Mzm 126:1-6 Perkara Besar tetap akan ada [28 Juli 2013]

Mazmur ini, seperti banyak mazmur yang lain, memuji Tuhan dan juga berdoa, mengingat dan menyatakan perkara besar yang telah dilakukan Tuhan dan juga memohon perkara besar lagi. Tetapi ada nuansa khusus dalam mazmur ini tentang bagaimana kedua hal itu saling berkaitan.

Penggalian Teks

Nyanyian-nyanyian ziarah (Mazmur 120-134) kemungkinan dipakai ketika orang Israel pergi ke Bait Allah untuk perayaan-perayaan besar. Mazmur ini adalah mazmur peralihan, dari keadaan buruk ke keadaan baik. Nyanyian ini memakai kata “kita”, bukan “aku”, jadi berbicara tentang pengalaman umat. Aa.1-3 mengingat pemulihan Sion (bukit Bait Allah yang melambangkan umat Israel) pada masa lampau. Aa.4-6 mengharapkan bahwa hal itu akan terjadi kembali.

Pemulihan Sion itu begitu di luar dugaan, sehingga tidak terasa sebagai kenyataan. Aa.2-3 dimulai dan diakhiri dengan sukacita. Sukacita itu spontan, tidak tertahan di mulut dan lidah (2a). Alasannya terdapat di tengahnya (aa.2b-3a): Tuhan telah melakukan perkara besar bagi mereka. Perkara itu begitu nyata sehingga bangsa-bangsa pun melihatnya, mungkin termasuk bangsa yang menyusahkan mereka. Pernyataan itu diulang, dengan perubahan kata yang kecil, yaitu merujuk kepada “kita”. Makanya, ada sukacita.

Dikuatkan oleh pemulihan masa lampau, a.4 berdoa untuk pemulihan kembali. Pemulihan itu digambarkan dalam a.4b seperti batang-batang air di Tanah Negeb, sebuah padang gurun yang pada umumnya kering, tetapi ketika ada hujan menjadi mengalir kembali. A.5 mengangkat pengalaman menabur dan menuai. Menabur itu dilakukan dengan menangis pada saat persediaan benih berkurang, karena yang ditabur itu makanan. Penuaian tentu menjadi waktu untuk bersorak-sorai, karena masa kelaparan sudah selesai.

A.5 bisa dilihat sebagai gambaran umum dukacita menjadi sukacita, tetapi ada penegasan dalam a.6 yang melampaui hal itu. Bentuk kedua kata kerja a.6 dalam bahasa Ibrani menunjukkan suatu kepastian atau intensitas di atas yang biasa. Makanya, kata kerja “pergi” (halak) diterjemahkan “berjalan maju”, dan kata kerja “datang” (ba’) diterjemahkan “pasti pulang”. Penegasan ini menyoroti kesengajaan. Orang menabur karena sudah berjalan maju; hanya dengan demikian mereka dapat membawa pulang berkas-berkasnya.

Jadi, menabur dalam aa.5-6 menunjukkan bahwa di tengah kesusahan, tetap dibutuhkan langkah-langkah iman. Hanya Tuhan yang dapat memberi hujan di padang gurun, hanya Tuhan yang dapat memulihkan keadaan Sion. Tetapi, percuma Tuhan memberi hujan jika tidak ada yang menabur. Sorak-sorai (aa.2, 5, 6) terjadi karena iman tetap berjalan di tengah kesusahan.

Maksud bagi Pembaca

Kepada umat yang beriman, mazmur ini mau memberi penguatan bahwa Tuhan yang pernah memulihkan akan bertindak kembali, sehingga langkah-langkah iman yang telah atau sedang dilakukan tidak akan sia-sia.

Makna

Pemulihan yang paling besar dan mendasar dalam Alkitab ialah kebangkitan Kristus, karena di situlah semua kiasan tentang mati menjadi hidup digenapi secara harfiah. Kebangkitan Kristus adalah langkah awal pemulihan dunia, atas dasar penghapusan dosa pada salib. Hal itu tidak berarti bahwa kita membaca ayat ini sebagai nubuatan langsung tentang Kristus (tetapi bdk. Yoh 12:24), tetapi bahwa harapan mazmur ini akan pemulihan Allah sudah dibuktikan di dalam kebangkitan Kristus. Karya Kristus telah menjadi “perkara besar” Tuhan bagi kita (aa.2-3). Allah berdaya mengalahkan maut, lebih lagi pergumulan kita. Allah telah merintis dunia baru, jadi waktu sorak-sorai kita pasti akan datang. Tentu, kita juga dikuatkan oleh berbagai pengalaman hidup, seperti perkembangan orang Toraja setelah Injil datang, tetapi dasarnya adalah Kristus.

Doa dalam a.4 mengandaikan bahwa umat Tuhan lagi bergumul, dan di balik suka ria perayaan 100 tahun Injil Masuk Toraja, banyak yang sadar bahwa masih ada banyak “batang air kering” di gereja. Menabur menjadi kiasan untuk beberapa hal dalam PB: pemberitaan Injil (Markus 4), pertobatan sebagai cara hidup (Gal 6:7-8, “menabur dalam Roh”), persembahan (2 Kor 9:6), dan di balik semua itu, kebangkitan tubuh (1 Kor 15:42-44) sehingga “jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Hal-hal itu merupakan langkah-langkah iman, karena hasilnya bergantung bukan pada usaha kita melainkan pada berkat Tuhan.

Ketika kita melangkah dalam iman di tengah keadaan yang sulit, dan Tuhan bertindak memulihkan keluarga atau jemaat atau masyarakat, bukankah pada saat itu mulut dan lidah tidak tertahan lagi menyatakan sukacita? Lebih lagi ketika Kristus datang kembali dan memulihkan dunia.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mzm 126:1-6 Perkara Besar tetap akan ada [28 Juli 2013]

  1. Rocky Coki berkata:

    Trima kasih tulisan yang barunya, sangat bermanfaat. Tuhan memberkati pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s