita melihat buah yang baik dari pertobatan yang sejati. Apa yang menjembatani pertobatan dan penghayatan?

Saya kembali ke kata “bertekun” (a.42, a.46). Pengajaran tidak selesai dengan pernah dicakup dalam program katekisasi, sehingga kita membutuhkan program seperti BGA dan khotbah yang berbobot setiap minggu. Saling membagikan juga membutuhkan kebiasaan-kebiasaan yang bisa ditekuni. Mungkin pundi diakonia adalah salah satunya, mungkin salah satu lagi adalah membuka rumah untuk kebaktian rumah tangga. Adakah lagi, kawan-kawan?

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s