Luk 1:39-45 Menyambut Yesus dengan tepat [1 Des 2013] (Minggu Adven I)

Pada masa Adven, kita menyambut Yesus yang telah dan akan datang. Lukas menyampaikan sambutan yang tepat melalui beberapa kisah mengenai orang-orang biasa dan terbatas, termasuk Elisabet dan Maria ini. Hal itu menunjukkan bagaimana kita semua bisa menjadi bagian dari apa yang dilakukan Allah dalam Yesus.

Penggalian Teks

Lukas sangat mengaitkan kelahiran Yohanes Pembaptis dengan kelahiran Yesus. Kedua kelahiran itu diberitahukan oleh malaikat kepada salah satu dari kedua orangtua, dan ternyata kedua ibu adalah sanak saudara (1:36). Ketika Maria mendengar kalau Elisabet itu mengandung, dia pergi dari Nazaret (di Galilea) ke rumahnya di Yudea (aa.39–40). Pertemuan mereka menghasilkan dua nubuatan, yang pertama dari Elisabet dalam perikop kita (aa.42–45), dan yang kedua dalam perikop berikutnya, yaitu nyanyian Maria (1:46–55). Satu nubuatan lagi, nyanyian Zakharia, terjadi ketika Yohanes lahir dan lidah Zakharia terbuka (1:68–79). Ternyata Roh Kudus rindu untuk menjelaskan makna dari kejadian-kejadian dahsyat ini.

Ingat bahwa Elisabet menyembunyikan diri ketika dia jadi hamil (1:24), mungkin karena dia takut kalau-kalau kehamilannya tidak berhasil dan dia menjadi lebih malu daripada sebelumnya. Jadi, Maria hanya tahu tentang kehamilannya dari malaikat itu. Kemudian, Elisabet tentu belum tahu tentang penampakan malaikat kepada Maria. Jadi, gerakan anak dalam rahimnya juga terjadi karena Roh Kudus (41).

Nubuatan Elisabet berbicara tentang Maria, tetapi bukan karena Maria-nya melainkan karena dia dipilih Allah untuk melahirkan Mesias. Fokus pada Maria terjadi dalam bungkusan nubuatan ini (42, 45). Maria diberkati, karena anaknya diberkati, dan memang melalui Yesus berkat Allah yang akan sampai pada bangsa-bangsa. Setelah fokus pada anak itu dalam aa.43–44, Maria kembali disebut berbahagia (45). Dia berbahagia karena kepercayaannya tidak akan dikecewakan. Janji Tuhan kepadanya akan terlaksana; anak itu akan lahir dan menjadi saluran berkat itu.

Inti dari nubuatan Elisabet menonjolkan status anak Maria, Yesus (43–44). Elisabet, dengan kuasa Roh Kudus, mengaku-Nya sebagai kurios-nya, yaitu tuan atau Tuhan (43). Ingat bahwa kata kurios berarti tuan, yaitu orang yang berkuasa atas hambanya. Kata itu dipakai baik untuk manusia yang berhak menyuruh orang lain, maupun untuk dewa-dewi dan Allah yang juga berhak demikian. Jadi, pada dasarnya Elisabet mengakui otoritas Yesus sebagai Mesias, bukan kodrat-Nya sebagai Allah. Dan tidak ada alasan untuk menganggap bahwa akan terlintas dalam benak Elisabet untuk berpikir bahwa Yesus itu ilahi; yang dia maksud adalah “tuanku” selaku Mesias (Raja Israel). Tentu, dalam teologi Lukas, Yesus juga berperan sebagai Allah yang mengunjungi umat-Nya, dan mungkin itu alasannya LAI menggunakan kata “Tuhan”. Kata itu baik-baik saja asal diingat bahwa dengan demikian Yesus diberi hak untuk memerintah. (Hanya bahasa Indonesia yang memaksakan pilihan ini; baik bahasa Inggris, “Lord”, maupun bahasa Toraja, “Puang”, memiliki cakupan makna yang sama dengan kurios.) Pengakuan Elisabet itu dilanjutkan dengan pengakuan Yohanes Pembaptis, bayi dalam rahimnya, yang menyambut bayi di kandungan Maria dengan gembira (44).

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak untuk menyambut Yesus dengan tepat: sebagai tuan/Tuhan; dengan kegirangan; dengan kepercayaan yang memampukan kita menjadi saluran berkat.

Makna

Jika kita membaca Lukas pp.1–2, kita akan memiliki konsep yang cukup jelas tentang tempat Yesus dalam rencana Allah untuk memulihkan Israel, bahkan bangsa-bangsa. Sebenarnya, bangsa-bangsa hanya muncul dengan jelas dalam nubuatan Simeon ketika Yesus disunat (2:31–32); semua nubuatan yang lain menyangkut keselamatan Israel saja. Ini bagian dari pemahaman Lukas tentang waktu, bahwa rencana Allah bertahap. Baru setelah kebangkitan Yesus, para murid diberi amanat untuk bersaksi di Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Tetapi, Yohanes Pembaptis menyangkut pembaruan Israel saja, dan Yesus digambarkan sebagai Mesias, yaitu anak Allah yang memerintah dari takhta Daud (1:32). Mengapa Lukas begitu lama mempersoalkan Israel, sementara dia sendiri menceritakan penawaran Injil kepada semua bangsa?

Jawabannya termasuk soal tuan/Tuhan tadi. “Tuhan” adalah kata religius, yang bisa saja menyangkut hal-hal batin saja, sehingga “Yesus adalah Tuhanku” diartikan sebagai “Yesus memberi saya semangat dan makna hidup”. Tetapi kurios (“tuan”) adalah kata yang menyangkut kuasa. “Yesus adalah tuanku” menonjolkan bahwa hidup saya ada untuk Dia, dan bukan sebaliknya. Lebih lagi, kalau Yesus adalah tuan sebagai Mesias, karena Dia menempati takhta Daud, maka Dia berkuasa juga atas ranah politik. Sebagai Raja di atas segala raja, Dia harus ditaati di atas semua pemerintah manusia. Jika Dia adalah tuan, kita adalah hamba-hamba-Nya. Dalam konteks modern, seorang hamba Raja adalah pegawai negeri, hanya jam kantornya 24 jam per hari, 7 hari seminggu. Jadi, sama seperti seorang pegawai (semestinya) mengerjakan tugas pemerintah, kita mengerjakan tugas Kerajaan Allah. Mungkin kita lebih suka Yesus sebagai Tuhan religius yang menguatkan batin saja, tetapi Yesus yang diumumkan oleh malaikat dan Roh Kudus dalam Lukas 1–2 tidak dapat dibatasi pada ranah religius saja.

Pos ini dipublikasikan di Lukas dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s