Yeh 37:1-14 Dibangkitkan untuk hidup baru [6 Apr 2014] (Minggu sengsara VI)

Tahun ini, Membangun Jemaat menggunakan Leksionari yang menunjukkan beberapa perikop yang biasanya saling berkaitan. Minggu ini menjadi contoh yang menarik. PL dan PB saling melengkapi, dan leksionari itu menuntun kita untuk memahami hal itu.

Penggalian Teks

Yehezkiel 36 berbicara tentang pemulihan keadaan Israel setelah pembuangan. Bagian pokok di dalamnya ialah pemulihan kondisi Israel sendiri, termasuk pentahiran (36:25) dan hati daging ganti hati batu (36:26; terjemahan harfiah untuk “hati yang keras” dan “hati yang taat”), melalui Roh Allah yang akan diam di dalam batin Israel (36:27). Dengan demikian, keadaan Israel akan pulih, dan Tuhan akan dimuliakan di dalam mereka.

P.37 menguraikan dua aspek dari pemulihan kondisi Israel itu. Perikop kita (37:1–14) menggunakan penglihatan tentang tulang-tulang yang dihidupkan dan menjadi pasukan tentara yang besar, sementara 37:15–28 menubuatkan pemersatuan Israel yang pecah di bawah seorang raja seperti Daud. Dengan demikian, Israel akan siap untuk peperangan akhir zaman (pp.38–39) yang akan mendatangkan dunia baru yang berpusat pada Bait Allah tempat Allah hadir kembali (pp.40–48; kemuliaan Tuhan yang meninggalkan Bait Allah dalam p.10 kembali dalam 43:4). Yang dibahas di sini ialah pemulihan umat Allah untuk menjadi alat bagi rencana Allah, yang di dalamnya kebangkitan pribadi hanyalah satu aspek.

Di dalam penglihatan (1a), Yehezkiel diperhadapkan dengan tulang-tulang yang berserakan. Karena mayat-mayat tidak dikuburkan, ada dugaan bahwa ini adalah tentara yang kalah besar dalam perang (bdk. 10b). Tulang-tulang itu “amat kering”—dalam a.11 “tulang yang kering” ternyata adalah kiasan yang lazim untuk menggambarkan keputusasaan. Aa.1–6 kemudian menceritakan perintah Tuhan untuk bernubuat menghadapi hal itu. Ada empat tahap yang disebutkan dalam pemulihan itu: urat, daging, kulit dan nafas hidup. Kata untuk nafas hidup sama dengan kata untuk roh, ruakh. Aa.7–8 menceritakan terjadinya ketiga hal pertama, tetapi belum yang keempat, sehingga belum ada hidup. Jadi, nubuatan untuk nafas hidup (roh) diulang dan dikembangkan: keempat penjuru angin (ruakh juga berarti angin) disuruh untuk masuk ke dalam orang-orang ini. Tentara yang pernah kalah besar itu berdiri kembali.

Allah menjelaskan penglihatan itu dalam aa.11–14. Israel menyatakan keputusasaan (11), dan Allah menjanjikan kebangkitan dari kubur-kubur (12–13). Maksudnya tidak harfiah, karena dialamatkan kepada Israel yang hidup (11), tetapi ada dua aspek: pengembalian ke tanah Israel (12), serta pemberian Roh Allah (14). Hasilnya, Israel mengetahui bahwa Allah itu Tuhan.

Jadi, perubahan batin Israel dalam 36:25–27 disampaikan dengan lebih tegas lagi dalam perikop ini. Kenajisan Israel dalam 36:25 ternyata adalah kenajisan mayat, Israel adalah mati. Hati batu dalam 36:26 sejajar dengan tulang kering, dan hati daging sejajar dengan urat, daging dan kulit. Hal itu menunjukkan betapa hancurnya batin Israel: tulang-tulang yang kering, yang tidak dapat bekerja sama (urat), tidak ada kekuatan (daging), dan tidak ada batas atau perlindungan (kulit). Semua itu dikerjakan Allah bagi Israel. Tetapi, sama seperti tubuh Adam yang sudah dibentuk dari debu itu baru menjadi makhluk hidup ketika ada nafas hidup masuk, perubahan batin ini baru menjadi hidup yang sejati ketika Roh Allah diberikan.

Maksud bagi Pembaca

Allah membangkitkan umat-Nya dengan menyusun kembali batin yang dirusak oleh dosa dan dengan memberi Roh-Nya supaya kita dapat hidup dalam jalan Tuhan. Kristuslah menjadi kerangka batin yang diperbaharui (lihat di bawah), dan Roh memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam pola itu. Kita juga dipersiapkan untuk terlibat dalam peperangan Allah terhadap kuasa-kuasa maut.

