Roma 7:13-26 Hukum tak berdaya [2 Juni 2013]

Saya minta maaf, penjelasan kali ini juga panjang. Tentu saja, bahannya jauh melebihi apa yang dapat disampaikan di dalam khotbah. Tetapi, pada hemat saya, bahannya tidak melebihi apa yang berguna untuk dipahami oleh seorang pelayan yang mengaku mengenal Alkitab, lebih lagi kalau pelayan itu ada di dalam aliran Kalvinis yang menjadikan kitab Roma sebagai salah satu dasar utama untuk teologinya. Isi perikop ini penting. Ketika kita menangkap bahwa dosa tidak sekadar soal pengetahuan dan niat, tetapi juga menyangkut “dosa yang diam di dalam aku”, kita mulai mengerti mengapa Injil menjadi dasar bukan hanya untuk orang menjadi percaya tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.

Penggalian Teks

Pengantar. Perikop kita adalah salah satu perikop pokok tentang hukum Taurat, yang tentunya adalah dasar yang mutlak bagi orang Yahudi dalam menghayati status mereka sebagai umat Allah. Status sebagai umat Allah adalah satu hal yang dipersoalkan dengan bahasa “pembenaran”. Orang yang dinyatakan benar oleh Allah dengan demikian menjadi anggota umat-Nya. Bagi orang Yahudi, hal itu terjadi dengan sunat, dan dipertahankan dengan memelihara hukum Taurat. Tetapi, dalam Kristus, Paulus mengatakan bahwa pembenaran itu dinyatakan “tanpa hukum Taurat” (3:21), melainkan melalui iman. Namun, Paulus tetap mengklaim bahwa orang yang beriman akan meneguhkan hukum Taurat (3:31)! Hal itu membingungkan, karena dalam 2:27 orang yang melakukan hukum Taurat adalah orang yang tidak bersunat, padahal sunat adalah salah satu perintah Taurat. Maksud Paulus soal itu baru dijelaskan dalam 13:8-10, yaitu, Taurat yang berlaku bagi orang percaya ialah hukum kasih. Orang Yahudi membedakan perintah-perintah demi Allah (termasuk tentang kenajisan dan sunat) dan perintah-perintah demi sesama. Secara garis besar, kita bisa mengatakan bahwa Paulus menawarkan Kristus sebagai cara baru untuk berelasi dengan Allah, menggenapi dan menggantikan perintah-perintah hukum Taurat demi Allah, supaya hukum kasih yang tidak berubah itu terlaksana. Muncullah pertanyaan, ada masalah apa dengan hukum Taurat sehingga harus digantikan, bukan sebagai pernyataan kehendak Allah, tetapi sebagai pengatur hidup bagi umat Allah?

Ringkasan penguraian sebelumnya. Dalam pp.5-6, soal hukum Taurat muncul-muncul. Jika dalam 5:11 kita bermegah dalam Allah, hal itu terjadi “oleh Yesus Kristus”, bukan oleh hukum Taurat (bdk. 2:17, 23). Mulai 5:12, Paulus menjelaskan sejarah dua ranah penguasa dalam kehidupan manusia. Pada satu pihak ada dosa dan maut yang didatangkan oleh Adam, pada pihak yang lain ada kasih karunia dan hidup yang didatangkan oleh Kristus (5:21). Paulus menjelaskan bahwa dosa dan maut berlaku sebelum hukum Taurat diberikan, tetapi tidak diperhitungkan (5:12-14). Dengan datangnya hukum Taurat, pelanggaran bertambah. Barangkali pelanggaran di sini lebih sempit artinya daripada dosa. Di dalam Adam, manusia berdosa karena tidak mengakui Allah sebagai Allah (Rom 1:18 dst), tetapi dengan adanya hukum yang jelas, sifat pemberontakan itu muncul dalam bentuk pelanggaran perintah.

