Yes 58:1-8 Pertobatan yang memulihkan [12 Feb 2014]

Kitab Yesaya menimbulkan banyak perdebatan tentang asal-usulnya, karena pp.40–66 menyoroti konteks pembuangan dan seterusnya yang terjadi setelah zaman Yesaya. Perdebatan itu menarik, tetapi yang diterima Yesus dan gereja sebagai kitab suci adalah kitab Yesaya yang kita miliki. Jadi, perikop kita ditafsir dalam konteksnya dalam kitab Yesaya, bukan berdasarkan sebuah rekonstruksi tentang asal-usulnya. Tentu, penerapannya bagi jemaat dilihat dalam terang kedatangan Kristus.

Penggalian Teks

Perikop ini menyampaikan cara Israel dapat menghayati keselamatan Allah, atau dengan kata lain, bentuk pertobatan yang sejati. Alur kitab Yesaya mendukung bahwa keselamatan adalah karya Allah saja, karena manusia (Israel) tidak sanggup bekerja sama dengan Allah. Kegagalan itu disampaikan dalam pp.41–48, sehingga peran hamba Tuhan harus diambil alih oleh seseorang (49:3, bdk. renungan ini dari Yes 49:1–7). Keselamatan itu diraih dalam p.53 dan digambarkan dalam 54:1–56:8. Namun, Israel belum juga berubah—56:9–57:13 kembali menguraikan dosa mereka. Kembali keselamatan ditawarkan dalam 57:14–21, dan perikop kita (sampai akhir p.58) menguraikan pertobatan yang diharapkan sebagai responsnya. Intinya dalam 59:1–2: Allah sanggup menyelamatkan, tetapi dosa Israel menghambat keselamatan itu dinikmati. Jadi, 59:3–8 kembali menguraikan dosa itu, dan 59:9–15a merupakan pengakuan nabi akan keberdosaan umat Israel. Oleh karena ketidakmampuan Israel, Tuhan harus bertindak sepihak: “Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia” (59:16). Hasilnya dinubuatkan dalam pp.60–62 yang menceritakan pemulihan Sion. Keselamatan adalah karya Allah semata-mata.

Pendek kata, perikop kita menyangkut pertobatan yang harus dipahami sebagai respons terhadap anugerah keselamatan Allah (57:14–21) yang dikerjakan sepihak oleh Tuhan (p.53, pp.60–62). Namun, ada respons yang wajib dalam artian, anugerah keselamatan Allah hanya dapat dinikmati jika ada pertobatan (59:1–2).

Pertobatan mengandaikan kesadaran tentang dosa, dan seruan nabi dalam a.1 menunjukkan bahwa Israel sulit memberi perhatian pada dosa mereka. Ternyata ketulian mereka terjadi karena mereka rajin beragama (2). Mereka bertindak seperti bangsa yang taat, dengan ingin tahu tentang jalan Tuhan. Namun, ada kegelisahan di antara mereka, yang digambarkan dalam keluhan mereka terhadap Tuhan dalam a.3a. Mereka rajin beragama, sampai berpuasa, tetapi tidak merasa diberkati.

Allah membenarkan kegelisahan itu dalam a.3a (“Sesungguhnya”) dan a.4 (“Sesungguhnya”). Ternyata, fokus mereka bahkan dalam berpuasa adalah diri sendiri: kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan Allah, dan kepentingan pribadi yang dipikirkan, bukan kepentingan sesama (3b). Di antara mereka sendiri, puasa diiringi cekcok (4a). Melalui nabi-Nya, Allah melihat di balik tindakan keagamaan mereka ke dalam tindakan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Aa.5–7 berbentuk pertanyaan retoris, “inikah…bukankah…bukankah” (diluruskan dalam terjemahan LAI). Artinya, bentuk bahasa mengajak Israel untuk merenung dan menilai diri sendiri. Mereka sebatas “merendahkan diri” dengan tubuh (5), tetapi yang diharapkan adalah meninggikan sesama, dengan mengubah belenggu-belenggu yang merusak kehidupan sesama (6), dan menjawab kebutuhan-kebutuhan riil sesama (7).

Jika hal itu mereka lakukan, ada dua akibat yang langsung disebutkan (’az = maka, a.8 & a.9). Mereka akan mengalami hadirat Allah yang membawa terang dan pemulihan (8), dan Allah akan menjawab mereka (9). Ayat-ayat berikutnya berbicara tentang tuntunan Tuhan (11a), kesuburan (11b), pembangunan kembali (12), dan kesenangan di dalam Tuhan (14). Dengan demikian, tidak akan ada kegelisahan lagi bahwa mereka tidak diperhatikan Allah seperti dalam a.3a; anugerah keselamatan Allah akan sungguh-sungguh dinikmati.

