Mt 4:1-12 Melawan pencobaan dalam Sang Pemenang [9 Mar 2014]

Perikop ini kadang kala dibaca untuk menggali tips-tips tentang menghadapi pencobaan, seakan-akan dengan mengutip ayat Alkitab manusia sanggup melawan Iblis. Seperti biasa, saya akan menggali makna teologis sedalam mungkin, karena pemahaman saya bahwa landasan untuk pertobatan, pembaruan dan ketaatan ialah Injil tentang karya Allah, bukan injil palsu bahwa Tuhan akan membantu kita jika kita mencoba berbuat lebih baik.

Penggalian Teks

Di balik cerita ini ada kisah Israel di padang gurun, dan juga kisah pelantikan raja Daud. Kita baru diingatkan tentang Daud dalam ucapan Allah kepada Yesus pada ayat sebelumnya (3:17), bahwa Yesus adalah “Anak-Ku”. Ucapan itu merujuk pada Mzm 2:7 yang dipakai untuk pelantikan raja di Israel. Jadi, “Anak Allah” dalam perikop ini merujuk pada Yesus sebagai Mesias (Kristus), raja seperti Daud yang dinantikan. Menarik bahwa Daud juga diurapi oleh Roh Allah (1 Sam 16), jauh sebelum dia dilantik di depan umum sebagai raja (2 Sam 2 & 5). Setelah diurapi oleh Roh Allah, Daud membuktikan pengurapan itu dengan mengalahkan Goliat (sama seperti para hakim dan Saul mengalahkan musuh-musuh Israel). Jadi, Yesus juga dibawa oleh Roh untuk mengalahkan musuh Israel—bukan lagi dalam bentuk manusia, tetapi langsung dengan si Iblis, musuh umat Allah yang sejati. Cerita ini tidak sekadar tips-tips untuk mengatasi pencobaan, tetapi kisah tahap awal kemenangan Kristus atas Iblis.

Ayat 4:1 juga mengingatkan kita (baca: pendengar Injil yang mengenal PL dengan sangat baik) akan Ul 8:2, di mana Musa menjelaskan bahwa Israel dibawa masuk padang gurun untuk “merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu”. Israel pun disebut “anak Allah” dalam Hosea 11:1, yang telah dikutip dalam Mt 2:15. Yesus adalah Israel, anak Allah. Kita melihat di sini fungsi ganda pencobaan: Allah mencobai Israel/Yesus untuk mengetahui hatinya, sedangkan Iblis mencobai Yesus untuk menjatuhkan. Yesus berpuasa selama 40 hari, sampai Dia lapar dan lemah, sama seperti Israel di padang gurun. Dia dicobai sama seperti kita, di tengah kelemahan yang sangat, bukan pada saat Dia kuat. (Musa juga berpuasa selama 40 hari, bahkan tanpa minum, tetapi bersama dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Musa masuk surga sebentar sehingga tidak membutuhkan makanan dan minuman; Yesus ada di bumi, dan tetap membutuhkan makanan dan minuman, sehingga lapar karena tidak makan—tetapi pasti Dia minum.)

Pencobaan pertama (3–4) menyangkut memenuhi kebutuhannya untuk makan secara ajaib. Yesus menjawab dari ayat berikutnya dalam Ulangan 8, yaitu Ul 8:3. Israel dijadikan lapar supaya belajar rendah hati, karena bahkan apa yang mereka makan berasal dari firman Allah yang memelihara segala sesuatu, sehingga semestinya firman-Nya yang mengatur kehidupan mereka itu juga mereka percayai dan taati. Israel dipaksa mengakui bahwa mereka tidak mandiri dalam bertahan hidup, sehingga semestinya mengakui bahwa mereka juga tidak mandiri dalam mengatur kehidupan yang baik. Yesus yang sudah rendah hati tidak mau mengambil jalan pintas dengan mukjizat, tetapi menunggu waktu Allah untuk memberi-Nya kebutuhan-Nya, sebagaimana terjadi dalam a.11.

Dalam pencobaan kedua (5–7), Iblis memberi kesempatan bagi Yesus untuk menguji kebenaran firman Allah dalam Mzm 91:11–12. Sebenarnya, Iblis menghilangkan satu baris dalam kedua ayat itu, bahwa tujuan perlindungan malaikat adalah “untuk menjaga engkau di segala jalanmu”, artinya, dalam urusan sehari-hari. Melompat dari atas gedung yang tinggi bukan urusan biasa. Yesus menjawab dari Ul 6:16 yang merujuk pada peristiwa di Masa yang diceritakan dalam Kel 17:1–7, tempat mereka kekurangan air. Mereka meminta air, tetapi dengan sikap curiga bahwa Tuhan mau membunuh mereka di padang gurun. Kesimpulannya dalam Kel 17:7 menjelaskan bahwa “mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: ‘Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?’”. Permintaan mereka berasal dari keraguan akan maksud Allah terhadap mereka, bukan dari iman. Yesus tidak meragukan bahwa Tuhan menyertai Dia, dan akan menjaga Dia di segala jalan-Nya. Tetapi Yesus juga tahu bahwa Dia dipanggil sebagai Hamba Tuhan, karena ucapan Allah dalam 3:17 juga merujuk pada Yes 42:1. Tujuan-Nya bukan untuk menghindar dari segala penderitaan, melainkan untuk menuju salib. (Apakah ejekan para penonton supaya Dia turun dari salib merupakan kelanjutan dari pencobaan ini?)