Pasal 6 melanjutkan penjelasan tentang kedua ranah itu, sekaligus meletakkan dasar kristosentris (bukan taurat-sentris) untuk hidup bagi Allah. Menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan Kristus berarti mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Penjelasan itu menyangkut identitas, tetapi di dalamnya ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Yang pertama, dosa dikaitkan dengan tubuh. (Kita akan membahas di bawah apa maksudnya “tubuh” di sini.) Dalam 6:6, manusia (identitas) lama disalibkan, sehingga “tubuh dosa kita hilang kuasanya”. Hal itu memungkinkan “dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu” (6:11) tetapi sebaliknya “anggota-anggota tubuhmu” diserahkan kepada Allah (6:13). Yang kedua, anehnya, kuasa dosa dikaitkan juga dengan hukum Taurat (6:14). Sepertinya, hanya kasih karunia yang memungkinkan manusia luput dari kuasa dosa. Hal itu dijelaskan dalam p.7, tetapi sebelumnya Paulus menegaskan bahwa dua ranah itu—dosa/maut dan kasih karunia/hidup—memang adalah penguasa. Manusia tidak bisa otonom (tabe’ lako Aristoteles, budaya Barat dan budaya modern Indonesia), tetapi hanya bisa menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran, dengan ujungnya masing-masing yang jelas.

Dalam 7:1-4, Paulus melanjutkan pernyataannya dalam 6:14, dengan menjelaskan bagaimana kita dipindahkan dari otoritas hukum Taurat untuk menjadi milik Kristus. Mengapa harus demikian? Akhirnya dalam Rom 7:5-6 kita tiba pada suatu jawaban yang akan diuraikan dalam ayat-ayat berikutnya. Yang pertama, 7:5 mengantarkan diskusi dalam 7:7-26 yang akan menjawab pertanyaan tadi, yaitu apa yang kurang sehingga hukum Taurat harus diganti. Singkatnya, hawa nafsu dosa dirangsang oleh Taurat sehingga bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita. Yang kedua, 7:6 mengantarkan solusi yang akan ditawarkan dalam 8:1-14, yaitu hidup menurut Roh Kudus.

Jadi, perikop kita sebenarnya melanjutkan argumentasi yang dimulai pada 7:7-12. Nas itu menjelaskan bahwa hukum Taurat bukan penyebab dosa, tetapi dosa memakai hukum Taurat untuk membangkitkan berbagai keinginan yang tidak baik dan menipu manusia. Perintah hukum Taurat “kudus, benar dan baik” dan sangat andal untuk kita mengenali dosa. Namun, adanya hukum Taurat tidak hanya membuat dosa menjadi pelanggaran (5:20), tetapi juga membangkitkan sikap keberontakan itu. Perikop kita mulai dengan penjelasan bahwa dengan demikian, sifat dosa makin ketahuan. Dosa begitu jahat sehingga hukum Taurat yang kudus bisa diperalat.

Penjelasan alur perikop. Tetapi, mengapa dosa bisa menyalahgunakan Taurat demikian? Ada apa dengan manusia sehingga hukum Taurat yang kudus merangsang hawa nafsu dosa dan membangkitkan berbagai keinginan dosa? A.5 telah menyebutkan “hidup di dalam daging” (bahasa Yunani: sarx), dan perikop kita menjelaskan kondisi daging/sarx itu. Intinya dalam a.14, yaitu bahwa hukum Taurat dan kondisi manusia bertentangan, antara rohani dengan “duniawi” (kata di sini sarkinos, “bersifat daging”). Searah dengan apa yang disampaikan dalam 6:15-23 dengan bahasa “hamba dosa”, di sini Paulus mengatakan bahwa manusia “terjual di bawah kuasa dosa”. Sama seperti seorang hamba, mau tidak mau, manusia akan mengikuti jalan dosa. Hal itu dijelaskan dalam tiga langkah. 1) Kehendak dan perbuatan tidak searah (15-16). 2) Hal itu terjadi karena perbuatan itu menuruti bukan kehendak “aku” melainkan dosa yang diam di dalam sarx-ku (17-20; sarx dalam a.18 diterjemahkan “aku sebagai manusia”). 3) Oleh karena itu, dalam aa.21-26 “terjual di bawah kuasa dosa” malah berarti “menjadi tawanan hukum dosa” (23), sehingga yang dibutuhkan adalah pelepasan dari “tubuh maut” (24). Dengan demikian, Paulus telah membuktikan bahwa hukum Taurat “tak berdaya oleh daging” (8:3).

