Kej 1:26-31 Taklukkan kekacauan [16 Juni 2013]

Karena kebenaran itu kait-mengait, setiap bagian Alkitab hanya dapat dipahami secara tuntas jika dikaitkan dengan seluruh Alkitab, bahkan seluruh dunia! Makanya, tafsiran selalu merupakan pilihan dari makna yang tak terbatas. Lebih lagi untuk perikop ini, yang menjadi landasan untuk seluruh pemahaman Alkitab tentang manusia. Penekanan di bawah menyangkut masalah ekologi.

Penggalian Teks

Hari keenam menjadi puncak proses penciptaan, bukan hanya sebagai yang terakhir, tetapi juga karena manfaat dari apa yang diciptakan sebelumnya menjadi jelas. Urutan keenam hari penciptaan sistematis, dan ada kesejajaran yang jelas antara sarana dengan isi: terang (hari 1) dengan penerang (hari 4), cakrawala/air (hari 2) dengan burung/ikan (hari 5), dan darat (hari 3) dengan binatang (hari 6). Tetapi setiap hari bisa memakai hasil dari hari apa saja sebelumnya, misalnya, penerang pada hari keempat bisa memakai cakrawala dari hari kedua. Satu hal yang menarik ialah bahwa tumbuh-tumbuhan ditempatkan sebagai sarana pada hari ketiga, sehingga hari keenam berfokus pada apa yang disebut “makhluk yang hidup”. Dengan demikian, ada dua pokok pada hari ketiga (darat dan tumbuhan-tumbuhan) sama seperti pada hari keenam (binatang dan manusia). Penciptaan manusia mendapat tekanan lebih lagi karena menjadi pokok yang paling panjang.

Sama seperti semua pokok yang lain, Allah memulai penciptaan manusia dengan suatu firman (26). Sama seperti patung raja yang menjadi wujud yang kelihatan dari kuasa raja itu kepada masyarakat di daerah tempat dia tidak muncul, manusia menjadi gambar (tselem) Allah dalam dunia. Hal itu bisa terjadi karena ada kemiripan (“rupa”, demut) antara manusia dengan Allah. Gambar dan rupa itu dijelaskan sebagai kuasa atas semua makhluk hidup dari hari kelima (ikan dan burung) dan keenam (ternak dan binatang melata; binatang liar tidak disebutkan). A.27 menyampaikan tindakan Allah sesuai dengan firman itu. Manusia secara keseluruhan adalah gambar Allah, terutama sebagai laki-laki dan perempuan.

Kemudian, sama seperti hari kelima mengenai laut dan langit, Allah memberkati manusia dengan perintah untuk memenuhi bagiannya, yaitu bumi (28). Semua jenis makhluk yang hidup diberkati dengan bertambah banyak—maksud Allah adalah kelimpahan hidup. Tetapi ada tambahan perintah bagi manusia sebagai gambar Allah. Manusia tidak hanya harus memenuhi bagiannya, yaitu bumi, tetapi dia juga harus menaklukkannya. Kata “menaklukkan” (kabasy) secara harfiah berarti menekan (bdk. Lam 3:16b), dan ada kata benda dari akar kata yang sama yang berarti tumpuan kaki (bdk. 2 Taw 9:18). Kabasy dipakai dengan konotasi semena-mena dalam Est 7:8 (“menggagahi”) dan terkait dengan memperbudak dalam Neh 5:5 & Yer 34:11, 16. Sebaliknya, kata itu dipakai dengan artian “menghapuskan” dosa dalam Mik 7:19. Tetapi pemakaian yang paling sejajar terdapat dalam Bil 32:22, 29 & Yos 18:1 terkait dengan penaklukan tanah perjanjian. Baik “tanah” maupun “bumi” menerjemahkan kata ha’aretz. Bumi/tanah adalah pemberian Allah, tetapi ada kekacauan yang harus ditaklukkan supaya bumi/tanah itu dapat dinikmati. Bagi Israel, kekacauan itu adalah bangsa-bangsa yang berdosa dan mau dihukum Allah. Bagi manusia perdana, barangkali Allah yang mengatur bumi yang tak terbentuk dan kosong (1:2) dengan sengaja menyisakan tugas bagi manusia. Dalam Kejadian 2, ada taman Eden yang teratur, tetapi di luar itu bumi belum diatur. Kebaikan bumi bukan kesempurnaan yang statis, melainkan kecocokan bumi untuk tugas manusia itu. Kemudian, a.28b mengulang hal berkuasa dari a.26.

Aa.29-30 kembali ke soal tumbuh-tumbuhan (hari 3). Ada untuk manusia, dan juga untuk binatang dan burung. (Daging baru diberikan kepada manusia dalam Kej 9:3.) Allah menciptakan dunia yang di dalamnya manusia dapat melakukan kehendak-Nya.

Maksud bagi Pembaca

Nas ini menempatkan manusia di antara Allah dengan bumi. Allah adalah Pencipta dan Pemberi mandat, sedangkan dunia adalah penopang hidup dan makhluk hidup di dalamnya adalah sasaran mandat itu. Manusia bergantung sepenuhnya kepada Allah yang memenuhi kebutuhannya melalui ciptaan-Nya. Manusia berkuasa atas makhluk yang hidup sebagi wakil Allah. Baik kebergantungan manusia maupun kedudukannya sebagai wakil Allah menuntut sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Makna

Kejadian 1 menggambarkan keterkaitan semua aspek penciptaan. Terang, cakrawala dan darat dengan tumbuh-tumbuhan menjadi sarana untuk penerang yang menentukan waktu, serta berbagai jenis makhluk yang hidup yang di atasnya manusia berkuasa. Ilmu pengetahuan menegaskan keterkaitan itu dengan sangat terperinci, dan hal itu dihargai oleh semua budaya—kecuali budaya modern. Manusia selalu membawa perubahan dalam ekologi lokalnya, tetapi dampak budaya modern sangat besar dan bermasalah. Akarnya mungkin kecenderungan orang Barat untuk berfokus pada objek lepas dari konteksnya, dan bukan pada objek-dalam-relasi. Pada zaman Pencerahan, dunia mulai dilihat sebagai mesin dan bukan organisme. Mesin dapat dihantam dan tinggal diperbaiki, sedangkan organisme harus menjaga kesehatan. Kebergantungan manusia kepada Allah melalui bumi ciptaan-Nya makin dikelabui oleh keberhasilan teknologi, dan bahkan ketika kerusakan satu bagian tidak dapat dipungkiri, keterkaitannya dengan bagian yang lain tidak disadari. Masalah persepsi itu baru mulai dikoreksi secara ilmiah kurang lebih 50 tahun yang lalu.

Dalam konteks itu, kata “taklukkan” kadang kala ditafsir sebagai hak mutlak manusia untuk menggunakan dunia dengan semena-mena. Tafsiran itu memutarbalikkan maksud dari kata “taklukkan” itu. Tugas manusia adalah mengatur apa yang belum teratur, seperti yang dilakukan Allah, bukan menambah kekacauan.

Pos ini dipublikasikan di Kejadian dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kej 1:26-31 Taklukkan kekacauan [16 Juni 2013]

  1. FREDY berkata:

    Terimah kasih, bahannya ini sangat bermanfaat ut menjadi bahan referensi dalam mempersiapkan bahan kotbah pada pelayanan hari minggu, Tuhan memberkati setiap rekan yang bekerja. salam 100.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s