Pencobaan ketiga (8–10) kembali ke tugas Yesus sebagai Mesias. Janji Allah kepada Mesias dalam Mzm 2:8 menyangkut segala bangsa, sama seperti Daud mengalahkan banyak bangsa di sekitarnya. Iblis menawarkan sesuatu yang merupakan hak Yesus dan misi Yesus sebagai Mesias. Yesus menjawab dari Ul 6:13, beberapa ayat sebelum kutipan tadi. Jika Ul 6:16 menyangkut sikap ragu kepada Tuhan dalam kesusahan, konteks Ul 6:13 adalah melupakan Tuhan karena sukses (Ul 6:10–12). Israel akan tergoda untuk menyembah ilah lain dalam kemakmuran di tanah perjanjian, dan pas itulah yang ditawarkan Iblis. Yesus menempatkan Allah di atas sukses, sekalipun sukses yang baik dan sah.

Akhirnya Iblis pun pergi, sebagaimana diperintahkan oleh Yesus, dan Yesus yang telah menang atas Iblis disegarkan oleh malaikat-malaikat. Tetapi, Iblis tidak selesai. Dalam a.12, dunia yang menentang Allah muncul kembali, dan Yesus harus memulai perjalanan panjang sampai Dia diakui sebagai Raja Israel dan Anak Allah, sama seperti Daud. Jika Daud akhirnya dilantik sebagai raja di depan umum dengan acara yang meriah, Yesus dilantik sebagai raja di atas salib, dengan tulisan di atas kepala-Nya yang mengumumkan bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi (istilah “raja” atau “Anak Allah” bermunculan dalam Matius 27). Iblis muncul kembali dalam usul Petrus untuk menghindar dari salib (16:22–23). Tetapi justru melalui salib, Yesus akan menuntaskan kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut.

Maksud bagi Pembaca

Karena Yesus Sang Mesias telah mengalahkan Iblis, kita melawan pencobaan dalam pengharapan. Dosa bukan masa depan dunia, dosa bukan keniscayaan. Dari Yesus, Israel yang sejati, kita belajar bagaimana mengalahkan Iblis. Yesus memiliki pemahaman tentang Allah dan rencana-Nya yang kukuh. Dia tahu bahwa Dia harus menempuh jalan salib, dan Dia tahu bahwa apapun yang terjadi dalam perjalanan itu, Tuhan menyertai Dia.

Makna

Di balik kegagalan Israel di padang gurun adalah kisah Adam dan Hawa di taman Eden, sehingga Paulus menempatkan Yesus bukan hanya sebagai Mesias dan Israel yang sejati, melainkan juga sebagai Adam yang kedua (Rom 5:12–19). Uraian Paulus menunjukkan bahwa dosa itu sesuatu yang begitu dahsyat, sehingga hanya karya yang agung di dalam Kristus yang dapat mengembalikannya. Oleh karena itu, saya mau menyoroti identitas Yesus yang lebih dari Mesias yang berjaya itu.

Iblis mempertanyakan status Yesus sebagai Anak Allah seakan-akan hal itu sekadar soal kuasa dan bukti. Tetapi, tugas Yesus juga mencakup menjadi umat Allah yang taat, dan menjadi hamba Tuhan yang setia sampai salib. Dengan identitas dan misi yang jelas itu, kuasa-Nya diperlihatkan dengan kemampuan-Nya untuk mengalahkan pencobaan, bukan kemampuan-Nya untuk melakukan mukjizat.

Pendekatan yang mencari “tips” untuk mengalahkan pencobaan sudah mengerdilkan dosa menjadi semacam kecolongan saja. Seakan-akan kita kurang lebih sanggup untuk mengalahkan dosa dengan kuasa sendiri, dan hanya butuh “tips” dari Sang Guru untuk menolong kita. Tetapi dalam hal inipun, Yesus adalah Juruselamat. Sudah ada satu Manusia yang setia sampai kesudahannya, dan kita diberi Roh-Nya supaya kita ikut dalam jejak-Nya, dengan pengampunan dalam darah-Nya ketika kita jatuh.

Namun, jika kita memahami Yesus sekadar sebagai Mesias yang berkuasa (mampu memulihkan penyakit dan menaikkan pangkat), kita tidak akan menemukan kuasa untuk mengalahkan pencobaan. Masalah pertama ialah bahwa sebagian besar pencobaan tidak akan dikenali sebagai pencobaan. Kalau ditawarkan “tempat basah”, kita akan menganggap itu berkat Tuhan; kalau merasa nyaman atau asyik, hal itu sudah menjadi bukti bahwa Tuhan berkenan; apa yang dikejar orang banyak—vox populi—akan kita anggap sebagai vox Dei—suara Tuhan sendiri. Karena kita tidak mengerti artian ketaatan sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus, dan tidak menangkap misi-Nya, kita memiliki konsep dosa dan kebenaran yang kerdil.

Masalah kedua ialah bahwa Yesus yang berjaya atas pencobaan tidak dapat dipisahkan dari Yesus yang rendah hati, percaya kepada perlindungan Tuhan, dan ngotot menyembah Allah saja. Ada yang “bertobat” dalam artian menyesal terhadap tindakan atau sikap tertentu, tetapi tidak mau mengubah arah hidup supaya sesuai dengan Yesus yang memikul salib. Roh Kristus membantu kita untuk berbalik kepada Tuhan, bukan sekadar mengatasi kelemahan karakter yang mengganggu.

Pos ini dipublikasikan di Matius dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s