Gal 6:11-18 Bermegah dalam Salib [27 Oktober 2013]

Ada beberapa pernyataan yang menonjol di sini, antara lain tentang ciptaan baru dan bermegah dalam salib. Saya memberi fokus pada bermegah dalam salib karena hal itu menjadi makna paling tajam dari menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru bukan sekadar berusaha lebih baik.

Penggalian Teks

Setelah banyak bergumul dengan jemaat-jemaat di Galatia oleh karena mereka terancam meninggalkan Injil anugerah, Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan hati. Hal itu termasuk bahwa dia tidak memakai juru tulis yang dipakai sampai 6:10, tetapi menulis dengan memakai tangannya sendiri (11).

Aa.12–13 merupakan tuduhan terakhir terhadap kelompok penyunat, yang mau meyakinkan jemaat di Galatia yang bukan orang Yahudi, bahwa untuk menjadi murid Kristus yang sejati mereka harus bersunat. Diskusi soal itu banyak disentuh dalam kedua ayat ini. Kata “lahiriah” adalah kata sarx, “daging”, yang bisa merujuk pada apa yang dipotong dalam sunat, dan juga dipakai Paulus untuk cara hidup yang mementingkan diri (5:19). Mereka mau “tampil baik” (terjemahan saya untuk “suka menonjolkan diri” [euprosopeo]) “dalam daging” (secara lahiriah atau di depan manusia), supaya mereka dapat bermegah “atas dagingmu” (maksudnya, atas bagian yang dipotong; mungkin LAI “keadaanmu yang lahiriah” berusaha untuk tidak terlalu kasar!). Bahasa ini adalah bahasa tentang status, sehingga saya juga menafsir a.12b dalam rangka itu. Soal penganiayaan, sunat memungkinkan mereka untuk dihitung sebagai orang Yahudi. Dengan demikian baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang Romawi akan dapat mengerti dan menerima mereka; mereka akan tetap dihormati. Mereka tidak mau berbagi dalam perendahan yang dialami Kristus pada salib. A.13a menolak alasan yang mereka kemukakan, yaitu bahwa sunat adalah sekadar soal ketaatan.

Kata “bermegah dalam” (kaukhaomai en) perlu disoroti di sini. “Bermegah dalam” bukan saja soal menganggap sesuatu hebat, melainkan juga menganggap bahwa hal itu memperhebat hidupnya. “Bermegah dalam” melibatkan diri. Seorang penggemar tim sepak bola merasa lebih bermartabat jika timnya berhasil. Keluarga Toraja yang telah mengadakan pesta orang mati yang megah merasa lebih berbobot sebagai keluarga. Hal itu bisa saja menyangkut rasa hormat, tetapi hormat karena ada sesuatu. Bermegah dalam sesuatu dan dihormati karenanya adalah kebutuhan mendasar manusia, untuk merasa bahwa kehidupan diri berhubungan dengan sesuatu yang bermakna. Masalahnya adalah ketika soal dihormati menjadi tujuan utama, seperti tuduhan Paulus bahwa para penyunat hanya mau tampil baik di hadapan orang lain.

Makanya, dalam aa.14–15 Paulus tidak menolak soal bermegah, tetapi dia mengemukakan dasar yang lain untuk bermegah, yaitu salib. Perhatikan bahwa dia tidak hanya bermegah dalam Kristus. Memang, Yesus Kristus diakui oleh Paulus, jemaat-jemaat di Galatia, dan semua orang percaya sebagai “Tuhan kita”, yaitu penguasa tertinggi yang kepadanya kita harus taat (kurios). Kristus lebih mulia, penting dan berbobot daripada semua yang ada dalam dunia. Tetapi Kristus yang sejati ialah Tuhan yang disalibkan. Paulus bermegah dalam salib itu. Mengapa? Karena salib telah merusak dunia sebagai sumber hormat atau kebanggaan. “Disalibkan” di sini paling sedikit berarti “menjadi hina”. Dunia telah menjadi hina bagi Paulus, dan Paulus telah menjadi hina bagi dunia. Dunia tidak lagi menjadi wadah untuk Paulus mencari hormat. Ada dunia baru, “ciptaan baru”, yaitu, dunia yang dirintis oleh Kristus yang disalibkan, yang di dalamnya Paulus mencari hormat. Dalam dunia itu, hal-hal yang tadinya begitu mengasyikkan, seperti sunat, tidak lagi penting.

