Kis 5:1-11 Mendustai Roh di dalam jemaat [7 Juli 2013]

Cerita ini mengejutkan, dan tidak layak dijinakkan. Mungkin ada Ananias dan Safira di dalam jemaat kita yang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat. Jangan sampai khotbah memberi kesan, “Allah tidak tega, tidak apa-apa”.

Penggalian Teks

Kisah Para Rasul 4 menceritakan kemenangan jemaat yang luar biasa. Petrus dan Yohanes dapat bersaksi di hadapan sidang tua-tua Yerusalem, dan setelah mereka dilepaskan, doa jemaat sangat berkuasa (4:30-31). Kemudian, dalam 4:32-37, Lukas memberi gambaran lagi tentang jemaat perdana, yang mirip dengan 2:41-47. Yang menonjol adalah pembagian harta untuk yang berkekurangan, tetapi hal itupun adalah bagian dari kesaksian mereka tentang pola hidup di bawah Yesus sebagai Raja (4:27).

Cerita ini mulai dengan penjualan tanah (1). Hal itu sudah disebut dua kali sebelumnya. Kali pertama memperkenalkan pola ini, dengan alasannya (4:34-35). Kali kedua menceritakan orang tertentu sebagai contoh—Barnabas yang kemudian menjadi terkenal sebagai kawan Paulus (4:36-37). Jadi, cerita ini adalah kali ketiga. Kali ketiga biasanya adalah puncaknya, pikirkan saja domba, dirham, kemudian anak yang hilang dalam Lukas 15; jelas bahwa cerita anak yang hilang melanjutkan kedua cerita sebelumnya, tetapi dengan kejutan dan penambahan makna. Kejutan muncul dalam cerita ini dalam a.2. Kata “menahan” (nosfizo) dipakai pas satu kali dalam LXX (PL versi bahasa Yunani), yaitu dalam Yos 7:1 untuk menggambarkan dosa Akhan. Hal itu sangat menarik, karena tempatnya dalam kisah yang lebih luas, sama. Israel baru mengalami kemenangan besar di Yerikho, sama seperti gereja perdana di Yerusalem. Tetapi, tiba-tiba ada oknum yang berbuat jahat dan merusak gambaran yang ideal itu.

Israel baru mengetahui bahwa ada dosa ketika mengalami kekalahan yang berat dan berdoa kepada Tuhan. Tetapi, Petrus langsung mengetahui, dan berbicara dengan suara kenabian, bukan tentang masa depan tetapi tentang makna kondisi Ananias sekarang (3-4). Ucapan Petrus menjelaskan tindakan Ananias dalam bingkisan tentang motivasi. Tindakannya tidak apa-apa: tanah yang dijual adalah milik Ananias, dan hasil penjualannya juga adalah milik Ananias (4a). Yang disoroti ialah dusta Ananias. Ananias berdusta kepada manusia (jemaat), tetapi, karena Roh Kudus ada di dalam jemaat (3a), Allah ikut didustai (4b). Dusta itu berasal dari hati Ananias (4a). Hati (kardia) dipakai untuk inti seluruh batin manusia, termasuk tidak hanya perasaan tetapi juga rencana dan maksud. Rencana itu muncul dalam hati Ananias, tetapi dilengkapi oleh Iblis (3a). LAI “dikuasai” secara harfiah adalah “dipenuhi” (pleroo). Pkh 8:11 dan Est 7:5 memakai bahasa yang sama dengan maksud “diberanikan”. Ananias tidak kerasukan Iblis, tetapi kuasa dalam hati untuk melakukan tindakan itu diberikan oleh Iblis.

Ananias langsung mati, dan Lukas memakai kata untuk mati (ekpsukho) yang hanya dipakai dua kali lagi, satu kali untuk Safira, dan satu kali untuk Herodes yang menghujat Allah (Kis 12:23).

Ketika isterinya datang, Petrus memberi kesempatan bagi dia untuk tidak berdusta, tetapi Safira tetap berdusta (8). Kembali Petrus menafsir rencana mereka, bahwa mereka mencobai Roh Tuhan. Sepertinya, mereka menganggap bahwa dusta mereka akan berhasil, karena manusia yang mereka dustai tidak akan bisa tahu. Karena Roh ada di jemaat yang mereka dustai, mereka menguji kemampuan Roh untuk mengetahui dusta. Ternyata Roh Kudus mampu.

