Kel 3:1-12 Dibebaskan Untuk Beribadah Kepada Allah [11 Agustus 2013]

Perikop ini dapat dilihat dari perspektif setiap tokoh yang ada di dalamnya: Allah, Musa, umat Israel, bahkan Firaun dan Mesir. Fokus renungan ini untuk bagian Maksud adalah umat, karena kita masuk di situ. Namun, bagian Makna juga menggali tentang Allah, juga sedikit tentang Musa sebagai orang beriman. Semua aspek itu penting dalam menangkap pesan perikop ini.

Penggalian Teks

Dalam p.2, Musa diselamatkan ketika bayi, dibesarkan di istana Firaun, membunuh orang Mesir, dan melarikan diri ke Midian. Kisahnya disela oleh laporan tentang keluhan orang Israel yang didengar oleh Allah. Jadi, tidak mengejutkan jika kita melihat Allah turun tangan, dengan memanggil Musa.

Musa sampai di gunung Horeb, yaitu gunung Sinai (1). Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepada Musa, dan Musa melihat (2) penglihatan itu (3). Tuhan melihat perhatian Musa dan mulai berbicara dengan dia (4).

Pemberitahuan pertama dan kedua menyangkut kekudusan Tuhan yang memanggil; tempatnya kudus karena Allah yang ada di sana adalah Allah dari ketiga bapa leluhur Israel (5-6). Allah ini memiliki identitas yang bisa dikenali Musa dalam kesetiaan-Nya kepada janji-janji yang pernah Dia buat.

Dalam pemberitahuan ketiga, Allah telah melihat (“memperhatikan” secara harfiah adalah “sungguh melihat”), dan juga mendengar kesengsaraan umat-Nya (7, 9). Karya pembebasan Allah terjadi atas perhatian ini (8). Tetapi, ternyata karya itu akan memakai Musa (10)!

Musa takut memandang Allah, tetapi tetap mampu mengajukan keberatan terhadap pengutusan yang tidak masuk akal menurutnya (11). Tanda yang diberikan Allah sebenarnya tidak terlalu meyakinkan, karena mengandaikan bahwa Musa sudah berhasil: “gunung ini” ada di luar Mesir (12). Dalam ayat-ayat berikut ada tawar-menawar sampai Musa siap untuk menerima tugas ini. Tetapi a.12 juga memberitahukan tujuan dari pembebasan itu, yakni beribadah kepada Allah. A.12b meringkas seluruh kitab Keluaran: bangsa Israel keluar, lalu beribadah kepada Allah dan membuat Tabut Perjanjian.

Maksud bagi Pembaca

Landasan identitas umat Allah adalah karya pembebasan oleh Allah dari penindasan supaya kita beribadah kepada-Nya. Kita membaca perikop ini sebagai umat yang telah dibebaskan dari maut dan dosa dan sudah beribadah kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Kita teringat bahwa kondisi di luar rahmat Allah itu buruk, dan bahwa beribadah kepada Allah adalah hak istimewa yang dapat kita nikmati dalam seluruh kehidupan kita, karena tidak ada bagian kehidupan yang tidak dibebaskan oleh Kristus.

Makna

Ada beberapa hal yang dinyatakan tentang Allah dalam perikop ini. Yang pertama, Dia telah berkenan dikenali melalui ikatan-Nya dengan umat-Nya. Dia adalah Allah yang menyatakan diri dan berjanji kepada Abraham dsb., bukan dewa orang Mesir, dewa orang Kanaan, dsb. Lebih lagi, Dia adalah Allah yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus, keturunan Abraham itu. Karya-Nya tidak terbatas pada umat-Nya saja: Dia menciptakan dunia sebelum ada umat, dan Dia memperkenalkan diri-Nya kepada Mesir. Tetapi yang ditawarkan kepada seluruh dunia adalah mengenal Dia di dalam karya-Nya yang berpuncak di dalam Kristus. Orang Mesir yang bergabung dengan Israel ketika mereka keluar, dan keluarga Rahab yang bergabung dengan Israel ketika mereka masuk tanah Kanaan, dapat mengenal Allah. Allah bukan konsep samar-samar saja, tetapi memiliki identitas yang jelas.

Yang kedua, Dia kudus. Yang ketiga, Dia mengerti. Kedua hal ini harus dipahami bersamaan. Kekudusan merujuk pada identitas Allah yang tegas, bahwa kepentingan Allah yang utama ialah Allah sendiri, dan manusia harus menyesuaikan diri dengan kekudusan itu. Mengapa Allah menunggu begitu lama untuk membebaskan Israel? Kita tidak diberi tahu; hal itu menyangkut kepentingan Allah dan Dia tidak wajib melapor kepada manusia. Namun, Allah memilih, atas anugerah saja, untuk memanggil Abraham dan berjanji kepadanya, dan kepada anak cucunya. Dalam kesetiaan-Nya terhadap janji itu, Dia memilih untuk melihat kondisi Israel dan mendengar seruan mereka dan bertindak. Tetapi, ternyata hal itu bukan sekadar untuk menyenangkan kita. “Kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini”—ternyata kepentingan Allah tetap utama. Dia juga tidak wajib menyelamatkan kita dari akibat dan kuasa dosa, tetapi dalam kekudusan-Nya berhak untuk menghapus manusia dari muka bumi—seperti hampir terjadi dalam kisah air bah. Tetapi, begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yoh 3:16) … namun, “barangsiapa tidak taat kepada Anak…murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh 3:36).

Kedua hal itu, kekudusan dan rahmat Allah, tampak sebagai ketegangan bagi pemikiran manusia yang terbatas. Namun, “ketegangan” itu adalah bagian dari pengalaman orang beriman. Musa takut akan Allah, dan hal itu sangat cocok. Dalam taraf imannya yang belum matang, dia juga tawar-menawar dengan Allah, dan ternyata hal itu juga cocok. Malahan, tawar-menawar itu menjadi cara dia mengetahui lebih dari rencana Allah, termasuk bahwa Allah akan menyertainya (12).

Pos ini dipublikasikan di Keluaran dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s