Rom 10:14-21 Diutus supaya ada iman timbul dari pendengaran [29 September 2013]

Perikop ini tidak sederhana, dan saya telanjur menelusuri beberapa pertanyaan saya dan akhirnya enggan memangkas hasilnya. Maksud dan Makna menyampaikan beberapa hal pokok dan penting bagi pembaca yang terburu-buru.

Penggalian Teks

Dalam kitab Roma, peran bangsa-bangsa muncul sejak awalnya: dalam Rom 1:5 Paulus bercerita bahwa “kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Injil itu untuk semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi. Hal itu sesuai dengan harapan PL itu sendiri (Rom 1:2; dalam 15:9–12 ada serangkaian kutipan PL yang membuktikan hal itu). Injil itu dibangun atas dasar PL, di mana Israel adalah penerima awal berkat-berkat Allah, seperti dikatakan dalam Rom 9:4–5 bahwa “mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu”. Yang dipersoalkan Paulus dalam pp.9–11 ialah, mengapa dari bangsa yang dikhususkan oleh Allah ini hanya sedikit yang percaya kepada Mesias mereka, yakni Yesus? Jawaban Paulus dimulai dalam pasal 9 dengan memperlihatkan kedaulatan Allah, yang memilih Ishak atas Ismael dan Yakub atas Esau. Kemudian (9:24–29), Paulus memperlihatkan dari PL bahwa Israel menolak Allah tetapi bangsa-bangsa akan menerima Allah, dan dalam p.11 dia sampai kesimpulan bahwa Allah menegarkan sebagian Israel “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” (11:25), tetapi pada akhirnya Israel juga akan bertobat. Sungguh benar bahwa jalan-jalan Allah tak terselami (11:33).

Namun, kedaulatan Allah tidak berjalan lepas dari kehendak manusia, melainkan di tengah kehendak-kehendak manusia (di situlah misteri kedaulatan Allah yang tidak meniadakan kehendak bebas manusia). Mulai dari 9:30 Paulus menguraikan masalah ketidakpercayaan Israel dari sudut pandang manusiawi. Mereka mengejar kebenaran melalui usaha sendiri, daripada menerima pembenaran dari Allah (9:30–10:4). Kemudian (10:4–13), Paulus menjelaskan keselamatan yang dinikmati bangsa-bangsa (dan sebagian Israel), dan perikop kita menjelaskan bagaimana keselamatan itu sampai pada bangsa-bangsa—karena ada yang membawa dan memberitakan Injil. Jadi, kedaulatan Allah yang mengerjakan maksud-Nya sampai “Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (11:32) diterapkan melalui manusia yang memberitakan Injil dan manusia yang menerima atau menolak berita keselamatan itu.

Konteks ini penting untuk memahami aa.16–21. Aa.14–15 dengan jelas menguraikan rangkaian kejadian yang harus dilalui supaya baik Israel maupun bangsa-bangsa dapat menerima keselamatan: berseru mengandaikan percaya; percaya mengandaikan mendengar, mendengar mengandaikan pemberitaan, dan pemberitaan mengandaikan pengutusan. Mungkin saja Paulus menegaskan rangkaian itu untuk mendukung permintaannya supaya mereka membantu dia dalam misinya ke Spanyol (15:24). Tetapi, dalam aa.16–21 dia kembali ke masalah penolakan Israel. Aa.16–18 menegaskan bahwa Israel telah mendengar, dan aa.19–21 menegaskan bahwa Israel sudah diberitahu tentang adanya fase baru dalam rencana keselamatan Allah.

Adanya penolakan bukan hal yang baru dalam sejarah Israel, sebagaimana dilihat dalam beberapa kutipan dari Yesaya dalam pp.9–11 ini. A.15b mengutip Yes 52:7, di mana pemberitaan tentang keselamatan Israel dari pembuangan dipuji. A.16 mengutip lanjutannya dalam Yes 53:1, di mana Israel tidak percaya akan pemberitaan itu. Bagi Paulus, pengalaman Yesaya tidak hanya sejajar dengan pengalaman Paulus sendiri, tetapi juga Yesaya 53 itu menceritakan Hamba Tuhan sebagai sarana keselamatan, dan Kristus adalah Hamba Tuhan itu. Yesus sebagai Mesias Israel masuk dalam pembuangan Israel pada salib (kematian), dan kembali dari pembuangan pada hari ketiga (kebangkitan), dan dengan demikian membuka keselamatan juga bagi bangsa-bangsa (Yes 55:4–5 & 56:6–8, bdk. Yes 2:1–4). Yesaya berbicara juga tentang zaman Paulus. Yang menarik di sini, dalam Yes 53:1 Israel tidak percaya, tetapi dalam ayat sebelumnya, ada dari bangsa-bangsa yang memahami (Yes 52:15). Makanya, saya menafsir a.16 ini pertama-tama tentang Israel, walaupun tentu penolakan tidak dibatasi pada Israel saja.

A.17 menarik suatu kesimpulan dari kutipan Yesaya itu: orang akan percaya jika mendengarkan pemberitaan kabar baik tentang keselamatan, yaitu, dalam konteks Paulus (dan kita), firman tentang Kristus. Kesimpulan Paulus itu dibantu dalam bahasa aslinya, karena satu kata (Yunani: akoe) dipakai untuk “pemberitaan” dalam a.16 dan “pendengaran” dalam a.17. Pemberitaan di sini berarti penerusan pesan yang sudah didengar.

