Filipi 1:27-30 Hidup Berpadanan Dengan Injil [12 Mei 2013]

Jika penguraian di bawah terasa tidak kompak, hal itu terjadi karena ada dua sasaran. Yang pertama ialah sasaran Paulus, yaitu jemaat. Yang kedua adalah Pelayan, berkaitan dengan cara Paulus terhadap jemaat. Yang pertama akan termasuk bahan khotbah, yang kedua semoga termasuk bahan doa pribadi.

Penggalian Teks

Kitab Filipi menarik, karena Paulus banyak mengangkat tentang orang sebagai contoh dari kehidupan yang berpadanan dengan Injil. Dalam 1:12-26 dia menceritakan keadaannya dan kerinduanya supaya selalu “Kristus dengan nyata dimuliakan dalam tubuhku” (1:20). Setelah perikop kita, Paulus mengangkat tentang Kristus sebagai teladan utama (2:5-11), kemudian Timotius (2:19-24) dan Epafroditus (2:25-30), kemudian dirinya kembali (3:4-14). Dia sendiri yakin bahwa Allah akan meluputkannya dari ancaman yang dia hadapi di penjara, karena mereka masih memerlukan kehadirannya (2:24-26) supaya maju dalam iman. Dalam a.26, kemajuan itu berarti kemegahan di dalam Kristus ketika Paulus kembali mengunjungi mereka.

Itulah sebabnya dia mengatakan “hanya” (27). Dia tidak bisa menjamin bahwa dia akan datang kembali, tetapi ukuran mereka semestinya bukan pujian Paulus, melainkan Injil. Aa.27-30 dapat dilihat sebagai satu kalimat, dan kata kerja utamanya ialah “hidup” (bukan “berpadanan”). Kata “hidupmu” menerjemahkan kata politeuomai yang berasal dari kata polis, “kota”. Mereka adalah warga surga (bdk. 3:30, “kewargaan” = politeuma), dan undang-undang dasar Kerajaan Allah itu Injil. Makanya, mereka terikat oleh Injil sebagai dasar kehidupan mereka. Tujuan dari seruan Paulus ialah supaya dia “mendengar” bahwa mereka “berdiri”. Berdiri itu dijelaskan dengan dua partisip sebagai “berjuang” dan “tiada digentarkan”. Mereka harus berjuang supaya mereka tetap beriman dan juga supaya Kristus tetap diberitakan sehingga orang lain beriman (bdk. 1:18). Mereka harus bertenang-tenang saja menghadapi perlawanan, dalam keyakinan bahwa ujung dari perjuangan mereka adalah keselamatan, dan bahwa Allah akan menghukum lawan-lawan itu (28). Keteguhan dan perjuangan itu menuntut kesatuan, dan itu yang menjadi topik dalam perikop selanjutnya (2:1-11).

Aa.29-30 mengajukan alasan (“Sebab”) untuk perjuangan mereka dengan pernyataan mengejutkan dalam a.29. Mereka diberi dua hak istimewa, dua “karunia” yang berkaitan dengan Kristus (to huper Kristou; frase ini dileburkan oleh LAI). Yang pertama ialah percaya kepada Kristus, yang kedua ialah menderita untuk Dia. Penderitaan dalam rangka memperjuangkan Injil melayani kepentingan Kristus. Paulus kembali kepada dirinya sebagai contoh. Ketika dia berada dengan mereka, mereka melihat perjuangannya menghadapi perlawanan (bdk. Kis 16:11-40). Ketika bagian awal surat ini dibacakan kepada mereka, mereka mendengar tentang perjuangannya di penjara (1:12-26).

Maksud bagi Pembaca

Nas ini disampaikan dalam bentuk nasihat (27-28) dengan alasan (29-30). Nasihat inti ialah hidup berpadanan dengan Injil. Isi hidup itu hanya dijelaskan sebagai hidup sehati sejiwa (bdk. 2:1-5, dan untuk segi-segi yang lain lihat p.4), dan yang lebih menonjol di sini ialah konteks perlawanan yang berakibat penderitaan. Karena nasihat itu tidak mudah, Paulus menguatkannya dengan alasan. Jika banyak orang akan menganggap bahwa penderitaan itu alasan untuk mundur, bagi Paulus penderitaan itu mau dilihat sebagai hak istimewa. Paulus mengajukan diri sebagai contoh orang yang menderita, dan akan mengajukan Kristus dalam ayat-ayat berikutnya (2:6-8).

