Yes 12:1-6 Sukacita karena keselamatan [29 Des 2013]

Perikop ini cocok untuk mengakhiri renungan-renungan Adven dan Natal. Saya akan istirahat 2–3 minggu dari blog ini, jadi saya mengucapkan, “Merry Christmas and a Happy New Year”.

Penggalian Teks

Yesaya 11 (dibahas di sini) menceritakan keselamatan Israel dari pembuangan oleh karena “tunas…dari tunggul Isai” (11:1), yakni, Mesias. 11:1–5 menceritakan sifat Mesias itu, sehingga ada damai di seluruh ciptaan (11:6–9), dan sisa-sisa umat Israel dapat berhimpun kembali di tanah perjanjian (11:10–16). Perikop kita adalah respons (a.1 “pada waktu itu”) umat Allah yang telah diselamatkan. Aa.1–2 memakai kata “engkau” (tunggal maskulin), mungkin merujuk pada Yehuda sebagai bangsa yang diselamatkan, tetapi aa.3–5 memakai kata “kamu” untuk menyoroti respons seluruh umat. A.6 menempatkan umat sebagai penduduk Sion.

Keselamatan dalam aa.1–2 adalah keselamatan dari murka Allah, sesuai dengan janji dalam 10:24–25 (bdk. “janganlah takut” dan “amarah-Ku atasmu akan berakhir”). Pembuangan yang dialami Israel dilakukan oleh negara-negara seperti Asyur, tetapi di balik semua itu adalah Allah yang didurhakai oleh pemberhalaan dan ketidakadilan Israel (1a). Kesadaran akan tepatnya murka Allah itu disertai dengan syukur bahwa masa itu sudah berlalu. Pada zaman keselamatan, Yehuda dapat percaya dengan tidak gemetar (2). Sikap itu disertai dengan menimba dari mata air keselamatan (3). Yesaya 7–8 diwarnai oleh usaha bangsa Yehuda untuk menimba keselamatan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, dan bukan dari Allah. Sekarang, Allah akan menjadi tempat pertama umat-Nya bergantung, bukan tempat terakhir setelah semua berhala yang lain telah gagal.

Dalam aa.4–5, kepercayaan umat Allah meluap dalam panggilan untuk memuji Allah, bahkan sampai bangsa-bangsa—barangkali termasuk bangsa-bangsa yang menindas Israel. Pemberitahuan kepada bangsa-bangsa tentang perbuatan keselamatan Allah adalah satu cara untuk memuji (“masyhurkanlah”) nama-Nya. Umat Allah tidak akan malu lagi tentang Allah yang mereka sembah.

Jika dalam aa.1–3 umat Allah percaya pada keselamatan Allah, dan dalam aa.4–5 memiliki keberanian untuk memberitahukan karya Allah kepada bangsa-bangsa, dalam a.6 puncak sukacita Sion adalah hadirat Allah di tengah-tengah mereka sebagai Allah yang agung.

Maksud bagi Pembaca

Sebagai umat yang telah diperdamaikan kembali dengan Allah, umat Allah menyatakan sukacitanya dengan bersyukur, mengandalkan keselamatan dari Allah, dan memuji nama-Nya kepada bangsa-bangsa.

Makna

Pada upacara-upacara pemerintahan, ada kesan bahwa bahasa seperti “hadirin yang berbahagia” dibuat-buat, karena, ketika Pancasila dibacakan, misalnya, jarak antara ucapan dan realita terasa jauh. Gejala yang sama bisa juga muncul dalam upacara gerejawi, bilamana kita merasa kecewa terhadap Tuhan. Berulangkali diucapkan bahwa Tuhan itu baik, tetapi alasannya menyangkut pemeliharaan Allah (“karena kita semua bisa berhimpun/bangun dengan sehat/pulang dengan selamat”) dan bukan keselamatan. Hal itu tidak salah, tetapi pada hemat saya membingungkan. Jika bangun dengan sehat adalah bukti kasih Allah, bagaimana kalau saya bangun dengan tidak sehat? Dalam dunia riil, ada orang percaya yang dikerasi, dibunuh secara sadis, kehilangan anak, menjadi pengungsi, dan banyak lagi. Jika pemeliharaan Allah adalah mata air yang daripadanya kita menimba kepercayaan untuk menghadapi kehidupan ini, kita akan bingung. Tetapi mata air itulah yang ditimba terus-menerus dalam doa dan ucapan, demikian pengamatan saya.

Orang-orang dalam PB sepertinya memiliki akar yang kuat karena mereka menimba air dari mata air keselamatan. Paulus bisa ditangkap, dicambuk dsb, dan tetap bersukacita dalam Tuhan. Mengapa? Karena dalam Kristus, dia tahu bahwa murka Allah telah surut. Allah menanggung murka-Nya dalam diri-Nya sendiri (karena Kristus adalah Allah Anak), sehingga murka itu tuntas dilampiaskan; tidak ada sisanya lagi bagi orang yang percaya kepada Kristus (bdk. Rom 5:9–10; Rom 8:1). Dunia dihadapi dengan keyakinan akan kekuatan dan keselamatan Allah, bahkan di tengah kekacauan dan penderitaan (Rom 8:31–39). Tentu, dia yakin akan pemeliharaan Allah, tetapi karena keselamatan dalam Kristus. Kematian Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah mengasihi kita; kebangkitan Kristus memberi dasar yang tak terbantahkan oleh kondisi apapun bahwa Allah memiliki rancangan yang baik bagi dunia ini.

Oleh karena itu, Paulus tidak malu berbicara tentang Kristus. Dia yakin bahwa karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah sesuatu yang selayaknya diberitahukan kepada siapa saja. Jemaat-jemaat perdana mampu memasyhurkan nama Yesus karena keyakinan mereka bahwa Yesus ada di tengah-tengah mereka—dengan agung. Pada upacara tongkonan yang berhasil, keluarga merasa bangga dan berbobot karena ada keagungan keluarga tampak bagi semua yang hadir, dan mereka tidak akan malu-malu memberitahukannya. Jemaat-jemaat perdana merasa sama karena hadirat Kristus di tengah-tengah mereka—hidup mereka bermakna dan berbobot oleh karena Dia.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yes 12:1-6 Sukacita karena keselamatan [29 Des 2013]

  1. yuliussau29 berkata:

    Selamat tahun baru pak, kami tunggu tulisannya lagi gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s