Maksud bagi Pembaca

Allah menunjukkan cara yang semestinya untuk bertobat: bukan kerendahan diri dalam bentuk ritus saja, melainkan kerendahan diri dalam meninggikan sesama. Dengan cara itu, kegelisahan tentang perhatian Allah akan berubah menjadi kenikmatan di dalam Dia.

Makna

Kemiripan gejala dalam perikop ini dengan apa yang sering terjadi dalam jemaat, menggelisahkan saya dalam persiapan. Orang berbangga-bangga bahwa ada seribuan jemaat Gereja Toraja, tetapi pada saat yang sama mengaku bahwa sebagian (besar?) “pemekaran” jemaat sebenarnya terjadi karena perpecahan. Asal usul perpecahan itu secara garis besar mungkin bisa dikaitkan dengan perubahan zaman yang membuat hal-hal yang tadinya jelas menjadi tidak jelas, sehingga muncullah kegelisahan. Tetapi, pada saat yang sama jemaat rata-rata belum menangkap anugerah keselamatan Allah sebagai milik yang terjamin dalam Kristus sehingga menjadi fondasi hidup (3a). Dengan demikian, kegiatan agamawi jemaat tidaklah membawa damai dalam hati yang akan mengobati kegelisahan itu, karena dalam lubuk hati jemaat tahu bahwa yang dicari adalah kepentingan sendiri bukan Kerajaan Allah. Jadi, kegelisahan itu tetap ada, dan kegiatan gerejawi tetap diiringi cekcok.

Tetapi ada juga orang yang menganggap bahwa dia telah menyerahkan kehidupannya sepenuhnya kepada Allah, tetapi ternyata dalam tindakannya dia menutup diri terhadap pola-pola dalam masyarakat yang membelenggu, dan kebutuhan riil sesama. Kita melihat dalam perikop ini bahwa jika tindakan ritus dan tindakan sehari-hari bertentangan, yang dinilai oleh Allah adalah tindakan sehari-hari. Bisa saja seorang munafik menipu orang banyak—seringkali dia malah menipu dirinya sendiri—tetapi dia tidak bisa menipu Allah. Jemaat yang dikendalikan oleh orang-orang yang belum yakin akan anugerah keselamatan dan/atau bersifat munafik adalah jemaat yang terangnya redup dan lukanya menganga terus, yang barisan depannya adalah kekacauan dan barisan belakangnya adalah kehinaan (8).

Dalam Yesus Kristus, pelayanan Sang Hamba (p.53) sudah diemban, dan Sion telah dipulihkan (pp.60–62, bdk. 61:1 dst). Pertobatan yang belum dapat diharapkan dari Israel secara keseluruhan sudah dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah yang diperlihatkan dalam kematian Kristus ke dalam hati kita (Rom 5:5–8). Kalau anugerah Allah itu belum mulai ditangkap oleh jemaat, belum ada pengharapan untuk pembaruan. Kalau mulai ditangkap, perikop ini menjadi petunjuk jalan tentang pertobatan yang sejati.

Pos ini dipublikasikan di Yesaya dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yes 58:1-8 Pertobatan yang memulihkan [12 Feb 2014]

  1. Tuto' berkata:

    …… tantangan terbesar yang kita hadapi dalam pencarian kita menikmati kehidupan terbaik kita sekarang adalah godaan untuk hidup dengan mementingkan diri sendiri. Orang-orang akan menolong jika ada imbalan yang akan didapat. Jika tidak ada imbalan…uh parrai ia tu…tae bang apa di”lepa’ ” dio…..; hari gini, tidak ada makan siang yang gratis!!…. kita siap mengakui ini bahwa generasi sekarang sebagai generasi “aku dan narsisme. Terlalu mementingkan diri sendiri. Dan yang bahayanya narsisme ini tumpah ke dalam hubungan kita dengan Tuhan, keluarga dan orang lain….. inang tongan!!, yang Allah lihat adalah kehidupan sehari-hari, bukan khotbahnya, persembahannya, tapi bagaimana firman itu menjadi nyata dalam hidup orang percaya….. Kurresumanga’ ambe’ Andrew atas uraiannya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s