Im 19:1-2, 8-18 Mempraktikkan kekudusan Allah [23 Feb 2014]

Penafsiran bukan soal mengulang begitu saja apa yang difirmankan, walaupun selalu harus berakar dalam teks. Penafsiran juga bukan soal menemukan kata kunci yang ditafsir secara lepas dalam konteks baru, walaupun harus menyambung dengan konteks kita. Penafsiran akan meminjam dari konteks perikop dalam kitab dan teologi Alkitab, dan juga dari pengalaman masa kini, untuk memahami apa yang mau disampaikan Allah kepada kita sekarang. Makanya, penafsiran di bawah berbicara tentang kitab Imamat, dan juga memaknai ulang bagian-bagian di dalam perikop.

Penggalian Teks

Sebagian besar Kitab Imamat disampaikan sebagai serangkaian firman Tuhan kepada Musa untuk diteruskan kepada Israel, seperti dalam aa.1–2a dalam perikop kita. Kemudian, ada tuntutan untuk kudus (2b), sama seperti Im 11:44–45 dan Im 20:26, dengan kekudusan umat Israel secara tersurat dihubungkan dengan kekudusan Allah. Kekudusan sudah diajarkan kepada Israel dalam kitab Keluaran dengan dua cara. Yang pertama, pada gunung Sinai ada tiga tingkat kekudusan. Allah berada di puncaknya, dan hanya Musa bisa naik ke sana, tetapi ada kelompok (termasuk ketujuhpuluh tua-tua) yang boleh naik ke tempat yang masih di atas kaki gunung, sedangkan umat biasa hanya boleh berada di kaki gunung (Kel 24:1–2). Kemudian, karena gunung Sinai hanya ada di satu tempat, kekudusannya dipindahkan ke Kemah Suci yang dapat bergerak bersama dengan Israel. Kemah Suci juga dibagi tiga: pelataran untuk umat biasa, tempat kudus untuk para imam, dan tempat yang mahakudus untuk imam besar. Ketiga tingkat juga dilihat dalam soal kenajisan: manusia, binatang dan makanan bisa najis, tahir dan kudus. Yang najis merupakan noda yang tidak boleh bersentuhan dengan yang kudus. Makanya, barang yang najis tidak boleh masuk ke dalam Kemah Suci, dan orang yang najis bisa disuruh keluar dari perkemahan supaya tidak menajiskan orang lain (misalnya, orang kusta dalam Im 13:46).

Sistem ini tidak hanya mengajarkan Israel tentang kekudusan Allah, tetapi juga tentang kekudusan umat Allah yang berkaitan dengan kekudusan Allah dalam ketiga tingkat itu. Israel hanya dapat berkemah di sekitar Kemah Suci karena Israel telah dipilih Allah dan dikuduskan-Nya, tetapi kekudusan itu harus dipelihara. Jadi, sistem kekudusan ini membangun dan menerapkan suatu identitas sebagai bangsa yang kudus. Identitas itu berakar dalam Tuhan, makanya, refrain “Akulah Tuhan, Allahmu” atau yang sejenisnya terdengar delapan kali.

Aa.3–8 berbicara tentang kekudusan di hadapan Tuhan. Ibu dan ayah adalah cara Allah menciptakan anak-anak, yang merujuk pada hari keenam penciptaan, sementara hari Sabat merayakan penyelesaian penciptaan itu pada hari ketujuh. Menyegani (terjemahan halus untuk “takut”; bdk. Kel 14:31 tentang Allah) orangtua dan memelihara Sabat adalah dua kebiasaan yang membangun identitas Israel sebagai bangsa yang kudus. Sebaliknya, tentu, pemberhalaan merusak identitas itu (4). Aa.5–8 menegaskan pentingya memakan kurban keselamatan di dalam dua hari. Kurban keselamatan adalah satu-satunya kurban yang dimakan oleh keluarga yang mempersembahkannya, yang lain dimakan oleh imam atau dibakar habis (bdk. Imamat 6–7). Mungkin peraturan ini bermaksud untuk mengurangi kemungkinan bahwa nilai syukur kepada Tuhan (7:12) dibelokkan oleh nafsu untuk makan daging terus.