Penjelasan bahan berikutnya. Kristus dan Roh Kudus menjadi solusi Allah terhadap pergumulan itu. Kristus datang dalam sarx/daging seperti kita, hanya tanpa dosa, sehingga dalam kematian-Nya dosa yang diam di dalam daging itu dihukum (8:3). Dalam 8:5-6, ada dua sumber pemikiran (froneo) dan keinginan (fronema), yaitu sarx/daging dan Roh. Froneo/fronema itu merujuk pada maksud dan tujuan hidup. Berbeda dengan 7:26 yang membedakan akal budi dan tubuh, di sini sarx/daging justru terkait dengan akal budi. Jadi, pembaruan pemikiran oleh Roh belum menjawab persoalan di atas. Baru dalam 8:9-11, Paulus menjelaskan bahwa kuasa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan memulihkan tubuh berdosa, sehingga kita mampu melakukan 6:4, 11. Caranya adalah mematikan perbuatan-perbuatan tubuh oleh kuasa Roh, sehingga kita hidup (8:13; bdk. 6:12-13). Perjuangan itu berarti karena di dalamnya kita menghayati status kita sebagai anak dan ahli waris Kerajaan (8:14-17) yang di tengah dunia yang sulit (8:18-25) Allah bekerja untuk kebaikan kita dengan menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya, Yesus (8:26-30).

Maksud bagi Pembaca

Dosa tidak bisa dihilangkan dengan kehendak saja. Tujuan Paulus adalah pertama-tama pemahaman tentang kuasa dosa dalam manusia yang begitu besar sehingga bahkan hukum Allah tidak berdaya terhadapnya. Kuasa dosa itu berakar dalam daging. Kebiasaan-kebiasaan buruk, prasangka-prasangka yang mengaburkan persepsi, cita-cita yang diserap dari dunia, semuanya telah menjadi bagian dari sistem saraf, hormon, dan penataan otak yang merusak kemampuan kita untuk mengasihi sesama. Makanya, kehendak tidak cukup untuk mengatasi kuasa dosa. Oleh karena itu, solusi terhadap hidup yang kacau bukan hukum melainkan kuasa Roh, yaitu, belajar untuk memandang diri dan dunia sesuai dengan Injil (8:3-6) dan mengandalkan kuasa Roh di dalam tubuh (8:11) untuk bekerja di dalam dan melalui pertobatan kita yang terus-menerus (8:12-13).

Dengan kata lain, Paulus merendahkan orang yang bermegah dalam hukum Taurat, seakan-akan pengetahuan akan perintah dan niat yang baik akan cukup untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dia mau supaya kita berseru kepada Tuhan agar pelepasan dalam Kristus menjadi milik kita. Pelayanan yang mengutamakan perintah akan membuat orang cemas atau munafik. Pelayanan yang menawarkan segala bekal Allah untuk perubahan batin akan memberi kesempatan untuk pertobatan dari dalam.

Makna

Di antara begitu banyak yang dapat dikatakan, saya hanya mau menyoroti soal: tubuh, daging, dan jaraknya antara kehendak dengan perbuatan.

Pertentangan Paulus bukan antara jiwa yang baik atau kekal atau ilahi dengan tubuh yang kotor dan fana dan duniawi. Tubuh adalah manusia dilihat sebagai makhluk yang bertindak dalam dunia. Hanya dengan tubuh saya dapat mengasihi sesama ataupun berbuat jahat terhadapnya. Namun, manusia adalah juga manusia yang dapat berpikir. Tindakan menyatakan maksud yang tidak kelihatan, yang tidak dapat diketahui kecuali oleh pelaku sendiri. Hal itu dilihat dalam bahasa aslinya untuk “batin”, yaitu “manusia dalam”. Istilah “manusia dalam” menunjukkan bahwa batin dan akal budi dilihat sebagai aspek manusia yang utuh, bukan jiwa yang dapat terpisah. Bahwa Paulus tidak membagi manusia dapat dilihat juga dalam 8:5, karena dalam ayat itu pikiran juga dapat bersifat daging! Dalam 8:11, kita melihat bahwa Allah bermaksud bukan untuk melepaskan jiwa dari tubuh berdosa melainkan memulihkannya, supaya seluruh tubuh menjadi persembahan yang kudus (12:1).

