Ibr 10:16-25 Berani dalam anugerah [18 Apr 2014] (Jumat Agung)

Surat-surat PB dianggap lebih sulit oleh banyak jemaat, karena memang padat konsep. Tetapi, mungkin kita kurang jeli dalam menjelaskannya. Perikop ini menggunakan beberapa gambaran konkret, seperti Kemah Suci dan baptisan, untuk menggambarkan hal-hal yang tidak kelihatan. Gambaran itu akan menolong kita untuk memahami apa yang dikatakan, dan menjelaskannya kepada orang lain. (NB: tidak ada uraian baru untuk hari Paskah, tetapi uraian lama tentang Rom 6:1–14 ada di sini.)

Penggalian Teks

Perikop kita dengan sengaja memuat aa.16–18, supaya dasar teologis untuk aa.19–25 tidak dilupakan. Yer 31:31–34 dikutip dalam Ibr 8:8–12, dan sebagian lagi dikutip kembali dalam aa.16–17, karena 9:1–10:15 sudah menunjukkan bagaimana Yesus telah mengadakan perjanjian baru oleh darah-Nya (16), sehingga dosa-dosa kita tidak diingat lagi oleh Allah (17): kematian Kristus membawa pengampunan dosa yang tuntas, berbeda dengan kurban-kurban Israel yang menjadi pengingat dosa terus-menerus (18).

Aa.19–25 menyerukan tiga hal sebagai respons manusia terhadap karya Allah di dalam Kristus: iman (22), pengharapan (23), dan kasih (24). Sebagai catatan awal, iman dan pengharapan di sini bukan harapan bahwa Tuhan akan menolong saya dalam pergumulan saya. Ada seperti itu dalam 13:5–6 dalam rangka kesederhanaan hidup, tetapi dalam perikop kita, iman menyangkut pengampunan, dan pengharapan menyangkut hari Tuhan. Penyertaan Tuhan sehari-hari adalah implikasi dari kebenaran dalam perikop kita, tetapi tugas Saudara adalah memberitakan pokok dalam perikop ini.

Kita beriman kepada hal-hal yang tidak kelihatan, tetapi diperlihatkan kepada mata iman kita oleh firman Allah. Mata iman orang Israel dibantu oleh struktur kemah suci dan pola Hari Pendamaian yang setahun sekali saja, yang memperlihatkan bahwa adalah keangkuhan yang sangat besar untuk orang berdosa menghadap Allah, kecuali Allah telah memberi kita izin (9:1–10). Ritus yang wajib bagi orang Israel itu menjadi gambaran dalam aa.19–22 untuk memahami kematian Kristus yang menggenapinya. Tadinya kita semestinya takut menghadap Allah, tetapi sekarang kita berani (19)—bukan karena kita, tetapi karena darah Kristus telah membuka (atau “mengesahkan”; istilahnya sama dengan kata kerja dalam 9:18) bagi kita jalan yang baru (tidak ada sebelumnya) dan yang hidup (Kristus yang hidup [7:25] membuka jalan itu, dan kita hidup olehnya) itu. Mendekati Allah itu bukan hak kita; sebaliknya, mendekati Allah sebagai orang berdosa berbahaya sekali, tetapi darah Kristus telah membuatnya aman. Baik bahaya mendekati Allah maupun amannya oleh darah Kristus tidak kelihatan, tetapi hanya dapat ditangkap oleh mata iman, dibantu dengan gambaran konkret ibadah Israel kuno itu.

A.21 merujuk ke 3:1–6, yaitu bahwa kita termasuk umat di bawah Kristus, sama seperti Israel berada di bawah Musa. Artinya bahwa jalan yang dirintis oleh Yesus itu berlaku juga untuk kita. Kembali, Israel melihat Musa (tetapi harus percaya bahwa dia diberi tugasnya oleh Allah); kita tidak melihat Kristus, tetapi dengan mata iman kita menangkap bahwa Dia “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” sebagai Imam Besar (4:15) yang menyelamatkan (5:9).