Dengan demikian, aa.9–18 juga dapat dilihat sebagai kebiasaan-kebiasaan yang akan menerapkan kekudusan Tuhan dengan sesama, dalam lima kelompok dua ayat yang masing-masing berakhir dengan “Akulah Tuhan”. Karena Allah peduli terhadap orang miskin (seperti Israel di Mesir), maka kebiasaan dalam aa.9–10 menjadi cara untuk menerapkan sikap yang sama dalam konteks kehidupan Israel. A.11–12 menyangkut cara-cara halus untuk merugikan sesama yang sederajat atau di atas dengan penipuan, sementara Allah berbicara jujur kepada Israel untuk kebaikan mereka. Aa.13–14 menyangkut cara-cara untuk merugikan sesama yang lebih rendah kedudukannya, cara-cara yang lupa bahwa Allah ada di atas semuanya. Aa.15–16 menyangkut reputasi orang sebagai orang benar atau penjahat, yang semestinya ditentukan oleh proses pengadilan yang benar. Proses itu bisa dibelokkan oleh keberpihakan baik kepada orang lemah maupun kepada orang besar (15), dan fitnah serta teror merupakan cara mengadili tanpa proses (16). Dari ketidakadilan orang Mesir, Allah telah menyelamatkan mereka, sehingga Dia menuntut keadilan antara seorang terhadap yang lain. Akhirnya, keempat kelompok tadi disimpulkan dalam hukum kasih; masalah semestinya diselesaikan dengan keterusterangan, bukan dengan dendam. Balas dendam atau kebencian biasa menjadi pembenaran diri untuk kepelitan, penipuan, penindasan dan perusakan citra tadi. Allah yang telah mengasihi Israel menuntut kasih kepada sesama.

Maksud bagi Pembaca

Kepada umat yang karena anugerah belaka mendapat bagian dalam kekudusan Allah, Allah menyampaikan kebiasaan-kebiasaan hidup seperti apa yang akan mencerminkan dan meneguhkan kekudusan-Nya dalam diri kita.

Makna

Setelah menguraikan karya Kristus sebagai landasan identitas jemaat (1 Pet 1:1–9), Petrus mengangkat Im 19:2 ini sebagai seruan yang masih berlaku (1 Pet 1:13–16) bagi jemaat yang mewarisi janji-janji Allah (1 Pet 1:10–12). Kita disebut “orang-orang kudus” dalam PB, bukan karena keberhasilan kita, tetapi karena kita berada di dalam Kristus, yang adalah kekudusan kita (1 Kor 1:30). Berdasarkan ajaran Yesus tentang kemunafikan, PB banyak berbicara tentang motivasi dalam hidup, dan budaya modern begitu menekankan motivasi sehingga tindakan hampir-hampir menjadi pelengkap saja. Tetapi, Paulus menekankan tubuh sebagai tempat penyerahan diri kepada Allah (Rom 6:12–13; 12:1–2) dan tempat perjuangan rohani melawan dosa (Rom 6:6; 7:5, 23).

Makanya, saya tidak hanya menggali “prinsip etis” di atas (kepelitan, penipuan, dsb), tetapi saya juga coba menunjukkan bagaimana peraturan-peraturan ini mau menanamkan prinsip-prinsip etis itu melalui kebiasaan-kebiasaan, sehingga diketahui bukan hanya dalam pikiran tetapi juga dalam tubuh tempat orang bertindak dan berelasi dengan sesama. Jadi, bagi saya, tidak cukup menjelaskan bahwa “kepelitan” (jika istilah itu dianggap paling tepat untuk aa.9–10) dikecam, tetapi perlu juga mengusulkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat mempraktikkan kemurahan Kristus kepada kita, sehingga kemurahan hati dihayati dalam tubuh tempat orang bertindak dan berelasi dengan sesama, dan bukan hanya dipikirkan sebagai prinsip dalam pikiran. Terus, bagaimana integritas Kristus perlu dipraktikkan di dalam jemaat (11–12), serta penghargaan-Nya kepada yang lemah (13–14), pembenaran-Nya yang membuat kita semua setara sebagai orang-orang berdosa yang telah diampuni (15–16), dan kasih-Nya bahkan kepada musuh-musuh-Nya (17–18).

Kekudusan Allah yang kita simak di dalam diri Anak-Nya Yesus Kristus itu bukan hanya tuntutan, tetapi juga suatu visi hidup. Makin kita tertarik dengan Allah, makin kita akan bersyukur bahwa Roh Kudus bekerja di dalam kita sebagai individu maupun jemaat supaya kita bisa berbagian dalam kekudusan itu.

Pos ini dipublikasikan di Imamat dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s