Ef 3:14-21 Dikuatkan oleh Roh sehingga Kristus diam di dalam hati [26 Mei 2013]

Hari setelah Hari Pentakosta adalah Hari Trinitas, bukan di Gereja Toraja, tetapi dalam kebanyakan denominasi di dunia. Doktrin Trinitas mencakup intisari iman kristiani, karena memberi kerangka atau batas-batas untuk memahami Allah dalam terang Yesus Kristus dan Roh Kudus. Semua pengalaman iman orang kristen berpola tritunggal, sadar atau tidak. Jika tidak berpola tritunggal, berarti Kristus menjadi mubazir (sekadar teladan atau guru), atau gelar “Kristus” menjadi label untuk ilah yang berbeda dengan Allah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus. Jika tidak berpola tritunggal, berarti kita menerapkan agama psukhikos—digerakkan oleh semangat manusia, bukan agama yang digerakkan oleh Roh Kudus. Perikop kita sangat cocok untuk berbicara tentang Trinitas, bukan dalam rangka menjelaskan rumusan satu tetapi tiga dsb., tetapi untuk menjelaskan bagaimana di dalam Kristus dengan kuasa Roh Kudus Allah menjadi pusat dalam kehidupan kita.

Penggalian Teks

Kitab Efesus memaparkan visi yang luar biasa tentang bagaimana segala sesuatu akan dipersatukan di dalam Kristus sebagai kepala (1:10). Manusia memasuki rencana Allah yang disyukuri dalam 1:3-10 itu dengan percaya kepada Kristus sehingga dimeteraikan dengan Roh Kudus (1:13). Doa Paulus mulai dalam 1:15 dengan kuasa Roh Kudus yang membawa pemahaman tentang pengharapan yang dikandung di dalam rencana Allah itu (bdk. 1 Kor 2:10-16). Pengharapan itu terjadi karena Kristus adalah Kepala jemaat (1:22), dan p.2 menjelaskan bagaimana Dia menjadi Kepala: kita menjadi bagian dari Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya (2:1-10) untuk menjadi satu Bait Allah yang terdiri atas orang Yahudi dan non-Yahudi (2:11-22). Paulus seakan-akan mau melanjutkan doanya dalam 3:1, tetapi dia menjelaskan dulu perannya sebagai rasul (3:2-13). Dalam perikop kita, dia melanjutkan doanya, supaya rencana Allah itu sungguh terwujud dalam diri jemaat. Pp.4-6 kemudian menjelaskan beberapa implikasi: kesatuan tubuh (4:1-16), hidup baru (4:17-6:9), dan perlawanan terhadap kuasa-kuasa penentang Allah (6:10-20). Jadi, dalam bentuk doa, perikop kita menjelaskan bagaimana rencana Allah di dalam Kristus menjadi bagian dari diri setiap orang percaya sehingga kesatuan dan hidup baru dapat terwujud.

Paulus menjelaskan bahwa doanya disampaikan kepada Bapa sumber segala turunan (14-15), tidak hanya bangsa Israel tetapi juga semua bangsa dan kaum yang lain (bdk. 3:6), termasuk para pendengar surat ini (2:11). Isi doa terdapat dalam tiga bagian, aa.16-17 yang di dalamnya Allah adalah subjek, aa.18-19a yang di dalamnya jemaat adalah subjek, dan a.19b yang di dalamnya jemaat adalah objek. LAI menafsirkannya sebagai tiga pokok, tetapi kata sambung (hina) yang dipakai Paulus pada awal setiap bagian dapat juga berarti “supaya”. Kalau begitu, a.19b adalah tujuan dari aa.18-19a, dan/atau nas itu adalah tujuan dari aa.16-17. Aa.20-21 menguatkan doanya dengan pujian kepada Allah.

“Ia” dalam a.16 adalah Bapa dalam aa.14-15. Paulus berdoa supaya Allah Bapa memberi sesuatu kepada jemaat. Pemberian itu sesuai dengan kekayaan kemuliaan Allah. Kekayaan menunjukkan bahwa pemberian Allah itu tidak akan pelit atau terbatas; Paulus telah memakai kata itu terkait dengan kasih karunia (1:7; 2:7) dan juga tentang warisan orang percaya (1:18). Yang diberikan ialah dibuat teguh dengan kekuatan di dalam batin, dan alat Allah Bapa untuk hal itu adalah Roh Kudus. Kata “batin” menerjemahkan “manusia dalam”, bagian manusia yang tidak kelihatan tetapi memotori tingkah laku.

Penguatan itu memiliki maksud (“sehingga”) yang memang mulia, yaitu Kristus diam di dalam hati jemaat (17). Tentu, Kristus diam oleh iman, bukan secara harfiah, karena Dia berada di sebelah kanan Allah di surga (1:20). Jika dalam 2:4-7 Paulus menempatkan jemaat dengan Kristus di surga untuk menunjukkan keterjaminan masa depan jemaat di dalam Kristus, di sini Paulus menempatkan Kristus di dalam hati jemaat. Dengan demikian, kasih Kristus menjadi tanah dan fondasi untuk pertumbuhan dan pembangunan jemaat. Alur antara a.16 dan a.17 mulai jelas. Batin manusia terlalu rapuh untuk Kristus diam di dalamnya, sehingga Allah Bapa memakai Roh-Nya untuk menjadikannya sanggup untuk menerima kehadiran Kristus.

