Mzm 119:97-104 Mencintai firman Allah [1 September 2013]

Satu tema dalam perikop ini adalah perenungan firman Allah, dan setiap artikel yang dimuat dalam blog ini adalah hasil perenungan saya. Saya menyesal bila hasilnya terlalu mudah dicerna, karena saya tidak bermaksud mengambil alih tugas pelayan untuk merenungkan perikop secara pribadi dulu. Saya duga artikel ini akan lebih jelas jika perikopnya sudah dibaca dan dipikirkan, dan saya berharap bahwa perenungan saya membawa Pembaca untuk menggali lagi. Kapan lagi seorang pelayan yang sibuk akan mendalami firman jika bukan dalam persiapan khotbah?

Penggalian Teks

Perikop ini merupakan bait mem dalam Mazmur 119 ini, sehingga setiap ayat mulai dengan huruf mem. Sebenarnya, hanya dua kata dipakai, min = “dari/daripada” (“terhadap” dalam a.101), dan mah = “betapa”. Kata min selalu melebur dengan objeknya, sehingga objek itu menjadi kata pertama dalam ayatnya dan mendapat penekanan. (Tentu, urutan kata diubah dalam terjemahan.) Oleh karena itu, perbandingannya disoroti dalam aa.98-100 (“musuh”, “pengajar” dan “orang tua”), dan kedua jalan (“kejahatan”, “hukum-hukum-Nya”) disoroti dalam aa.101-102.

Setiap ayat juga mengandung satu istilah untuk firman Allah. Kata torah (Taurat) berarti pengajaran, pengarahan atau pembimbingan (misalnya, Ams 1:8b; 4:2b). Kemudian, istilah itu dipakai khususnya untuk kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan), sebagai pengajaran dan pengarahan Allah kepada Israel. Jadi, Taurat jauh lebih luas daripada kesepuluh perintah dalam Kel 20:1-17 saja. Selain perintah (98), ada juga kisah-kisah yang dapat menjadi peringatan (99), kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum diterapkan (102), dan di balik semua itu, janji-janji Allah (103). Tidak terlalu jelas sejauh mana pemazmur membeda-bedakan istilah-istilah ini, tetapi dalam tafsiran di bawah saya coba menghargai perbedaan makna istilah itu, paling sedikit supaya kita ingat bahwa Allah tidak hanya mengajar dengan perintah, tetapi juga dengan kisah dan kasus.

Bait ini mulai dengan pernyataan cinta akan Taurat itu, yang direnungkan sepanjang hari (97). Perenungan mengandaikan perhatian yang besar, keasyikan. Ayat-ayat berikut menunjukkan mengapa cinta itu bertahan dan menjadi pola hidup.

Dalam aa.98-100 ada tiga perbandingan yang menunjukkan keunggulan Taurat dalam membuat pemazmur berhikmat. Perbandingan pertama itu lazim, yaitu terhadap musuh. Tetapi kedua perbandingan berikutnya mengejutkan: terhadap pengajar dan orang-orang tua. Bisa saja muncul kesan bahwa si pemazmur menyombong. Maksudnya dapat ditangkap dari perbandingan yang pertama itu. Musuh-musuhnya mungkin saja cerdas dan cerdik, tetapi mereka menjadi kurang bijaksana karena tidak mau diarahkan oleh perintah Allah. Mereka cerdik untuk tujuan-tujuan yang semu atau jahat. Sama seperti itu, seorang pengajar memiliki banyak pengetahuan akan firman Allah tetapi belum tentu pengetahuan itu menjadi peringatan baginya, dia belum tentu diarahkan secara pribadi olehnya. Orang-orang tua mengeluarkan “titah-titah” mereka berdasarkan pengalaman yang kaya, tetapi hal itu kurang berguna kalau mereka tidak mengutamakan titah-titah Allah. Taurat menjadi dasar untuk menemukan tujuan hidup yang baik, memakai ilmu dengan tepat, dan mengerti pengalaman dengan benar.

Aa.101-102 menyampaikan satu gambaran dengan dua cara, yaitu bagaimana Allah menuntun pemazmur pada jalan yang benar. Allah sendiri adalah penuntun melalui firman-Nya. Jalan yang benar dilihat dalam kasus-kasus yang menunjukkan bagaimana hukum Allah diterapkan (102). Menyimpang adalah hal yang dimulai dengan satu langkah kaki saja, tetapi lama-kelamaan akan menjadi jauh dari kebenaran. Pemazmur berpaut kepada Allah dalam firman-Nya supaya tetap pada jalan yang benar.

Aa.103-104 meringkas ayat-ayat sebelumnya. A.103 mengembangkan a.97. Taurat yang direnungkan dalam mulutnya membawa kenikmatan yang lebih dari kenikmatan madu: hatinya tertuju kepada janji Allah. A.104a mengulang a.100 (bdk. “pengertian” dan “titah-titah”): akal budinya juga tertuju kepada titah Allah. A.104b mengembangkan a.101 (“jalan kejahatan” menjadi “jalan dusta”). Oleh karena pengertiannya yang ditopang oleh kerinduan hati yang baru, kejahatan terbongkar sebagai dusta. Janji Allah layak dirindukan, sedangkan janji yang tersirat dalam sebuah kejahatan adalah dusta.

Maksud bagi Pembaca

Kita sebagai pembaca diundang untuk mengevaluasi sikap hati kita terhadap firman Allah. Sejauh mana kita sudah menikmati firman Allah sebagai dasar hikmat dan pengarah jalan, sehingga kejahatan menjadi dibenci? Atau, apakah firman itu masih tawar, karena pengenalan kita akan firman Allah masih dangkal?

Makna

Orang Yahudi menganggap bahwa seluruh PL muncul dari Taurat, dan orang Kristen melihat Kristus sebagai penggenapan Taurat. Kepelbagaian maksud dalam Taurat tadi dilihat juga dalam keempat Injil, yang menjadi dasar PB sama seperti Taurat adalah dasar PL. Selain ajaran etis Yesus, kita melihat juga banyak kisah yang menjadi peringatan dan kasus yang memperlihatkan bagaimana Injil berlaku dalam kehidupan orang. Jadi, kita membaca mazmur ini dan menerapkannya kepada sikap kita terhadap seluruh Alkitab, bukan hanya kelima kitab Musa atau PL. Itulah pentingnya kata “Taurat” tidak dibatasi pada kesepuluh perintah saja. Kita merenungkan semua bentuk firman Allah: janji, perintah, kisah, ajaran, dsb.

Perenungan firman disebut dalam aa.97 & 99, dan disinggung dalam a.98 (“ada padaku”) dan a.103 (manis di mulut). Cinta dan perenungan tentu berkorelasi. Cinta menjadi penggerak untuk lebih memberi perhatian, dan perhatian membuat kita lebih memahami dan lebih mencintai. Dari aa.98-100, perenungan pemazmur tidak sekadar soal menghafal ayat atau mengulang-ulang frasa. Dia merenungkan apa makna dan implikasi dari firman Allah, sampai dia tidak hanya lebih memahami firman daripada para pengajarnya, dia juga lebih memahami dunia daripada orang-orang tua. Tetapi daya tarik utamanya ialah bahwa firman ini adalah firman Allah: “Engkaulah yang mengajar aku.” Jika kita mencintai Kristus, kita akan mencintai Alkitab yang di dalamnya Dia mengajar kita.

Pos ini dipublikasikan di Mazmur dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mzm 119:97-104 Mencintai firman Allah [1 September 2013]

  1. Hendri Yunus Pinem berkata:

    Terima kasih atas tulisannya …………..Salam Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s