Ul 30:15-20 Pilihlah Hidup Mengasihi Allah [16 Feb 2014]

Dari satu segi, perikop ini jelas dan pesannya gamblang. Jadi, perlu digali di mana pesan itu bergesekan dengan kehidupan jemaat. Usul saya (tentang sikap yang plin-plan) belum tentu cocok di semua tempat, tetapi semoga membantu Pembaca untuk menggali lebih dalam.

Penggalian Teks

Dalam penguraian ini saya menjelaskan mengapa “perintah” dalam 30:12–14 ditafsirkan sebagai Injil oleh Paulus. Ayat-ayat ini mau mengatakan bahwa kesulitan manusia untuk taat terletak dalam hati manusia, bukan dalam perintah Allah. Paulus melihat bahwa janji akan penyunatan hati dalam 30:6 yang memampukan ketaatan telah digenapi dalam kematian Kristus yang di dalamnya kita berbagian melalui iman (Rom 6:1–14; diuraikan di sini). Jadi, penawaran hidup dan mati yang disampaikan dalam perikop kita menyangkut respons kita terhadap Injil. Pada renungan tadi, aa.15–20 hanya dilihat sepintas lalu; kali ini kita akan memberi perhatian yang lebih dalam.

Jika tema perikop ini ada dalam PB, perikop kita menawarkan gambaran yang konkret tentang maknanya. Israel ada di tanah Moab di sebelah Timur dari tanah perjanjian, dengan langkah berikutnya “menyeberangi Yordan untuk mendudukinya” (16). Artinya, tujuan itu akan tercapai melalui perjuangan yang berat. Tanah perjanjian itu sejajar dengan taman Eden, sebagai tempat untuk menikmati kehidupan yang sejati dengan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan. Dalam PB, dari satu segi, tanah perjanjian adalah seluruh bumi, yaitu, dunia yang baru ketika Kristus datang kembali untuk memperbaharui segala sesuatu. Dunia itu akan dicapai juga melalui perjuangan yang berat, tetapi bukan melawan darah dan daging melainkan melawan penguasa-penguasa (Ef 6:12). Tetapi dari segi yang lain, tanah perjanjian itu adalah menjadi serupa dengan Kristus (Rom 8:29; Gal 2:20) karena hidup dalam Roh Kudus (Gal 3:14; Gal 5:24–25) yang merupakan jaminan akan dunia mendatang itu (Ef 1:13–14). Perjuangan Israel tidak selesai dengan tanah Kanaan diperebutkan; perjuangan melawan pemberhalaan malah lebih menantang. Selama kita mengingat bahwa berkat Allah bagi kita pertama-tama merupakan berkat rohani (Ef 1:3), kita dapat membaca perikop ini sebagai firman yang langsung ditujukan kepada kita.

Ada dua kemungkinan yang dipaparkan kepada Israel dan kepada kita: kehidupan dan kematian (15). Kedua hal itu dijelaskan sebagai “keberuntungan” dan “kecelakaan”. Kedua kata itu memiliki makna yang menyeluruh: tob, “kebaikan”, mencakup semua maksud baik yang untuknya Tuhan menciptakan dunia yang baik; ra’, “kejahatan/keburukan”, mencakup semua yang berbau kekacauan dan kebusukan. Pilihan umat Allah akan bermuara pada salah satu dari kedua kemungkinan ini.

Kedua kemungkinan itu adalah ujung dari dua sikap terhadap Allah, yang digambarkan dalam aa.16–18. Sikap yang semestinya, yang diperintahkan oleh Allah, ialah mengasihi-Nya (16). Sikap itu diwujudnyatakan dengan ketaatan yang dijabarkan dalam dua hal. Yang pertama ialah arah atau tujuan hidup: “jalan yang ditunjukkan-Nya”. Kasih kepada Allah bukan pertama-tama perasaan yang menggebu-gebu, tetapi semacam solidaritas dengan Allah: apa yang penting bagi Allah menjadi penting bagi kita. Yang penting bagi Allah termasuk adanya umat yang memuliakan-Nya karena menikmati berkat-Nya. Mengasihi Allah berarti bahwa berkat yang Dia tawarkan yang dikejar. Yang kedua ialah cara hidup: “berpegang pada perintah dsb”. Ketaatan kepada ketetapan Allah menunjukkan bahwa kita mengasihi-Nya dalam artian kita percaya bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Sebagai yang terbaik, cara hidup itu akan membawa berkat. Jadi, ketaatan bukan hanya cara menghayati kasih kepada Allah, melainkan juga cara untuk menikmati berkat-berkat yang Dia janjikan.