Kita harus jelas apa yang disampaikan di sini. Hidup berpadanan dengan Injil tidak bisa dilakukan seorang diri—karena ciri khasnya di sini ialah sehati sejiwa! Jadi, maksudnya lebih dalam daripada pesan “coba menjadi orang baik” (tidak berselingkuh, tidak marah-marah, lumayan jujur). Hidup ini juga bukan hidup yang makin sejahtera, karena konteks yang di dalamnya hidup itu berkembang ialah perlawanan karena Injil.

Makna

Penekanan Paulus tentang dirinya sebagai contoh mengingatkan kita selaku pelayan bahwa kita harus menjadi contoh dari apa yang kita beritakan. Khususnya, mau tidak mau kita harus menderita karena Yesus. Tentu, kita tidak mencari penderitaan, tetapi juga kita tidak mencari aman. Jika kita hidup dan melayani berpadanan dengan Injil, penderitaan akan terjadi. Kita akan mendapat tekanan dari luar, dan juga menghadapi masalah dari dalam (bdk. p.3).

Apakah jemaat kita sudah tahu bahwa menderita bagi Kristus adalah hak istimewa dan karunia Tuhan? Apakah mereka mau tahu? Apakah kita tidak mau mengguncangkan “iman” mereka, sehingga kita mendiamkan kebenaran ini? Saya pakai tanda petik untuk iman, karena iman yang tidak siap untuk menderita bagi Kristus belum menangkap siapakah Kristus dan apa artinya mengikuti Dia. Penderitaan di sini bukan penderitaan yang melanda semua manusia, melainkan penderitaan karena kesetiaan kepada misi Kristus, perjuangan iman yang timbul dari Berita Injil. (Penderitaan umum dipakai Tuhan untuk mendidik kita, tetapi setahu saya tidak pernah disebut karunia seperti di sini.)

Namun, tantangan terbesar di sini adalah bahwa nas ini hanya dapat diterapkan bersama-sama. Sehati sejiwa tidak sama dengan semua perlawanan sudah dibungkam, atau semua sudah mengalah di hadapan tokoh yang terpandang atau rewel. Konflik yang terbuka bisa merupakan kondisi yang lebih dekat kebersamaan yang sejati, ketimbang kedamaian yang semu. Sebaliknya, kesatuan di sini adalah kesatuan dalam Injil, bukan kesatuan suku, golongan, atau kepentingan yang lain. Kesimpulannya sebagai pelayan ialah bahwa tidak cukup kita setia kepada tata gereja dan mencegah kekacauan dalam jemaat, kita juga harus membawa domba-domba supaya lebih dekat dengan Yesus, supaya Injil menjadi pemersatu mereka. Paulus tidak bertindak secara profesional dengan jemaat-jemaat yang dia dirikan, tetapi sebagai seorang ibu dan bapak (1 Tes 2:7, 11). Itu sebabnya mengapa contohnya bisa dikenali jemaat dan berdampak.

Pos ini dipublikasikan di Filipi dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Filipi 1:27-30 Hidup Berpadanan Dengan Injil [12 Mei 2013]

  1. meike tapparan berkata:

    Salam 100, sy baru sadar ternyata to mentiruran sdh aktif kembali :) makasih pak pdt. Skrg ini biar rohaniawan maupun kaum awam bgtu susahnya u berpadanan dgn Injil Kristus atau dgn ajaran agamanya. Penekanan ajaran agama skrg pd umumnya hny pd hal2 lahiriah dan simbol2 belaka. Semoga Firman Tuhan pd hari ini semakin membuat kita memeriksa dr sndri, sungguhkah kata dan perbuatan kt berpadanan dgn Injil.

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih, Amin!

  3. Ping balik: Rom 14:1-12 Terimalah sesama hamba Tuhan [14 Sep 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s