1 Pet 2:1-10 Jati diri sebagai umat Allah [18 Agustus 2013]

Konon ada yang berharap bahwa renungan-renungan ini dapat ditambah dengan hal-hal yang lebih praktis. Mengingat bahwa yang memakai blog ini melayani di kota besar sampai pelosok (jika sempat keluar untuk mendapat jaringan), pertanyaan balik saya ialah, praktis untuk siapa? Hanya pelayan setempat yang bisa sungguh praktis. Tetapi ada satu pertanyaan lagi. Jika blog ini banyak berbicara tentang Allah, tentang karya Kristus, tentang identitas kita di dalam Kristus, untuk siapa hal-hal itu tidak praktis? Suami yang hanya mencari apa yang bisa dia lakukan bagi isterinya tetapi tidak mau memahami isterinya adalah suami yang belum memahami kasih. Jangan sampai jemaat-jemaat kita belum mengasihi Allah, sehingga cepat bosan mendengar tentang sifat-sifat-Nya yang mulia dan karya-karya-Nya yang besar.

Penggalian Teks

Berbicara kepada jemaat-jemaat yang mengalami keterasingan dalam dunia (1:1-2), Petrus meletakkan dasar dalam 1:3-2:10 untuk suatu pola hidup yang berbeda (2:11-12). Dasar itu mulai dengan akhir dari segalanya, yaitu pengharapan akan warisan kekal yang dijamin dalam kebangkitan Kristus (1:3-9) sesuai dengan nubuatan PL (1:10-12). Itulah yang akan memampukan jemaat untuk bertahan dalam berbagai pencobaan. Setelah penguatan itu, dia beralih ke implikasi dari pengharapan itu bagi kehidupan jemaat. Implikasi itu dikaitkan dengan suatu identitas yang baru di dalam Kristus. Yang pertama ialah kekudusan (1:13-16). Kekudusan itu terwujud dalam kasih yang muncul dari pengharapan dan iman (1:17-22). Untuk pokok ini, selain kebangkitan Kristus, Petrus juga menyoroti mahalnya penebusan dari kehidupan yang lama (1:18-19), dan hasil penderitaan Kristus sesuai dengan rencana Allah (1:20), yaitu kemuliaan (1:21). Kebenaran-kebenaran itu mengena karena firman Allah (Injil) disampaikan (1:23-25). Dalam perikop kita, soal identitas makin jelas. Kristus adalah dasar dari umat yang tidak lain dari “umat kepunyaan Allah sendiri” (2:9). Dengan demikian, melawan hawa nafsu dan budaya yang buruk menjadi hal yang melekat pada identitas diri, bukan suatu kegiatan lanjutan bagi yang menganggap diri rohani.

Ada banyak gambaran yang dipakai Petrus dalam perikop kita. Pada awalnya, beberapa gambaran menyangkut pertumbuhan. Aa.1-3 menggambarkan jemaat sebagai bayi dan firman sebagai susu. Bayi yang sudah mengecap kebaikan susu dari ibunya pasti memiliki hasrat yang tinggi untuk menyusu lagi. Manusia mengisi kebutuhan jiwanya dengan berbagai makanan yang palsu; a.1 mendaftar beberapa sikap yang mencemarkan kasih persaudaraan (bdk. 1:22). Ada permainan kata antara a.1 dan a.2 yang menunjukkan perbandingan ini: kata “tipu muslihat” (dolos) dan kata “murni” (adolos, “a-“ berarti “tidak”). “Bertumbuh dan beroleh keselamatan” semestinya dipahami sebagai “mencapai” keselamatan; maksudnya bukan keselamatan sebagai upah melainkan keselamatan (di sini hati yang sudah murni) sebagai tujuan.

Aa.4-5 meneruskan tema pertumbuhan, tetapi beralih ke gambaran tentang bangunan. “Rumah rohani” merujuk kepada Bait Allah, dan kita bukan hanya menjadi batu-batunya tetapi juga menjadi imamat yang melayani di dalamnya! Hal ini merupakan satu aspek lagi dari identitas jemaat: mempersembahkan persembahan melekat pada diri seorang imam, bukan merupakan kegiatan lanjutan bagi yang berminat. Kembali, dasarnya ialah Kristus, yang dalam kematian membuktikan kesalahan manusia yang melawan Dia (dan sekarang jemaat) dan dalam kebangkitan-Nya membuktikan pilihan Allah atas Dia (dan sekarang jemaat). Hal-hal itu dibuktikan dalam dua kutipan dari PL (6-8). Yes 28:16 (dikutip dalam a.6) adalah ayat tunggal yang menawarkan keselamatan di tengah satu pasal yang menubuatkan kehancuran bagi Israel yang congkak; Yesus adalah batu keselamatan. Pemilihan Yesus oleh Allah dalam a.4 dibuktikan dari Mzm 118:22. Tetapi, batu tidak hanya menjadi tempat yang aman, tetapi bisa juga menjadi sandungan, dan hal itu diungkapkan dengan kutipan dari Yes 8:14-15. Nasib orang terungkap dalam sikap terhadap Yesus: bagi jemaat Dia “mahal” (a.7; “ia” merujuk kepada “batu”, yaitu, Yesus), tetapi bagi mereka yang tidak percaya, Dia hanya layak dibuang.

