1 Kor 1:10-17 Mengobati Roh Pemecah [26 Jan 2014]

Perikop ini termasuk yang inti maksudnya jelas. Namun, untuk dijelaskan, tetap dibutuhkan penggalian, penggalian yang melampaui apa yang tertulis supaya apa yang tertulis dapat muncul dengan lebih tajam. Jadi, ada beberapa pengandaian saya untuk melengkapi kisah yang tersirat di balik kondisi jemaat di Korintus, khususnya pengandaian bahwa golongan-golongan berdasarkan tokoh di jemaat Korintus tidak muncul dari hal-hal negatif saja, tetapi juga muncul dari pengalaman iman berkat tokoh-tokoh tersebut. Pengandaian itu membantu saya untuk membawa nasihat Paulus ke dalam salah satu konteks jemaat sekarang.

Penggalian Teks

Jemaat di Korintus adalah jemaat yang paling bandel dari jemaat-jemaat yang disurati Paulus. Namun, dalam bagian awal, dia tetap bisa mensyukuri karya Allah di tengah mereka (1:4–9). Tetapi menarik bahwa syukurnya tidak dilanjutkan dengan doa. Dia langsung mulai menasihati mereka.

Nasihat itu “demi nama Tuhan kita Yesus Kristus” (10a). Memang, dengan demikian Paulus merujuk pada wewenangnya sebagai rasul Kristus untuk menasihati mereka (1), dan juga pada keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka sampai kesudahannya dalam nama itu (8). Tetapi dia juga mengingatkan mereka tentang siapakah mereka. Mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus itu sebagai orang-orang yang telah dikuduskan di dalam Kristus dan dengan demikian dipanggil untuk hidup kudus (1:2). Jadi, kekacauan mereka dapat berdampak pada nama Yesus dalam dunia di sekitarnya. Sungguh penting bahwa Paulus tidak berdiam diri menghadapi kekacauan itu.

Tujuan dari nasihatnya ialah supaya mereka “seia sekata” (10b). Hal ini semestinya dipahami secara tidak kaku. Bukan perbedaan pendapat apa saja yang menjadi masalah melainkan “perpecahan”. Kata skhisma ini (dalam bentuk jamak) dalam artian harfiah dipakai untuk kondisi “retak”, bukan kondisi terputus total. Mereka masih saling berhubungan, tetapi ada retak-retak dalam persekutuan mereka. Dia mau supaya mereka dipulihkan kembali ke kondisi sehati sepikir.

Landasan untuk nasihat Paulus ini adalah laporan dari kelompok tertentu (11a). Menarik bahwa Paulus menyebut nama orang terkemuka dari kelompok itu; ternyata keluhan mereka bukan untuk menjatuhkan sehingga disampaikan secara anonim, melainkan karena keprihatinan yang tulus dan siap menanggung risiko dari keterusterangan ini.

Yang dilaporkan ialah bahwa ada perselisihan yang berpusat pada tokoh-tokoh jemaat (11b). Paulus adalah pendiri jemaat, Apolos pernah berperan dalam pertumbuhannya (“menanam” dan “menyiram”, 3:6), dan Kefas (yakni, Petrus) ternyata pernah melayani juga di sana. Barangkali, mereka masing-masing berdampak dalam kehidupan jemaat, sehingga banyak anggota jemaat ada “favoritnya”. Dan yang tidak punya favoritnya membuat satu kelompok lagi, dengan Kristus sebagai idolanya (12).

Tanggapan Paulus dimulai pada a.13, dan berlanjut sampai akhir pasal 4, bahkan pp.12–15 (tentang karunia-karunia roh dan kebangkitan) dapat dilihat sebagai puncak tanggapan Paulus terhadap kondisi jemaat itu. Perhatikan bahwa tanggapannya kristosentris. Perselisihan melanggar sopan santun budaya seperti budaya Toraja, dan walaupun budaya Yunani lebih agresif, pasti kesehatian juga dihargai. Tetapi Paulus tidak merujuk pada nilai-nilai sebagai dasar. Dia merujuk pada Kristus. Tujuan Paulus ialah nilai-nilai kesatuan di dalam jemaat, tetapi dasarnya bukan nilai melainkan Kristus.

