Mik 6:1-8 Dosa sebagai pengingkaran anugerah Allah [5 Feb 2014]

Seperti biasa saya berusaha memberi pandangan teosentris tentang perikop yang berpusat pada hal etis dalam a.8 ini. Tetapi saya juga berusaha untuk memaknai bentuknya, sebagai drama perkara dalam pengadilan. Semoga perikop ini menjadi alat Allah untuk beperkara dengan umat-Nya kembali.

Penggalian Teks

Puncak dari perikop kita adalah a.8b. Tiga hal ini—“berlaku adil”, “mencintai kesetiaan”, dan “hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu”—digambarkan dalam aa.10–12 & 16. Ada kecurangan yang membuat orang fasik berharta benda lebih oleh karena merugikan orang kecil (10–11). Hal itu merujuk pada keadilan (misypat) sebagai pengaturan masyarakat supaya semua dapat hidup sejahtera. Kesetiaan (khesed) berarti tindakan sesuai dengan relasi; kekerasan dan dusta (12) melanggar solidaritas yang semestinya dimiliki oleh segenap anggota umat Tuhan. Ayat 8b ini terkenal karena sangat jelas bahwa kita akan lebih berbahagia bila kita dapat membangun keadilan dan kesetiaan yang sedemikian.

Cukupkah sampai di situ penjelasan kali ini? Mungkin—bila Pelayan menganggap bahwa yang dibutuhkan jemaat adalah petunjuk praktis saja, bahwa terlalu berat berharap bahwa jemaat mengetahui tentang Tuhan supaya dapat lebih mengenal Tuhan. Mungkin saja jemaat beranggapan demikian—tetapi ada alasan mengapa Pelayan disebut pemimpin jemaat, bukan pengikut jemaat. Ternyata, Mikha juga menganggap bahwa Israel harus memahami siapa Tuhan, karena a.8b ini adalah puncak dari penguraian teologis.

Pentingnya soal Tuhan itu muncul dalam a.8b sendiri, karena “hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” tidak sekadar hadir dalam kebaktian-kebaktian gereja. Para pemimpin yang jahat pun rajin beragama; tetapi mereka juga menyembah dewa yang ternyata lebih menentukan, seperti raja Omri dan raja Ahab yang disebut dalam a.16. Mereka menduakan Tuhan. Dan bagaimana tidak, kalau Tuhan yang sejati tidak diperkenalkan kepada mereka? Selalu, Tuhan yang kita cari dan ciptakan dalam pemberhalaan adalah dewa pelindung, yang memaklumi kebutuhan kita untuk menipu sesama dan diharap akan meluputkan kita dari akibatnya; malahan, untuk tipe orang tertentu, dewa pelindung kita ikut menertawakan para pecundang yang kita tipu. Jadi, pokok dalam aa.1–8 ialah Allah, bukan nasihat etis.

Penguraian teologis itu disampaikan dalam bentuk drama. Dalam aa.1–2, Allah memanggil bumi sebagai pendengar perkara, mungkin seperti tua-tua kota menjadi pendengar dalam beperkara di pintu gerbang kota. Dalam aa.3–5, Allah menjadi saksi pertama: terhadap rasa jemu mereka, Dia mengingatkan mereka bahwa Dialah yang menyelamatkan mereka dari Mesir, memelihara mereka terhadap ancaman-ancaman seperti Balak, dan menyertai mereka untuk masuk ke tanah perjanjian (Sitim adalah tempat perkemahan Israel sebelum menyeberangi Yordan; Gilgal menjadi pangkalan Israel untuk menduduki tanah Kanaan). Aa.6–7 merupakan ungkapan kejenuhan Israel. Dengan bahasa yang berlebihan sehingga menjadi sindiran, Israel mengaku bahwa beribadah kepada Allah itu terlalu berat: betapa besarnya persembahan mereka, Allah tidak akan berkenan. A.8 adalah balasan Allah: yang dituntut sederhana saja, bukan persembahan yang luar biasa melainkan keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja, jika ada kemauan. Aa.9–12 mempertegas dosa Israel yang tidak berlaku adil dan mencintai kesetiaan; aa.13–15 menyampaikan vonis (hukuman) yang akan dijatuhkan ke atas Israel; dan a.16 meringkaskan dosa dan hukuman itu.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau supaya Israel menjadi sadar kembali akan dosanya sebagai pengingkaran anugerah Allah. Dengan menangkap kembali anugerah Allah bagi mereka, mereka akan mengingat bahwa tuntutan Allah ialah menghayati anugerah itu dalam kehidupan bersama, bukan kegiatan agamawi yang hebat.