Bagi saya, aa.18-19a menyampaikan apa yang dialami oleh orang yang di dalamnya Kristus diam. Dia mulai menangkap bahwa kasih Kristus jauh melebihi apa yang dibayangkannya selama ini. Ternyata kasih Kristus lebih dari bahwa saya masih hidup hari ini, atau bahwa anak saya lulus ujian. Pemahaman tentang kasih itu tidak terjadi seorang diri. Hanya “bersama-sama dengan segala orang kudus” kita mulai menangkap kebesaran kasih itu, karena setiap orang akan mengalami segi yang berbeda-beda. Jika ukuran kasih itu mulai ditangkap, Paulus berdoa supaya kasih itu makin dikenal. Pengenalan itu tidak pernah akan tuntas, karena kasih Kristus melampaui segala pengetahuan.

A.19a adalah hasil. Makin manusia diliputi kasih Kristus, makin dia dikuasai oleh Allah. Batin yang rapuh menjadi batin yang penuh dengan kemuliaan Allah. Makanya, Paulus memuji Allah yang karya-Nya di dalam jemaat jauh melebihi doa dan pikiran kita yang kerdil (22). Karya Allah yang terjadi dalam semua turunan itu membawa kemuliaan bagi Allah turun-temurun (21).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau membangun pemahaman jemaat tentang bagaimana Injil menjadi bagian inti dalam kehidupan mereka. Jika bahasa seperti “kepenuhan” diambil dari budaya di Efesus (Asia Kecil), dia juga mau menunjukkan bahwa pengalaman “mistis” atau “surgawi” yang mungkin ditawarkan dalam budaya itu tidak sebanding dengan hak istimewa bahwa Kristus yang didudukkan di sebelah kanan Allah juga berkenan diam di dalam hati setiap orang percaya, dan membawa pengenalan akan kasih Kristus dan pengalaman akan Allah yang penuh.

Makna

Paulus memakai beberapa kiasan di sini yang perlu diartikan. Dalam aa.16-17, hati menjadi tempat kediaman, sehingga peran Roh Kudus merupakan semacam pembenahan supaya tempat itu cukup kuat. Bagaimana hal itu mau dipahami? Implikasi utama yang disampaikan oleh Paulus ialah pengenalan akan kasih Allah di dalam Kristus. Tetapi, hal itu belum menjelaskan kiasan itu sendiri. Jika Kristus diam, Dia adalah penduduk tetap, bukan hanya tamu. Di dalam hati, Dia tentu tidak jauh. Jika dikaitkan dengan Yoh 15, Dia menjadi sumber vitalitas kita. Jika dikaitkan dengan Gal 2:20, Dia menjadi pengatur kehidupan kita. Apakah kita sungguh mau demikian? Saya duga bahwa doa kita, entah di dalam kebaktian, perkunjungan atau secara pribadi, jarang sekali sampai ke hal-hal seperti yang didoakan Paulus. Pelayan dan jemaat sama-sama mencari agama yang memberi beberapa aturan etis sebagai pengatur hidup, tetapi membiarkan cita-cita, nafsu, keinginan, dan bahkan luka-luka hati tidak diganggu. Kristus diam di dalam hati mengancam keamanan batin itu.

Tentu, nilai agama yang paling dijunjung tinggi ialah kasih. Orang dengan mudah dapat memahami konsep bahwa kita mengasihi dengan mengikuti teladan Kristus, seperti disampaikan dalam Ef 5:2. Dalam ayat itu, kasih Kristus dikaitkan dengan salib, seperti biasa dalam PB. Tetapi perikop kita menunjukkan bahwa hidup dalam kasih jauh lebih dari peniruan saja. Kristus diam di dalam kita, sehingga hidup kita diliputi kasih. Jadi, kasih dalam 5:2 bukan kasih buatan kita, melainkan kasih Kristus yang diam di dalam kita. Siapa saja bisa disuruh untuk berlaku etis terhadap sesamanya. Tetapi Paulus membayangkan jemaat yang diubah dari dalam batin dan hati. Berlaku etis bisa saja berdampak positif dalam masyarakat dan jemaat, tetapi hanya kasih Kristus di dalam hati yang menjadikan kita bagian dari pemersatuan segala sesuatu di dalam Kristus.

Apakah maksudnya di sini banyak introspeksi diri? Budaya yang memberi perhatian besar terhadap batin mulai berkembang di kota sekarang, dan pada zaman Paulus aliran filsafat sudah lama begitu juga. Tetapi bahkan budaya kolektif memiliki konsep tentang batin. Di dalam budaya tradisional Toraja, menurut salah satu antropolog Toraja, karakter orang dilihat sebagai sesuatu yang tetap, sulit diubah. Paulus sangat yakin bahwa kasih Kristus mengubah orang, jika makin ditangkap. Belum tentu harus melalui pemikiran tentang diri sendiri, karena kisah kasih Kristus memiliki kuasa tersendiri. Tetapi juga, dalam budaya kolektif, dalam hal-hal tertentu, pemikiran tua-tua kelompok yang akan diam di dalam hati orang-orang biasa/rendah di dalam kelompok itu, sama seperti kita menerima diagnosis dokter di atas pendapat pribadi. Makanya, iman kristiani yang sejati, iman yang berpola tritunggal karena iman kepada Allah disertai penguatan Roh Kudus dan pengarahan Kristus di dalam hati, mengancam tatanan sosial. Orang dengan iman seperti itu akan mencintai Kristus di atas tua-tua, pemerintah, ataupun birokrasi gereja.

Pos ini dipublikasikan di Efesus dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ef 3:14-21 Dikuatkan oleh Roh sehingga Kristus diam di dalam hati [26 Mei 2013]

  1. Rocky berkata:

    Terima kasih pak tulisannya. Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s