Ul 30:11-20 Pilihlah hidup, karena firman Allah dekat [22 September 2013]

Teologi kristen tidak seperti filsafat yang menggali kebenaran-kebenaran di luar ruang dan waktu. Allah bertindak dalam sejarah, dan teologi harus berbicara tentang Allah itu. Allah tidak berubah, tetapi penyataan diri-Nya berkembang dan mencapai puncaknya dalam Kristus. Oleh karena itu, penafsiran di bawah tidak hanya melihat Israel pada zaman Musa, dan tidak hanya menggali suatu prinsip umum, tetapi juga mau memahami perikop ini dalam rangka sejarah keselamatan selanjutnya.

Penggalian Teks

Konteks dari perikop ini penting. “Perintah ini” dalam a.11 adalah perintah untuk berbalik kepada Tuhan dan taat (30:10), yang hanya akan dimampukan oleh Tuhan setelah Israel kembali dari pembuangan. Ingat bahwa bagian “formal” dari penyampaian Musa berakhir dalam p.28 dengan pembacaan berkat atau kutuk sebagai akibat dari ketaatan Israel kepada hukum-hukum yang dipaparkan dalam pp.12-26. Dalam p.29 dia menilai dengan terus terang kemampuan Israel: Tuhan belum memampukan Israel untuk taat (29:4), walaupun mereka telah melihat karya Allah yang besar (29:2-3, 5-8). Bahwa Israel (sebagai manusia berdosa) tidak mampu taat tidak mengejutkan, tetapi Musa dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan belum memberi mereka kemampuan. Makanya, dari 29:18, bayangan Musa ialah Israel memberontak dan dimurkai, sebagaimana terjadi dalam abad-abad kemudian, sampai Yehuda dibuang pada abad ke-6 SM.

Bahwa kemampuan itu bergantung pada Tuhan ditegaskan dalam 30:6. Pembuangan akan membuat Israel sadar dan bertobat (30:1-3) sehingga Allah memulihkan kondisi mereka (30:4-10). Penyunatan hati menjadi inti dari pemulihan ini, karena memungkinkan kasih kepada Allah yang membawa kehidupan bukan kematian. Yeremia, yang melayani di sekitar peristiwa Yehuda diangkat ke Babel, menyampaikan hal yang sama dengan menyampaikan janji Allah tentang sebuah perjanjian baru dengan hati yang baru (Yer 31:33). Itulah mengapa Paulus menerapkan awal perikop kita (12-14) kepada Injil tentang kebenaran oleh iman (Rom 10:6-8). Dia melihat bahwa seruan Musa hanya akan bisa dilakukan setelah pembaruan kondisi umat Allah yang terjadi ketika Roh Kristus mengubah hati manusia (Rom 7:5-6).

Aa.11-14 menegaskan bahwa perintah Allah terjangkau, “di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (14). Perintah itu ada dalam mulut karena diucapkan dan direnungkan, dan dengan demikian menjadi bagian dari ingatan. Orang yang hatinya belum disunat akan berdalih bahwa pikiran Allah itu misteri yang amat melampaui jangkauan manusia, seperti langit atau ujung bumi (12-13). Jika yang dimaksud adalah “hal-hal yang tersembunyi”, seperti alasan Allah sehingga hati Israel tidak disunat sejak awalnya, maka pernyataan itu benar (29:29a). Tetapi, jika berbicara tentang kehendak Tuhan, hal itu sudah dinyatakan dengan jelas (29:29b). Bagi Paulus, kedatangan Kristus mempertegas kedekatan firman Allah ini (Rom 10:6-7). Kesulitan manusia untuk taat terletak dalam hati manusia, bukan dalam perintah Allah.

Bagaimanapun kondisi hati manusia, implikasinya tetap sama. Aa.15-20 menawarkan (untuk sekian kalinya dalam kitab Ulangan) dua pilihan, hidup dan mati. A.16 menawarkan hidup; aa.17-18 memperingati akibat dari ketidaksetiaan, dan aa.19-20 kembali menawarkan kehidupan, dengan penegasan dalam langit dan bumi sebagai saksi, dan seruan untuk memilih. Penekanan pada mengasihi Allah menunjukkan bahwa dasarnya ialah relasi dengan Allah. Kehidupan dan kematian bukan upah dan sanksi sembarang, tetapi melekat pada siapakah Allah. Sebagai Pencipta dan Penebus umat-Nya, berpisah dari Dia berarti terpisah dari sumber hidup dan berkat.

