1 Raj 8:62-66 Bersyukur dan bersukacita [21 Juli 2013]

Gereja Toraja lagi ramai merayakan “100 IMT”: 100 tahun Injil masuk Toraja (dihitung dari baptisan pertama). Perikop ini jelas berkaitan dengan perayaan itu. Sepintas lalu, saya tidak melihat suatu makna khusus di dalamnya. Ternyata, setelah dicermati dalam konteks salah satu pergumulan 100 IMT ini, ada sesuatu yang mengena (lihat bagian Makna). Firman Tuhan selalu lebih kaya daripada dugaan kita, bagi mereka yang tidak hanya membacanya sepintas lalu.

Penggalian Teks

Pembangunan Bait Allah adalah karya besar raja Salomo, dan besarnya upacara penahbisan itu menunjukkan betapa Tuhan telah memberkati Israel di bawah pemerintahannya. Penahbisan itu dirangkaikan dengan hari raya Pondok Daun (8:2; bdk. Im 23:34), yang mengingatkan Israel bahwa mereka tinggal dalam pondok-pondok selama mengembara di padang gurun (Im 23:43). Mereka sudah menetap di rumah-rumah permanen, dan sekarang tabut perjanjian juga mendapat rumah permanen (Bait Allah), sesuai dengan janji Allah kepada Daud (8:20-21). Tetapi mereka tetap membutuhkan tuntunan Tuhan. Jadi, dalam doanya, Salomo menyampaikan makna Bait Allah (8:22-53). Allah diam di surga, tetapi nama-Nya diletakkan di Bait Allah. Dengan umat-Nya berdoa kepada-Nya di sana, Allah akan tetap memerintah atas Israel, dengan menegakkan keadilan dan mendidik Israel dan mengampuni orang Israel yang berdosa. Doa itu, serta pujian dalam 8:56-61, mengingat karya penyelamatan Israel dari Mesir untuk menjadi bangsa yang dikhususkan (misalnya, 8:53), sehingga segala bangsa mengenal Tuhan (8:60). Untuk menghayati berkat Tuhan dan menjadi saksi-saksi-Nya, bangsa harus taat (8:61).

Aa.62-64 menunjukkan betapa besarnya upacara itu. Korban keselamatan bisa dipersembahkan sebagai ungkapan syukur (Im 7:12). Lemaknya dibakar habis di atas mezbah, tetapi kali ini mezbah itu tidak cukup, sehingga ada bagian pelataran yang dikuduskan. Daging dari persembahan itu dibagi. Imamnya diberi paha kanan dan dada (Im 7:31-32), dan selebihnya dimakan oleh orang awam (sekeluarga, pada perayaan-perayaan besar) yang membawa persembahan itu. Jadi, 22.000 ekor lembu sapi dan 120.000 ekor kambing domba dimakan bersama. Jika ketujuh hari dalam a.65 merupakan tambahan atas ketujuh hari Hari Raya Pondok Daun, maka ada kurang lebih sepuluh ribu ekor disembelih setiap hari, mengingat bahwa korban keselamatan untuk memberi syukur tidak boleh tinggal semalam (Im 7:15). Barangkali, jumlah orang yang hadir beratus-ratus ribu orang, dan mereka makan daging sampai kenyang. Mereka telah menjadi bangsa yang besar, di tanah yang diberikan Allah kepada mereka (65).

Hasil dari perayaan ini ialah sukacita (66). Sukacita itu ternyata tidak sebatas perayaan, tetapi tetap ada setelah perayaan itu karena dasarnya ialah kebaikan Tuhan yang nyata. Janji Tuhan kepada Daud yang mengukuhkan perjanjian Allah dengan Israel telah menjadi pegangan bagi Israel tentang perhatian dan rencana Tuhan bagi mereka. Hal itu penting bagi penulis dan pembaca awal kitab ini, karena mereka sudah mengalami pembuangan yang diceritakan pada akhir 2 Raja-raja.

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mengundang kita, selaku umat Allah, untuk ikut bersyukur dan tetap bersukacita atas dasar hadirat Allah di tengah kita. Berkumpul di depan Allah adalah tujuan dari penyelamatan Israel dari Mesir dan dari musuh-musuh Israel di bawah pemerintahan Daud.

Makna

Yesus adalah penggenapan Bait Allah. Selama Dia ada di bumi, Allah hadir di dalam Dia (Yoh 2:19-21), dan sekarang, kita menjadi Bait Allah sebagai tubuh-Nya yang di dalamnya Roh Kudus berdiam (Ef 1:22-23 & 2:21; Kor 3:16-17). Dengan demikian, hadirat Allah tidak terpusat lagi di satu tempat. Di mana saja orang percaya berkumpul, di situlah kita selayaknya bersukacita di hadapan-Nya.

Yesus adalah anak Daud. Sama seperti Daud mengalahkan musuh-musuh umat Allah, Yesus telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Kebaikan Tuhan kepada Yesus yang mendasar ialah, membangkitkan Dia dari antara orang mati. Dengan demikian, Tuhan telah berbuat baik kepada seluruh umat-Nya yang ikut dikuburkan dan dibangkitkan di dalam Dia. Makanya, dalam segala kondisi hidup, kita tetap bersukacita di dalam Tuhan.

