Yoh 20:19-31 Kesaksian cukup untuk percaya dan hidup [27 Apr 2014]

Perikop naratif mengajak kita untuk menempatkan diri di dalamnya. Kita dapat menempatkan diri kita bersama dengan para murid yang menerima damai sejahtera dan diutus, dan kita juga dapat menempatkan diri bersama dengan Tomas yang skeptis baru percaya. Tetapi, ternyata kita langsung disebutkan, yaitu sebagai orang yang tidak melihat namun percaya. (NB: perikop untuk minggu depan, 4 Mei, pernah direnungkan di sini, dan tidak akan diterbitkan ulang.)

Penggalian Teks

Dalam a.31, Yohanes menyampaikan untuk apa dia memilih tanda-tanda tertentu dari banyaknya tanda yang dibuat Yesus, yaitu supaya kita yang mendengarkan Injilnya percaya dan memperoleh hidup. Percaya di sini adalah percaya “bahwa”, tetapi tidak berhenti di situ, karena dengan percaya, ada hidup dalam nama Yesus. Ini bukan “percaya bahwa Obama adalah Presiden AS” yang tidak ada implikasinya, melainkan “percaya bahwa gunung akan meletus” sehingga mengungsi dan selamat, atau “percaya bahwa pendidikan itu penting” sehingga menuntut ilmu dan menjadi orang terpelajar. Percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, berarti kita mulai hidup dalam nama Yesus. Perikop kita merujuk pada kedua hal ini.

Kebangkitan terjadi pada hari pertama, setelah hari Sabat, dan hari itu yang disebut Yohanes (19), walaupun sebenarnya malam sudah masuk hari berikutnya. Ada makna di dalamnya: jika hari Sabat merujuk pada penyelesaian penciptaan oleh Allah, hari pertama dapat diartikan sebagai permulaan penciptaan baru. Para murid masih berada dalam dunia lama dalam ketakutan. Mereka tidak bisa menemukan jalan sendiri dari dunia itu ke dunia baru yang dibuka oleh kebangkitan: Yesus harus menampakkan diri kepada mereka. Mujizat kecil dalam penampakan itu ialah bahwa Yesus tidak dihalangi oleh pintu yang terkunci. Mujizat besar adalah bahwa Dia mengumumkan damai sejahtera kepada mereka. Mereka takut karena orang Yahudi, tetapi yang mereka khianati dan tinggalkan adalah Yesus. Tetapi, berbeda dengan Yusuf ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya yang menjual dia, Yesus tidak menguji hati mereka baru mengampuni mereka. Dia menciptakan damai sejahtera dengan mengumumkannya. Langkah pertama hidup dalam nama Yesus ialah menerima pengampunan dari Yesus.

Kemudian, Dia membuktikan identitas-Nya dengan memperlihatkan tangan dan lambung-Nya (20). Respons para murid adalah sukacita. Kembali, respons itu bukan karena mereka benar, melainkan karena mereka melihat Tuhan. Respons itu menyatakan bahwa damai sejahtera Yesus adalah anugerah belaka, yang di dalamnya tidak ada kebanggaan diri sama sekali.

Baru setelah mereka bersukacita, Yesus mengutus mereka (21). Pengutusan mereka oleh Yesus merupakan lanjutan dari pengutusan Yesus. Tema pengutusan Yesus itu kaya: Yesus diutus bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan (3:17); Dia menyampaikan firman Allah dengan kuasa Roh Kudus (3:34); Dia melakukan kehendak Sang Pengutus (5:30); Dia mencari kemuliaan Sang Pengutus (7:18); Dia menjadi wakil Sang Pengutus sehingga menerima orang yang diutus berarti menerima Sang Pengutus (13:20); Dia diutus ke dalam dunia (17:18); dan banyak lagi. Pantas Yesus langsung memberi mereka Roh Kudus (22), yang akan menghibur (atau menguatkan) para murid dalam kesaksian tentang Yesus (15:26). Kata yang dipakai untuk mengembusi (emfusao) juga dipakai dalam Kej 2:7 tentang Adam. Roh Kudus menjadikan mereka bagian dari ciptaan baru, sebagai kelanjutan dari Kristus yang menjadi perintis ciptaan baru. Dengan kuasa Roh Kudus, para murid diberi kuasa untuk membagikan damai sejahtera Kristus dengan memberitakan pengampunan (23).

Tomas tidak hadir pada saat itu, dan sikap skeptisnya mengemukakan tema kepercayaan, khususnya, apakah kesaksian yang telah dia dengar dari kawan-kawannya cukup, atau dia harus melihat langsung (24–25)? Yesus muncul untuk kedua kalinya, kembali dengan angka delapan yang melambangkan penciptaan baru, dan ucapan damai sejahtera (26). Bukti bahwa Dia adalah Yesus yang mati, dan oleh karena itu telah bangkit, ditegaskan (27). Tomas melompat dari skeptisisme yang besar menjadi kepercayaan yang paling dalam di dalam Injil ini, yaitu, mengaku Yesus sebagai Allah (28). Jawaban Yesus adalah puncak dari adegan ini: orang-orang yang hanya mendengarkan kesaksian tentang kebangkitan-Nya sama sekali tidak dihalangi untuk percaya (29) dan memperoleh hidup (31).

