Mazmur 119:1-8 Berpegang supaya berbahagia [23 Juni 2013]

Perikop minggu ini adalah puisi, yang tentu saja lebih indah dalam bahasa aslinya. Oleh karena itu, saya beberapa kali merujuk pada bahasa aslinya. Sebagai puisi, ada banyak hal yang bisa dipetik oleh pembaca, dan mazmur ini semestinya dilihat sebagai bahan meditasi (bdk. 119:15). Meditasi berhasil jika tidak hanya memberi petunjuk untuk hidup, tetapi juga menyentuh batin.

Penggalian Teks

Mazmur ini terdiri atas 22 bait yang berisi 8 baris, dengan setiap baris dalam satu bait mulai dengan huruf yang sama, mengikuti urutan ke-22 huruf abjad Ibrani. Kemudian, ada 8 kata yang dipakai dalam seluruh mazmur ini untuk firman Tuhan. Firman (dabar) adalah yang paling umum, yang dikenal dalam Taurat (torah), yang berarti “penuntunan” dan merujuk pada seluruh hukum Musa. Taurat Musa menyampaikan bagaimana Allah mengikatkan diri dalam perjanjian dengan umat-Nya, disertai berbagai saksi atau Peringatan (edut). Perjanjian itu terdiri atas Janji (amar), Perintah (mitsvah) dan Hukum (mishpat). Janji adalah dasarnya, karena Allah memberi dulu baru menuntut. Perintah (dan Titah, piqud) merujuk pada otoritas Allah untuk memerintah, sedangkan hukum menyangkut kasus-kasus yang menunjukkan keadilan firman-Nya yang mengatur kehidupan kita dengan baik. Ketetapan (khuq) berasal dari kata yang berarti menulis dalam batu, sehingga merujuk pada firman Allah yang tidak berubah. Anda sendiri bisa menghitung mana dari ke-8 kata itu tidak termasuk perikop kita (bait alef), mana yang dipakai dua kali, dan ayat berapa yang tidak ada satupun dari kata-kata itu.

Aa.1-3 berbicara tentang “orang-orang” secara umum, yaitu kelompok orang yang berbahagia. Ada tiga ciri kelompok ini (1-2a) dan tiga sikap (2b-3). Ciri utama adalah hidup (derek, “jalan”) yang tidak bercela. Konsep tidak bercela sering dipakai untuk hewan yang mau dipersembahkan, sehingga yang dimaksud di sini adalah suatu jalan hidup yang layak dipersembahkan kepada Tuhan. Ukuran hidup (halak, “berjalan”) yang demikian adalah Taurat (1b), dan jalan itu ditempuh dengan memegang (natsar, “berjaga”) isi Taurat itu (2a). Sikap pertama ialah mencari Tuhan dengan segenap hati (2b); kehati-hatian dalam ketaatan bukan taktik beragama (mencari muka di hadapan Tuhan) melainkan cara untuk mengenal Tuhan. Sikap itu juga berarti menolak apa yang jahat (3a). Sikap terakhir menyimpulkan a.1, secara harfiah artinya “berjalan (halak) menurut jalan-jalan-Nya (derek)”. Taurat Allah merupakan jalan hidup menuju kebahagiaan.

A.4 beralih kepada Tuhan, dan menempatkan aa.4-8 sebagai doa. Dia menyapa Tuhan sebagai sumber firman yang membahagiakan itu, dan mengakui bahwa tujuan-Nya ialah supaya memang titah-titah-Nya dipegang (syamar, sama artinya dengan natsar), dilakukan dengan sungguh-sungguh (4). Tujuan itu mengakibatkan introspeksi pemazmur di hadapan Tuhan dalam aa.5-8. Hidupnya (derek kembali) belum tentu dalam ketaatan yang sungguh-sungguh itu (5). Kemudian, ada dua kebahagiaan yang dia cari melalui peningkatan ketaatan itu. Dalam a.6, dia akan menghindari malu, dan dalam a.7 dia akan bersyukur. Dengan demikian, ada tekad baru untuk berpegang pada ketetapan-ketetapan yang dalam a.5 belum tentu itu (8a). Dalam tekad itu, dia makin merindukan penyertaan Tuhan (8b).

