Kis 2:1-21 Pencurahan Roh Kudus supaya banyak yang berseru dan selamat [8 Jun 2014] (Hari Pentakosta)

Penggalian Teks

10 hari setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus yang dijanjikan itu turun ke atas jemaat perdana yang telah berkumpul. Roh Kudus turun dengan cara yang mengesankan. Sesuai dengan rencana Allah untuk pemulihan Israel (1:6) yang akan mencakup seluruh dunia (1:8), Roh itu muncul seperti api yang memurnikan atau menyucikan (a.3; bdk. Luk 3:16). Hanya, pemurnian ini bukan dalam rangka penghukuman (seperti dalam Luk 3:9), melainkan dalam rangka pembaruan. Hal pertama yang diperbaharui adalah keterpisahan antar-kelompok karena bahasa (aa.4–11; hal kedua muncul di akhir pasal 2 ini). Lukas menunjukkan bahwa Injil akan melampaui bahkan batas-batas budaya, dan membawa kesatuan di dalam keanekaragaman. (1 Kor 12:3–13 menunjukkan hal yang sama, dalam kaitan dengan karunia masing-masing.)

Tetapi, ternyata peristiwa apa saja dapat menimbulkan tafsiran yang berbeda-beda. Bila banyak orang tercengang atas kejadian yang terjadi (a.12), ada yang lain yang hanya mendengar suara orang mabuk (a.13). Sepertinya, mereka tidak memperhatikan bahasa yang mereka kenal, tetapi bahasa-bahasa yang tidak mereka kenal, yang kedengaran sebagai bunyi kosong saja. Demikianlah karya Roh Kudus disalahtafsirkan oleh mereka.

Namun, tidak ada yang paham, dan tidak mungkin ada yang paham, jadi Petrus menjelaskan apa yang sedang terjadi. Petrus mengambil Yoel 2:28–32 sebagai nasnya. Nas itu menceritakan rencana Allah untuk “hari-hari terakhir”, yaitu setelah Allah menyelamatkan Israel dari hukuman-Nya (Yoel 2:1–17). Pencurahan Roh Kudus yang disaksikan oleh orang banyak menjadi bukti bahwa waktu penggenapan telah tiba. Roh Kudus membawa nubuat, penglihatan dan mimpi kepada seluruh umat, yang tua dan yang muda, laki-laki dan perempuan (17–18). Suara Tuhan akan jelas bagi umat-Nya, dan visi Tuhan bagi dunia akan ditangkap oleh umat-Nya. Dalam konteks pengutusan Yesus (1:8), suara dan visi itu akan memampukan jemaat untuk menjadi saksi Yesus sampai ke ujung bumi. Pencurahan Roh Kudus itu disertai mukjizat dan tanda yang digambarkan secara kiasan sebagai hal-hal yang mengguncang bumi (19–20). Hal-hal itu sudah tampak dalam kematian dan kebangkitan Yesus, dan juga akan tampak dalam pelayanan para rasul. Semuanya itu akan menjadi pertanda bahwa hari Tuhan akan datang, hari yang daripadanya hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan (21). Ayat itu menjadi pokok dalam khotbah Petrus selanjutnya: dia mau membuktikan bahwa Tuhan yang kepada nama-Nya orang harus berseru untuk selamat itu adalah Yesus, yang telah naik ke surga dan telah dibuat Allah menjadi Tuhan dan Kristus (2:36). Dengan demikian, hari Tuhan akan digenapi ketika Yesus datang kembali (1:11).

Maksud bagi Pembaca

Perikop ini mengingatkan kita tentang siapakah kita sebagai jemaat: umat Allah di antara pencurahan Roh Kudus dan kedatangan Kristus kembali, yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Yesus supaya banyak orang berseru kepada nama-Nya dan diselamatkan ketika Dia datang kembali.

Makna

Identitas menyangkut relasi dan cerita. Seseorang memiliki identitas sebagai anggota keluarga, anggota suku dan berbagai kelompok yang lain (termasuk relasi dengan tempat). Tetapi relasi-relasi itu juga memiliki sejarah, dan menyangkut harapan akan masa depan. Jadi, orang Toraja tradisional mendapat identitas sebagai keturunan keluarga tertentu, yang diwakili dalam silsilah, dengan harapan untuk menjadi orang dewasa yang terhormat sesuai kasta, dan setelah meninggal dunia menjadi nenek moyang yang membawa berkat bagi keturunan lagi.

Orang Israel memiliki identitas sebagai anggota umat Israel yang terlibat dalam rencana keselamatan Israel, mulai dengan janji Allah kepada Abraham. Pencurahan Roh Kudus membawa perubahan dalam identitas itu, karena rencana Allah itu masuk tahap baru, termasuk perluasan umat Allah untuk mencakup semua orang yang percaya kepada Yesus. Bagi kita yang menerima Kristus dan bukan dari latar belakang Yahudi, perubahannya lebih besar lagi. Kristus menjadi Tuhan kita, sehingga jemaat-Nya semestinya menjadi kelompok utama dalam identitas kita, bahkan di atas keluarga. Kemudian, pengharapan kita tertuju pada rencana keselamatan itu, bukan pada usaha keluarga dsb. Semua itu berarti ada pengarahan baru dalam kehidupan kita sehari-hari (nubuat), penglihatan baru tentang dunia, dan impian baru tentang masa depan. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk hal itu.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Para Rasul dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s