1 Pet 2:18-25 Berbuat baik dalam ketidakadilan [11 Mei 2014]

Perikop ini menyampaikan nasihat yang sulit diterima, tetapi pada saat yang sama membedakan kekristenan yang sejati dari yang semu. Menggunakan istilah Luther, perikop ini menyampaikan teologi salib. Teologi itu menawarkan gagasan yang tampak konyol bahwa hidup ditemukan dengan penyangkalan diri. Dari jemaat biasa sampai teolog yang berpendidikan tinggi, termasuk banyak pendeta, teologi itu tidak disukai, dan tidak ada orang yang dapat menghayatinya dengan mudah. Semoga kita dimampukan untuk menangkap visi yang ada di dalamnya. (NB: Perikop minggu depan pernah direnungkan di sini.)

Penggalian Teks

Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan dari 1:1–2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11, tomentiruran dalam bahasa Toraja), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13–3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Perikop kita dapat dibagi dua, yaitu nasihat (aa.18–20) serta teladan Kristus yang menjadi dasarnya (aa.21–25). A.18 menyampaikan sikap mendasar seorang hamba, yaitu penerimaan akan kedudukannya. Kata “tunduk” menerjemahkan hupotassomai yang berarti menempatkan diri (membiarkan diri ditempatkan) di bawah pengaturan atasan. Kata itu tidak semutlak “menaati”. Orang percaya harus taat kepada Allah, dan anak (kecil) kepada orangtuanya, tetapi dalam hubungan hierarkis, seperti pemerintah, tempat kerja dsb, “tunduk” berarti bawahan mengakui otoritas yang diberikan Allah kepada atasannya. Pada umumnya hal itu berarti taat, tetapi, seperti Petrus sendiri terhadap Mahkamah Agung Yahudi, ada saatnya untuk menaati Allah daripada manusia (Kis 4:19). Petrus mengakui wewenang Mahkamah Agung (termasuk untuk memenjarakan mereka), tetapi ketaatan kepada Allah harus lebih utama. Jadi, “tunduk” berarti mengakui kedudukan tuan. Hal itu dilakukan dengan “penuh ketakutan”. Kata fobos itu dapat berarti “takut kena hukuman dari atasan”, tetapi di sini berarti “takut mengecewakan atasan yang dihormati”, karena ditujukan kepada tuan yang ramah. Hamba dinasihati untuk menghargai kedudukan tuan, sehingga tidak mau mengecewakannya. Kedudukan sebagai hamba diterima dalam hati.

Yang mengejutkan ialah anjuran untuk menerapkan sikap itu bahkan kepada tuan yang bengis. Aa.19–20 tegas bahwa yang dimaksud di sini adalah perlakuan yang tidak adil (“menderita dengan tidak adil” adalah terjemahan harfiah untuk “penderitaan yang tidak harus ia tanggung”) karena hamba itu menderita karena berbuat baik. Menanggung perlakuan yang tidak adil itu disebut “kasih karunia” di hadapan Allah. Kata kharis berarti sikap yang baik kepada pihak lain. Seringkali kata kharis dipakai untuk sikap Allah yang baik kepada kita bukan karena perbuatan kita melainkan karena penebusan dalam Kristus, dan untuk artian itu terjemahan “kasih karunia” tepat. Tetapi di sini Petrus merujuk justru pada perbuatan atau sikap yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menanggung penderitaan yang tidak adil. Allah melihat perlakuan yang tidak adil itu, dan memuji orang yang melakukannya karena sadar akan Dia (kata “kehendak” dalam “sadar akan kehendak Allah” adalah tambahan LAI).

Dasar untuk sikap itu ialah teladan Kristus. Perlakuan terhadap Kristus ketika Dia ditangkap dan disalibkan adalah perlakuan paling tidak adil karena Kristus tidak memiliki dosa sama sekali (a.22). Namun, Kristus tidak membalas tetapi menyerahkan perlakuan itu kepada Sang Hakim yang adil (a.23).

Selain sebagai teladan sikap baik, penderitaan Kristus juga menjadi motivasi untuk berbuat baik (aa.24–25). Kematian pada salib adalah juga kematian kita terhadap dosa supaya kita hidup dalam kebenaran (a.24). Pada satu tingkat hal itu adalah logis saja. Jika kita mengklaim bahwa kita mengandalkan kematian Kristus, maka kita setuju bahwa dosa kita sangat buruk, sehingga tidak masuk akal jika kita tetap senang di dalam dosa itu. Tetapi Petrus sadar bahwa pikiran yang logis tidak cukup. Bilur-bilur Kristus membawa penyembuhan ke dalam hati dan batin (a.24). Kita dimampukan untuk mengenal Allah kembali sebagai gembala yang baik (a.25). Dalam kesesatan sebelum mengenal Kristus, tidak mungkin kita menanggung penderitaan yang tidak adil tanpa dendam yang pahit. Tetapi karena kita sudah mengenal kasih Allah yang diperlihatkan dalam pengorbanan Kristus, kita dapat membalas kejahatan dengan kebaikan. Dampak pada masyarakat di sekitarnya dijelaskan Petrus dalam bagian-bagian berikut (3:8 dst).

