Kel 19:1-6 Identitas dan peran umat Allah [8 September 2013]

Perikop ini mengandung janji dan perintah, tetapi pada dasarnya berbicara tentang identitas atau status kita sebagai umat Allah. Tanpa kesadaran tentang hal itu, kita sulit untuk menjadi yakin bahwa janji Allah berlaku bagi kita, dan kita sulit untuk melihat mengapa perintah Allah adalah kepentingan kita. “Kristen KTP” merujuk kepada orang yang identitasnya dalam Kristus tinggal sebagai golongan agama saja. Membangun identitas yang benar merupakan satu tugas urgen dalam gereja sekarang.

Penggalian Teks

Tuhan membawa Israel keluar dari Mesir dengan janji bahwa mereka akan beribadah kepada-Nya di gunung Sinai (3:12). Janji itu ditepati dalam aa.1-2. Jika kita meninjau kisah Israel yang baru keluar dari Mesir itu, mereka menjadi kesal karena air (15:22-27; 17:1-7) dan makanan (p.16). Jadi, janji Tuhan dalam perikop ini bukan upah atas ketaatan Israel. Sebaliknya, melalui janji ini Tuhan mau menciptakan bangsa yang kudus.

Aa.3 & 6b menegaskan peran Musa sebagai perantara. Dia pernah berjumpa dengan Tuhan di gunung Sinai, dan dia yang dipanggil untuk menghadap Tuhan kembali, supaya Tuhan menyampaikan firman-Nya melalui Musa. Dalam sebutan Tuhan untuk Israel kita melihat alasannya untuk menyelamatkan mereka. Mereka adalah “keturunan [harfiah: rumah] Yakub dan orang [harfiah: anak-anak] Israel”. Tentu, Yakub dan Israel keduanya adalah nama cucu Abraham yang sama, dan Allah menyinggung janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Janji Allah adalah dasar keselamatan Israel.

Aa.4-6a mengalamatkan bangsa Israel (melalui para tua-tua bangsa, 19:7), dengan kata “kamu”, bukan “engkau”. Kata “kamu” mendapat penekanan dalam bahasa aslinya, ditandai dengan kata “sendiri” dalam terjemahan LAI. Susunan konsep dalam ketiga ayat ini penting. Tuhan mulai dengan apa yang telah Dia lakukan bagi bangsa berdasarkan janji-Nya. Kemudian Dia menyampaikan suatu syarat dalam a.5a, kemudian suatu janji dalam aa.5b-6a.

A.4 menunjukkan baik kuasa Allah maupun tujuan dari kuasa itu. Mereka telah melihat karya-Nya terhadap orang Mesir, sehingga tidah usah lagi meragukan kuasa Allah. Tetapi tujuan dari karya penyelamatan itu ialah hubungan dengan Dia, “membawa kamu kepada-Ku”.

Hubungan itu dijelaskan dalam aa.5-6a. Bagian Israel adalah taat (5a), dan dengan demikian, mereka akan menjadi umat Allah sebagaimana digambarkan dalam aa.5b-6a, yang menyangkut identitas dan peran (atau misi). Identitas Israel dilihat dalam a.5b, bahwa mereka dipilih sebagai bangsa dari tengah bangsa-bangsa. Allah berhak atas semua bangsa di bumi, dan memilih Israel untuk menjadi milik-Nya sendiri. Frasa “harta kesayangan” (segullah) dipakai untuk milik pribadi seorang raja dalam 1 Taw 29:3 dan Pkh 2:8. Peran Israel dilihat dalam a.6a. “Kerajaan imam” dapat dilihat pada dua tingkat yang saling berkaitan. Sebagai kerajaan yang berpusat pada ibadah yang dikelola oleh para imam, mereka menjadi bangsa yang kudus. Kekudusan (dilihat dari kitab Imamat) adalah serangkaian lingkaran dengan Allah di pusat, imamat dan persembahan di sekitar Allah, perkemahan Israel di sekitar kemah suci, dan bangsa-bangsa di sekitar Israel. Di lingkaran Israel di sekitar kemah suci, imamat menjadi cara Allah dapat hadir di tengah Israel yang berdosa tanpa Israel menjadi binasa. Juga, imamat mengajar Israel tentang Allah. Di lingkaran bangsa-bangsa di sekitar Israel, Israel menjadi cara Allah dapat hadir di tengah dunia yang penuh dosa tanpa dunia menjadi binasa (bdk. Kej 8:21; persembahan Nuh yang mengamankan dunia diteruskan oleh Israel). Juga, bangsa-bangsa akan mengenal Allah melalui Israel (bdk. Mzm 96:5, 10; Yes 2:3-4). Dengan demikian, Israel sebagai bangsa pilihan memenuhi janji Allah bahwa semua bangsa akan mendapat berkat melalui keturunan Abraham (Kej 12:3).