Maksud bagi Pembaca

Bagi umat yang hatinya disunat dalam Kristus (Kol 2:811-12), perikop ini membawa janji bahwa perintah yang menunjukkan jalan kehidupan dan berkat itu dekat dan terjangkau, supaya kita diberi semangat untuk tetap memilih hidup dalam ketaatan.

Makna

Makna mendasar dari perikop ini tidaklah sulit, yaitu bahwa yang dinyatakan oleh Allah kepada kita jelas, dapat diucapkan dan dapat diingat (masuk dalam hati). Makanya, ketaatan yang membawa kehidupan yang sejati terjangkau. Bukannya saya harus menjadi genius dalam filsafat, atau memecahkan rekor dunia, atau menjadi orang terkemuka, atau apapun yang lain yang hanya terjangkau oleh segelintir orang. Menjadi taat itu sederhana. Siapapun mampu beribadah kepada Allah dan mengasihi sesama.

Namun, konteks dari perikop ini membawa nada yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas. Ketaatan dianjurkan kepada orang-orang Israel sebagai pilihan, tetapi dengan penuh kesadaran bahwa sebagai bangsa yang berdosa, mereka tidak akan memilih apa yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa penawaran pilihan itu percuma. Ada masa-masa Israel setia dan diberkati (misalnya, Hak 2:7), dan selalu ada orang-orang tertentu yang taat dan menikmati hubungan dengan Allah, walaupun dianiaya (seperti Elia, dan 7.000 orang yang lain pada zamannya). Ada yang memilih untuk hidup bagi dan bersama dengan Allah.

Pentingnya konteks itu ialah kesadaran bahwa hanya Allah yang membuka hati dan pikiran kita untuk bisa memilih hidup. Optimisme tentang kemampuan manusia dalam sejarah gereja biasanya dikaitkan dengan Pelagius, yang berdalil bahwa adanya perintah dari Tuhan mengandaikan kemampuan manusia untuk melakukannya; Tuhan tidak akan memberi manusia perintah yang tidak bisa ditaati. Dari segi kemampuan alami, hal itu benar. Tidak ada perintah bagi manusia untuk terbang, misalnya. Tetapi dari segi kemampuan rohani, hal itu tidak benar. Sebagai contoh, para dokter memberitahu kita bahwa merokok itu berbahaya, tetapi informasi itu tidak membawa kemampuan bagi perokok untuk berhenti. Informasi itu disampaikan karena benar, sama seperti pilihan hidup/mati itu benar, tetapi bukan karena pendengar akan bisa memilih. Dengan demikian, ada unsur tragis dalam perintah Allah (dan seringkali nasihat dokter), karena manusia menuju kehancuran yang disadari tetapi oleh karena hatinya keras, tidak bisa dielakkan. Unsur tragis itu cukup jelas dalam Yer 31:32 dan nas-nas yang lain dalam para nabi. Kitab Ulangan juga begitu, bdk. 31:16 atau 32:15-18. Sungguh, perikop kita tidak bermaksud untuk membawa harapan bagi manusia berdosa bahwa kita bisa menyelamatkan diri.

Tragedi itulah yang dijawab dalam kedatangan Kristus, yang memilih dihancurkan dalam solidaritas dengan manusia berdosa pada salib supaya dalam kebangkitan-Nya Dia membawa manusia yang percaya kepada-Nya ke dalam hidup yang baru. Tragedi menjadi komedi (dalam artian teknis: berakhir dengan baik). Dalam Kristus, penawaran perikop ini menjadi pilihan sungguh-sungguh. Kita diberi hati yang baru sehingga dimampukan untuk memilih jalan Tuhan, dan semakin kita melakukannya, semakin kita menikmati hubungan dengan Dia; semakin kita berpaling dari Dia, semakin kehidupan kita hampa.

Pos ini dipublikasikan di Ulangan dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ul 30:11-20 Pilihlah hidup, karena firman Allah dekat [22 September 2013]

  1. Ping balik: Ul 30:15-20 Pilihlah Hidup Mengasihi Allah [16 Feb 2014] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s