Jadi, Paulus berbicara tentang Kristus, salib Kristus, dan baptisan dalam nama Kristus (13–16). Kristus tidak terbagi-bagi, dan golongan-golongan mereka bertolakbelakangan dengan fakta itu. Karya Kristus demi jemaat berpusat pada salib, dan itulah yang diberitakan Paulus—tetapi bukan Paulus yang disalibkan. Jika anggota jemaat terharu oleh pemberitaan Paulus dan hidupnya dijungkirbalikkan oleh berita itu, adalah tetap konyol untuk terlalu memperhatikan Paulus. Saya tidak menjadi pengikut pegawai yang memasang pengumuman jika dalam pengumuman itu saya lolos seleksi. Sama halnya, walaupun Paulus membaptis beberapa anggota jemaat, mereka dibaptis dalam nama Kristus. Baptisan menjadi lambang konkret tentang kesatuan orang percaya di dalam Kristus, suatu pengalaman yang dipegang bersama oleh jemaat di seluruh dunia. Makanya, Paulus agak kesal bahwa lambang kesatuan itu justru menjadi dalih untuk perselisihan, karena ternyata ada yang melihat ke pelaku ritusnya, bukan Sang Makna ritus itu.

A.17 menutup laporan awal ini, dan juga mengantarkan bagian berikutnya, yang mau menggali lebih dalam. Adanya kelompok “Kristus” menjadi petunjuk bahwa perpecahan itu terjadi bukan sekadar karena ada favorit-favorit, melainkan karena ada roh pemecah di antara mereka: mereka suka berkubu, bahkan sampai harus mengangkat Kristus (yang tidak pernah berkunjung kepada mereka secara jasmani) sebagai lambangnya pun. Paulus melihat bahwa hal itu terjadi karena hikmat yang dianut oleh jemaat belum disesuaikan dengan salib Kristus itu. Dalam a.17b, dia memperlawankan hikmat perkataan—hikmat yang muncul dalam kata-kata, yaitu, masuk akal, logis—dengan salib Kristus. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikutnya, jika perkataan Paulus dapat masuk akal manusia secara umum, hal itu berarti bahwa pesan tentang salib Kristus telah dilunakkan, karena konsep bahwa keselamatan bagi seluruh dunia itu terjadi melalui satu manusia di pinggir kekaisaran, atau melalui seorang Mesias yang dihina dan mati, tidak masuk akal, baik akal berasio maupun akal beragama. Bukan “Kristus” sebagai nama yang mempersatukan, melainkan Kristus yang disalibkan yang mempersatukan.

Maksud bagi Pembaca

Paulus mulai meletakkan dasar untuk mengobati roh pemecah di jemaat, yaitu, Kristus yang disalibkan sebagai pemersatu yang sejati. Penjunjungan tinggi saluran berkat mengaburkan Sumber berkat yang sebenarnya, Kristus, dan menunjukkan bahwa Dia belum menjadi sumber hikmat berdasarkan salib.

Makna

Ada satu pola nasihat yang berbunyi demikian: “Bersatulah, karena kesatuan itu baik.” Tidak terlalu sulit untuk menangkap bahwa argumentasi ini agak dangkal: nilai budaya tertentu menjadi alasan untuk nilai budaya itu. Bagi Paulus, Kristus adalah dasar kesatuan, bukan nilai budaya. Pentingnya begini: kesatuan di dalam Kristus dan kesatuan di dalam budaya tentu biasanya searah, dan bagus bila bisa saling menopang. Tetapi, apakah akan selalu sama? Andaikan ada orang yang mau masuk sekolah Alkitab daripada memenuhi permintaan ambe‘-ambe’ tondok (tua-tua kampung) untuk menikah dengan pemuda di kampung. Bukankah dia akan mengganggu kesatuan masyarakat di sana? Lebih parah lagi (dilihat dari perspektif penganut adat lama) ialah orang-orang kristen yang tidak ikut dalam aspek-aspek tertentu dari sebuah upacara, karena dianggap ada pengandalan pada sumber berkat selain Allah. Justru dengan demikian, mereka merusak kesatuan dan mengancam berkat itu. Pada umumnya, banyak hal dapat menjadi pemersatu yang baik pada tempatnya, seperti keluarga atau saroan, tetapi merusak kesatuan di dalam Kristus jika diutamakan di dalam jemaat.

