Rom 4:1-5 “Iman yang menentukan” [16 Mar 2014] (Minggu sengsara III)

Materi ini dicontek dari Membangun Jemaat, karena saya penulisnya. Perikop kita digabungkan dengan Kej 12:1–4 yang merupakan awal dari kisah Abraham, dan Yoh 3:1–17 yang merupakan padanan Roma 3–5 dalam beberapa hal: keselamatan oleh iman yang membawa ke hidup yang sejati. Yoh 3:3, 5 layak disimak: manusia tidak mampu dengan kuasa sendiri untuk memahami Injil.

Pembenaran oleh iman menjadi salah satu penggerak Reformasi. Mengapa? Karena para reformator yakin bahwa anugerah Allah lebih ampuh membuat manusia baik ketimbang teologi anugerah bercampur amal yang menjadi teologi operasional di Gereja pada zaman itu. Saya mau mengusulkan bahwa keyakinan itu dekat dengan inti identitas reformatoris-Calvinis.

Penggalian Teks

Ketika menulis surat ini kepada jemaat-jemaat di Roma, Paulus belum pernah ke sana, tetapi dia memiliki rencana untuk mengunjungi mereka, dengan harapan bahwa mereka bisa mendukung dia untuk bermisi ke Spanyol (15:28). Oleh karena itu, dia menjelaskan Injil yang dia beritakan. Injil itu mengumumkan tahap terakhir yang menentukan dalam kisah Allah dengan manusia. Manusia telah membelakangi Sang Khalik dan memilih menyembah dewa-dewa buatan sendiri serta menuruti keinginan-keinginan yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama (1:18–31). Oleh karena itu, pada pengadilan segenap umat manusia di akhir zaman, manusia berdosa akan dinyatakan “bersalah” oleh Sang Hakim dan dihukum (2:1–16). Allah kemudian memanggil Israel untuk menjadi percontohan bagi dunia, dan memberikan hukum Taurat supaya mereka tahu akan jalan yang benar (3:2), tetapi mereka pun gagal menaati Allah (2:24), sehingga segenap umat manusia menderita di bawah kuasa dosa (3:9b). Selaku Pencipta dunia yang baik, Allah harus menindak para perusak dunia itu. Tetapi, Dia juga Allah yang mau memberi kesempatan bagi manusia untuk diselamatkan (1:16).

Hikmat manusia tidak akan sampai pada sebuah jalan keluar, tetapi syukurlah bahwa Allah itu penuh hikmat dan kasih. Solusi Allah terhadap kondisi manusia yang mencemaskan itu disampaikan dalam 3:21–26. Allah mengutus Kristus untuk menjadi jalan pendamaian. Sebagai Hakim yang adil, Dia telah menghukum dosa di dalam Kristus sebagai pengganti kita pada salib, supaya kita dapat dibenarkan—dinyatakan “tidak bersalah” di dalam pengadilan pada akhir zaman oleh Sang Hakim—jika kita percaya kepada-Nya. Injil mengumumkan karya Allah yang penuh hikmat dan kasih itu, dan memanggil kita untuk menerima kasih karunia Allah itu dengan iman.

Tetapi, bagaimana kasih karunia dan iman itu? Sebagai orang Yahudi, rasul Paulus sendiri mengetahui bagaimana suatu niat untuk taat kepada hukum Allah bisa menjadi semacam kesombongan diri yang meremehkan orang-orang yang dianggap “tidak suci”, dan membatasi Allah pada golongan kita saja (3:27–31). Dalam perikop kita, dia kembali ke asal usul umat Allah, yaitu Abraham, untuk menelusuri bagaimana sikap yang sebenarnya terhadap kasih karunia Allah (4:1). Andaikan Abraham dibenarkan oleh perbuatannya, dia memiliki alasan untuk bermegah. Tetapi ternyata tidak demikian adanya (4:2).

Untuk memahami bagaimana Abraham dibenarkan, Paulus merujuk pada Kejadian 15:6. Panggilan Abraham disertai dengan janji Allah mengenai berkat bagi semua bangsa dunia dalam Kejadian 12:1–3 (bdk. Rom 4:13). Tetapi, pada awal Kejadian 15, Abraham mengeluh bahwa isterinya masih mandul, dan Tuhan berjanji bahwa keturunan Abraham, yakni pewaris janji berkat itu, akan menjadi sebanyak bintang-bintang di langit (Kej. 15:5). Abraham percaya kepada janji Tuhan itu, dan kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran, sebagai status “tidak bersalah”. Iman, bukan perbuatan, menjadi pertanda bahwa Abraham diterima sepenuhnya oleh Allah. Tentu, dasar untuk penerimaan atau pembenaran itu darah Kristus tadi (3:25a; jalan pendamaian itu berlaku surut, lihat 3:25b).

