Yoel 2:1-2,12-17 Bertobat karena anugerah [2 Mar 2014] (Minggu sengsara I – Hari Doa Sedunia Anak)

Dalam penggalian perikop ini, ternyata menjadi sangat berguna untuk menelusuri bahan yang dirujuk nabi Yoel, yaitu tentang Musa dan Allah setelah pembuatan anak lembu emas. Karena Allah itu tetap sama, maka pengalaman yang sebelumnya menjadi bekal umat-Nya untuk memahami Dia sekarang.

Penggalian Teks

Kitab Yoel menarik, karena tidak ada petunjuk tentang penarikhannya, dan bahkan ada yang menganggap bahwa hama belalang yang diceritakan di dalamnya sebenarnya adalah kiasan untuk tentara asing. Hal itu menarik karena penerapan dari perikop kita tidak bergantung pada informasi terperinci tentang konteks historis itu. Kitab Yoel dilestarikan sebagai kitab suci Israel dan gereja tanpa informasi historis yang jelas. Yang pokok ialah cara Israel menghadapi bencana besar yang mengancam kelanjutan hidup mereka.

Pasal 1 sudah memberi gambaran tentang bencana itu, disertai seruan dalam 1:13–14 untuk merendahkan diri dan berpuasa. Dalam 1:19, Yoel sendiri berdoa. 2:1–2 mengumumkan kedatangan bencana itu. Perhatikan bahwa kekudusan Sion tidak menjamin bahwa bencana tidak akan terjadi, sebaliknya, bencana itu adalah “hari Tuhan”, pekerjaan Tuhan sendiri (1, 11). A.2 mau menegaskan dahsyatnya hari itu, yang digambarkan kemudian dalam aa.3–11. Seperti kata penulis kitab Ibrani, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup” (Ibr 10:31).

Aa.12–17 menceritakan tanggapan yang diharapkan dari Israel. Intinya “berbalik”—Israel sedang menjauh dari Tuhan, dan harus berubah haluan untuk kembali kepada Tuhan. Kata “berbalik” diucapkan di awal a.12 dan di tengah a.13, sehingga di antaranya kita melihat isi atau cara berbalik itu. Ada penekanan pada hati yang merasa hancur: berbalik kepada Tuhan hanya dapat disertai oleh puasa dan tangisan (12b), dan semestinya yang koyak bukan pakaian melainkan hati (13a). Kesadaran tentang dosa semestinya di sini bukan membawa rasa malu di depan sesama melainkan rasa duka di depan Allah.

Rasa duka itu berasal dari kesadaran akan sifat dan karya Allah (13b). Yoel kurang lebih mengutip dari penyataan Allah di hadapan Musa dalam Kel 34:6. Pada saat itu, Israel telah membalas anugerah keselamatan Allah bagi mereka dengan membuat berhala anak lembu emas (Keluaran 32). Setelah Musa berdoa supaya Israel tidak dimusnahkan, Allah menyatakan diri kepadanya: “pengasih dan penyayang” merujuk pada perasaan Allah bagi manusia yang tidak berdaya; “panjang sabar” (lambat marah) memberi peluang waktu untuk bertobat; “berlimpah kasih setia” merujuk pada perjanjian Allah dengan Israel yang terhadapnya Allah setia sekalipun Israel tidak.

Sifat-sifat itu menunjukkan mengapa dosa itu semestinya mendukakan, dan juga menjadi landasan untuk yang terakhir, yaitu pernyataan bahwa Allah “menyesal [nikham] karena hukuman-Nya”. Maksudnya, “mengubah keputusan untuk menghukum”. Kata nikham itu dipakai dalam Kel 32:12, tempat Musa meyakinkan Allah untuk tidak memusnahkan Israel karena anak lembu emas itu. Alasan Allah untuk memusnahkan Israel jelas: mereka dengan cepat telah mengingkari perjanjian-Nya dan menunjukkan sifat yang sepertinya tidak ada harapan lagi (Kej 32:9–10). Tetapi Musa mengajukan dua alasan untuk Allah tidak melakukan hal itu. Yang pertama, dengan menyelamatkan Israel dari Mesir, nama Allah terikat dengan nasib Israel (Kel 32:11–12). Yang kedua, Israel menjadi penggenapan janji Allah kepada Abraham dsb. tentang keturunan dan negeri (Kej 32:13). Jadi, ketika Allah “menyesal” dalam Kel 32:14, bukannya Dia terbawa oleh perasaan, melainkan adanya Musa yang menangkap kepentingan Allah membuat kedua alasan itu menjadi lebih kuat daripada alasan untuk murka. Allah bertindak atas dasar janji kepada Abraham itu, yang sudah diteguhkan dalam penyelamatan Israel dari Mesir.