Maksud bagi Pembaca

Kita yang tidak melihat diajak untuk menerima kesaksian penulis Injil tentang Yesus yang telah bangkit, sehingga kita percaya dan memperoleh hidup dalam penciptaan baru sebagai murid yang menerima damai sejahtera, bersukacita dalam Kristus, dan diutus supaya orang lain juga percaya dan hidup.

Makna

Bagaimana caranya menjelaskan kepada Pembaca bahwa perikop ini pertama-tama memberitakan karya Allah, dan bukan menuntut usaha kita. Memang ada respons—percaya, bersukacita, membawa pengampunan. Tetapi, respons itu bukan usaha kita. Saya bisa menolak kesaksian tentang kebangkitan Yesus, sehingga berita itu dianggap sepele atau omong kosong. Tetapi, kalau saya percaya, hal itu adalah penerimaan berita yang berasal dari Allah, bukan usaha saya. Kalau saya percaya bahwa Dia bangkit, saya tetap bisa menyepelekan penawaran pengampunan dalam ucapan “damai sejahtera” Yesus. Tetapi kalau saya bersukacita atas karya Allah dalam Kristus, kembali hal itu bukan hasil usaha saya. Percaya bahwa Yesus bangkit dan bersukacita atas hal itu wajar saja; menolak dan masa bodoh itulah yang membutuhkan usaha.

Diutus pun bukan usaha kita. Memang, untuk menerapkan pengutusan oleh Yesus, akan ada banyak usaha kita. Tetapi, pengutusan itu bukan ide brilian kita. Orang yang telah percaya bahwa Yesus bangkit pasti melihat pentingnya penyebaran berita itu; orang yang bersukacita bahwa Dia hidup pasti bersemangat untuk terlibat di dalamnya; pengutusan itu merupakan hak istimewa baginya. Hati yang baru itu yang akan memotori berbagai usaha: usaha untuk mempertahankan iman, untuk menguatkan saudara seiman, untuk mengasihi sesama termasuk dengan membagikan berita kebangkitan Yesus.

Apa semangat itu kurang di dalam jemaat? Daripada menghantam jemaat, bagaimana kalau mereka dibantu untuk percaya. Saya pernah menyampaikan penjelasan yang sederhana kepada suatu kelompok jemaat yang tidak berpendidikan tinggi. Isinya bahwa 1) kesaksian para murid layak dipercaya karena mereka yang ketakutan menjadi pemberani yang malahan siap mati demi Kristus yang bangkit itu; 2) para lawan Yesus dengan mudah akan membongkar kesaksian Yesus andaikan mayat Yesus itu masih ada. Mereka bersemangat mendengarkan dan membahasnya, padahal, menurut mitos para pendeta, mereka adalah orang “praktis” yang hanya mau mendengar tentang hal-hal “praktis”. Ternyata, mereka juga adalah orang beriman, yang dikuatkan dalam imannya bukan dengan disuruh untuk mengintrospeksi diri (“kamu harus memiliki iman yang lebih kuat”) melainkan dengan dibawa untuk melihat Kristus.

Catatan tentang a.23. Ada dua aspek yang saya pahami dalam ucapan Yesus ini, tetapi belum dengan kepastian penuh. Kalau dikaitkan dengan hari Pentakosta, pengampunan yang diberikan atau ditahan berkaitan dengan respons manusia terhadap pemberitaan Injil. Para murid berkuasa untuk menyatakan bahwa orang yang menerima Kristus diampuni, dan orang yang menolak Kristus tidak diampuni. Kalau dikaitkan dengan 1 Kor 5:12–6:3, jemaat juga berkuasa untuk menyatakan kepada orang yang tidak mau bertobat bahwa dosanya sudah memisahkan dia dari persekutuan di dalam jemaat (disiasati). Aspek yang ke luar itu menyangkut hidup yang kekal, tetapi manusia memberitakan, bukan menentukan (bdk. 1 Kor 5:12). Aspek yang ke dalam ditentukan oleh manusia, tetapi menyangkut persekutuan, bukan hidup yang kekal.

Catatan tentang “Ya Tuhanku dan Allahku”. Apa bedanya antara kedua kata yang dalam bahasa Indonesia sama-sama merujuk pada Yang Ilahi? Ingat bahwa kata “Tuhan” menerjemahkan kata kurios yang berarti tuan. Kata kurios itu cocok untuk Allah, tetapi artian dari kata itu ialah peran yang berkuasa, bukan kodrat, sehingga kata itu dipakai untuk raja, pemilik hamba, dsb. Sebaliknya, kata “Allah” (theos) berarti sosok yang bersifat ilahi. Jadi, baru dengan istilah kedua (“Allahku”), Tomas menggolongkan Yesus yang telah bangkit dengan Allah. Yohanes memberitahu kita di awal Injil bahwa firman itu Allah, dan Yesus kepada para lawan-Nya juga memberi berbagai petunjuk tentang keilahian-Nya, tetapi hal itu baru jelas bagi murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya.

Pos ini dipublikasikan di Yohanes dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s