Namun, perselisihan yang paling mendalam seringkali muncul justru dari pengalaman iman, bukan konteks sosial. Dalam Gereja Toraja ada yang sangat dibantu oleh berbagai pelayanan khusus, seperti pelayanan mahasiswa (GMKI, Perkantas), gerakan ekumenis, dsb. Bahkan, pelayanan langsung di bawah naungan gereja (OIG, Langham, dsb) dapat menjadi tempat yang bermakna karena iman bertumbuh, kesehatian terasa, pengaderan jelas, dsb. Hal-hal itu baik, asal saluran anugerah di dalam Kristus tidak menjadi lebih menonjol daripada sumbernya. Soalnya, membangun persekutuan dengan orang yang tidak seusia, atau tidak sewawasan, atau tidak sepengalaman hidup, itu sulit. Tetapi, dasar kesatuan ialah Kristus, bukan ciri-ciri tertentu yang kita miliki bersama.

Kesatuan di dalam Kristus dilambangkan dalam ritus baptisan. Nah, budaya Barat yang membawa Injil selalu menekankan pentingnya hati: baptisan adalah ritus saja kecuali dihayati dengan tulus oleh orang yang dibaptis. Semestinya saya menganggap baptisan saya demikian. Tetapi ada bahaya kalau saya menilai baptisan sesama juga demikian: saya menilai keanggotaan mereka dalam Kristus berdasarkan hatinya, yang sebenarnya tidak mampu saya nilai. Baptisan itu sangat obyektif dan jelas. Saya mungkin pusing dengan sikap-sikap yang dinyatakan oleh nenek ini, pemuda itu, atau bahkan aktivis jemaat yang arah pelayanannya tidak jelas atau berbahaya. Tetapi, jika mereka telah dibaptis (dan masih mengaku kristen), saya harus memperlakukan mereka sebagai saudara dalam Kristus. Adalah sangat gampang untuk menilai bahwa kelompok yang tidak saya sukai itu tidak layak sebagai anggota tubuh Kristus (karena terlalu pietis/sekuler/inklusif/eksklusif/karismatik/kaku dan lain sebagainya—kreativitas otak manusia untuk menjelekkan sesamanya tiada habisnya) sehingga saya boleh saja mengabaikan mereka.

Hal itu tidak berarti bahwa saya harus menerima segala yang mereka katakan. Satu hal lagi di mana kesatuan dalam budaya bisa berbeda dengan kesatuan di dalam Kristus ialah, bahwa kesatuan dalam budaya sering menjadi penyesuaian kelompok dengan penguasa yang paling ribut dan ngotot. Kesatuan dalam Kristus harus berpatokan pada salib Kristus. Dalam hikmat salib, gengsi sudah menjadi hal yang konyol—gengsi seperti apa yang dialami Kristus ketika Dia bergantung pada salib tanpa baju sementara para musuh-Nya dapat mengolok-olok Dia dengan bebas? Orang percaya yang mengejar gengsi seakan-akan belum pernah sungguh-sungguh memandang Kristus yang sebenarnya. Tetapi, biar yang sudah menangkap itu menjadi teladan dalam kerendahan sama seperti Paulus. Paulus merendahkan diri di hadapan jemaat Korintus yang bandel itu bukan dengan menyesuaikan diri dengan keinginan mereka, melainkan dengan memperlakukan mereka sebagai orang percaya yang di dalamnya Allah sudah dan tetap berkarya. Nasihatnya yang cukup keras adalah bagian dari kerendahan hati dan pengharapan Injili Paulus terhadap mereka.

Pos ini dipublikasikan di 1 Korintus dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s