Yeh 16:53-63 Anugerah membongkar kecongkakan hati [8 Des 2013] (Minggu Adven II)

Perikop ini tidak mudah ditangkap, dan kalau Pembaca merasa bingung membacanya, hal itu mungkin tanda positif bahwa Pembaca tidak puas dengan menangkap satu dua kata lalu berkhotbah. Sulitnya karena perikop ini adalah puncak dari satu nubuatan yang utuh dalam Yehezkiel 16, dan nubuatan itu merupakan penafsiran dalam bentuk kiasan atas sejarah Israel di hadapan Allah. Jadi, jika sejarah tidak diketahui, atau kiasannya tidak dipahami, atau konteks dalam p.16 ini tidak dilihat, maknanya akan kabur. Perikop ini menuntut kerja keras, tetapi upahnya setimpal.

Penggalian Teks

Yehezkiel bernubuat di sekitar penghancuran kota Yerusalem oleh negara adikuasa Babel (tahun 587/586 SM) sebagai akhir dari sejarah kerajaan Israel, kurang lebih 130 tahun setelah penghancuran kota Samaria (ibu kota kerajaan utara) oleh negara adikuasa Asyur. Kuasa Babel sudah sangat mengancam pada zaman Yehezkiel, dan dia sendiri menjadi bagian dari rombongan yang diangkut ke Babel kurang lebih 11 tahun (33:21) sebelum kehancuran Yerusalem (2 Raj 24:14). Jadi, dia bernubuat di perkemahan orang Israel yang dekat Babel itu (1:1). Selama kurang lebih tujuh tahun, dia menyampaikan bahwa Yerusalem akan jatuh, dan bahwa kejadian yang malang itu merupakan tindakan Allah untuk menghukum Israel karena dosanya. Nubuatan-nubuatan itu dikumpulkan dalam pp.1–24, termasuk perikop kita. Kemudian, pp.25–32 memuat berbagai nubuatan terhadap bangsa-bangsa yang ikut menghancurkan Yerusalem, sebagai pertanda bahwa Allah akan bertindak demi Israel. Setelah berita tentang kejatuhan Yerusalem sampai di perkemahan orang Israel (33:21), Yehezkiel menubuatkan rencana keselamatan Allah, termasuk perikop untuk minggu depan (Yeh 36:22–38). Pasal 16 menarik karena pola itu diikuti pada skala kecil: 16:1–52 menyampaikan dosa Israel dan hukuman Allah, sedangkan perikop ini menyampaikan pemulihan yang akan terjadi setelah hukuman itu. Karena hukuman Allah itu pembuangan Israel ke Babel, keselamatan itu secara konkret menubuatkan kembalinya Israel dari pembuangan (sebagaimana diceritakan dalam Ezra 1–6, misalnya). Tentu, makna teologisnya lebih luas, sebagaimana akan dibahas di bawah.

Yehezkiel 16 menyoroti kota Yerusalem, yang baru menjadi bagian dari Israel ketika direbut oleh Daud (2 Sam 5:6–7). Pasal ini menggunakan sebuah kiasan panjang di mana perempuan mengiaskan kota dan laki-laki mengiaskan bangsa asing serta dewanya, dan juga Allah. Dalam 16:1–14, Yerusalem ibarat perempuan yang diabaikan yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai isteri sehingga menjadi seperti ratu (bdk. kejayaan masa Salomo). Tetapi, Yerusalem membalas kebaikan Allah dengan bersundal, yaitu, menyembah dewa-dewa asing (16:15–24) dan mengandalkan bangsa-bangsa lain (16:25–31). Kehancuran martabat Yerusalem disampaikan melalui sindiran bahwa Yerusalem membayar untuk bersundal (mempersembahkan anak kepada dewa, 16:20, membayar upeti kepada bangsa-bangsa), artinya, martabatnya di bawah perempuan sundal yang paling sedikit menuntut untuk dibayar (16:32–34).

Dengan demikian, pastinya dan dahsyatnya hukuman Allah sudah bisa disampaikan dengan merujuk pada geramnya seorang suami yang dikhianati (16:35–43; bagian ini sama sekali tidak dimaksud sebagai usul bagi suami-suami, tetapi sebagai gambaran yang mengejutkan tentang serangan yang akan menimpa Yerusalem justru dari bangsa-bangsa yang dengannya dia bersekutu).

Tuduhan terhadap Yerusalem diperkuat dengan memperkenalkan dua kakak perempuan Yerusalem, yakni kota Samaria dan kota Sodom (ingat bahwa perempuan = kota). Setiap kota ini pernah memiliki anak-anak perempuan, yaitu, kota-kota kecil yang bergantung pada “ibu” kota itu. Nama Sodom, kota yang dilenyapkan oleh api Tuhan pada zaman Abraham, identik dengan kejahatan, dan Samaria juga dikenal sebagai kota yang dihancurkan karena hukuman Allah, tetapi Yerusalem lebih jahat lagi (16:44–52).

Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kata “tetapi” di awal perikop kita cukup bermakna. Pemberitaan Yehezkiel dalam 16:1–52 tidak memberi pengharapan sama sekali, tetapi tiba-tiba ada janji akan pemulihan (53–58) dan peneguhan perjanjian (59–63). Soal pemulihan itu disampaikan dua kali (53–54, 55–58). Samaria dan kota-kota kerajaan utara, serta Sodom dan daerah di sekitarnya akan dipulihkan, dan Yerusalem juga akan dipulihkan ke keadaan sebelumnya (53, 55), artinya, kembali dari pembuangan.