Dengan demikian, pertobatan dengan “segenap hati” bukan soal seseorang berhasil mengeluarkan dari hatinya semua keinginan untuk berdosa. “Segenap hati” merujuk pada penangkapan sifat dan rencana Allah. Sejauh Israel menangkap bahwa Allah melibatkan mereka dalam rencana-Nya, dengan sudah menyelamatkan mereka demi kemuliaan nama-Nya, mereka akan berduka atas dosanya dan akan yakin akan penerimaan Allah ketika mereka berbalik kepada-Nya. Hal itu dapat kita lihat dalam a.14, bahwa jika Israel berbalik, Tuhan juga dapat berbalik dan memberkati supaya ibadah yang memuliakan nama-Nya dapat diberlakukan kembali. Allah akan bertindak karena kepentingan-Nya diakui oleh Israel, seperti yang pernah dilakukan oleh Musa. Makanya, kembali ada pengumuman, tetapi kali ini untuk puasa dalam perkumpulan raya (15), yang melibatkan seluruh rakyat, bahkan pengantin (16), di mana bangsa Israel akan mengajukan doa yang mirip dengan doa Musa, yaitu bahwa nama Tuhan sudah terikat dengan Israel sebagai milik-Nya (17). Doa mereka akan pemulihan menjadi doa supaya nama Allah dimuliakan dalam kehidupan mereka.

Mulai 2:18, Yoel menceritakan tanggapan Allah, yang ternyata mendengarkan seruan umat-Nya dan menjanjikan berkat kembali. Pemulihan itu meluas menjadi janji akan pencurahan Roh (2:28–32) dan peperangan terakhir antara Allah dengan musuh-musuh-Nya (p.3).

Maksud bagi Pembaca

Atas dasar sifat Allah yang sudah terbukti dalam keselamatan umat-Nya, Allah menyuruh umat-Nya untuk berbalik kepada-Nya dengan kerendahan hati supaya pemulihan dapat mengalir kembali.

Makna

Tidak biasa saya mengomentari bahan Membangun Jemaat, tetapi minggu ini kita bisa melihat sesuatu yang bagi saya sangat penting untuk kesehatan gereja. Pokok bahasan sangat tepat, “Supaya jemaat memahami bahwa pendamaian dalam Yesus Kristus menjadi dasar pertobatan yang memuliakan Allah bukan untuk memuliakan diri”. Sebaliknya, pembimbing ke dalam perikop membahas pertobatan dari segi manusia dengan baik dan lengkap, tetapi sama sekali tidak merujuk pada karya Allah. Dengan demikian, pertobatan menjadi usaha manusia belaka.

Maksud saya begini. Dikatakan bahwa kita semestinya mengintrospeksi diri, seakan-akan kita sanggup untuk mengenali dosa dalam diri sendiri. Tentu, ada yang dapat dikenali, tetapi ukuran kita pasti dangkal—kurang lebih, sikap tertentu diukur hanya oleh akibatnya dalam berelasi. Hanya dengan memandang salib maka saya mulai menangkap betapa buruknya dosa—karena hanya dengan cara salib itu ternyata dosa dapat dipulihkan.

Kemudian, dikatakan bahwa pertobatan harus dilakukan dengan tulus, yang diartikan sebagai niat untuk tidak mengulang dosa itu. Seakan-akan, saya sekarang dapat mengetahui, bahkan mengendalikan, hati saya besok atau lusa. Makanya, banyak orang tidak merasa “berhasil” dalam pertobatan, karena mereka tahu bahwa unsur dosa itu tetap ada dalam hatinya, dan kemungkinan besar akan menggigit kembali. Berdasarkan penggalian teks tadi, saya mengusulkan bahwa ketulusan merujuk pada keyakinan akan janji dan karya Allah, bukan keyakinan bahwa saya telah membereskan hati saya. Yang menurunkan daya tarik dosa bukan niat saya yang dipura-purakan, melainkan makin mengenal Allah sehingga makin berduka atas dosa. Yang tadinya dianggap asyik, sekarang makin terasa jijik.

