Kej 12:1-6 Bergerak dalam terang janji Allah [04 Agustus 2013]

Perikop yang terkenal dan pokok ini tidak bisa digali tuntas dalam satu kali perenungan. Kita melihat janji Allah dan iman Abraham, dan tulisan di bawah ini menyoroti soal iman. Tetapi ternyata, iman tidak dapat dibahas tanpa perhatian juga terhadap janji-janji yang diimani.

Penggalian Teks

Pada pemanggilan Abraham ini, dunia manusia sudah jadi. Pp.2-11 menceritakan penciptaan manusia, pemberontakan manusia, keberdosaan manusia, dan pembentukan bangsa-bangsa (pp.10-11). Kondisi manusia dilihat dalam silsilah Sem (11:10), karena panjangnya umur keturunan Sem makin lama makin singkat. Manusia makin dikuasai oleh maut, tetapi rencana Allah belum dinyatakan.

Kej 11:26-27 menunjukkan fase baru dalam kisah Kejadian, dengan istilah “keturunan” (toledot). Abram diperkenalkan, dan juga isterinya, Sarai, yang mandul. Kemudian, Terah mau merantau ke Kanaan dari Ur-Kasdim (sekarang Iraq), tetapi hanya sampai di Haran, dekat perbatasan Siria-Turki (11:31). Jadi, Abram, Sarai dan Lot semuanya lahir di Ur, dan sudah dewasa ketika pindah ke Haran.

Itu berarti firman Tuhan datang kepada Abram di Haran. Dia harus meninggalkan negeri, keluarga, dan kedudukan di rumah bapaknya yang dia kenal. Negeri itu akan diganti dengan negeri yang baru (1). Tetapi, keluarga akan diganti dengan bangsa yang besar, dan kedudukannya akan diganti dengan nama yang masyhur (a.2; “masyhur” sama dengan “besar” dalam bahasa Ibrani, gadol)! Kedua hal itu dikaitkan dengan berkat. Allah memberkati Abram dengan membuatnya menjadi bangsa yang besar, dan Abram akan menjadi berkat karena namanya besar. Soal berkat ditekankan dalam a.3; Abram menjadi tolok ukur berkat atau kutuk, dan dia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Jadi, berbeda dengan orang-orang Babel, dia menerima nama dari Allah untuk menjadi saluran berkat yang hilang ketika manusia jatuh ke dalam dosa.

Abram menaati firman itu (4a), dan bersama dengan rumah tangganya (isteri, keponakan, dan hamba-hambanya) pergi ke Kanaan, tujuan awal Terah (4-5). Dia masuk dari sebelah Utara, dan dalam a.6 sampai di Sikhem, kurang lebih di tengah Kanaan. Pada saat itu, kendala kedua bagi janji Allah disebutkan (6b). Kendala pertama disebut tadi, yaitu kemandulan isterinya. Kendala kedua ialah bahwa tanah perjanjian ini tidaklah kosong. Dalam ayat berikutnya, Allah mengulang janji-Nya yang akan mengatasi kedua kendala itu (12:7), dan Abram melanjutkan perjalanannya ke sebelah Selatan, dan menyembah Tuhan (12:7b-9). Dengan demikian, dia sudah menjelajahi seluruh tanah itu.

Maksud bagi Pembaca

Kisah ini menempatkan umat Allah sebagai umat peziarah yang bergerak maju dalam terang janji-janji Allah bagi seluruh dunia. Janji-janji itu melepaskan umat Allah dari ikatan-ikatan lama untuk mengikuti panggilan Allah.

Makna

Janji-janji dalam aa.1-3 menyentuh kehidupan Abram langsung, termasuk kemandulan isterinya, tetapi tidak sekadar janji pribadi. Janji-janji ini menunjukkan bagaimana berkat yang hilang karena dosa akan diberikan kembali oleh Allah. Dalam Galatia 3:6-14, Paulus menjelaskan bagaimana janji berkat itu telah digenapi dalam jemaat yang menerima Roh Kudus, oleh karena Kristus telah menanggung kutuk pada salib. Namun, “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya” (Ef 1:14), yaitu, ketika Kristus datang kembali dan “orang yang lemah lembut…akan memiliki bumi” (Mt 5:5), janji Yesus yang berakar pada sebuah mazmur yang berakar dalam janji kepada Abraham itu. Kita masih melangkah dalam iman dan pengharapan, belum dalam penglihatan. Janji-janji yang mulia dan luas ini mau mengangkat pemandangan kita dari kegelisahan kita yang terlalu sempit—“susahnya hidupku”, “kurang dana”, “memang SDM kita kurang”—untuk melihat rencana Allah bagi dunia ini, yang di dalamnya kita diperkenan mengambil bagian.

Dengan demikian, kita akan bergerak maju, sama seperti Abraham. Hal itu bisa secara harfiah, seperti Yesus mengelilingi Israel dan para rasul diutus ke seluruh dunia. Tetapi, biar kita tinggal di kampung saja, hati kita harus lepas dari ikatan bangsa dan keluarga, dalam artian bahwa kita menaati Allah bukan manusia. Atau, dalam bahasa Yesus yang menggelitik, kita harus membenci bapa, ibu, isteri, anak dan seluruh keluarga (Luk 14:26). Maksud Yesus ialah bahwa Dia harus menjadi utama, dan mereka (dan nyawa kita sendiri) menjadi sekunder. Mungkin boleh dikatakan bahwa kebencian itu bukan motivasi kita tetapi tafsiran keluarga ketika kita tidak bertindak sesuai dengan harapan mereka. Bagaimanapun juga, di mana saja umat Allah berada, kita akan tampil seperti pendatang (1 Pet 1:1; 2:11), dengan budaya yang asing dalam berbagai hal (1 Pet 4:4).

Dalam perikop ini, Abraham baru mulai menjelajahi tanah perjanjian dan menghadapi tantangan, bahwa ternyata tanah itu tidak kosong dan isterinya tidak subur, sehingga janji itu pasti terasa tidak praktis, tidak menyambung dengan realita di sekitarnya. Berkat Roh Kudus dan keselamatan eskatologis (ketika menghadap takhta pengadilan Allah/Kristus, Rom 14:10; 2 Kor 5:10) mungkin juga terasa tidak menyambung dengan realita di sekitarnya oleh sebagian warga jemaat. Di mana saja di dunia, selalu ada tekanan yang halus terhadap pelayanan untuk mengutamakan pergumulan nyata, dan bukan menempatkannya dalam kerangka janji-janji dan rencana Allah bagi seluruh dunia. Iman menjadi sekadar istilah rohani untuk semangat hidup dan daya berjuang, dan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan. Iman Abraham tentu memberinya daya berjuang yang jelas, juga memberinya tujuan hidup yang sesuai dengan panggilan Allah itu.

Pos ini dipublikasikan di Kejadian dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s