Itulah dasar (“Karena itu”) untuk seruan pertama (a.22) untuk menghadap Allah. Artinya sama dengan 4:16 “menghampiri takhta kasih karunia”, dengan menggunakan jalan yang dirintis Kristus itu. Ada dua ciri orang yang menghadap Allah, berdasarkan dua pemberian Allah. Ciri pertama adalah “hati yang tulus ikhlas” atau “benar” yang menyertai (meta) orang yang menghadap itu. Apakah maksud dari “hati yang tulus ikhlas” itu bahwa melalui berbagai disiplin rohani dan introspeksi, saya harus mengidentifikasi semua dosa sikap yang menodai hati saya dan memberantas sikap-sikap itu? Tidak. Sebagai syarat untuk menghadap Allah, usaha itu menghina darah Kristus. Ketulusan di sini pertama-tama dikaitkan dengan ciri kedua yang di dalamnya (en) kita menghadap Allah, yaitu “keyakinan yang teguh berdasarkan iman”. Keyakinan berdasarkan kesalehan atau pertobatan saya tidak mungkin teguh, dan iman itu bukan iman terhadap usaha saya. Yang diimani adalah kedua pemberian dalam ayat ini. Yang pertama ialah pembersihan hati nurani. Kembali, pembersihan itu bukan usaha kita: kata “hati nurani” merujuk ke 9:14 tempat darah Kristus menyucikan hati nurani, dan kata “membersihkan” sama dengan kata “memerciki” dalam 9:19 & 21. Kita membawa hati yang diperciki dengan darah Kristus, sehingga semua tindakan dan sikap yang membebani hati nurani kita dihapus sebagai beban, karena telah dihapus di hadapan Allah. Hal itu digambarkan secara jasmani bagi kita dengan air baptisan; air itu “murni” bukan karena dijernihkan oleh PAM, melainkan karena disucikan oleh perintah Kristus untuk membaptis. Jadi, ketulusan di sini berarti, menerima pengampunan semata-mata karena darah Kristus. Hati kita mungkin saja tetap penuh kelemahan-kelemahan, tetapi kita mengimani darah Kristus itu sehingga kita yakin bahwa kita boleh menghadap Allah. Mata iman menangkap penyucian hati dalam pembasuhan air baptisan, sehingga kesadaran akan kelemahan-kelemahan tidak lagi mengganggu kedekatan kita dengan Allah.

Menghadap Allah adalah seruan inti, karena kebersamaan Allah dengan umat-Nya adalah tujuan-Nya dalam rencana keselamatan (8:10b, bnd. 8:11 “karena mereka semua…akan mengenal Aku”). Tetapi untuk bertahan dan berkembang dalam janji itu, kedua seruan berikut sangat penting, karena merupakan wujud nyata iman di hadapan dunia dalam perkataan dan perbuatan. Yang pertama, kita harus berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita (a.23), tidak menyangkal Kristus sekalipun menghadapi perlawanan. Sekali lagi, dasar pengharapan di sini bukan semacam optimisme yang dibuat-buat dalam hati kita, melainkan kesetiaan Allah yang menjanjikan pengharapan itu, sebagaimana dijelaskan mengenai aa.16–17 tadi. Jadi, Kristus menjadi alasan untuk tetap berharap kepada Allah. Yang kedua, kita harus saling mendorong dalam kasih kepada sesama (a.24). Perbuatan baik tidak mendapat banyak sorotan dalam kitab ini (lihat 12:14–17; 13:2–5, 16), tetapi merupakan implikasi dari janji Allah dalam a.16b. (Bagi penulis Ibrani, bila iman lemah, maka semua yang lain akan lemah; oleh karena itu dia berfokus pada membangun iman dengan cara memaparkan karya Kristus.) Kedua seruan ini tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga diteguhkan dengan nasihat untuk berkumpul supaya saling menasihati, dan juga peringatan tentang hari Tuhan (a.25). Tema itu juga merujuk ke peringatan dalam 3:12–13 dalam konteks menuju ke keselamatan. Mata iman tidak dapat dipertahankan sendirian, kita saling membutuhkan untuk disegarkan dalam iman itu.