Dalam ciptaan baru itu ada damai sejahtera dan rahmat dari Tuhan (16). Yang menikmati ciptaan baru ini ialah orang-orang yang “melangkah” (LAI “dipimpin”) di dalamnya, yang menjadikannya patokan (kata Yunani, kanon—kanon Alkitab dapat dilihat sebagai sumber utama yang memaparkan ciptaan baru ini). Salib Kristus telah menjadi lensa yang di dalamnya Paulus menilai dunia. Dalam a.17, kita diingatkan bahwa Paulus sendiri telah mengikuti patokan itu.

Maksud bagi Pembaca

Dengan mencontohkan dirinya sendiri, Paulus mau meyakinkan jemaat untuk mencari hormat dan makna hidup bukan dalam hal-hal lahiriah seperti sunat, melainkan dalam Kristus yang disalibkan. Mereka akan hidup bagi Kristus bukan karena ada peraturan ini atau itu, melainkan karena mereka berpatokan pada ciptaan baru: mereka melihat dunia dengan mata salib Kristus.

Makna

Daya tarik hormat, kerinduan untuk dipandang orang, memang kuat. Tetapi, salib paling sedikit harus membuat kita berpikir ulang. Bermegah dalam salib termasuk kekaguman kepada Allah bahwa melalui jalan ini Dia dapat menebus kita (1:4), membenarkan kita, menanggung kutuk dosa ganti kita (3:13), dan melepaskan kuasa Roh Kudus ke dalam hidup kita. Bermegah dalam salib melibatkan seluruh hati kita karena di dalamnya ada kasih yang tak terperi (2:20). Daya tarik hormat itu begitu kuat, sehingga kita bisa mengaminkan semuanya itu, tetapi tetap berpikir bahwa hormat dari dunia itu penting. Tentu, sama seperti uang, hormat pada tingkat tertentu dibutuhkan: adalah sulit melakukan banyak hal jika kita dibenci semua orang. Paulus sendiri mau dihargai oleh jemaat di Galatia, supaya Injilnya ikut dihargai (17). Tetapi, jika dia pernah menunjukkan statusnya sebagai warga negara Roma, misalnya, hal itu bukan karena statusnya melainkan untuk menguatkan kedudukan jemaat di sana (lihat Kis 16:35–40). Dunia sekarang ini jahat (1:4), hormatnya tidak layak dikejar, sedangkan Kristus telah menyerahkan nwaya-Nya bagi kita (2:20). Di dalam Dialah kita selayaknya bermegah, dan kita selayaknya siap mengikuti jejak-Nya.

Apakah teologi operasional (yang dianut di lapangan, bukan yang tertulis dalam dokumen-dokumen resmi) dalam Gereja Toraja adalah teologi salib, atau semacam teologi sukses yang sederhana? Jika ada dalam aliran Pantekosta yang memberi kesan mau kaya raya, apakah kita menganggap diri lebih saleh karena hanya bercita-cita menjadi PNS? Teologi Reformasi adalah teologi salib yang menandaikan pertobatan akal budi—dunia dilihat dengan mata salib-Kristus. Salib itu jauh lebih dari sekadar lambang kekristenan saja. Sikap terhadap kehormatan dan apa yang di dalamnya kita bermegah, menjadi gejala tentang teologi apa yang sebenarnya kita anut.

Apakah semangat Paulus di sini terlalu anti-dunia? Saya berharap bahwa penguraian di atas menjelaskan bahwa dunia ditolak sebagai wadah hormat, bukan sebagai wadah untuk hidup dan melayani, dan bukan sebagai sasaran kasih Allah. Kontekstualisasi penting juga di sini: jenjang kehormatan yang harus disalibkan bagi saya adalah jenjang kehormatan budaya saya, bukan budaya yang lain.

Pos ini dipublikasikan di Galatia dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gal 6:11-18 Bermegah dalam Salib [27 Oktober 2013]

  1. yaya rundupadang berkata:

    Terimakasih Mr andrew untuk pendalaman atas tema Gereja Toraja minggu ini, semoga kita semakin berefleksi untuk cenderung bermegah dalam salib Kristus, bukan hanya oleh hal2 duniawi..kurresumanga’… Salama’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s