Maksud bagi Pembaca

Secara umum, setiap bait dalam Mazmur ini menjunjung tinggi firman Allah dan mendorong ketaatan terhadapnya. Untuk bait alef ini, ada dua hal yang menonjol. Yang pertama ialah “berpegang”, yaitu, hal berjaga untuk taat. Yang kedua ialah kebahagiaan, khususnya untuk tidak mendapat malu dan untuk bersyukur. Kedua kebahagiaan itu menjadi motivasi untuk tetap berjuang walaupun ketaatan belum tentu, alias hidup masih bercela.

Makna

Fokus pemazmur adalah Taurat Musa yang menjadi dasar bagi Israel dalam PL. Bagi kita, Taurat tetap berguna untuk direnungkan, tetapi ada firman yang lebih jelas lagi, yaitu Injil. Namun, mungkin ada yang tidak langsung cocok dalam perikop kita jika diterapkan kepada Injil. Kita bisa melihat bahwa di dalam Injil ada jalan hidup, dan jalan hidup itu selayaknya diikuti dengan segenap hati. Tetapi apakah ada hal seperti peringatan, titah, dan ketetapan dalam PB? Dan adakah yang perlu “dipegang”? Pemazmur barangkali berupaya untuk mengikuti dengan teliti semua peraturan mengenai persembahan, misalnya, tetapi di dalam PB tidak ada minat untuk membangun perangkat peraturan seperti itu.

Untuk menjawab hal itu, ada dua hal yang mau dikatakan. Yang pertama, ada yang disebut perintah, yaitu untuk saling mengasihi, dan ajaran Yesus disimpulkan sebagai perintah untuk dipegang dalam Mt 28:20 (tereo, yang diterjemahkan LAI “melakukan”, adalah padanan kata dengan natsar dan syamar di atas). Betul, tidak ada peraturan terperinci seperti dalam kitab Imamat, tetapi jalan hidup yang berpadanan dengan Injil dijelaskan dengan berbagai nasihat dalam surat-surat. Yang kedua, sebagian Taurat adalah kasus: jika ini maka ini. Kasus itu yang mungkin dirujuk oleh kata hukum (mishpat tadi). Sebagian lagi Taurat adalah cerita-cerita yang memperlihatkan jalan Tuhan dengan manusia. Mungkin juga bagian-bagian itu termasuk hukum, atau peringatan. Pokoknya, Taurat tidak sekadar peraturan seperti dalam kitab Imamat, tetapi menyangkut banyak hal yang lain yang mengajar tentang prinsip-prinsip. PB sama seperti itu. Dari hidup Yesus, dari kisah-kisah para rasul, kita juga belajar tentang hidup yang tidak bercela yang berpadanan dengan Injil.

Maksud saya di sini, jangan sampai perikop ini dipakai untuk menanam sikap hukum positif terhadap firman Allah! Sikap hukum positif tidak membangun karakter yang kukuh, seperti yang didambakan dalam a.5 dan menjadi komitmen dalam a.8. Sikap hukum positif dikendalikan oleh rasa malu, oleh kebutuhan untuk tampil benar, yang berpusat pada sesama, bukan Allah. Jalan hidup berdasarkan firman yang dibayangkan di sini adalah malu mengecewakan Tuhan, bukan manusia (a.6). Akhirnya, sikap hukum positif tidak tahu bersyukur, hanya mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Pemazmur telah mengakui kekurangannya, dan mau belajar dari Tuhan untuk menjadi lebih baik (a.7). Dalam PB, di dalam diri para rasul (setelah hari Pentakosta) dan lebih lagi di dalam diri Yesus, kita melihat pola hidup yang tidak bercela yang sama sekali tidak defensif, sempit, atau takut. Jika mereka dipermalukan oleh manusia, mereka tetap bermegah dalam Tuhan dengan syukur.

Namun, kita harus tetap berjaga, tetap berpegang pada Injil, termasuk berpegang pada ajaran Yesus dan para rasul supaya kita memperhatikan kapan kehidupan kita melenceng dari Injil itu dan perlu dibawa kembali kepada Tuhan.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s