Kebalikan dari mengasihi Allah ialah ketulian yang disengaja terhadap firman-Nya supaya ilah yang tawarannya dianggap lebih menarik bisa diikuti (17). Sikap ini mulai dengan hati yang berpaling dari Allah, kemudian firman-Nya dianggap menjenuhkan atau mengganggu, kemudian bukan jalan Tuhan yang diikuti, sehingga akhirnya jelas bahwa ilah yang lain yang dipercayai. Dengan demikian, tanah pemberian Allah tidak akan dinikmati (18). Hal itu adalah hukuman dari Allah, tetapi sebagai akibat yang melekat pada pilihan itu: inti kenikmatan tanah pemberian Allah itu ialah persekutuan dengan Allah, sehingga kalau hal itu ditinggalkan, tanah itu menjadi tempat kutuk.

Aa.19–20 menegaskan maksud dari aa.15–18, dengan memanggil langit dan bumi sebagai saksi (18), dan mengangkat janji Tuhan kepada Abraham (19). Mereka harus memilih, tetapi pilihan itu tidak sembarang saja, seperti pemilihan merek “hp”. Mereka diperintah untuk memilih kehidupan sebagai ujung dari kasih kepada Allah yang mendengarkan suara-Nya dan taat. Dan perlu ditegaskan, Allah tidak pertama-tama bertindak karena umat-Nya, tetapi demi nama-Nya: Dia telah bersumpah kepada nenek moyang Israel (dan kita dalam iman), sehingga keberkatan Israel menjadi kepentingan Allah sendiri. Manusia bukan pokok utama; Allah adalah pokok utama. Dia menawarkan kehidupan karena anugerah-Nya, bukan karena kita penting dan layak.

Maksud bagi Pembaca

Allah mau kita dengan tegas memilih kehidupan dengan jalan mengasihi Dia dalam ketaatan. Tentu, ada sedikit orang yang dengan tegas memilih kematian, tetapi banyak yang tidak memilih dengan tegas, ragu-ragu dalam sikap dan keputusan. Makanya, mereka hidup dalam kegelisahan dalam relasi dengan sesama, Allah, bahkan dengan diri sendiri, dan Tuhan jadi tidak dimuliakan dalam kehidupan mereka.

Makna

Dengan penawaran yang hanya dua—kehidupan atau kematian—Allah menuntut kejelasan dalam diri umat-Nya, atau dengan kata lain, integritas. Sikap kepada Allah, cara hidup, dan keberkatan adalah tiga hal yang tak terpisahkan. Mencari berkat atau pertolongan dari Tuhan tanpa mencari pedoman hidup dari Tuhan adalah rancu. Tetapi tentu, kita tidak akan mencari pedoman hidup dari Tuhan kecuali kita sudah yakin akan kebaikan-Nya kepada kita. Kita meragukan kebaikan-Nya, karena kita mengukur keberuntungan itu menurut kehendak sendiri, bukan dengan patokan firman-Nya, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Kita memasang sesuatu yang lain—gengsi, uang, kenikmatan—yang kemudian menjadi berhala yang mengendalikan kita. Tentu saja, berhala-berhala itu membawa kita kepada kecelakaan, bukan kehidupan yang sejati.

Hal-hal itu bisa dilihat dalam doa yang egosentris (mau ditolong Allah tetapi tidak mau berubah), tuntutan pelayanan yang pendetasentris (bukan Kristus yang penting melainkan jabatan pendeta), atau diri orang yang cepat mempersalahkan sesama dan Allah tanpa mau menilai dirinya dengan ukuran firman Tuhan. Tidak ada kasih kepada Allah dalam sikap-sikap itu, dan tidak ada berkat.

Konteks pembacaan kita adalah ketidakmampuan Israel sebagai bangsa untuk sungguh mengasihi Allah, tetapi Injil memberi solusinya. Bagaimana? Oleh Roh Kudus, kasih Allah dalam Kristus telah dicurahkan ke dalam hati kita sehingga kita mulai mengasihi Allah karena anugerah-Nya, bukan karena ada sesuatu yang diharapkan (Rom 5:5–8). Kemudian, dengan hidup oleh Roh Kudus, kita menggenapi hukum Taurat karena hidup dalam kasih (Gal 5:14, 22–23), dan menikmati buah Roh Kudus (Gal 5:22–23). Memang, tidak semua orang menganggap bahwa hidup yang diwarnai oleh kasih, sukacita, damai sejahtera, dan buah Roh lainnya adalah hidup yang keberkatan. Tetapi justru dengan demikian kita menjadi serupa dengan Kristus, dan mulai menikmati kehidupan surgawi di tengah kesusahan dunia ini.

Pos ini dipublikasikan di Ulangan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s