Paulus menegaskan maksudnya dalam aa.4–5. Andaikan kita diterima oleh karena perbuatan kita, maka kebenaran—status “tidak bersalah” dan diterima sepenuhnya di hadapan Allah—menjadi hak kita. Tetapi yang benar ialah bahwa kita adalah orang-orang durhaka, orang-orang yang tidak tahu diri di hadapan Allah. Orang-orang durhaka termasuk orang-orang yang jelas berbuat jahat, tetapi juga termasuk orang-orang yang berani menganggap bahwa semestinya Allah itu puas dengan ibadah yang terburu-buru dan doa-doa darurat saja. Sebagai manusia berdosa, kita tidak sanggup berbuat apa-apa yang membuat kita layak diterima oleh Allah.

Jadi, sama seperti Abraham, kita diterima karena kita percaya akan janji Allah, yaitu, janji bahwa darah Kristuslah yang menjadi jalan pendamaian. Tersirat dalam iman ini ada beberapa hal.

1) Kita mengakui bahwa dosa itu begitu buruk, sehingga Kristus harus disalibkan untuk melepaskan kita dari kuasanya. Seseorang yang dengan santainya mau berkancang dalam dosa belum beriman, dan tetap menuju hukuman kekal (2:4–5).

2) Kita mengakui bahwa kita tidak sanggup melepaskan diri dari kuasa dosa, sehingga kita hanya dapat mengandalkan darah Kristus saja. Dengan demikian, bermegah dalam kesalehan pribadi dan meremehkan sesama yang kelihatan lebih kacau adalah kesombongan yang konyol dan berbahaya.

3) Kita mensyukuri kasih karunia Allah yang sungguh-sungguh diberikan dengan cuma-cuma. Sama seperti tanah yang mau dihibahkan tinggal diterima, tidak ada biaya tambahan kalau namanya hibah, penebusan oleh Kristus tinggal diterima dengan syukur. Hidup kita tentu akan berubah, karena kita menyadari keburukan dosa dan mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk berubah, tetapi perubahan hidup itu adalah hasil dari penerimaan Allah, bukan dasar.

Maksud bagi Pembaca

1. Darah Kristus adalah jalan pendamaian yang kita imani.

Penjelasan: Penguraian tentang kisah Allah dan manusia yang telah disampaikan di atas adalah untuk menunjukkan bahwa hanya dalam darah Kristus saja, kita dapat diterima sepenuhnya oleh Allah.

Penerapan: Jeleknya dosa ditegaskan, yang mengakibatkan jalan pendamaian yang begitu ekstrem, yaitu Anak Allah harus menderita pada salib (bdk. aplikasi pertama di bawah).

2. Bahkan tokoh PL seagung Abraham hanya dibenarkan oleh iman, bukan oleh perbuatannya (aa.1–3).

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.1–3.

Penerapan: iman yang sejati akan bermegah dalam Kristus, bukan dalam diri sendiri (bdk. aplikasi kedua di bawah).

3. Imanlah yang menentukan, karena hanya iman yang dapat menerima kasih karunia Allah (aa.4–5)

Penjelasan: Penguraian di atas tentang aa.4–5.

Penerapan: Mensyukuri kasih karunia itu (bdk. aplikasi ketiga di bawah).

Makna

Jika bukan iman yang sejati yang menentukan, ada dua bahaya. Yang pertama ialah bahwa keinginan buruk yang menentukan. Gereja menjadi kedok untuk keserakahan, gengsi, predator, dsb. Kelompok ini mungkin percaya dengan akal mereka akan pengampunan Allah, tetapi tidak memahami dalam hati bahwa dosa itu buruk.

Yang kedua ialah bahwa citra kesalehan yang menentukan. Gereja ini kelihatan beres, tetapi sebenarnya ada kesombongan rohani, sebagaimana dilihat dalam sikap remeh dan takut terhadap orang-orang kacau di luar benteng gereja; domba-domba yang hilang itu sama sekali tidak akan dicari. Kelompok ini sadar bahwa mereka tidak sempurna, tetapi menganggap bahwa usaha mereka adalah cukup untuk Allah membedakan mereka dari orang-orang lain. Kelompok ini suka mengeluhkan penyakit-penyakit sosial yang di dalamnya mereka tidak terlibat, dan menggosipkan kejatuhan orang-orang lain, sebagai bukti akan kebenaran mereka.

Sebaliknya, iman yang sejati akan dilihat dalam suasana jemaat yang semakin rendah hati dan penuh syukur oleh karena kasih karunia Allah. Dosa dalam diri sesama akan menimbulkan keprihatinan dan usaha pemulihan, bukan gosip yang menjatuhkan. Karya Allah di tengah kelemahan akan lebih disoroti daripada kelemahan itu sendiri, dengan kesadaran bahwa kita semua hanya berdiri oleh karena Kristus.

Pos ini dipublikasikan di Roma dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Rom 4:1-5 “Iman yang menentukan” [16 Mar 2014] (Minggu sengsara III)

  1. Marten Napa berkata:

    :) :)
    Iman yg menentukan,,
    okey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s