Maksud bagi Pembaca

Dalam janji Allah ini, umat Allah diberi alasan paling mendasar untuk taat dan setia kepada Allah, yaitu identitasnya sebagai umat yang dipilih, diselamatkan dan disayangi, dan perannya sebagai umat yang kudus dalam rencana Allah bagi dunia. Identitas menentukan peran yang menentukan kebiasaan—seorang siswa belajar, seorang polisi mengatur lalu lintas, seorang anak membantu orangtuanya pada masa tuanya. Kita taat dan setia karena Allah, dan supaya kita bisa menjadi bagian dari rencana-Nya bagi dunia dalam Yesus Kristus.

Makna

Kematian & kebangkitan Yesus adalah padanan keluaran dalam PB—yang di dalamnya kita ikut. Jika saya meninjau pekerjaan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan saya, sehingga hal-hal yang bersifat dosa yang dulunya menarik tidak lagi menarik dan sikap-sikap yang menghancurkan kasih kepada sesama makin kurang kuasanya atas kehidupan saya, maka saya melihat apa yang dilakukan Allah kepada kuasa dosa, dan bagaimana Dia membawa saya di atas sayap rajawali (yaitu, di dalam Kristus) dan membawa saya kepada-Nya. Jika saya meninjau kuasa itu dalam sesama orang percaya, saya melihat bagaimana Dia sedang membentuk kita menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus.

Kelebihan kematian dan kebangkitan Yesus atas keluaran dari Mesir ialah bahwa ancaman kebinasaan dunia ditangani sekaligus untuk selama-lamanya. Dosa telah dihapus dalam kematian-Nya, dan dunia baru telah dirintis dalam kebangkitan-Nya. Makanya, tidak ada lagi persembahan berkala (bdk. Ibrani 10:1dst). Tetapi tugas membawa berita keselamatan itu supaya semua bangsa dapat menikmatinya tetap ada pada kita.

Jadi, apakah peran taat dan setia itu (5a)? Bahasanya bahasa syarat (“jika…maka”), tetapi syarat seperti apa? Walaupun jelas bahwa Israel diselamatkan sebelum dituntut untuk berpegang pada perjanjian Allah, apakah ketaatan menjadi syarat untuk tetap selamat? Dari satu segi, jawabannya ya, karena beberapa abad kemudian Israel dibuang dari tanah Israel oleh karena tidak taat. Tetapi, hidup di tanah itu bukan merupakan upah atas kebaikan Israel. Inti dari menjadi umat Allah ialah hubungan dengan Allah. Syarat itu menunjukkan bagaimana caranya menikmati hubungan dengan Allah. Keselamatan yang sudah diterima hanya akan menjadi sempurna jika Israel mengasihi Allah dan mengasihi sesama, sebagaimana diuraikan dalam Kesepuluh Firman beberapa ayat kemudian (Kel 20:1-17). Hal itu tetap berlaku bagi kita di dalam Kristus. Baik identitas umat Allah, maupun perannya sebagai bangsa yang kudus, menjadi rancu dan berat jika kita tidak taat dan setia.

Pos ini dipublikasikan di Keluaran dan tag , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Kel 19:1-6 Identitas dan peran umat Allah [8 September 2013]

  1. pnt.yuliussau berkata:

    terima kasih pak saya selalu membaca tulisan bpk setiap terbit

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih atas penguatannya.

  3. sanda berkata:

    Kurre sumanga’ ambe’. Tuhan pasti selalu memberi hikmat dan perlindungan.

  4. abuchanan berkata:

    Sama-sama, Tuhan memberkati.

  5. Pdt. Ida Arlinda berkata:

    Terima kasih sudah mau selalu berbagi, Tuhan memberkati

  6. abuchanan berkata:

    Terima kasih.

  7. Terima kasih atas renungan hari ini. Semoga kasih Tuhan Yesus senantiasa menyertai setiap pelayanannya. Amin

  8. abuchanan berkata:

    Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s