Zak 9:9-10 Kedatangan Raja membawa sorak-sorai [22 Des 2013] (Minggu Adven IV)

Tema Adven muncul kembali, dan walaupun nas ini pendek, ada makna yang mendalam yang bisa digali daripadanya. Semoga jemaat dituntun untuk menyambut Raja yang lemah lembut dengan tepat.

Penggalian Teks

Yehuda (kerajaan selatan Israel) dibuang di bawah kekuasaan bangsa Babel kurang lebih 586 SM. Pada tahun 538 SM, Babel ditaklukkan oleh kerajaan Persia, dan orang-orang Israel dapat mulai kembali ke tanah Israel. Tetapi, perlawanan dari penduduk setempat menghalangi pembangunan Bait Allah, dan baru pada tahun 520 SM, dengan dorongan nabi Hagai dan Zakharia dan dukungan dari raja baru Darius, pembangunan dimulai (Ezr 5:1). Zak 1–8 disampaikan dalam konteks itu. Tentang Zak 9–14 tidak ada petunjuk waktu. Tetapi, mengingat bahwa ketika Israel kembali dari pembuangan, janji-janji yang agung dari nabi-nabi seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel belum terwujud, pasal-pasal ini dapat dilihat sebagai semacam penegasan bahwa rencana Allah masih berlaku.

Zak 9–14 berpuncak dengan “Tuhan menjadi Raja atas seluruh bumi” (14:9). Makanya, Yesus, yang memberitakan kedatangan Kerajaan Allah, menggunakan pasal-pasal ini untuk menjelaskan misi-Nya, termasuk dengan sengaja menggunakan keledai untuk masuk ke kota Yerusalem, sesuai dengan nas kita. Nas kita disampaikan setelah pemberitaan tentang hukuman Allah kepada bangsa-bangsa terdekat Israel (9:1–7), untuk membela Israel (9:8). Setelah nas kita ada pemberitaan tentang pemulihan Israel (Yehuda dan Efraim) yang kemudian dipakai Tuhan terhadap orang-orang Yunani (9:13).

Sion (bukit tempat Bait Allah di Yerusalem) dipanggil untuk bersorak-sorai karena kedatangan raja. Raja itu adil (tsadiq = benar) dan jaya (nosya’ [bentuk Nifil] dari hosyia’ = menyelamatkan, akar dari nama Yesus; bentuk Nifil menunjukkan “sudah selamat”). Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya, raja ini telah menang atas musuh-musuh Allah. Namun, ternyata dia datang dengan “lemah lembut” (9b). Kata ’ani berarti miskin, artinya, dalam kondisi sangat bergantung kepada orang lain atau Allah untuk hidup. Terjemahan “lemah lembut” menangkap maksudnya di sini, karena seorang raja yang berjaya sekaligus bergantung dalam kemiskinan tampaknya tidak masuk akal—sampai kita melihat Yesus yang membawa bentuk baru dari Kerajaan Allah. Sebagai raja yang lemah lembut, dia datang dengan tujuan untuk menegakkan damai di dalam Israel (bdk. Mik 5:10), yang kemudian diberitakan kepada bangsa-bangsa (10a). Namun, kerendahan raja dalam nas ini tidak mengurangi kuasanya. Wilayah yang disebutkan dalam a.10b dikutip dari Mzm 72:8, dan merupakan harapan yang terkait dengan raja-raja Israel, dan yang melebihi janji semula kepada Israel (Kel 23:31), karena mencakup seluruh bumi.

Dilihat dalam konteksnya, a.10 adalah pengharapan yang tidak dimaksudkan untuk langsung terwujud, karena Israel masih berperang dalam 9:13. Jika kita melihat ayat ini dalam konteks masuknya Yesus ke Yerusalem, Dia memang telah berjaya atas Iblis, setan-setan, penyakit, dosa dan maut dalam bentuk-bentuk sementara, tetapi kemenangan-Nya yang penuh akan dilaksanakan ketika Dia disalibkan dan dibangkitkan kembali. Ketegangan yang terjadi antara a.10 dan 9:13 (dan antara “jaya” dengan “miskin” dalam a.9) hilang dalam PB, karena perjuangan kita bukan melawan darah dan daging (Ef 6:12). Zaman damai, waktu Kristus datang kembali, masih dinantikan, tetapi zaman itu sudah menentukan cara perjuangan kita.