A.18 dan a.19 mulai dengan nada perlawanan, “tetapi aku bertanya” (Yunani: alla lego, “tetapi aku mengatakan”). A.18 agak sulit. Sepertinya Paulus mau mengatakan bahwa orang-orang Israel telah mendengar tentang Kristus. Jika kita melihat pelayanan Paulus saja, dia selalu mengunjungi tempat ibadah Yahudi dulu (bdk. 1:16). Jadi, memang orang Israel telah mendengar firman tentang Kristus. Hanya, kata “mereka” dalam Mzm 19:5 yang dikutip di sini merujuk bukan pada para pemberita Kristus melainkan pada ciptaan-ciptaan Allah sebagai pemberita tentang kemuliaan-Nya (Mzm 19:2). Mungkin Paulus mengutipnya, karena dalam Mazmur 19 sendiri, “suara” ciptaan itu digenapi dan diperjelas dalam firman Taurat (19:8–11), dan bagi Paulus Kristus adalah kegenapan Taurat itu (10:4).

Jika a.18 menegaskan bahwa sebenarnya Israel mendengar, a.19 menegaskan bahwa mereka “menanggapnya”. Secara harfiah, pertanyaan itu berbunyi, “Sungguhkah Israel tidak tahu/paham?”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka mengetahui atau menanggap. Dari khotbah Musa kepada Israel yang mau masuk tanah perjanjian (Ul 32:21), Paulus mengutip nubuatan bahwa Tuhan akan menghukum umat Israel yang memberontak dengan bangsa asing. Dalam konteks Paulus, caranya lebih halus—Injil ditawarkan dan diterima oleh bangsa-bangsa itu—tetapi unsur hukuman tetap ada. Aa.20–21 menyampaikan hal yang sama dari Yesaya. Allah memiliki rencana yang di luar dugaan manusia untuk menjangkau orang asing lebih dahulu daripada orang Israel. Tema itu yang dikembangkan dalam p.11, mulai dengan penegasan bahwa sekalipun demikian, Allah bukan telah menolak umat-Nya (11:1).

Maksud bagi Pembaca

Paulus mau supaya jemaat di Roma ikut mengutus dia sebagai pemberita kabar baik, supaya orang lain dapat percaya dan berseru dan diselamatkan (14–15). Karena dasarnya adalah rencana keselamatan dari Allah, termasuk kebutuhan manusia untuk percaya dalam hati dan mengaku (berseru) dengan mulut, kedua ayat ini tetap mendorong kita untuk mengutus orang ke dalam berbagai ladang pelayanan.

Aa.16–21 merupakan peralihan ke soal Yahudi dan bangsa-bangsa dalam rencana Allah dalam p.11. Walaupun aa.16–18 pertama-tama merujuk pada Israel, kita tetap bisa melihat implikasi bahwa, meskipun suatu kelompok sudah banyak mendengar Injil, tidak semua akan menerima kabar baik itu. Ingat bahwa maksud Paulus di sini bukan perlunya beragama, karena orang Israel yang menolak Yesus tetap beragama, tetapi percaya dan berseru (mengaku dengan mulut) kepada Kristus. Jika suku Toraja rata-rata beragama kristen, hal itu tidak menjamin bahwa semua telah menerima kabar baik itu.

Aa.19–21 mungkin terasa semakin sulit dimaknai, karena seakan-akan membahas suku Israel saja dalam rencana Allah. Di balik diskusi itu, walaupun tidak muncul di sini, adalah persoalan yang penting bahwa penolakan Israel menimbulkan tanda tanya tentang kesetiaan Allah kepada Israel (9:6a). Jika Allah tidak setia kepada Israel, apakah Dia akan setia kepada jemaat? Jadi, adalah penting Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak berubah setia dan rencana-Nya tidak goyah. Tetapi mungkin ada implikasi lagi, atau paling sedikit suatu pola yang sering terlihat di dalam sejarah gereja, di mana mereka yang menganggap diri di pusat, seperti Israel pada saat itu atau gereja-gereja mapan di Indonesia sekarang, sering dipinggirkan oleh Allah dalam kesombongan rohani mereka, dan yang di pinggir menjadi ujung tombak misi Allah di dunia. Paling sedikit, sejarah gereja adalah sejarah yang di dalamnya “pusat” menjadi bobrok, dan “pinggir” menjadi pusat baru. Pikirkan saja kekristenan Barat sekarang.

Makna

Jika Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus, maka iman yang dia maksud di sini bukan semangat hati atau perasaan religius yang berdiri mandiri dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang bergantung sepenuhnya pada objeknya. Sebagai contoh akan jenis pertama tadi, saya bisa memompa keyakinan saya bahwa obat ini akan manjur; keyakinan itu tidak bergantung pada siapa-siapa di luar diri saya. Sebaliknya, jika saya mengimani sabda sang dokter bahwa obat ini akan berguna, keyakinan saya bergantung pada dia, bukan pada diri saya. Iman yang sejati kepada Kristus tidak akan berdaya kecuali Kristus berada sebagaimana Dia diberitakan dalam firman Tuhan. Makanya, iman itu hanya timbul dari luar, dari kabar baik yang diberitakan dan didengarkan, dan tidak berasal dari diri sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s