Akhirnya, dalam aa.9-10, Petrus menggambarkan jemaat langsung sebagai umat Allah. Jika kita melihat rujukan silang yang dicantumkan oleh LAI untuk a.9, kita melihat bagaimana Petrus menyampaikan bahwa identitas Israel sebagai umat Allah diterapkan kepada jemaat di dalam Kristus. Dalam a.9a, ada empat kata yang dipakai untuk jemaat sebagai kolektif. Kata genos (keturunan, LAI “bangsa”) merujuk kepada asal-usul Israel sebagai keturunan Abraham yang dipilih. Dalam a.4 yang dipilih ialah Kristus, dan kita dipilih di dalam-Nya sebagai batu-batu di sekitar Dia sebagai batu penjuru. Kata basileios (“rajani”) merujuk kepada peran Israel sebagai bangsa yang berkuasa, tetapi dengan cara yang khas, yaitu dengan menjadi imamat. Dalam PL, Israel memanggil bangsa-bangsa untuk memuji Allah (misalnya, Mazmur 117), dan berharap untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa (Kej 12:3); peran itu justru menonjol di dalam Kristus. Kata ethnos (“bangsa”) merujuk kepada jati diri Israel di tengah bangsa-bangsa yang lain, yaitu kekudusan yang disampaikan dalam Hukum Taurat. Bagi jemaat, teladan Yesus serta salib dan kebangkitan-Nya yang menentukan cara hidup dalam kasih yang berbeda dari orang-orang di sekitar kita (lihat penjelasan tentang 1:13-25 di atas). Akhirnya, kata laos (umat) merujuk kepada maksud Allah bagi jemaat, yaitu sebagai kepunyaan Allah sendiri. Kita adalah milik Allah, yang semestinya hidup searah dengan rencana Allah dan menjadi siap untuk dipakai Allah. Tugas pokok dari jemaat yang mencakup empat aspek tadi (asal-usul, peran, jati diri dan maksud) adalah memberitakan karya Allah. Hal itu bisa kita lakukan karena Allah telah memanggil kita untuk menikmati hasil penebusan oleh darah dan kebangkitan Kristus. Penebusan itu membuat suatu mujizat: yang bukan keturunan Abraham dan anggota Israel telah menjadi bagian dari umat kepunyaan Allah yang beroleh belas kasihan (10).

Maksud bagi Pembaca

Petrus mau supaya kita menangkap apa identitas kita di dalam Kristus, sebagai dasar untuk hidup di tengah dunia yang sesuai dengan identitas itu. Dia mau supaya kita rendah hati dalam menginginkan firman (1-3), tetap setia kepada Kristus bahkan dalam penolakan manusia (4-8), dan bersaksi tentang karya-Nya (9-10). Dia mau supaya kita bertumbuh secara pribadi (1-3) dan sebagai jemaat (4-8) untuk memenuhi panggilan Allah yang begitu kaya (9-10).

Makna

Hal identitas penting, karena banyak hal yang kita lakukan muncul dari identitas kita. Tingkah laku yang muncul dari identitas lebih dalam dan bertahan lebih lama daripada tingkah laku yang hanya muncul dari rasa wajib atau teguran. Tingkah laku itu dikuatkan dengan cara seperti Petrus di sini—meneguhkan identitas sambil mengingatkan tentang cara hidup yang sesuai dengan identitas itu.

Identitas kita berakar dalam Kristus. Oleh karena pengharapan dalam kebangkitan-Nya, ada “sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1:8). Darah-Nya “mahal”, lebih berharga daripada emas (1:18-19). Tetapi bukan hanya karya-Nya yang sangat berharga; Yesus sendiri “mahal” (7). Mahalnya Yesus membuat kita siap untuk membayar harga ketaatan di tengah dunia yang tidak menyukai Yesus, seperti yang diuraikan selebihnya dalam surat Petrus ini.

Pos ini dipublikasikan di 1 Petrus dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s