Ul 16:9-17 Diberkati untuk bersekutu [14 Juli 2013]

Kembali dalam menggali teks yang sepertinya berbicara tentang kewajiban manusia, saya menemukan sesuatu tentang Allah: Dia memberkati supaya kita bersekutu bersama di hadapan-Nya. Pada zaman di mana ukuran yang paling dimengerti ialah saldo pada akhir tahun, kita perlu diingatkan tentang Allah yang merindukan kita.

Penggalian Teks

Ulangan 14:22-29, yang ditinjau beberapa minggu yang lalu, memulai satu bagian kitab Ulangan yang membahas bagaimana Israel merayakan pembebasan Tuhan. Persepuluhan menjadi bekal untuk perayaan di hadapan Tuhan, dan untuk membantu orang miskin. Dalam 15:1-18, pembebasan dari Tuhan diterapkan kepada sesama dalam tahun Sabat, tahun ketujuh, dengan membebaskan orang yang berutang dan budak. Israel dibebaskan sebagai anak sulung Allah dengan anak-anak sulung ditebus oleh domba Paskah, sehingga anak sulung jantan ternak menjadi milik Allah. Ternyata, Allah menyuruh hewan yang kudus itu dipakai sebagai bekal untuk perayaan bersama di hadapan Tuhan; keluarga tetap memakan dagingnya, tetapi dalam konteks yang sakral (15:19-23). Perayaan yang setahun tiga kali itu kemudian diatur dalam 16:1-17, yaitu Paskah (16:1-8), Tujuh Minggu (9-12) dan Pondok Daun (13-15).

Hari raya Tujuh Minggu (9) diadakan dengan “sekadar persembahan sukarela” (10a). Gaya bahasa Ibrani yang diterjemahkan dengan “sekadar” adalah “dari tangannya”, artinya, dari kemampuannya, yaitu, sesuai dengan berkat Tuhan (10b). Persembahan itu dipakai untuk bersukaria di hadapan Tuhan (11a). Hal itu tidak dilakukan seorang diri, tetapi dengan orang lain (11b). Daftar orang itu memberi kesan bahwa “engkau” ini adalah orang berada, dan yang disebutkan merupakan orang-orang yang bergantung kepadanya atau ditolong olehnya (bdk. Ayub dalam Ayub 31:13-33). Hanya, di mana isteri? Karena tidak disebutkan, saya rasa “engkau” harus dilihat sebagai orangtua dalam rumah tangga, bukan hanya ayah. Sukaria dalam rumah tangga itu akan memberi makna terhadap adanya nama Tuhan di “tempat yang akan dipilih Tuhan”, yaitu, Bait Allah di Yerusalem (11c). Perayaan itu akan mengingatkan mereka akan pembebasan Israel dari Mesir, sama seperti Paskah (16:3, 6).

Penjelasan tentang Hari raya Pondok Daun (13) langsung masuk pada pokok bersukaria (14) yang berlangsung selama tujuh hari (15a). Kemudian ada penjelasan tentang suatu pola do ut des: bukan manusia memberi untuk diberi melainkan Tuhan akan memberi supaya orang Israel bisa memberi (15b). Tujuan dari berkat Tuhan ialah persekutuan: “engkau dapat bersukaria dengan sungguh-sungguh” di hadapan Tuhan.

Aa.16-17 merupakan kesimpulan. Dengan penegasan pada laki-laki, kita melihat struktur masyarakat yang patriarkhal. Dari aa.11 & 14 tadi, jelas bahwa semua (termasuk perempuan, anak dan orang asing) diharapkan ikut serta dalam ketiga perayaan besar, tetapi ada tanggung jawab khusus bagi laki-laki. Tanggung jawab itu termasuk menyediakan persembahan. Akhir a.16 dan a.17 menyimpulkan apa yang dilihat di atas. Tuhan telah memberkati umat-Nya supaya mereka dapat bersukaria di hadapan-Nya, dan orang Israel wajib membawa persembahan sesuai dengan berkat itu.

Maksud bagi Pembaca

Tuhan mengatur perayaan Israel sebagai Allah yang membebaskan dan memberkati umat-Nya, supaya umat-Nya bersekutu dengan Dia dengan sukaria.

Makna

“Tempat yang akan dipilih Tuhan” menjadi Bait Allah di Yerusalem, tetapi kemudian menjadi Kristus. Persekutuan orang percaya, sebagai tubuh Kristus, adalah tempat kediaman Roh Kudus, tempat Allah hadir di tengah umat-Nya. Jadi, wajar jika kita menerapkan perikop ini kepada ibadah bersama.

Hanya, dari beberapa segi, pola Israel dalam perikop kita paling dekat dengan syukuran besar jemaat, misalnya pada waktu panen atau Natal, atau syukuran khusus seperti penahbisan gedung. Pada saat itu, saldo jemaat, ditambah bekal masing-masing yang dibawa, dinikmati bersama di hadapan Tuhan dalam suasana bersukaria. Asal kegiatan itu inklusif, yaitu, orang-orang marginal dicari untuk berbagi dalam berkat bersama (aa.11, 14), Tuhan berkenan atasnya.

Kalau begitu, perintah “janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (16) disalah tafsir jika dianggap bahwa setiap orang dalam setiap ibadah harus memasukkan persembahan ke dalam setiap pundi. Perintah ini kepada Israel menyangkut kepala keluarga pada tiga perayaan besar setahun, bukan sebuah kegiatan mingguan. Kita telah membuat perintah Allah menjadi sebuah pemali jika ada rasa takut/malu karena kali ini saya tidak memasukkan sesuatu ke dalam pundi. Persembahan di Israel dilihat dalam jangka waktu satu tahun. Saya tidak mempersalahkan adanya pundi, tetapi, andaikan ada keluarga yang hanya memberi melalui amplop Paskah, panen dan Natal, tetapi jelas memberi sesuai dengan berkat Tuhan, adakah yang salah?

Jadi, apa resikonya jika tidak membawa persembahan? Pikirkan seseorang yang jatuh miskin. Menurut a.11 & a.14, dia akan berlindung pada orang yang berada untuk tetap berbagi dalam perayaan di hadapan Tuhan, bahkan dengan menjual diri menjadi budaknya (sampai tahun Sabat berikutnya). Tetapi, praktis dia tidak terhitung lagi sebagai “laki-laki yang wajib menghadap”. Dia menjadi orang yang bergantung, bukan pelaku. Semestinya, persembahan di jemaat dilihat dengan cara yang sama. Memberi adalah pernyataan diri sebagai anggota jemaat yang bebas, dewasa dan bertanggung jawab. Mungkin saja ada keluarga miskin yang belum sanggup memberi, tetapi semestinya kita rindu supaya mereka diberkati Tuhan sehingga sanggup memberi. Memberi adalah bagian dari martabat sebagai orang beriman.

Di balik semuanya itu, ada Tuhan yang telah membebaskan dan sedang memberkati. Perikop ini sangat hati-hati untuk tidak memberatkan umat Allah soal persembahan. Persembahan itu “sekadar”, “sesuai dengan berkat Tuhan”. Adalah penting bahwa cara mendorong orang memberi membangkitkan semangat iman untuk memberi, bukan rasa malu yang memaksa dia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Ulangan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ul 16:9-17 Diberkati untuk bersekutu [14 Juli 2013]

  1. kontesiva berkata:

    puji Tuhan…terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s