Maksud bagi Pembaca

Kita diajak dan diperintahkan untuk menghadap Allah semata-mata karena karya keselamatan Kristus, dan untuk menghadapi dunia dengan pengakuan akan pengharapan kita dan perbuatan kasih.

Makna

Saya menyoroti soal “hati yang tulus” karena dua hal. Yang pertama, karena saya prihatin kalau-kalau pada hari Jumat Agung, bukan salib Kristus yang dijunjung tinggi, melainkan usaha kita untuk memperbaiki diri sendiri. Beberapa kali akhir-akhir ini, saya mendengar khotbah yang menguraikan ayat-ayat yang menyangkut respons manusia dengan baik, tetapi melewatkan ayat-ayat tentang Allah. Saya tidak tahu apakah berbicara tentang Allah dianggap terlalu membosankan bagi jemaat, atau terlalu rumit, atau apa, tetapi tidak jelas bagi saya bahwa melewatkan bahan tentang Allah itu cara yang baik untuk memuliakan Allah. Kalau kita mengasihi Allah, mengapa kita enggan memberitakan kesaksian tentang Dia dari mimbar? Kalau jemaat bosan mendengar tentang Allah, bukankah lebih lagi kita perlu memberitakan kemuliaan dan keindahan karya dan sifat-Nya?

Yang kedua, pada hemat saya, banyak dari kita terjebak dalam budaya modern yang menilai motivasi lebih penting dari tindakan. Jadi, kita suka melontarkan pertanyaan seperti ini dari mimbar, “Apakah kita beribadah dengan sungguh-sungguh, atau ikut-ikutan saja?” Pertanyaan itu bodoh dari beberapa segi. Banyak jemaat, bahkan yang di kota, memiliki kemampuan introspeksi yang terbatas. Bagaimana mereka tahu apakah mereka beribadah dengan sungguh-sungguh? Karena mereka telah hadir dan ikut di dalamnya. Dan itulah yang dituntut dalam a.24, bukan? Bagi mereka, motivasi lebih banyak diketahui dalam tindakan ketimbang melalui introspeksi. Agaknya, itu pandangan Yesus juga (Mt 7:21–23; penilaian diri bisa sangat keliru). Kemudian, apa salahnya “ikut-ikutan”? A.24 menunjukkan bahwa saya tidak mampu setia seorang diri: saya bukan pahlawan rohani, tetapi saya butuh ikut-ikutan dengan orang percaya lainnya. Ketulusan hati saya di dalam ibadah diukur bukan dengan perasaan saya di dalam ibadah, tetapi ketika saya masuk rumah atau kantor—apakah saya tetap ikut-ikutan dengan rombongan Kristus, atau sudah mulai ikut-ikutan dengan kebiasaan yang lain (23). Gaya khotbah seperti pertanyaan itu hanya mencemaskan jemaat yang serius (dan mungkin hanya menyebalkan jemaat yang tidak). Jemaat yang diajar untuk tidak berani berada di hadapan Allah, juga tidak akan berani di hadapan manusia.

Jika hati yang tulus dipahami sebagai hati yang menangkap pengampunan oleh darah Kristus, hasilnya lain sekali. Kita akan membandingkan Kristus dengan usaha-usaha kita untuk menenangkan hati nurani, entah dengan kurban bagi yang masih terpengaruh oleh budaya lama, entah dengan kegiatan agamawi sebagai amal, entah dengan mencari “orang berdosa” untuk menjadi pembanding “kebenaran” saya. Dan jelas Kristus unggul. Kristus menyucikan hati nurani kita (9:14)—dosa tidak seharusnya menghantui kita lagi. Dia menghapus dosa kita di hadapan Allah di surga (9:24)—Allah tidak lagi murka, lebih lagi marah-marah. Dia menghapus dosa sekali untuk selama-lamanya—dosa kita tidak disimpan untuk diungkit pada waktu yang lain (tidak diingat lagi, a.17). Dengan demikian, berkembanglah keberanian dalam a.19, sehingga kesetiaan dalam a.23 dimungkinkan.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s