Kel 17:1-7 Adakah Tuhan di tengah-tengah kita? [23 Mar 2014] (Minggu sengsara IV)

Dalam bagian Maksud bagi Pembaca, saya menggunakan cara penerapan yang paling sederhana untuk sebuah narasi, yaitu, beranjak dari setiap tokoh di dalamnya. Jadi, ada penerapan untuk jemaat (Israel), untuk pelayan (Musa), tetapi juga Allah tidak luput dari perhatian. Pembacaan pembanding yang disebutkan dalam bagian Makna juga membawa penambahan makna, karena menunjukkan bagaimana Allah tidak berdiam diri berhadapan dengan kekerasan hati manusia, sebagaimana dilihat dalam Israel, tetapi telah bertindak dalam Kristus.

Penggalian Teks

Karya Allah yang agung yang menyelamatkan Israel dari orang Mesir diceritakan dalam p.15, dan dalam p.19 Israel akhirnya sampai di gunung Sinai, tempat pemberian hukum Taurat, pengadaan perjanjian, dan pembuatan Kemah Suci (Keluaran 19 sampai Bilangan 10). Perikop kita adalah yang ketiga setelah penyelamatan Israel dari tiga peristiwa yang mulai memunculkan sifat kurang percaya dari Israel. Ada air yang pahit yang dipulihkan (15:23–35), ada kekurangan makanan yang dijawab dengan manna dan burung puyuh, dan kembali dalam perikop ini ada soal air.

17:1 menunjukkan bahwa memang ada masalah riil (kurang air), tetapi hal itu menjadi masalah lebih dalam lagi, karena Israel menuntut Musa untuk menyelesaikan masalah (2–3). Andaikan sikap mereka sehat, mereka akan bersatu dengan Musa untuk memohon pertolongan Tuhan. Tetapi, mereka mengabaikan Tuhan dan menuntut Musa bertanggung jawab atas kondisi mereka. Tuntutan itu merupakan pertengkaran menurut Musa (dan narator), karena jelas Musa tidak berdaya untuk mendapatkan air. Musa juga menuduh mereka mencobai Tuhan—ternyata ada sesuatu di balik hal mereka menuntut Musa bukan Tuhan (2). Mereka meyerang balik bahwa Musa yang memimpin mereka keluar dari Mesir, dan memfitnah tujuan Musa dalam hal itu (3).

Diserang oleh umatnya, Musa membawa masalah itu kepada Tuhan—masalah umat, bukan masalah air (4)! Tuhan menyelesaikan masalah umat untuk sementara dengan menyelesaikan masalah air (5–6). Caranya (5b) mau mengingatkan tua-tua Israel tentang karya Tuhan pada tulah pertama (7:20). Baru pada a.7, masalah umat yang paling dalam terungkap: mereka meragukan penyertaan Tuhan. Jika dalam a.2 mereka bertengkar dengan Musa, dan hal itu dilihat sebagai mencobai Tuhan, dalam a.7 Musa menempatkan mencobai Tuhan (artian nama “Massa”) sebelum soal bertengkar (artian nama “Meribah”). Mereka bertengkar dengan pemimpin yang ditunjuk Tuhan karena meragukan penyertaan Tuhan. Cara Musa dengan tongkatnya membongkar sikap Israel ini: sejak tulah pertama itu sampai pemberian manna dan buruh puyuh, Tuhan sebenarnya menyertai mereka.

Maksud bagi Pembaca

Umat Allah diperingatkan bahwa pertengkaran dengan pemimpin umat adalah gejala mencobai Tuhan karena tidak percaya pada penyertaan-Nya. Pemimpin umat Allah diajak untuk tetap berseru kepada Tuhan meskipun umat Allah tidak lagi, sekalipun ditekan oleh umat itu. Di balik peringatan dan ajakan itu ada anugerah Allah yang tidak membuang umat-Nya walaupun mereka kurang percaya.

Makna

Masalah jemaat dengan pimpinannya yang dikemukakan jarang merupakan masalah yang sebenarnya. Hal itu tidak berarti bahwa apa yang dibahas itu sepele: dalam kisah ini, Israel memang butuh air. Tetapi cari pembahasannya yang menjadi berbeda ketika suasana penuh kegelisahan. Ketika penyertaan Allah diragukan, jemaat akan gelisah, dan kegelisahan itu akan dilampiaskan kepada pimpinan, baik dengan tuntutan yang bukan-bukan (supaya Musa mengadakan air, a.2), maupun dengan tuduhan yang memfitnah (bahwa Musa bermaksud membunuh mereka di padang gurun, a.3). Jemaat perlu diingatkan tentang Tuhan yang menyertai mereka, seperti yang terjadi dengan cara yang ditunjukkan Tuhan kepada Musa.

Kita mungkin menganggap bodoh umat Allah yang baru saja melihat kuasa Tuhan tetapi tetap meragukan penyertaan-Nya. Dalam Mzm 95:9, Tuhan juga ternyata menjadi jemu dengan umat ini. Mzm 95:10–11 menunjukkan bahwa, meskipun Tuhan memberi kesempatan bagi umat-Nya, jika umat-Nya tidak mau berubah sikap, umat-Nya menarik diri dari rencana Tuhan. Rencana Tuhan tidak batal melainkan tetap berjalan pada generasi berikutnya, tetapi satu angkatan tewas di padang gurun karena sesat hati.

Dalam PB, kebutuhan akan air menjadi kiasan untuk kebutuhan akan air hidup yang diberikan Yesus dan memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yoh 4:14). Kehausan itu lebih sering diakui oleh orang kacau seperti perempuan Samaria itu daripada kelompok yang disebut orang Yahudi dalam Injil Yohanes yang menganggap diri beres. Tetapi, bagi orang yang meminum air hidup dari Yesus, Rom 5:1–11 menunjukkan bagaimana ujian seperti yang dialami Israel justru membawa berkat. Kasih Allah yang dibuktikan dalam kematian Kristus menjamin bahwa bahkan kesengsaraan tidak akan menghambat kita dari hidup yang kekal, sehingga kita bermegah dalam Allah di tengahnya. (Saya tidak yakin bahwa alasan yang biasa disebut untuk mengetahui kasih Allah seperti “masih bernafas” sama kuatnya dengan kematian Kristus.)

Makanya, di balik gejolak-gejolak yang di dalamnya jemaat mencobai Tuhan, sedapat mungkin kita mau membawa mereka kepada dasar dari keyakinan kita akan kasih Allah, yaitu iman kepada Kristus yang mati bagi kita.

Pos ini dipublikasikan di Keluaran dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s