Mat 9:35-38 Dasar untuk bermisi [5 Mei 2013]

Penggalian Teks

A.35 hampir sama dengan 4:23, dan ringkasannya tentang pelayanan Yesus, “mengajar…memberitakan…melenyapkan”, persis sama. Bentuk imperfek dari kata kerja “berkeliling” di sini merujuk pada kebiasaan, yaitu pola pelayanan Yesus. Makanya, pp.5-9 yang diapit oleh kedua ayat ini (istilahnya “inklusio”) dapat dilihat sebagai gambaran yang mewakili pola pelayanan itu. Secara garis besar, pengajaran dan pemberitaan Yesus tentang Kerajaan Allah disampaikan dalam khotbah di bukit (pp.5-7), dan kuasa-Nya atas segala yang melawan Kerajaan Allah disampaikan dalam 8:1-9:34. Hal mengajar terjadi dalam rumah-rumah ibadat, di mana Kitab Suci dibacakan dan dijelaskan. Mungkin ada contohnya dalam 5:21 dst, di mana Yesus menjelaskan makna sebenarnya dari beberapa perintah Allah. Pemberitaan terjadi di mana saja. Yang diberitakan adalah Injil. Kata euanggelion berarti “pengumuman kabar baik” dan dipakai untuk hal yang dianggap penting, sepertinya lahirnya anak bagi Kaisar. Injil Yesus adalah pengumuman yang menyangkut kedatangan Kerajaan Surga, yaitu rangkaian peristiwa yang di dalamnya orang yang miskin di hadapan Allah akan dihibur, mewarisi bumi dan melihat Allah (Mt 5:3-12), sesuai dengan janji-janji PL. Pengumuman itu disertai dengan menunjukkan sifat Kerajaan Allah, dengan penyakit dan kelemahan dipulihkan (“melenyapkan” = therapeuō, biasanya diterjemahkan dengan “menyembuhkan”). Kelemahan (malakia) lebih luas dari penyakit, dan bisa merujuk pada kondisi dan sifat jiwa juga.

Sebelum 4:23, Yesus memanggil beberapa murid (4:18-22). Dalam p.10, duabelas orang yang secara khusus dipilih dari antara murid-murid-Nya (10:1-5) diutus untuk memperluas pelayanan Yesus sampai kepada semua “domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Mengapa hanya Israel? Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, mereka diutus kepada segala bangsa. Belum waktunya sampai karya keselamatan bagi segala bangsa dikerjakan.) Perikop kita mengantarkan misi itu dengan memaparkan dasar dan motivasinya.

Dasar untuk misi dalam a.36 ialah kondisi umat seperti domba yang tidak bergembala, lelah dan terlantar karena tidak terarah dan tidak aman. Seperti dilihat dalam ayat-ayat rujuk silang untuk Mt 9:36, gembala adalah pemimpin umat. Yehezkiel 34 menjadi teks klasik soal itu, karena pimpinan Israel digambarkan sebagai gembala-gembala yang jahat, dan Allah menjanjikan bahwa Dia sendiri akan menjadi gembala mereka dengan Dia sebagai Allah, dan (keturunan) Daud sebagai raja (Yeh 34:24). Yehezkiel 34 adalah nubuatan pertama dalam bagian yang memberitakan keselamatan bagi Israel yang telah dibuang (Yehezkiel 24-48), dan janji itu tidak lain dari janji akan kedatangan Kerajaan Allah. Bahasa Yesus menunjukkan bahwa Israel masih dalam kondisi pembuangan (walaupun secara harfiah ada di tanah perjanjian), sehingga berita kedatangan Kerajaan Allah sangat relevan untuk mereka. Terhadap kondisi itu, Yesus “tergerak hati”. Kata splangkhnizomai merujuk pada rasa kasihan yang terasa dalam perut. Perasaan itu menjadi motivasi untuk Yesus bergerak.

Dalam aa.37-38, Yesus menyampaikan alasan dan motivasi kepada murid-murid-Nya. Kondisi umat seperti ladang yang siap dituai. Dengan mendoakan kebutuhan pekerja untuk tuaian itu, mereka akan mendapatkan pemahaman dan motivasi untuk terlibat dalam jawaban doa itu.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mau menggerakkan pembaca untuk terlibat dalam misi pemberitaan Kerajaan Allah, dengan melihat perlunya manusia menerima Yesus sebagai Raja, dan berdoa supaya pekerja-pekerja dikirim. Bahwa Yesus adalah gembala yang akan memulihkan Israel sudah jelas dalam, misalnya, 7:21-27. Jika dalam 10:5-6 ladang itu Israel, dalam 13:38 sudah ada petunjuk bahwa ladang itu akan meluas, dan hal itu terjadi dalam Amanat Agung pada akhir Injil (“segala bangsa”, 28:19).

Makna

Soal prioritas antara pemberitaan dengan tindakan adalah masalah klasik dalam misiologi. Jelas bahwa Yesus melakukan kedua-duanya, dan dalam 10:7-8 Dia mengutus murid-murid-Nya untuk melakukan hal yang sama. Kebutuhan fisik selalu ada, dan a.36 merujuk pada masalah rohani yang tidak dapat dijawab dengan penyembuhan saja. Tetapi soal prioritas itu agak mubazir jika semangat untuk bermisi dalam bentuk apapun tidak ada. Kadangkala jemaat kita sendiri yang bertingkah laku seperti domba-domba yang lelah dan terlantar, sehingga kita merasa membutuhkan misi ke dalam dulu. Misi ke dalam selalu diperlukan; pemberitaan kita harus selalu membawa harum Injil. Tetapi perbedaan antara murid-murid Yesus dan orang banyak masih tipis pada tahap ini dalam cerita Matius. Kelebihan mereka tidak ada pada diri mereka tetapi bahwa mereka telah bergabung dengan Yesus. Hanya relasi dengan Dia yang melayakkan mereka untuk terlibat dalam misi-Nya. Bila jemaat kita sudah mengikuti Yesus, bermisi adalah bagian dari pendewasaan iman, sama seperti untuk para murid.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s