Hos 11:1-11 “Curhat” Allah yang dikhianati umat-Nya [24 Nop 2013] (Akhir Tahun Gerejawi 2013)

Pengungkapan diri Allah dalam perikop ini adalah hal yang istimewa, dan saya berharap dapat membawa jemaat untuk lebih mengenal Tuhan. Tetapi hal itu juga menimbulkan pertanyaan bagi saya tentang perasaan, yang saya uraikan dalam bagian akhir dari Makna. Pertanyaan itu hanya penting bagi orang yang terusik olehnya, dan bagian itu bukan untuk menangkap tafsiran saya akan perikopnya.

Penggalian Teks

Di tengah nubuatan-nubuatan yang menguraikan dosa Israel dan hukumannya, perikop ini menyoroti unsur yang lain, yaitu hati Allah. Aa.1–4 menceritakan kasih Allah yang dibalas dengan penolakan; aa.5–7 menyampaikan hukuman lagi; aa.8–11 menyampaikan niat Allah untuk akhirnya menyelamatkan mereka.

Aa.1–4 beranjak dari keluaran Israel dari Mesir (1). Kasih Tuhan yang mau berelasi dengan Israel (“Kupanggil”, aa.1–2) diperlihatkan dengan menceritakan bagaimana Allah kemudian mengajar Israel (3a) dan membebaskan dan merawat Israel (4). Tetapi, Israel mengejar dewa-dewa (para Baal) dan berhala-berhala (patung) (2b), dan tidak mau mengakui kebajikan Tuhan bagi mereka (3b).

A.5 tiba-tiba kembali ke soal hukuman, tetapi alasannya disampaikan dalam a.5b dan a.7, yaitu tidak bertobat dan membelakangi Tuhan. Kejayaan Asyur atas mereka (“menjadi raja mereka”) ibarat kembali ke tanah Mesir (5), yaitu tempat mereka di bawah kuk (4). Bahkan, kejayaan Asyur akan membawa kehancuran (6).

A.8 tiba-tiba berubah haluan lagi. Adma dan Zeboiim disebutkan dalam Ul 29:23 sebagai kota-kota yang dimusnahkan bersama dengan Sodom dan Gomora. Hati Tuhan menolak bayangan itu, karena belas kasihan-Nya bangkit menjadi lebih kuat daripada murka-Nya (8b–9a). Karena Dia adalah Allah, Dia memiliki tujuan (“tidak datang untuk menghanguskan”) yang lebih besar daripada menghukum Israel saja (9b). Setelah hukuman, mereka akan mengikuti Tuhan dan dikumpulkan dari barat, Mesir (selatan) dan Asyur (utara) untuk kembali menikmati tanah pemberian Allah itu (10–11).

Maksud bagi Pembaca

Allah mengungkapkan hati-Nya kepada umat-Nya—hati-Nya yang sakit karena pengkhianatan mereka, hati-Nya yang tergerak oleh belas kasihan untuk mereka—untuk memperjelas hukuman-Nya dan janji-Nya akan keselamatan di balik hukuman itu. Mungkin saja, dengan demikian ada yang terharu dan tersadar tentang dirinya di hadapan Tuhan. Pendekatan itu penting bagi jemaat yang keterikatan emosionalnya dengan Tuhan hanya sebatas apakah hidupnya sedang baik atau bermasalah.

Makna

Paulus menuduh bahwa manusia tidak tahu bersyukur (Rom 1:21), dan aa.1–3 menyampaikan hal itu secara mengharukan. Israel berada sebagai bangsa karena Allah, tetapi jangankan bersyukur, insaf pun Israel tidak mau. Mereka seperti perempuan yang tidak dewasa dan hanya mau bersenang-senang, yang justru karena diberi banyak perhatian (“Makin kupanggil”, a.2) yang mendewasakan (3–4), mencari-cari laki-laki (dewa) yang lain. Sama seperti ketidakdewasaan dalam berelasi cenderung mengacaukan kehidupannya, sikap manusia yang meminggirkan Allah akan menghancurkan kehidupannya. Konyolnya, perhatian Allah yang begitu luar biasa di dalam Kristus, justru menimbulkan sikap masa bodoh pada sebagian orang yang sepertinya menganggap bahwa kasih karunia Allah membuat Allah tidak menarik.

