Im 27:29-34 Milik Tuhan [30 Juni 2013]

Perikop ini tidak sulit dimengerti dalam artian harfiahnya, tetapi lebih sulit dimaknai untuk kita sekarang. Saya bisa mendapat sesuatu dari konteksnya (kaitannya dengan nazar), dan juga dari perikop pembanding (Ul 14:22-29, yang dipakai sebagai salah satu bahan PA).

Penggalian Teks

Im 27:1-25 menyangkut penebusan atau pembayaran nazar. Im 27:26-33 menyangkut beberapa hal yang tidak boleh dinazarkan, karena sudah diperuntukkan bagi Tuhan, termasuk anak sulung hewan dan hewan atau manusia yang dikhususkan bagi Tuhan. A.29 mungkin merujuk pada peristiwa seperti Akhan (Yos 7:15; bdk. Kel 22:20).

Persepuluhan juga termasuk hal yang tidak boleh dinazarkan, karena sudah kudus bagi Tuhan (30). Sebenarnya, kata “milik” (dalam frase “milik Tuhan”) dan kata “persembahan” (dalam frase “persembahan kudus”) tidak ada dalam bahasa Ibrani. Tetapi, bahwa demikian maksudnya menjadi jelas dalam a.31: penambahan seperlima itu dipakai dalam peraturan ganti rugi, entah kepada Tuhan (Im 5:16) ataupun manusia (Im 6:5). Jadi, sama seperti apa yang dinazarkan (27:13, 15), persepuluhan dianggap milik Tuhan. Cara menentukan persepuluhan dari hewan dirancang supaya acak, dan yang baik (atau yang buruk) tidak boleh ditukar (32-33). Barangkali, persepuluhan itu dihitung dari penambahan hewan dalam setahun, bukan dihitung kembali setiap tahun.

Peraturan tentang persepuluhan lagi terdapat dalam Ul 14:22-29. Dalam aa.22-23, persepuluhan tahunan dari tanah dibawa ke Bait Allah. (Ternyata, pada waktu yang sama persembahan anak sulung jantan juga dinikmati, 15:19-20.) Hasil itu boleh diuangkan (24-25), dan a.26 menegaskan bahwa keluarga sendiri yang menikmati sebagian hasil itu. A.27 sepertinya mengusulkan supaya orang Lewi diikutsertakan dalam rombongan, walaupun tidak ada hasil sendiri untuk dibawa. Hal itu pola biasa, tetapi ternyata setiap tahun ketiga hasil itu tidak dibawa ke Bait Allah melainkan ditaruh di dalam kota untuk orang Lewi dan orang-orang lain yang tidak memiliki tanah sendiri (28-29). Karena tahun ketujuh adalah Sabat, maka pola yang diusulkan selama tujuh tahun ialah: tahun ke-1 & ke-2 Bait Allah; tahun ke-3 setempat; tahun ke-4 & ke-5 Bait Allah; tahun ke-6 setempat; tahun ke-7 Sabat. Bersama dengan peraturan-peraturan yang lain seperti penghapusan hutang, tujuannya supaya tidak ada orang miskin (15:4).

Dalam Bilangan 18, semua persepuluhan diperuntukkan bagi orang Lewi (Bil 18:21). Dari persepuluhan itu, orang Lewi memberi persepuluhan mereka kepada imam-imam (Bil 18:26).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini melarang Israel untuk memasukkan persepuluhan sebagai nazar, karena bagian itu sebenarnya sudah milik Tuhan. Nazar adalah cara untuk membuktikan keseriusan pemohon dalam doanya, dan peraturan ini menunjukkan bahwa bukti itu tidak bisa simbolis saja, harus di atas yang sudah wajib. Dengan demikian, persepuluhan (atau pemberian pada persentase yang dipilih menurut kerelaan hati) justru bukan cara untuk meneguhkan doa atau mempengaruhi sikap Allah, melainkan cara untuk bersyukur bersama dengan umat Allah (Ul 14:26) dan mendukung pelayanan dan orang miskin (Ul 14:28-29).

Makna

Ada yang menganggap bahwa persepuluhan itu hukum yang berlaku bagi orang kristen. Tetapi, sepertinya lebih sedikit yang menganggap bahwa peraturan tentang anak sulung itu juga berlaku bagi orang kristen. Dan jarang orang yang menganggap persepuluhan itu sebagai hukum berupaya menaati peraturan dari Ul 14:22-29. Orang-orang itu belum sungguh menyadari bahwa kita bukan lagi di bawah Hukum Taurat, karena Kristus telah datang (Gal 3:??). Taurat menyampaikan kehendak Allah bagi Israel. Hal itu sangat berguna untuk kita pelajari, tetapi tidak mengikat kita sebagai peraturan. Dalam PB, yang ditekankan adalah pemberian “menurut kerelaan hatinya” (2 Kor 9:7).