Kemudian, bahan itu merujuk pada manusia lama dan baru, seakan-akan hal itu adalah usaha kita. Dasar dari Ef 4:24 itu Ef 2:10, bahwa kita diciptakan kembali karena mati dan bangkit bersama dengan Kristus. (Bdk. Kol 3:9–10 dalam konteks Kol 2:9–12.) Manusia baru adalah karya Kristus yang di dalamnya kita ikut serta, bukan hasil usaha sendiri. (Manusia baru juga merujuk pada kita sebagai tubuh Kristus, Ef 4:1–15.)

Sebagai contoh, satu tantangan yang cukup digemari di Eropa adalah berenang dari Perancis ke Inggris. Tidak mungkin orang akan melakukannya seorang diri. Perenang itu berenang di dalam kurungan besi yang melindunginya dari hiu. Kurungan besi itu ditarik oleh kapal kecil, di mana ada bekal makanan dan minuman, dokter dsb, artinya, apa saja yang dibutuhkan untuk menopang perjuangan itu dan menyelamatkan orangnya jika ada masalah. Bila dia berhasil, dia memang telah berhasil, dengan otot-ototnya sendiri, menyelesaikan tantangan yang berat itu. Tetapi, pada saat yang sama, dia bergantung sepenuhnya pada iringan pertolongan itu. Pertobatan memang usaha kita, tetapi kita melakukannya sepenuhnya karena sudah diselamatkan dalam Kristus, dan dikuatkan oleh Roh Kudus melalui firman dan persekutuan, dan karena ada harapan yang teguh.

Mungkin orang menganggap bahwa bertobat itu seperti perjalanan yang panjangnya beberapa kilometer saja: jika mulai capek, dorongan “semangat, semangat, semangat” akan cukup. Yoel dan PB melihat soal pertobatan jauh lebih berat, lebih seperti berenang tadi, di mana kita perlu memandang Allah terus, supaya ada kekuatan dari Dia.

Pos ini dipublikasikan di Yoel dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Yoel 2:1-2,12-17 Bertobat karena anugerah [2 Mar 2014] (Minggu sengsara I – Hari Doa Sedunia Anak)

  1. Stepanus Bungaran berkata:

    Ketika mempersiapkan bahan ini sy membaca beberapa referensi tambahan. Ada satu yg menarik. Ulasan Pdt. Eka ttg pertobatan. Penekanannya mirip dengan catatan Pak Andrew terhadap uraian di MJ. Dst Pak Eka mengomentari kecenderungan psikologi yg memahami perubahan sebagai gerak dari bawah (mis. Frued yg meyakini bahwa kesadaran manusia dikendalikan oleh bawah sadar). Beliau yakin, perubahan dari bawah (dari diri manusia) tidak akan pernah sampai pada metanoia seperti yg ditekankan PL dan PB krn bagaimanpun alam bawah sadar manusia ttp dlm bias dosa. Karena itu pertobatan harus “muncul dari atas” atau (mungkin) seperti yg Pak Andrew bahasakan sebagai anugerah. Sy menemukan bahwa point inilah yg mau ditekankan dalam pembacaan kedua (2 Kor.5:16-21). Tlg dikoreksi kl saya keliru.:)

    Pak..bolehkah memberi saran. Mungkin akan menyusahkan tp sangat penting. Yg saya ketahui, bacaan dalam leksionari seharusnya berhubungan. Karena itu ketiganya, harus diramu menjadi satu khotbah yg kristosentris. BOLEHKAH, edisi berikut ketiga bacaan itu dimunculkan di tomentiruran, hehehe…salama’

  2. abuchanan berkata:

    Terima kasih komentarnya. Analisis Pdt Eka menarik dari beberapa segi, dan sepertinya cocok dengan analisis saya.

    Soal bacaan, ya, usul yang bagus. Kalau dikatakan khotbah *harus* meramu ketiga bacaan, hal itu terlalu tinggi bagi saya, cukup mengulas satu perikop dengan baik. Tetapi, sejauh mana bacaan yang lain terkait dengan perikop utama, bacaan itu bisa menjadi penekanan atau pelengkap. Akan saya usahakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s