Makna

Orang Israel, seperti raja Omri dan raja Ahab, setidaknya mereka jujur: mereka menyembah beberapa dewa dengan terus terang. Sekarang, dewa pelindung itu sering kali berlabel “Yesus Kristus”, tetapi sifatnya lain dari Kristus yang sejati. Paulus dalam 1 Kor 1:18–31 mengutarakan Kristus yang sejati: Kristus yang disalibkan. Anugerah Allah kepada Israel dipertegas dan diperluas dalam Kristus, sehingga kita juga tidak memiliki alasan untuk jenuh berlaku adil dan mencintai kesetiaan, karena kita berjalan dengan Tuhan yang telah merendahkan Diri-Nya demi keselamatan kita.

Drama pengadilan yang dipakai Mikha bagi saya sudah sangat komunikatif, dan tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa teologi seperti di bangku kuliah supaya dianggap firman Tuhan yang sejati. Alurnya justru adalah pesannya: anugerah yang membongkar dalih. Pakailah perikop ini untuk membawa perkara Tuhan dengan jemaat; perhadapkan mereka dengan anugerah Allah yang membongkar dalih-dalih mereka; jangan sampai kuasa dramatisnya dikerdilkan dengan menjadi sekadar rumusan yang dijelaskan dengan ilustrasi yang justru tidak semenarik drama dalam perikop ini.

Drama itu penting, karena bahan etis dalam a.8b bukan bukti dari Alkitab akan etika Aristoteles atau Kant. A.8b adalah cara menghayati tindakan keselamatan Allah. Pola khotbah yang membuat rumusan umum yang kemudian digambarkan lepas dari bahan dramatis ini dapat memberi kesan bahwa ternyata Mikha sepaham dengan Mario Teguh bahwa kita harus menjadi orang yang baik dan saleh. Penghayatan yang dimaksud Mikha lebih dalam, karena berakar dalam karya keselamatan Allah.

Pos ini dipublikasikan di Mikha dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mik 6:1-8 Dosa sebagai pengingkaran anugerah Allah [5 Feb 2014]

  1. Tuto' berkata:

    Bertindak adil, bagi saya bukan sperti yang dunia ini pahami dan lakukan. misalnya membagi hasil kerja sesuai dengan jam kerja atau tenaga yang dikeluarkan; atau adil itu siapa yang salah dia dihukum. Namun berlaku adil berarti menyerahkan semua kenyataan-kenyataan hidup, terlebih kenyataan yang sangat tidak kita harapkan, kepada Allah dan membiarkan Allah yang bekerja untuk kita; menyerahkan kepada Allah agar Ia bertindak menyelesaikannya bagi kita. Bukan kita yang meyelesaikannya tetapi Allah yang memutuskan dan menyelesaikan bagi kita, sehingga dalam keyataan itu ( perkara ) kuasa-Nya bekerja untuk kita, dan kita terhindar dari kebencian, dendam yang akan merusak kesetiaan dan kerendahan hati kita dihadapan-Nya dan di hadapan sesama kita. Mungkin kita mengatakan suatu kebodohan “membiarkan orang berperkara dengan kita tanpa menanggapi”, namun I Korintus 18-31 menjawab bahwa apa yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari manusia…. Salib adalah jawaban atas harapan orang yang mengharapkan Allah menyelesaikan smua perkaranya, walaupun kita tidak mengerti mengapa Ia harus menempuh untuk mengorbankan Anak-Nya sendiri. JIka kita ingin keadilan itu benar-benar ada, biarkan Allah yang bertindak bagi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s