Kata sarx berarti daging, tetapi juga dipakai untuk manusia yang rentan dan fana. Misalnya, dalam Yes 40:6 “manusia seperti rumput”, kata “manusia” menerjemahkan Ibrani basar yang merupakan padanan Yunani sarx. Makanya, kata sarx diterjemahkan dengan “manusia” dalam a.18 (“di dalam aku sebagai manusia”), dan “insani” dalam a.26. Soalnya, terjemahan itu memberi kesan bahwa manusia pada hakikatnya berdosa. Maksudnya lebih jelas jika terjemahan itu menjadi “sebagai manusia yang rentan”. Kedua ayat itu mengangkat sarx sebagai istilah Paulus untuk berbicara tentang manusia, dilihat sebagai makhluk yang rentan terhadap atau dikuasai oleh dosa. Bedanya dengan “tubuh” ialah bahwa tubuh dosa dapat dipulihkan Roh sehingga anggota-anggotanya melayani Allah, tetapi sarx itu perlahan-lahan harus dimatikan (8:13).

Mengapa keputusan atau niat untuk berbuat baik tidak cukup? Bayangkan ada rekan yang lebih berhasil dari saya dalam sesuatu yang penting bagi saya, anggaplah berkhotbah. Saya pasti tahu bahwa semestinya saya bersyukur atas karunia Roh yang ada pada dia, dan tetap bersyukur atas karunia yang ada pada saya, walaupun sepertinya tidak sebaik dia. Tetapi, otak saya sudah terlalu terbiasa membuat perbandingan, dan rasa berguna saya terlalu lama terikat dengan kegiatan itu, karena setiap kali berkhotbah dengan baik ada pola tegang menjadi lega, khawatir menjadi senang, dan sebagainya, yang membuat kegiatan itu penting bagi saya. Keputusan untuk senang bisa saja muncul dalam kata-kata, tetapi tidak akan muncul dalam wajah dan bahasa tubuh. Bahkan kata-kata saya tidak akan menjadi pujian yang kreatif karena tubuh dosa atau kedagingan merongrong niat baik itu. Reaksi saya bukan kehendak saya, melainkan reaksi dosa yang diam di dalam saya, namun tetap merupakan penghinaan terhadap karunia Allah dan pencurian penguatan kepada yang bersangkutan, yang berasal dari diri saya dan yang atasnya saya harus bertanggung jawab. (Tentu ada juga niat yang buruk, yang statusnya sebagai dosa jelas, tetapi dalam perikop ini Paulus berbicara tentang kasus yang lebih halus.)

Semoga Roh Kudus bekerja dalam anggota-anggota tubuh saya sehingga reaksi emosional, nada suara, mimik wajah, bahasa tubuh, dan lain-lain, semakin menjadi saluran kasih Allah yang tidak dirongrong oleh tubuh dosa itu.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Roma 7:13-26 Hukum tak berdaya [2 Juni 2013]

  1. Pdt. Mathius Sarangnga' berkata:

    Terima kasih buat pelayanannya.
    Salam doa

  2. abraham berkata:

    Salam jumpa Pak Andew. Senang sekali bs mampir ke blog Bapak. Saya kagum atas kesetiaan Bapak mendampingi GT dalam membaca Alkitab.
    Membaca perikop dan kajian Bapak kali ini, saya berterima kasih atas pencerahannya, seraya menerawang: Ke”manusia”an selalu menjadi alasan klasik untuk membenarkan perbuatan dosa. “Saya ini manusia biasa!” “lan piki’ lino te!” “bati’ to malilu ki'”, dsb.

  3. abuchanan berkata:

    Terima kasih Pdt Matius & Abraham untuk dukungannya. Semoga jemaat yang terlalu cepat putus asa untuk berubah mulai mengalami kuasa Roh.

  4. lenni berkata:

    muantaaappp pak….:)

  5. Tokam Samuel berkata:

    Kurresumanga’ Ambe’ Pandita Andrew, Na Puang mora umpassakkeki’ sola nasang, Amin

  6. abuchanan berkata:

    Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s