Bait Allah itu tubuh Yesus (bacalah Yoh 2:21 dengan cermat), dan tubuh kita adalah anggota-Nya (lihat 1 Kor 6:15). Korban keselamatan menjadi cara yang nyata orang Israel mengucap syukur, secara bersama-sama sehingga saling menguatkan. Dalam PB, persembahan kita adalah tubuh kita (Rom 12:1 (persembahan = thusia = korban), termasuk bibir yang mengaku nama Yesus dan mengucap syukur (Ibr 13:15). Syukur itu paling utuh ketika dilakukan secara nyata bersama-sama, supaya kita saling menguatkan. Bukannya hati lebih penting daripada tubuh, karena syukur dalam hati yang tidak dinyatakan dalam tindakan tubuh tidak menyatakan kasih kepada sesama. Bahkan untuk diri sendiri, syukur yang dinyatakan lewat sikap tubuh atau suara mungkin akan lebih jelas. Hal itu saya tegaskan sedikit, karena budaya Barat yang diwariskan dalam gereja adalah budaya yang agak dosetis: jiwalah yang penting, tubuh itu sarana saja. Ketika kita mencermati PB, ternyata tidak demikian, sehingga kita perlu melihat bahwa perikop kita bukan gambaran tentang saat teduh secara pribadi melainkan bersyukur bersama.

Satu alasan mengapa budaya itu cenderung menerapkan hal-hal rohani kepada batin individu ialah keprihatinan mengenai kesungguhan. Yesus sendiri menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu “di depan manusia” dapat membawa kita kepada kemunafikan. Makanya, dalam perayaan 100 IMT, ada yang bertanya, “Apakah pernyataan syukur ini ‘sungguh-sungguh’”? Keramaian hampir otomatis membawa rasa sukacita; jangan sampai sukacita itu karena keramaian saja. Saya mau mengusulkan bahwa kita tidak bisa mengukur hal itu selama perayaan itu berlangsung. Dasarnya akan nyata ketika kita “pulang ke kemah” (66). Jika dasar sukacita adalah kebaikan Tuhan, kita akan tetap bersukacita (mungkin setelah sempat istirahat baik-baik), dan hal itu akan menunjukkan bahwa syukur kita selama perayaan itu sungguh-sungguh.

Malah, kita berharap bahwa perayaan itu turut mengubah peserta, sehingga syukur yang mungkin agak ikut-ikutan saja pada awalnya telah dikuatkan menjadi sukacita yang tetap karena memiliki dasar dalam kebaikan Allah di dalam Kristus. Syukur umat Allah juga mengikuti pola anugerah; kita diterima seadanya dan diubah olehnya.

Namun, saya memiliki pertanyaan. Apakah kebaikan utama Tuhan kepada orang Toraja di dalam Kristus adalah pendidikan sebagai pintu masuk ke dalam dunia (dan ekonomi) modern? Pada zaman Salomo, Israel memang mensyukuri berkat-berkat sementara, tetapi tetap mengingat dasarnya dalam karya dan rencana Tuhan. Bagi penulis dan pembaca awal dalam pembuangan, kejayaan zaman Salomo sudah menjadi kenangan saja. Dalam masa gelap itu, tinggal karya dan rencana Tuhan sebagai alasan untuk bersyukur.

Pos ini dipublikasikan di 1 Raja-raja dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke 1 Raj 8:62-66 Bersyukur dan bersukacita [21 Juli 2013]

  1. siva berkata:

    terima kasih Tuhan memberkati tulisan-tulisan sobat dlm Kristus…tetapi saya meminta tolong kpd bpk, ibu agar 1 tim 4:1-8 dieksegesa,sebb sy kesulitan memahaminya, klu blh liat dari bahasa yunaninya,atas perhatiannya makase,Tuhan membrkati

  2. abuchanan berkata:

    Maaf, belum ada bahan saya tentang 1 Tim 4. Saya mengikuti jadwal perikop Gereja Toraja.

  3. Katarina-BPSGT berkata:

    Terima kasih Pak Pdt.Abuchanan. Dalam perenugan saya sebagai anak Toraja yang diperkenankan oleh Tuhan untuk merayakan,memperingati dan ikut menyatakan keagungan Tuhan dalam 100th IMT, memang Pendidikan adalah pintu gerbang bagi perubahan dalam segala lini orang Toraja. Tapi semua itu hanya dapat terjadi oleh karena kemurahan kasih Tuhan, pekerjaan Roh Kudus melalui saudara-saudara seiman luar Toraja kemudian dimuridkan kepada orang Toraja. Segala Kemuliaan dan Keagungan hanya bagiMU Tuhan.

  4. abuchanan berkata:

    Betul, pendidikan itu penting dan berguna, dan layak disyukuri sebagai berkat dari Tuhan, sama seperti sukses banyak orang Toraja dalam perantauan, dan lain sebagainya. Tetapi, apakah semua itu adalah berkat utama Injil? Yesus tidak mati dan bangkit supaya kita berpendidikan tetapi supaya kita dibenarkan oleh iman dan menjadi anak-anak Allah. Berkat-berkat rohani itu juga dapat dimiliki oleh orang yang kurang berpendidikan, dan kurang sukses di mata dunia (ataupun di mata sendiri). Jadi, saya berharap bahwa kita mensyukuri apa yang utama itu sebagai yang utama, tentu tanpa melupakan yang lain. Mudah-mudahan sudah begitu, tetapi itulah pertanyaan yang muncul dari perenungan saya.

  5. Lenni Monda berkata:

    Menurut saya pak, seharusnya berkat utama Injil bagi saya dan orang Toraja adalah Allah yang datang menghampiri orang Toraja yang berdosa dan menyelamatkan orang Toraja. Seharusnya itu yang menjadi ucapan syukur yang paling utama dan terutama dalam perayaan 100 IMT. Pendidikan adalah berkat tambahan

  6. abuchanan berkata:

    Ya, setuju, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s