Tentu, ukuran intern seperti itu sangat menantang kedewasaan jemaat. Dari satu segi, ada ketakutan bahwa sebagian orang akan memberi sedikit sekali. Bahkan bagi orang yang tulus, orang akan selalu bertanya dalam hati apakah jumlah yang diberikan itu cukup jika tidak ada patokan. Makanya, sejak abad kedua, persepuluhan diangkat sebagai kewajiban, atau patokan akan minimum yang dianggap wajar. Secara pastoral, pendekatan seperti itu sangat masuk akal, asal “kerelaan hati” tetap diberi tempatnya.

Perbedaan dalam PB dapat dilihat dengan mengingat bahwa persepuluhan itu “kudus” (a.30). Dalam PL, ada beberapa tingkat, dari yang mahakudus sampai yang najis, yang dilihat dalam orang dan tempat. Hanya Imam Besar yang boleh masuk ke dalam tempat yang mahakudus, hanya imam yang boleh masuk ke dalam kemah suci, hanya orang yang tidak najis yang boleh masuk ke pelataran kemah suci, dan ada orang najis yang harus keluar dari perkemahan sama sekali. Tetapi, dalam PB, semua orang percaya disebut “orang kudus”, dan seluruh hidup menjadi persembahan yang kudus. Hal itu berarti bahwa segala kepunyaan kita adalah kudus, bukan hanya anak sulung ternak dan bukan hanya persepuluhan. Segalanya dipakai untuk Tuhan (mengingat bahwa hidup mandiri adalah bagian dari tanggung jawab kita kepada Tuhan).

Pos ini dipublikasikan di Imamat dan tag . Tandai permalink.

7 Balasan ke Im 27:29-34 Milik Tuhan [30 Juni 2013]

  1. Tuto' berkata:

    Trimaksih Ambe’ penggalian teksnya.
    Tapi yang ditulis diatas Ulangan 27 :1 – 25, apa itu salah ketik, apakah yang dimaksud Imamat 27 : 1 – 25….. soalnya ulangan 27 berbicara batu peringatan…..
    Mohon konfirmasinya….
    Salam

  2. abuchanan berkata:

    Betul, terima kasih.

  3. markus berkata:

    Kurre sumanga’ Mr, sy trtarik dgn uraiannya dan saya minta tolong bolehkah di berikan ayat ayat pendukung dlm PB bhw perpuluhan itu bukanlah sesuatu yg diharuskan tp menurut kerelahan

  4. abuchanan berkata:

    Perpuluhan tidak disebutkan dalam PB berkaitan dengan persembahan orang Kristen. 2 Korintus 8-9 (misalnya, 9:5), yang paling lengkap membahas soal itu, tidak menyinggung persentase.

  5. markus berkata:

    Terus terang sy agak bingung,selama sy jd warga gereja toraja selama ini sy blum pernah membaca dlm buku membangun jemaat bhw persembahan perpuluhan adalah sesuatu yg diharuskan, tetapi pd buku MJ no.84.2013 ini pd bahan khotbah 30 juni dan bahan PA selanjutnya malah diharuskan/wajib,sbg seorang awam tp dipilih sbg pelayan Tuhan sy aga’ bingung/rancu untuk menyampaikan hal ini dlm khotbah kpd warga jemaat.sy sgt tertarik dgn uraian2 Mr.yg sy baca(ringkas padat,ringan,nyambung tuk dihayati)bolehkah Mr.memberikan sedikit penilaian ttg apa yg sy pahami dlm buku MJ itu dan mbrikan uraian ttg perpuluhan dlm kekristenan menurut pemahaman Mr.Terimakasih,SYALOM…

  6. abuchanan berkata:

    Bagi saya, tidak salah kalau gereja mau mengusulkan suatu pola persembahan bagi jemaat yang merasa anggota yang bertanggung jawab. Banyak jemaat akan pusing jika disuruh untuk memikirkan pola sendiri. Tetapi, pola itu kontekstual, bukan mutlak, dan pengaturan bersama, bukan undang-undang.

  7. markus berkata:

    Terima kasih atas tanggapannya,GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s