Jadi, hukuman Allah di sini tidak seperti vonis yang diturunkan oleh seorang hakim profesional, yang mungkin saja tidak terlalu terlibat secara emosional. Hati Allah disakiti oleh dosa umat-Nya. Makanya, murka Allah harus dilihat sebagai aspek dari kasih-Nya: kasih yang dikhianati menjadi amarah. Tetapi, ternyata murka itu bukan akhir dari ceritanya. Jika ada kelompok manusia yang dihanguskan, seperti Adma dan Zeboim, Israel tidak termasuk kelompok itu. Hukuman itu akan terlaksana, tetapi tidak sampai membinasakan. Akan ada pemulihan di balik hukuman itu. Pemulihan itu sudah digenapi di dalam Yesus Kristus, yang menanggung murka Allah supaya kita menikmati belas kasihan Allah.

Perikop ini adalah salah satu contoh utama dari perikop yang menyatakan diri Allah dari segi perasaan (patos), bukan rasio (logos). Dalam tradisi budaya Yunani yang diteruskan oleh budaya Barat dan terserap oleh banyak teolog, bahkan di Indonesia, manusia yang dikendalikan oleh perasaan dianggap belum menjadi dewasa, sehingga lebih lagi Allah tidak boleh dianggap dikendalikan oleh perasaan. Makanya, bahasa seperti dalam perikop ini, dengan Allah seakan-akan terbagi antara murka dengan belas kasihan, dianggap antropomorfisme, atau lebih tepatnya, antropopatisme—Allah digambarkan dengan emosi (patos) manusia. Dalam pemahaman ini (atau versi ekstrimnya), bahasa Alkitab tentang perasaan Allah dianggap semacam kode untuk rasio-Nya, misalnya: murka = hukuman sesuai hukum; kecemburuan = ketegasan Allah dalam melaksanakan hukuman itu; kasih = maksud Allah untuk memberkati; belas kasihan = realisme Allah bahwa manusia tidak mampu sempurna, dan lain sebagainya. Karena manusia biasa lebih dipengaruhi oleh bahasa perasaan, maka kode itu dipakai supaya rasio Allah tembus ke dalam kesadaran manusia.

Bahwa perasaan Allah tidak sama dengan manusia itu jelas, karena perasaan kita selalu menyangkut tubuh, sedangkan Allah tidak bertubuh. Juga, saya ikut dengan arus utama para teolog dengan mengandaikan bahwa perasaan Allah tidak kacau, dan menyatu dengan rasio-Nya. Sejauh itu, kode di atas baik-baik saja, menunjukkan bagaimana perasaan dan rasio Allah tidak bertentangan. Tetapi, ada dalam bahasa perasaan itu yang tidak terjangkau oleh bahasa rasio. Perasaan adalah bahan bakar untuk relasi, dan Tuhan bukan Allah Aristoteles atau Allah kaum Deis (pada zaman Pencerahan) yang berdiri jauh dari dunia ini. Rasio berbicara kepada rasio, tetapi perasaan berbicara kepada perasaan. Jadi, aa.8b–9a, di mana belas kasihan Allah seakan-akan mengalahkan murka-Nya, tidak hanya menyampaikan secara dramatis bahwa tujuan Allah bagi Israel melampaui hukuman, seperti tersirat dalam a.9b. Hukuman dan tujuan Allah itu berbicara kepada rasio kita bahwa dosa itu bodoh dan bahwa ada gunanya bertobat, karena ada penawaran keselamatan. Tetapi sakit hati Allah semestinya menimbulkan rasa menyesal yang dalam di dalam diri kita, dan belas kasihan Allah dapat melunakkan hati yang keras dan menghibur hati yang hancur. Hal itu bukan semacam taktik retoris oleh Allah. Jika di dalam Kristus kita melihat Allah yang tidak kelihatan (Yoh 1:18), maka perasaan Allah itu adalah bagian dari keberadaan Allah, dan Dia berelasi dengan kita secara utuh—rasio, perasaan dan tindakan.

Pos ini dipublikasikan di Hosea dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s