Maksud bagi Pembaca

Dalam nas ini, Allah memberi kita dua alasan untuk bersorak-sorak menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Yang pertama, Dia telah berjaya dengan adil atas musuh-musuh Allah, terutama Iblis, dosa dan maut, dan akan berkuasa atas seluruh bumi dalam dunia baru. Yang kedua, Dia berjaya sebagai raja yang merendahkan diri, yang menggunakan keledai untuk menyatakan diri-Nya sebagai raja, karena Dia akan diteguhkan sebagai raja di atas salib. Dengan demikian, Dia berkuasa atas kerajaan yang membawa damai. Semua itu menjadi alasan bagi kita, karena Dia datang kepada kita umat-Nya (“kepadamu”).

Makna

“Ia adil dan jaya” menunjukkan bahwa kejayaan Kristus bermaksud untuk menegakkan keadilan, atau struktur relasi dalam umat dan dunia yang baik dan tepat (demikian artian dasar dari kata tsadiq yang dipakai di sini). Dalam visi Zakharia, kejayaan ditafsir ulang: bukan lagi kekayaan dan kuasa senjata, melainkan kerendahan dan damai. Kita sebagai jemaat ada di antara zaman PL di mana kuasa senjata dipakai Tuhan, dan dunia baru di mana semuanya memang akan sudah berlalu. Bagaimana kedudukan kita, kalau begitu?

Jika kita meninjau sejarah Israel, mereka mencapai damai melalui perang. Israel diserang oleh musuh-musuhnya, dan dengan kuasa Tuhan Israel dapat menang dan aman. Raja Daud termasuk yang paling ahli berperang. Namun, sebelum menjadi raja, dia juga mengalami masa sebagai orang yang tidak memiliki kedudukan, dan di dalam kitab Mazmur kita melihat bahwa Daud pun sering “’ani”, dalam kesusahan dan hanya dapat bergantung kepada Allah (misalnya, Mzm 22:15, 25:16, “orang yang tertindas”). Damai menjadi tema dalam kitab Yesaya (Yes 9:5), tetapi baru dengan hamba Tuhan (Yesaya 53), kita melihat bahwa damai itu akan dicapai melalui kerendahan. Jika kita melihat darah perjanjian dalam 9:11, “dia yang telah mereka tikam” dalam 12:10, dan “sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran” dalam 13:1, kita bisa memahami dalam terang Kristus bagaimana PB menafsir Zakharia 9–14 ini sebagai penyataan tentang cara baru Allah mendatangkan Kerajaan Allah dalam Kristus, suatu cara di mana kerendahan demi orang lain (pengorbanan) justru menjadi salah satu senjata utama.

Jadi, visi nas ini mulai berlaku bagi jemaat. Jika dalam nas kita, damai itu mulai dengan umat Allah, dalam PB, tugas jemaat adalah mewujudkan damai di dalam persekutuan, kemudian memberitakan Raja Damai kepada orang-orang di luar jemaat. Seperti dalam Fil 2:1–11, damai itu terwujud dengan menyerap sikap Raja Damai itu. Sikap itu tidak lemah lembut dalam artian paternalistik—tua-tua gereja berbicara dengan sopan tetapi memegang kendali kuasa dengan erat—tetapi dalam artian sungguh merendah diri. Jika bentuk modern kereta dan kuda adalah, misalnya, kedekatan dengan pemerintah dan banyak asetnya, maka ada bahaya bila gereja-gereja mapan memberitakan Raja Damai yang ’ani, tetapi yang dilihat orang ialah lembaga yang mapan.

Sorak-sorai umat Allah muncul bilamana kita mulai mengalami, bahwa jalan kerendahan yang mengikuti Raja yang lemah lembut ini adalah cara menjadi manusia yang lebih baik daripada pencarian kedudukan, dan lebih lagi bahwa cara itu adalah masa depan dunia. Yesus akan menjadi Raja atas dunia yang baru, dan pada saat itu, kejayaan model lama tidak akan berarti lagi!

Pos ini dipublikasikan di Zakharia dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Zak 9:9-10 Kedatangan Raja membawa sorak-sorai [22 Des 2013] (Minggu Adven IV)

  1. yuliussau29 berkata:

    Selamat hari natal 25 Desember 2013 dan menyongsong tahun baru 1 januari 2014, kiranya kasih Tuhan Ysesus Kristus tetap menolong kita dari majelis jemaat rantepulio bone-bone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s