1 Kor 12:12-31 Berbeda-beda dalam satu tubuh [13 Oktober 2013]

Perikop ini kembali berfokus bukan pada nasihat langsung tetapi pada identitas. Jangan meremehkan kuasa imajinasi atau cara pandang dunia untuk memengaruhi tingkah laku orang. Gambaran yang disampaikan Paulus mau menggerakkan imajinasi itu.

Penggalian Teks

Kepada jemaat di Korintus yang penuh perpecahan, Paulus menjawab pertanyaan mereka tentang karunia-karunia Roh dengan menekankan kesatuan dalam kepelbagaian. Aa.2–3 menegaskan bukti bahwa seseorang memiliki Roh ialah pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan aa.4–6 menegaskan satu Roh/Tuhan (Yesus)/Allah (yakni, Allah tritunggal) dengan “rupa-rupa” karunia. Kemudian, aa.7–11 menunjukkan bahwa Roh yang menentukan pembagian karunia, bukan manusia. Hal-hal itu sebenarnya cukup untuk mengatakan bahwa karunia-karunia Roh tidak usah menjadi pokok perpecahan atau kemegahan diri, tetapi masih ada dua langkah lagi sebelum Paulus siap untuk menasihati mereka langsung dalam p.14. Perikop kita memberitahu jemaat tentang siapakah mereka di dalam Kristus, yakni, satu tubuh. P.13 menguraikan jalan yang paling cocok dengan keberadaan mereka sebagai satu tubuh, yakni kasih.

Dalam a.12, Paulus menggambarkan Kristus sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Bahwa hal itu bukan gambaran saja disampaikan dalam a.13. Kita “telah dibaptis menjadi satu tubuh”—suatu tanda yang kelihatan yang meniadakan perbedaan-perbedaan yang kelihatan, seperti suku dan status. Juga, kita “diberi minum dari satu Roh”—suatu pengalaman yang tidak kelihatan. Maksudnya bahwa semua mendapat Roh yang sama ketika dibaptis.

Kepelbagaian anggota dalam satu tubuh dikembangkan dari beberapa aspek. Aa.14–18 menanggapi anggota yang merasa bukan bagian dari tubuh (15–16). Sebenarnya, semua bagian dibutuhkan (17), dan lebih lagi, Allah yang menentukan bagian kita, sehingga kita tidak berhak untuk menolak bagian kita.

Aa.19–27 menanggapi anggota yang menyatakan sikap mandiri terhadap anggota yang lain (21), sehingga mungkin saja masa bodoh terhadap pergumulannya dan/atau merasa lebih tinggi daripadanya (bdk. a.26). Paulus mengembangkan gambaran dengan tubuh dengan menguraikan beberapa aspek dari solidaritas tubuh. Bagian tubuh yang lemah atau kurang terhormat justru diberi perlakuan khusus (23–24). Dengan demikian, tubuh itu satu (25), tidak seperti jemaat di Korintus yang terpecah, dan soal penderitaan atau penghormatan dialami bersama-sama (26).

A.27 mulai menerapkan gambaran itu dalam konteks jemaat di sana. Daftar anggota mulai dengan beberapa panggilan khusus—rasul, nabi, pengajar—kemudian dilanjutkan dengan orang mendapat berbagai karunia (28). (Perhatikan bahwa tubuh Kristus di sini tidak terdiri atas pelbagai karunia, tetapi atas berbagai orang yang diberi pelbagai karunia.) Tentu, tidak semua mendapat panggilan tertentu, atau menerima karunia tertentu (29–30).

Akhirnya, dalam a.31 Paulus sampai kepada maksud utamanya. A.31a mengangkat semacam jenjang terkait pentingya karunia-karunia itu. Dalam 14:1 kita melihat karunia mana yang dianggap paling penting oleh Paulus, yaitu bukan bahasa roh melainkan karunia untuk bernubuat. Hal itu sepertinya terbalik dari urutan yang digunakan di dalam jemaat di Korintus. Alasannya dalam a.31b. Ada jalan yang lebih utama lagi dari karunia, yakni jalan kasih (13:1). Kasih tidak meniadakan perlunya karunia-karunia Roh, tetapi menunjukkan tujuannya, untuk melayani sesama. Oleh karena itu, bernubuat lebih berguna daripada berbahasa roh.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai tubuh Kristus, kita semestinya merasa memiliki bagian yang sama (tidak lebih, tidak kurang) pentingnya dengan orang lain di dalam jemaat, dan menikmati perbedaan-perbedaan yang ada. Karunia-karunia yang dimiliki dipakai untuk membangun sesama jemaat, bukan untuk memegahkan diri.

Makna

Yang bisa mengancam solidaritas di dalam tubuh Kristus ialah pertama-tama individualisme atau fraksi (21). Sepertinya, itulah masalah jemaat di Korintus. Semangat rohani mereka tinggi, tetapi keakuan mereka juga tinggi. Tetapi solidaritas di dalam Kristus juga terancam jika hanya menjadi prioritas kedua atau ketiga setelah keluarga dan masyarakat. Hal itu adalah gejala bahwa Yesus kurang penting bagi orangnya. Dia diakui sebagai Tuhan dalam artian ilahi, tetapi bukan sebagai Tuhan dalam artian tuan atau penguasa (a.3, kurios berarti tuan). Atau, Roh yang diberikan ketika orangnya percaya dan dibaptis tidak “diminum”, yaitu, pengalaman rohaninya kurang berdampak dalam kehidupannya. Kita perlu menempatkan dan melihat diri kita sebagai anggota tubuh Kristus, dan hal yang mendorong kita untuk melakukan itu adalah Kristus sebagai Tuhan yang telah memberi kita Roh-Nya.

Pos ini dipublikasikan di 1 Korintus dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 1 Kor 12:12-31 Berbeda-beda dalam satu tubuh [13 Oktober 2013]

  1. ulinamasa berkata:

    betul ya… kita harus respek pada anggota tubuh Kristus yang lain, karena fungsi semua anggota tubuh Kristus untuk mempermuliakan Kristus. betul sekali untuk mengatasi perbedaan itu adalah jalan kasih, tandanya kita ada dalam Kristus ketika kita punya kasih kepada sesama khususnya saudara seiman. Kasih yang terbesar kalau bersedia memberikan nyawa bagi orang lain. nyawa adalah sesuatu yang berarti dan berharga yang kita punya tapi kita berikan bagi orang lain. Kalau cuma beda-beda pendapat antara individu dalam jemaat yang tidak usah dibesar-besarkan dicari titik temu. Antara karunia bernubuat dan bahasa roh, menurutku sama pentingnya pak Andrew cuma arahnya beda, kalau karunia bernubuat kita mengucapkan kata-kata Firman Thn untuk membangun menguatkan meneguhkan orang lain, tetapi karunia bahasa Roh ditujukan untuk membangun Roh individu, meningkatkan komunikasi Roh yang diam dalam roh manusia itu dengan Roh Allah. Dampak komunikasi Roh Allah yang sdh diam dl roh manusia dengan Roh Allah adalah semakin mudah jiwa dan tubuh untuk taat pada Firman. Biasanya akan terlihat dalam kecenderungan hati manusia itu untuk taat dan melakukan Firman. Hati individu itu selalu cenderung memilih untuk melaksanakan Firman THN.
    Itu menurut pemahaman dan hasil baca buku dan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain juga. Btw tulisannya bagus… semangat terus ya menulis….. Ayo rencanakan terbitkan buku ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s