Yes 56:1-8 Keselamatan bagi semua yang taat [15 September 2013]

Perikop ini juga membahas satu segi dari identitas umat Allah, yang menurut saya adalah satu hal pokok yang perlu dikembangkan di dalam gereja. A.1 dengan jelas melihat ketaatan sebagai respons terhadap janji keselamatan. Sabat hanya masuk akal sebagai respons terhadap keselamatan, karena terkait erat dengan karya penciptaan dan penebusan oleh Allah.

Penggalian Teks

Pp.49-55 menubuatkan pengorbanan Hamba Tuhan, yang dalam p.53 meraih keselamatan bagi Israel. Keselamatan itu diuraikan dalam pp.54-55. Setelah perikop kita, nada nubuatan kembali menegur Israel, tetapi bukan lagi dengan ancaman pembuangan, melainkan dengan ancaman tidak mendapat bagian dalam keselamatan dari Allah.

Jadi, nubuatan ini dikatakan kepada umat yang kepadanya diberikan janji keselamatan (1), dan menjelaskan orang seperti apa yang cocok untuk menikmati keselamatan itu, atau dengan kata lain, siapa umat Allah yang sebenarnya.

Ada kesejajaran dalam a.1 antara respons manusia dan karya Tuhan, “hukum” dan “keadilan” dari manusia karena “keselamatan” dan “keadilan” dari Tuhan. Hukum (mishpat, dari kata shapat = “memerintah”) di sini bukan peraturan tetapi tatanan sosial yang diciptakan oleh para penguasa yang memerintah dengan baik. Keadilan (tsedaqah) lebih luas dari konteks pengadilan saja, dan merujuk pada cara semua relasi antar-manusia dilakukan. Keadilan dapat berkembang ketika hukum diterapkan. Di atas Israel yang dibuang ke Babel, Tuhan memerintah dengan menyelamatkan mereka, suatu tindakan keadilan. Tetapi, perhatikan bahwa Israel di sini belum diselamatkan. Mereka dituntut untuk hidup sesuai dengan janji keselamatan, bukan sesuai kondisi yang ada. A.2 menyatakan kebahagiaan jalan itu, serta mengangkat satu hal khusus—memelihara Sabat—serta satu hal umum—menahan diri (harfiah: “menjaga tangannya”) dari kejahatan.

Aa.3-7 merupakan kiasmus, yaitu pola silang sbb. Orang asing “yang menggabungkan diri kepada Tuhan” disebut dulu dalam a.3a (A), kemudian orang kebiri dalam a.3b (B). Kemudian, janji Allah kepada kedua kelompok ini disampaikan dalam urutan yang terbalik: orang kebiri diuraikan dulu dalam aa.4-5 (B’), dan orang asing dalam aa.6-7 (A’). Kedua kelompok ini memiliki kekhawatiran masing-masing sesuai dengan kondisinya, tentang keterlibatan mereka dalam janji keselamatan Allah.

Syarat (dalam artian, cara hidup yang cocok dengan apa yang dijanjikan) bagi orang kebiri adalah memelihara Sabat dan taat (4). Mereka sudah menjadi bagian dari perjanjian Tuhan sebagai orang Israel, dan cara menyatakan keanggotaan itu ialah memilih kehendak Tuhan. Janji Tuhan ialah bahwa akan ada nama yang lebih baik daripada keturunan yaitu di Bait Allah. Kata “peringatan” menerjemahkan kata “tangan”, sehingga dalam bahasa aslinya, orang kebiri yang menahan “tangan” dari kejahatan (2) mendapat “tangan” (peringatan) yang abadi (5). Janji ini mengandaikan dunia baru (Yes. 65:17) di mana Bait Allah menjadi pusat dunia yang kekal (Yes 2:1-4). Dengan demikian, keluhan “aku ini pohon yang kering” dijawab. Sama seperti Abraham (Kej 12:2), mereka akan memiliki nama.