Maksud bagi Pembaca

Petrus mau supaya jemaat yang menderita karena ketidakadilan itu tetap berbuat baik sesuai dengan teladan Kristus, sebagai orang yang diampuni dan diperbaharui dalam kematian-Nya.

Makna

Konon, ada sebagian jemaat yang suka mengatakan, “itulah Kristus, kita manusia biasa”, bukan untuk menjelaskan mengapa mereka tidak berhasil sempurna seperti Kristus, melainkan untuk membenarkan arah hidup yang duniawi. Mungkin a.24 membutuhkan penekanan ekstra untuk menanggapi sikap itu. Pengampunan menyiratkan pengakuan bahwa dosa itu buruk sehingga ada kerinduan untuk dosa itu dapat ditinggalkan. Jika teladan Kristus tidak dilihat sebagai alasan untuk berubah, jemaat belum beriman kepada Kristus. Mungkin saja iman mereka kuat terhadap ilah yang dibayangkan dalam benak mereka, tetapi ilah itu merupakan berhala, dan tidak ada keselamatan dalam mengimani berhala. Kristus yang sejati adalah Kristus yang menderita, dan mengikuti Dia berarti mengikuti jejak-Nya.

Sebaliknya, bagi mereka yang mau seperti Kristus, adalah penting untuk memperhatikan bahwa Petrus tidak hanya mengangkat tentang Kristus sebagai teladan, tetapi juga sebagai Juruselamat. Bagi kita yang telah bergabung dengan Kristus, pengampunan dan penyembuhan itu selalu ada untuk menopang, mengoreksi, dan memperbaharui kita, tentu melalui persekutuan jemaat (Kis 2:41–47). Yoh 10:1–10 dan Mazmur 23 mengembangkan tema Allah/Yesus sebagai gembala yang baik.

Namun demikian, apakah nasihat dalam perikop ini bertentangan dengan seruan biasa dalam Alkitab untuk memperjuangkan keadilan? Memang, harus diingat bahwa perhambaan pada zaman itu begitu pokok dalam ekonomi dan tatanan masyarakat sehingga tidak dapat dilawan langsung—hal itu hanya akan menimbulkan kematian hamba-hamba yang memberontak. Seorang hamba juga sering dapat berharap untuk merdeka jika melayani dengan setia, dan Paulus menganjurkan hal itu dalam 1 Kor 7:21 (kalau ada tuan yang baik, belum tentu hamba itu mau merdeka sehingga harus berjuang sendiri untuk hidup). Tetapi Petrus membayangkan kondisi yang tidak dapat dilawan. Dalam kondisi itu, nasihatnya menawarkan cara untuk mempertahankan martabat sebagai manusia yang dikuduskan di dalam Kristus.

Ketidakadilan yang diterima sepertinya mengancam martabat diri, karena tersirat di dalam penerimaan itu adalah pesan bahwa hak saya (atau hak kami) tidak berarti. Teladan Kristus membongkar pemahaman itu. Dia diperlakukan dengan paling tidak adil, tetapi martabat diri-Nya sama sekali tidak terancam. Dia diterima oleh Allah, disembah oleh milyaran orang Kristen dan dihormati oleh jutaan orang lain. Dia diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Allah, dan sebagian besar manusia sejak itu, justru mempersalahkan Pilatus dan Mahkamah Agung Yahudi, bukan Yesus. Menanggung penderitaan yang tidak adil tidak harus menggilas harga diri kita jika martabat diri kita kuat di dalam Tuhan, karena kita membiarkan martabat diri ditentukan oleh penghakiman Allah, bukan penghakiman manusia.

Jadi, contoh Yesus menunjukkan bahwa atasan belum tentu benar. Kadangkala ada gejala orang berbelit-belit mengeluhkan perlakukan atasan, seakan-akan dalam lubuk hati sulit mempercayai bahwa atasan itu salah, dan dia benar (mungkin karena terpola sejak kecil bahwa orangtua dan atasan selalu benar). Tetapi Petrus jelas menganggap tuan yang bengis itu salah. Namun, dengan mengikuti jejak Kristus, orang yang diperlakukan dengan tidak adil menjadi pelaku, bukan korban belaka. Dia dapat memilih, apakah menanggung penderitaan yang tidak adil itu dengan cara seperti Kristus, sebagai orang yang telah mati terhadap dosa dan dipulihkan dalam Kristus, atau dengan cara lama yang sesat.

Pos ini dipublikasikan di 1 Petrus dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s