Tujuannya supaya Yerusalem menjadi malu (54). Aa.56–57 menggambarkan kecongkakan Yerusalem dalam sikap “sok suci” terhadap Sodom. Tetapi pemulihan Yerusalem akan memampukannya untuk “menanggung” nodanya (54, 58). Lepas dari konteks ini, “menanggung noda” bisa saja merujuk pada hukuman, tetapi di sini Allah berbicara tentang pemulihan setelah hukuman. Jadi, saya mengartikan bahasa ini sebagai semacam tanggung jawab terhadap dosa. Yerusalem akan menyadari dan menerima tanpa dalih bahwa dosanya muncul dari kebobrokan yang dalam dan memalukan; nodanya akan ditanggung, bukan dilemparkan kepada pihak yang lain.

Pemulihan itu akan terjadi terkait dengan peneguhan perjanjian, yang juga disampaikan dua kali (60–61, 62–63), setelah a.59 yang justru menimbulkan dugaan bahwa Allah akan meniadakan perjanjian-Nya dengan Yerusalem sama seperti Yerusalem telah mengingkarinya. Tetapi, tujuannya sama dengan pemulihan tadi: Allah akan bertindak dengan anugerah yang tak terduga (a.60c, perjanjian kekal; a.61b, Samaria dan Sodom akan ada di bawah kuasa Yerusalem, dalam 37:15–28 hal itu berarti pemersatuan bangsa Israel; a.63b pendamaian) untuk membuat Israel teringat akan dosanya dan terdiam (61a, 63a). Anugerah di hadapan dosa mereka akan menyadarkan mereka tentang siapakah Allah itu (62b).

Maksud bagi Pembaca

Allah ingin supaya umat-Nya bertanggung jawab sepenuhnya atas dosa mereka yang memalukan, dan membangun kesadaran itu melalui pemulihan dan peneguhan perjanjian yang untuknya mereka sama sekali tidak layak. Anugerah yang tak terduga itu yang akan membongkar kecongkakan hati mereka, sehingga mereka mulai mengenal Tuhan.

Makna

Di mana kita dalam perikop ini? Nubuatan Yehezkiel dan nabi-nabi yang lain bahwa Israel akan kembali ke tanah perjanjian memang terwujud, tetapi dengan cara yang masih kurang daripada apa yang dinubuatkan. Makanya, PB melihat bahwa baru di dalam Yesus Kristus maksud sebenarnya dari janji-janji keselamatan ini terwujud. Dialah yang mengadakan pendamaian sekali untuk selama-lamanya untuk meneguhkan perjanjian yang kekal. Di bawah Dia, semua kota di bumi, bukan hanya Samaria dan Sodom, dipersatukan (Ef 1:10). Dengan pekerjaan Roh Kudus, martabat umat Allah mulai dipulihkan: kita mulai menjadi manusia yang mencerminkan kemuliaan Kristus (2 Kor 3:18). Makanya, nada yang biasa dalam surat-surat PB ialah sukacita dan syukur, bukan rasa malu. Dan, ketika tingkat dosa kita sekadar kegagalan untuk sempurna di tengah usaha untuk mencari dahulu Kerajaan Allah, sikap itu cocok.

Namun ada saatnya kita mengkhianati anugerah Allah itu, dan pada saat itu kita semestinya malu. Rasa malu itu bukan sekadar malu di hadapan sesama, atau takut dibicarakan orang. Rasa malu itu kesadaran bahwa kita kembali merusak martabat kita sebagai gambar Allah yang sedang dipulihkan di dalam Sang Gambar Allah, yaitu Kristus. Paulus menyebutnya sebagai dukacita atas dosa (1 Kor 5:2). Tetapi, dukacita itu harus tepat (2 Kor 7:9–11). Pertobatan yang sejati bukan larut dalam rasa malu melainkan “menanggung noda”, dengan tidak berdalih atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, tetapi menyadari dan mengaku kesalahan kita dengan jujur.

Ketika kita setia, anugerah Allah itu membuat kita sadar tentang betapa jeleknya kehidupan kita di luar Kristus. Orang gelandangan bisa saja menjadi biasa dengan bajunya yang berbau dan robek-robek. Baru setelah dipulihkan, dia menjadi sadar akan keadaannya yang memprihatinkan. Rasa malu ini akan menimbulkan syukur atas karya Roh Kudus dalam diri kita.

Perhatikan betapa jauh pemahaman ini dari moralisme. Moralisme mengatakan bahwa dosa itu tindakan saja, dan manusia cukup dinasihati untuk bisa berubah. Pandangan Yehezkiel diteguhkan oleh Yesus, yang mengatakan bahwa tindakan dosa adalah gejala dari hati yang busuk (Mt 7:17, harfiahnya: pohon yang “busuk” menghasilkan buah yang “jahat”). Bertobat berarti mengakui kebusukan itu, bukan hanya tindakannya. Makanya, Yesus datang bukan saja sebagai pengajar, tetapi juga sebagai Juruselamat. Minggu depan, kita akan melihat satu nubuatan lagi dari Yehezkiel (36:22–38) yang mengembangkan pendamaian yang begitu berarti dalam a.63b itu.

Pos ini dipublikasikan di Yehezkiel dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yeh 16:53-63 Anugerah membongkar kecongkakan hati [8 Des 2013] (Minggu Adven II)

  1. Ping balik: Yeh 36:22-38 Allah bertindak demi Allah [15 Des 2013] (Minggu Adven III) | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s