Orang-orang asing yang dimaksud adalah yang siap melayani Tuhan, siap menjadikan Tuhan tuan atas hidupnya. Hal itu akan dilihat dalam soal yang sama dengan orang kebiri, yaitu Sabat dan perjanjian, hanya soal “memilih apa yang Kukehendaki” diganti dengan “tidak menajiskan [Sabat]”. Janji bagi mereka adalah keterlibatan penuh dalam ibadah kepada Tuhan—dibawa ke Bait Allah dan membawa persembahan—sesuai dengan penglihatan dalam Yes 2:1-4. Dengan demikian, keluhan “Tuhan hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya” dijawab. Sama seperti Abraham, mereka akan bersekutu dengan Allah (Kej 12:8).

Dengan demikian, Allah akan menyempurnakan keselamatan Israel yang diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya (8). Semua orang di dalam, yang cacat sekalipun, dan semua orang di luar, bangsa-bangsa, ditawarkan keselamatan yang penuh, penerimaan dan martabat di hadapan Allah. Janji Allah kepada Abraham tentang berkat bagi seluruh dunia akan digenapi.

Maksud bagi Pembaca

Kebahagiaan karena menyambut keselamatan Tuhan dengan ketaatan ditawarkan kepada semua manusia, orang cacat dan orang asing sekalipun. Tuhan akan mengubah semua kekurangan yang lain menjadi berkat, supaya penerima keselamatan-Nya makin bertambah.

Makna

Hari Sabat mendapat penekanan yang menarik di sini. Dalam PB, Sabat menjadi pokok perselisihan antara Yesus dengan orang-orang Farisi, tetapi seterusnya hanya muncul dalam Kol 2:16, dan mungkin tersirat dalam Rom 14:5. Sulit dibayangkan bahwa seorang hamba yang menjadi percaya akan dibolehkan tidak bekerja pada hari Minggu oleh tuan yang tidak percaya. Tetapi, makna Sabat bukan sekadar tidak bekerja. Dalam Kel 20:11, Sabat meniru pola Allah yang “berhenti” pada hari ketujuh. Dengan demikian, hari Sabat menjadi peringatan akan karya penciptaan. Dalam Ul 5:15, perbudakan Israel di Mesir menjadi alasan untuk hamba-hamba orang Israel ikut menikmati perhentian pada hari Sabat. Jadi, makna Sabat termasuk merayakan karya Allah (penciptaan dan penebusan), dan juga ada unsur keadilan di dalamnya. Pada hari Sabat, hamba pun dihargai sebagai manusia, bukan sebagai sumber pendapatan. Hal itu menjadi alasan untuk Yesaya menekankan Sabat dalam kaitan dengan keadilan. Dalam PB, makna Sabat berkembang lagi menjadi simbol istirahat eskatologis (Ibr 4:8-11).

Dalam Ul 23:1, orang kebiri dilarang masuk “jemaah Tuhan”. Orang Yahudi pada zaman-zaman kemudian tidak melihat adanya perubahan dalam perintah Tuhan itu: yang diberikan adalah nama, bukan izin memasuki jemaah. Yang ada bagi mereka ialah semacam pemaknaan ulang bahwa larangan itu memiliki makna ritus (kesempurnaan fisik sebagai simbol kesempurnaan moral), dan tidak bermaksud menurunkan martabat orangnya. Namun, jika kita melihat bahwa masa depan yang dinubuatkan di sini digenapi di dalam Yesus, kita memahami bahwa memang kita tidak di bawah hukum Taurat lagi, dan siapapun bebas masuk dalam jemaat. Hanya, yang dipersoalkan di sini bukan masuk di jemaah/jemaat melainkan adanya keturunan. Dalam Mt 19:12, Yesus memakai kata untuk orang kebiri (eunoukhos, diterjemahkan “orang yang tidak dapat kawin” oleh LAI, yang juga dipakai dalam terjemahan LXX dari Yes 56:3-4) secara kiasan untuk orang yang tidak menikah karena berbagai alasan—termasuk Yesus sendiri. Biasanya sebuah nama diteguhkan melalui keturunan, tetapi nama dari Allah adalah nama yang abadi.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yes 56:1-8 Keselamatan bagi semua yang taat [15 September 2013]

  1. Pdt. Petrus Seseng berkata:

    Terima kasih, atas postingan bapak sangat menolong saya di dalam penggalian teks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s