Jadi, kedua pendusta itu dimusnahkan dari jemaat, sama seperti Akhan sekeluarga. Hal itu menimbulkan ketakutan (11), paling sedikit dalam ketelitian untuk tidak meremehkan Roh Kudus yang ada di dalam jemaat. Tetapi, sama seperti Israel, jemaat tidak disesatkan dari perjuangannya, dan firman Allah tetap disebarkan.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini memberi peringatan bahwa mendustai jemaat berarti mendustai Allah yang hadir di dalam jemaat melalui Roh-Nya. Peringatan itu menyangkut sifat dari tindakan itu sebagai dosa yang berakibat maut. Sifatnya sebagai dosa yang berat dilihat karena Iblis senang bergabung di dalamnya. Kematian mereka melambangkan bahwa mereka sudah terpisah dari kehidupan ilahi di dalam Kristus.

Makna

Jika Israel di bawah Yosua dan gereja perdana disejajarkan dalam cerita ini, adalah berguna untuk memperhatikan betapa bedanya perjuangan masing-masing. Cara Kerajaan Allah berkembang sudah berubah; sama seperti bentuk umat Allah (sebagai persekutuan bukan bangsa).

Namun, sikap Allah terhadap dosa tidak berubah. Sama seperti Israel dipanggil untuk menjadi umat yang kudus, gereja adalah bibit dari dunia mendatang yang sudah diperbaharui. Allah tidak menghukum setiap pelanggaran Israel seperti Akhan, dan juga tidak menghukum semua jemaat seperti Ananias dan Safira. Dalam kemurahan-Nya, satu peristiwa yang keras sudah cukup untuk menjadi peringatan. Hanya jika peringatan itu tidak dihiraukan, maka Allah mungkin perlu kembali ke cara yang lebih keras. Ingat bahwa dalam 1 Kor 11:27-30, Paulus mengatakan bahwa ada jemaat yang sakit atau bahkan meninggal, karena memakan roti dan anggur dengan cara yang tidak layak.

Kisah ini, bersama dengan nas Paulus itu, agak bertentangan dengan pemahaman yang sering disampaikan bahwa penderitaan jangan dianggap sebagai akibat dosa. Alasan pastoralnya cukup baik: kita tidak mau memberatkan jemaat yang sudah menderita dengan rasa bersalah yang semu. Tetapi, alasan itu hanya satu segi. Yang jelas dalam Alkitab ialah bahwa dosa dan penderitaan bukan sebab-akibat yang otomatis. Kita tidak boleh menyimpulkan adanya dosa dari adanya penderitaan; dan kita tidak boleh menyimpulkan adanya kebenaran dari tiadanya penderitaan. Tetapi, nas Paulus di atas mengajak kita untuk merenung ketika menderita, Apakah ini adalah didikan Tuhan yang mau membawa saya kepada pertobatan? Kadangkala, orang yang sakit sadar akan dosanya, dan membutuhkan penggembalaan yang menyentuh hal itu. Kadangkala, dosa orang yang sakit itu sangat kentara bagi orang-orang lain, dan masa lemahnya menjadi kesempatan untuk penggembalaan yang lebih dalam. Lebih lagi, Petrus tidak menunggu Ananias sakit untuk memberitahukan dosanya. Tidak jelas apakah Petrus menduga bahwa Ananias akan langsung mati, tetapi dia memberi kesempatan untuk bertobat kepada isterinya. Penggembalaan Petrus tidak menjaga perasaan di atas pertobatan.

Dan bukannya bahwa tidak ada yang terancam maut dalam konteks kita sekarang. Gereja yang berhasil menjadi wadah gengsi dan prestise, sehingga orang tergoda untuk mencari hal-hal itu dengan tidak jujur. Tetapi, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Mereka tidak mengenali Roh Kudus di dalam jemaat, dan kebutaan itu adalah pertanda kebinasaan jika mereka tidak menguji diri dan bertobat.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s