Makna

Perikop kita berbicara tentang pembaruan Israel. Israel akan dibawa dari ranah maut masuk ke dalam ranah hidup. Jika kebangkitan dipakai sebagai kiasan untuk hal itu, pada Dan 12:1–3 kiasan itu sudah dilihat sebagai janji perorangan, supaya para martir juga tidak kehilangan tempatnya dalam pengggenapan janji-janji Allah. Dalam Yoh 11:17–44, Yesus secara harfiah memanggil Lazarus dari kubur, sebagai bukti bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup (Yoh 11:25). Kematian Yesus akan membawa Dia ke dalam kubur bersama dengan manusia berdosa, sehingga kebangkitan-Nya membawa semua manusia yang bergabung dengan-Nya keluar dari “Babel” (maut) masuk ke dalam tanah perjanjian (hidup kekal).

Namun, mati/hidup itu tetap memiliki makna dalam kehidupan kita. Hidup dalam dosa adalah hidup dalam maut, sedangkan hidup dalam kebenaran adalah hidup sejati (Rom 6:20–23). Rom 8:11 berjanji bahwa kuasa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan menghidupkan tubuh kita yang fana, yaitu, tubuh tempat dosa berkuasa (Rom 6:12). Maksudnya bukan kebangkitan pada akhir zaman, melainkan pembaruan yang disebutkan dalam Rom 8:9, yaitu, kemampuan untuk hidup dalam Roh dan bukan dalam daging (daging berkaitan dengan tubuh yang fana, bdk. Rom 7:23–25). Kuasa Roh itu menjadi dasar untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh fana/daging itu (Rom 8:13; untuk pentingnya tubuh, lihat [diskusi ini][Rom 7:13-26 Hukum tak berdaya ]). Karya Roh itu merupakan penggenapan nubuatan Yehezkiel tentang pembaruan yang disebabkan oleh Roh Allah.

Yang agak sulit ditangkap di sini ialah Yehezkiel dan Paulus berbicara tentang karya Allah, tetapi hasil karya itu adalah perbuatan baik manusia. Roh yang membangkitkan, tetapi orang yang dibangkitkan itu yang bergerak. Kita dengan mudah berfokus pada bagian manusia, tetapi tanpa konsep tentang karya Allah, kita tidak akan diberdayakan untuk berubah. Konteks dari perikop Paulus dapat membantu kita dalam hal itu.

Bagi Paulus, penghidupan tubuh itu dinyatakan dalam cara pandang dunia yang berbeda; kita memikirkan hal-hal yang dari Roh (Rom 8:5). Pandangan dunia dalam Roh mulai dengan kita berdiri dalam anugerah dan bermegah dalam pengharapan akan kemuliaan Allah (Rom 5:2b); artinya, penebusan dalam Kristus bahkan lebih mendasar dari keluarga sendiri untuk identitas kita, dan yang kita banggakan dan dambakan adalah menjadi serupa dengan Kristus, bahkan lebih dari upacara kematian yang besar (atau menjadi kaya dsb). Kemudian, kita menganggap diri menjadi satu dengan Kristus dalam kematian-Nya terhadap dosa dan kebangkitan-Nya untuk hidup bagi Allah (Rom 6:11). Roh Kudus mengerjakan pembaruan imajinasi, pembaruan identitas. Kemudian, kuatnya keinginan-keinginan yang berlawanan dengan kebenaran diuraikan dalam Rom 7:13–25; Roh Kudus menanam keinginan-keinginan yang lain (Rom 8:5–11). Ini semua karya Allah—karya Allah di dalam Kristus yang menawarkan pengampunan dan pola hidup, dan karya Allah di dalam Roh Kudus yang mengubah akal budi dan hati. Namun, yang lama tidak hilang begitu saja; makanya bagian kita adalah bertobat terus-menerus dengan memilih pikiran dan keinginan Roh, bukan pikiran dan keinginan daging (Rom 6:12–13; 8:13). Tetapi bahkan pertobatan itu didorong oleh Allah, yang menggunakan penderitaan untuk membantu kita bertobat dan berubah (Rom 5:3–5; 8:17–30). Kita tidak dilarang untuk sombong rohani karena masih ada kekurangan pada diri kita, walaupun hal itu memang benar. Kita dilarang untuk sombong rohani karena apa yang baik pada kita itu hasil karya Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Kita adalah mayat yang dihidupkan kembali, bukan orang yang cukup sehat yang menjadi atlet karena kerja keras sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Yehezkiel dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Yeh 37:1-14 Dibangkitkan untuk hidup baru [6 Apr 2014] (Minggu sengsara VI)

  1. Ping balik: Yeh 37:1-14 Pengharapan karena Roh Kudus [24 Mei 2015] | To Mentiruran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s